NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:958.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delirio

Pria dengan tatapan tajam dan dingin itu mengulurkan tangan kepada Adriano. Dia bermaksud untuk mengajak bersalaman. Tak ada alasan bagi Adriano untuk menolaknya. Pria bermata biru itu pun membalas jabat tangan yang disodorkan oleh Juan Pablo. “Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Herrera,” ucap Adriano, meskipun dia merasakan ada sesuatu yang aneh.

“Aku juga,” balas Juan Pablo tanpa ekspresi yang berlebihan. Sepertinya, Juan Pablo merupakan seseorang yang tak suka berbasa-basi.

Don Vargas tampak membisikkan sesuatu di telinga Juan Pablo. Pria bermata cokelat madu itu mengangguk.

Sementara, Adriano masih memperhatikan pria muda tersebut. Perawakan dan juga bahasa tubuhnya, memang begitu mirip dengan Matteo de Luca. Pantaslah, jika Mia bersikap seperti tadi.

“Maaf, Tuan D’Angelo. Tadi, aku ada sedikit urusan,” ujar Don Vargas. Seramah apapun pria Amerika Latin itu menunjukkan sikap, tetapi raut wajah dan sorot mata tajamnya masih terlihat sangat menakutkan. “Aku dengar dari Tuan Redomir, katanya Anda baru meresmikan sebuah resort mewah di Yunani." Dia mulai berbasa-basi.

“Ya. Itu benar sekali,” jawab Adriano.

“Luar biasa,” sanjung Don Vargas sebelum meneguk minuman dalam gelas yang dia genggam. “Sebenarnya, aku juga berniat untuk membangun sebuah kasino lengkap dengan hotel dan segala fasilitas penunjang. Kasino bertaraf internasional dan dikhususkan bagi kalangan kelas atas tentunya. Aku ingin melebarkan sayap bisnisku dalam bidang real estate. Anda pasti mengetahui dengan jelas, jika bisnis dalam bidang tersebut sangat kuat dan stabil. Nilainya pun akan terus meningkat dari waktu ke waktu,” tutur pria itu dengan senyuman dingin.

“Ya. Itu memang benar. Bisnis dalam bidang real estate memang memiliki prospek yang sangat bagus dan menjanjikan, karena bisnis ini tidak terpengaruh oleh inflasi. Meskipun situasi negara berubah, biasanya harga property akan tetap stabil,” terang Adriano terlihat meyakinkan.

“Itu juga yang menjadi pertimbanganku selama ini. Akan tetapi, hingga sekarang aku masih bingung untuk menentukan lokasi pembangunannya,” balas Don Vargas.

“Aku sudah menyarankan Don Vargas untuk membangun kasino di Moskow. Kota kelahiranku,” sela Sergei dengan enteng.

“Aku menerima semua masukan,” sahut Don Vargas kembali meneguk minumannya.

“Eropa adalah pilihan yang bagus. Benua ini seperti menjadi tempat pertemuan antara Amerika, Asia, dan Afrika. Menurutku, Eropa akan jauh lebih strategis,” ujar Adriano, seraya meraih satu gelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat di dekatnya. Adriano meneguk sampanye tadi, sambil melihat Mia yang berada agak jauh darinya. Wanita itu duduk di kursi bar, dengan mata menerawang entah ke mana.

Adriano mengembuskan napas pelan, lalu kembali berbincang dengan Don Vargas. Dia tersenyum hangat saat Don Vargas memuji idenya yang brilian. “Kalau begitu, aku akan memilih Eropa. Namun, kira-kira di negara mana tepatnya?” Don Vargas mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis.

“Inggris?” cetus Adriano lagi. “Kudengar, harga tanah di daerah Birmingham sangat bersahabat untuk pengusaha seperti kita,” lanjutnya.

Mata Don Vargas berbinar menatap Adriano. “Lo sabia! (Sudah kuduga!). Anda adalah orang yang tepat untuk kuajak bekerja sama." Jari telunjuk Don Vargas mengarah pada diri Adriano. “Anda dan aku. Kita akan membangun kasino dan hotel terbesar di dataran Britania Raya,” tegasnya kemudian. “Aku tidak menerima penolakan!” lanjut Don Vargas saat melihat gelagat Adriano yang hendak membuka mulut dan tampak keberatan.

“Seandainya aku menjadi dirimu, maka aku tak akan menolak kerja sama ini,” ujar Sergei yang terlihat jauh lebih bersemangat dari Adriano.

Sementara, Adriano menoleh kepada Arsen. Isyarat mata pria itu seakan ingin meminta saran dari temannya tersebut. “Sepertinya, ini bisnis yang menggiurkan. Terima saja, Adriano,” saran Arsen dengan tenang tapi terlihat yakin.

Pandangan Adriano kembali beralih pada Don Vargas. “Baiklah. Tidak ada salahnya memperluas jaringan dan menambah kolega,” putus pria bermata biru itu pada akhirnya, dan segera disambut wajah ceria dari Don Vargas.

“Juan," sebut Don Vargas. "Setelah pesta ini selesai, segera urus segala sesuatunya di Inggris,” titah pria itu.

“Maaf, Don. Aku baru bisa bergabung bulan depan, karena beberapa hari mendatang aku akan pergi ke Florida bersama istri dan putriku,” ucap Adriano.

Mendengar hal itu, semua pasang mata mengarah kepada Adriano. “ Oh. Apakah kau juga mulai mengembangkan bisnis di sana?” tanya Arsen penasaran.

“Ah, tidak. Kami hanya melakukan perjalanan bulan madu,” dalih Adriano seraya tersenyum samar. Dia kembali melayangkan tatapannya pada Mia yang ternyata tengah memandangnya dengan tatapan sendu.

“Sekadar berlibur?” tanya Juan Pablo yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya menyimak.

“Ya. Sekadar berlibur," jawab Adriano yakin. "Maaf aku permisi sebentar. Aku harus menghampiri wanita cantik itu,” tunjuk Adriano pada Mia, seraya meninggalkan kolega-koleganya begitu saja.

“Harap dimaklumi, Don. Mereka pengantin baru. Dunia serasa milik berdua,” kelakar Arsen yang segera disambut gelak tawa dari semuanya. Sementara, Juan Pablo hanya menanggapi dengan senyuman simpul.

Sebenarnya, Adriano masih bisa mendengar saat mereka yang tengah berkelakar tentang dirinya. Akan tetapi, dia tak peduli. Perhatian pria itu kini hanya tertuju kepada Mia. “Kau mau kuambilkan sesuatu?” tanyanya setelah berdiri di samping sang istri.

“Tidak usah. Terima kasih." Mia segera menoleh dan tersenyum kaku pada suaminya.

“Apa kau ingin kukenalkan pada Juan Pablo?” tawar Adriano bernada sindiran.

“Siapa?” Mia menggeleng tak mengerti.

“Juan Pablo Herrera. Pria yang mirip dengan mendiang Matteo,” jawab Adriano datar.

Mia tertawa pelan. “Aku tidak ingin berkenalan dengan siapa pun. Aku hanya ingin menyendiri di sini sampai kalian selesai,” tolak Mia.

“Baiklah, jika itu yang kau mau, Mia. Aku akan membiarkanmu menyendiri di sini,” ucap Adriano. Dia berbalik begitu saja dari dekat Mia. Adriano kembali berbincang dengan Don Vargas hingga dua jam kemudian.

Namun, sesekali Adriano memperhatikan Mia yang sudah beberapa kali menguap. Pria itu pun memutuskan untuk berpamitan lebih dulu pada pemilik pesta. “Kita lanjutkan perbincangan ini lewat email atau telepon saja. Arsen bisa mencatatkannya untuk Anda,” ucap Adriano sembari menyalami Don Vargas dan semua yang berdiri di dekatnya.

“Tentu. Aku tak sabar menunggu proyek kita berjalan.” Don Vargas membalas jabat tangan Adriano lebih erat.

Tanpa membuang waktu, Adriano segera menghampiri Mia dan memegang tangannya. “Kita pulang sekarang,” ajak Adriano dingin.

“Sekarang? Apakah sudah selesai?” tanya Mia keheranan.

“Anggap saja begitu,” jawab Adriano tanpa menoleh. Dia terus menatap ke depan dengan genggaman yang tak lepas dari tangan Mia. Adriano menuntun wanita cantik itu berjalan melintasi aula pesta, hingga tiba di halaman depan mansion. Setelah itu, dia segera menghubungi sang sopir untuk menjemputnya di posisi mereka berdiri saat itu.

Selama dalam perjalanan, Adriano lebih memilih untuk diam dan memandang ke luar jendela. Tak dia hiraukan Mia yang sedari tadi memperhatikan dengan diam-diam.

Setelah tiba di mansion, Adriano keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Mia. Tak seperti biasanya, dia langsung berjalan mendahului sang istri dan bergegas menuju kamar Miabella. Di sana, dia hanya melihat sejenak putri sambungnya yang sudah terlelap, lalu kembali menutup pintu.

“Apa dia tidur nyenyak?” tanya Mia yang sudah berdiri di belakang Adriano. Membuat pria itu kembali membuka pintumn

“Nyenyak sekali,” jawab Adriano singkat, sebelum berlalu tanpa basa-basi.

“Kau mau ke mana?” Pertanyaan Mia tak mendapatkan jawaban, karena Adriano memilih untuk terus berjalan meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

Mia mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum melihat putrinya yang terlelap. Dia menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke kamarnya. Mia menyalakan lampu dan mendapati tempat tidur dalan keadaan kosong. “Adriano?” panggilnya. Namun, tak ada jawaban.

Mia segera mencari ke ruang ganti, kamar mandi, dan ruangan lain di kamar itu. Namun, Adriano tak ada di manapun. .

Dengan penuh tanda tanya, Mia melangkah ke dekat meja rias dan membersihkan wajahnya. Beberapa saat kemudian, dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam hati kecilnya, Mia berharap Adriano sudah masuk ke kamar saat dirinya selesai mandi. Akan tetapi, harapan Mia tak terkabul. Dirinya yang sudah bersih dan berganti pakaian dengan kimono, masih tak mendapati Adriano di dalam kamar luas tersebut.

Mia tak ingin berpikir terlalu jauh tentang hal itu. Dia langsug membaringkan diri dan menarik selimut. Tidur adalah pilihan yang tepat menurutnya.

Namun, setelah beberapa jam sudah berlalu, Mia tak juga dapat memejamkan mata. Rasa penasaran dalam hati akan keberadaan Adriano, membuatnya terjaga meskipun waktu sudah memasuki dini hari.

Akhirnya, Mia memutuskan untuk menyibakkan selimut. Dia bangkit, lalu berjalan menuju pintu. Mia kemudian membukanya dengan tidak terlalu lebar. Seketika, dia terkejut. Pasalnya, Adriano telah berdiri di luar kamar dengan tubuh limbung.

“Hei, Mia. Kenapa belum tidur? Apa kau menungguku? Ah, tentu saja itu tidak mungkin,” racau Adriano seraya terkekeh. Wajahnya memerah. Aroma alkohol menguar dari dalam mulut pria itu saat berbicara.

“Kau mabuk? Apa kau tidak cukup minum selama di pesta?” tegur Mia. Segera diraihnya tubuh jangkung Adriano yang hampir hilang keseimbangan. Sekuat tenaga, Mia memapah Adriano dan menahannya agar tak ambruk di lantai. Dibawanya pria itu hingga ke dekat tempat tidur.

Adriano langsung berbaring begitu saja. Membuat Mia yang saat itu masih melingkarkan tangan di pinggangnya, ikut tertarik dan jatuh di atas tubuh tegapnya. Setengah sadar, pria bermata biru tersebut memeluk Mia dengan erat.

“Lepaskan aku, Adriano. Ingat perjanjian kita,” tolak Mia sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, usahanya hanya sia-sia. Bagaimanapun juga, kekuatannya sangat jauh di bawah Adriano. Mia bagaikan kupu-kupu rapuh yang berada dalam cengkeraman seekor harimau.

“Kau menyakitiku lagi, Mia. Kau menyakitiku. Namun, aku tak pernah bisa membencimu. Aku tak pernah bisa membencimu. Cinta itu menyakitkan sekali, ya?" Adriano tertawa di sela racauannya. Sementara, kedua tangannya masih terus memeluk Mia yang menatap pria itu tak mengerti.

🍒

🍒

🍒

Hi, reader. Sambil menyimak kelanjutan kisah Adriano dan Mia, sempatkan mampir ke novel keren ini.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!