Apa Jadinya jika sekelompok orang dengan berbagai pandangan tapi satu tujuan dan si satukan dalam satu Agensi bernama JULID VANGKE. Sebuah institusi penegak keadilan. Yang digawangi oleh, Khodijah, Romlah, Caitlyn, Jukaykha, Jaenab dan Ijah.
Tugas mereka cukup berat, karena harus membasmi para penjilat tak berguna pemakan dana Bansos yang seharusnya dialirkan untuk Masyarakat yang membutuhkan. Para penjilat yang mereka beri nama Keledai Dungu itu ternyata memiliki banyak akal untuk melakukan Playing Victim.
Mampukah para detektif Julid Vangke membuktikan kebusukan mereka?
Karya ini hanya fiktif belaka. Terinspirasi dari banyaknya kasus yang terjadi dimasyarakat biasa😍Dilarang Baper! Ini hanya guyonan semata😍Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Odah menatap wajahnya di cermin, meskipun cermin itu pun sebenarnya enggan ditatap olehnya, tapi terpaksa. Daripada dia harus dibanting Odah, lebih baik dia terima nasib meskipun berat. Hari ini, kemarin, dan mungkin hari-hari berikutnya Odah amat sangat galau, rasa galaunya bahkan jauh lebih galau dibandingkan saat meletus balon hijau, hatinya sangat kacau.
Memang raut wajah Odah yang biasanya bak joker, bedak putih, lipstik merah tanpa pinsil alis yang biasanya cetar membahana karena kenorakkannya kini berubah layu, bagaikan bunga raflesia arnoldi, bunga bangkai sebangke dirinya yang gagal berkembang. Ya, semua itu karena Amat. Sejak kasus Amat muncul ke permukaan, citranya sebagai wanita bijaksana, baik, dan rupawan juga harus luntur. Padahal dia sudah pakai detergen anti noda biar ga luntur.
Odah pun merasa sangat kesal apalagi kemarin saat Odah meminta Amat untuk melakukan konferensi pers, dan dia tidak mau melakukannya. Bahkan sekarang Amat melarikan diri dan meninggalkan mereka semua begitu saja sambil berlari dengan begitu manjalita, gaya khasnya yang sedikit menjijikkan dan memalukan.
"Ahhhh, gimana nih Kom, Ning, Tun? Reputasi gue udah ancur nih! Kalian liat sendiri kan hasil survei Family 100 gue sekarang ada di paling bawah, bahkan pamor Nyai Gendeng Kolong Wewe itu jauh diatas gue! Apa kata dunia? Oh em ji, bukan apa kata dunia lagi ini malah, tapi dunia udah ketawa liat nasib gue saat ini? Oh no! This is a big daster!" pekik Odah sambil berjalan kesana kemari seperti heli guk guk guk ayo lari-lari.
"Ceu Odah, big daster itu maksudnya apaan, Ceu? Bukannya Ceu Odah ga pernah pake daster? Ceu Odah kan sukanya pake tanktop setengah badan sama hotpants setengah pantat biar seksi buat narik para gigilo?"
"Astogeh beli jengkol dapetnya toge, Ntun loe gimana sih? Nama doang yang cakep Ntun, tapi bahasa inggris kagak ngerti. Daster aja loe kagak ngerti, Tun? Daster itu artinya musibah Tun! Ih kesel deh!"
"Oh em ji mimi peri ketemu grandong, Ceu Odah bahasa inggris musibah itu disaster, Ceu. Bukan daster, kalo daster itu pakaian resmi Kokom kalo di rumah, sesuai sama julukannya Kokom Si Emak berdaster dari rawa bebek," balas Ntun.
"Eh udah deh, beda dikit ga masalah, Tun! Gue dulu bacanya di kamus itu artinya beneran daster kok."
"Mungkin kamus Ceu Odah itu kena ilernya Ceu Odah waktu lagi tidur jadi ada yang luntur, hilang tuh hurufnya!" sambung Ningsih.
"Nah ini bener banget nih kata Ningsih, gue kan waktu sekolah rajin tuh. Jadi tu kamus sering gue bawa tidur, jadi kena iler gue kan. Hahahaha..."
"Wah Ceu Odah emang pinter," sahut Kokom.
"Udah Ah, kok jadi ngomong kamus sih, mending kita lanjut mikir gimana tuh cari cara biar populasi gue sama genk kita naik lagi!"
"Popularitas Ceu, popularitas..."
"Idih, kalian kok dari tadi protes mulu sih? Cepet buruan mikir gimana tuh cara naikin popularitas kita lagi yang udah hancur berantakan, gue ga bisa ngebayangin hidup gue terus menerus kaya gini! Gue ga bisa hidup terpuruk, ngesod, terjembab, dan terjengkang ke jurang kenistaan yang paling dalam. Gue paling ga bisa diginiin. Hu... hu... hu..."
Odah akhirnya menangis tersedak-sedak, sedangkan Kokom, Ningsih, dan Ntun hanya saling berpandangan sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan manjakani dan manjalita. Sebenarnya mereka juga ingin mencari jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi. Tapi bagaimana mau mencari jalan keluar, mereka saja sering tersesat dalam kehidupan. Lagipula kemampuan otak mereka pun tak seberapa, bahkan otak yang mereka miliki hanya sebagai pelengkap kalo mereka hanya manusia.
Sedangkan di tempat lain, Amat yang saat ini berjalan lontang-lantung tak jelas juga tampak sedang menangis, wajah Amat yang tak kunjung mulus padahal sudah memakai NS Glow, kini terlihat pucat pasi, bunyi perutnya pun mulai terdengar krincing krincing karena lapar. Bunyi perut itu bahkan bukan kruyuk-kruyuk lagi tapi sudah sampai tapi krincing-krincing karena cacing di dalam perut yang marah tak diisi sampai menendang hati yang paling dalam, bukan perut yang paling dalam.
"Aduh, kok nasib gue jadi gini sih. Udah rumah ga punya, mana perut laper. Gue musti gimana nih? Kalo gini caranya ini namanya hidup segan mati tak mau, hiks, hiks, hiks, apa ini artinya gue harus ngemis aja?"
Krincing.., krincing.., krincing..., krincing...
"Ya udah deh gue ngemis aja daripada kagak makan," gerutu Amat. Dia kemudian duduk di tepi jalan, terseak-seak diantara orang-orang yang lalu lalang sambil menengadahkan tangannya. Namun, saat Amat sedang asyik mengemis, netranya tertuju pada sosok yang dikenalnya sedang berjalan sambil ngupil sepanjang jalan.
"Astaga naga, naga mas, naga perak, naga perunggu, nagasari, bukannya itu Caitlyn?" pekik Amat yang panik melihat Caitlyn yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Sukses bwt kk
makannya mad jangan suka makan duit haram saat kamu menerima karma nya kamu tersiksa kan tapi saat kamu melakukan kejahatan itu kamu senang dan tak memikirkan apapun
akhirnya perjuangan kalian menemukan titik akhir juga dengan tertangkapnya para geng meresahkan 😁😁😁
kebanyakan bikin ulah sih
sokoooooor tuman kelamaan kalian senang di atas penderitaan orang lain saat nya kalian memetik apa yang kalian tanam