Abhi Athaillah. Seorang lelaki yang sedari kecil merawat ibu nya yang mengalami gangguan jiwa harus menikah dengan wanita yang juga mengalami gangguan jiwa. Siapakah wanita itu? Akankah Abhi mencintai wanita gila itu? Dan akankah wanita itu menerima Abhi sebagai suami nya setelah kembali sehat? Mohon like, and koment nya. Serta dukungannya ya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Seseorang yang Pernah Kau Cintai
[Someone you loved di Backsound pesona Ayra Khairunnisa di profil Author akan menambahkan kalian meresapi bab Ini]
Sebuah tenda berwarna hijau sebanyak empat unit tampak di depan kediaman ibu Mirna. Ibu Kinan yang merasa hutang Budi kepada keluarga Tina memutuskan untuk hadir di acara pertunangan anak Pak Bambang.
Ibu Kinan membawa serta Tania ke acara pertunangan Tina dan seorang lelaki Yang merupakan anak pak kades desa itu.
Rambut coklat Tania malam ini berganti menjadi rambut hitam. Bu Kinan yang tak ingin menantunya terlihat seperti seorang bule ditengah kampung pun menyulap penampilan Tania. Tania tampil cantik, ia tampak mengenakan gaun dengan panjang di bawah lutut dan lengan panjang berwarna merah tanpa motif. Gaya rambut, Tania yang terikat sebagian rambut atasnya sehingga tanpa poni makin membuat Istri Abhi itu terlihat cantik dan tampil berbeda.
Tiba di kediaman pak Bambang, Ibu Kinan dan Tania disambut oleh kedua orang tua Tina.
"Selamat datang ibu Kinan. Alhamdulilah saya ikut senang akhirnya anda sehat."
"Alhamdulilah. Terimakasih pak Bambang dan Bu Maryana. Saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada kalian. Saya dan Abhi banyak berhutang Budi pada kalian."
"Loh Ini siapa Toh Bu?"
Bu Maryana yang sedari tadi tak berhenti memandang Tania yang tampil cantik, dan seksi. Tubuh Tania makin terlihat seksi karena pola makannya yang tak lagi mengenal diet.
"Owh ini Istrinya Abhi. Lah memangnya Ibu dan Bapak belum pernah bertemu?"
"Lah Yo belum. Wong Abhi itu Ndak pernah ngajak istrinya itu kesini. Apalagi keluar rumah."
"Wah cantik begini, semok, kok ya masih ngelirik Tina itu sih kue serabi."
Bu Maryana bermonolog dalam hatinya.
Ibu Kinan dan Tania dipersilahkan duduk di dalam rumah karena dianggap sebagai bagian dari keluarga. Tania hanya bisa diam dan mengikuti sang mertua tanpa bicara. Acara demi acara berlangsung dan ketika acara inti Tina keluar dari kamar dan duduk diruangan itu. Tina beradu mata pada Tania.
Sekelebat memory Tania merekam ia sedang melempar perempuan yang sedang mengenakan gamis putih itu. Ia mengingat kejadian dimana ia ingin mencakar Tina karena adegan kiss yang mereka lakukan. Kondisi psikis Tania saat itu berangsur membaik.
Tiba-tiba hati Tania meremang. Ia mengingat kejadian tadi siang bagaimana Abhi terkejut ketika mendengar kabar jika Tina akan menikah.
"Inikah alasan mu tidak hadir Abhi? apakah aku yang jadi orang ketiga diantara kalian atau kamu yang jadi orang ketiga diantara aku."
Sedangkan Tina cepat membuang pandangan nya dari Tania.
"Semoga kamu bisa membahagiakan Bang Abhi."
Saat acara telah selesai, Ibu Kinan masih bercengkrama dengan keluarga dan tetangga yang menanyakan kabar nya. Tania yang tak terbiasa duduk diatas karpet mulai bosan dan lelah. Hampir lima belas menit duduk di karpet membuat Tania mulai bosan dan sakit bagian pan/tat nya dan kakinya. Hingga ia berdiri dan berjalan keluar, terlihat di sudut tenda Tina dan calon suaminya ber- swafoto bersama teman dan beberapa keluarga.
Tania yang melihat ke sekeliling memotret sesosok yang ia kenal. Orang itu sedang menangis di pojok tenda. Ia berdiri dibalik tiang sebuah rumah yang berada disebelah rumah Tina. Orang itu adalah Abhi. Tania dari tempatnya berdiri bisa melihat jelas Abhi beberapa kali mengelap air mata yang membasahi pipinya.
Berkali-kali Abhi meninju tiang pagar rumah tetangga. Dan kepalanya ia benturkan di tiang pagar itu.
"Kamu mencintai dia Bhi. Jadi hatimu telah terisi orang lain? Kamu yang jahat atau aku. Sakit rasanya. Inikah yang William rasakan ketika aku selalu menolaknya?"
Rongga-rongga hati Tania terasa hangat dan sesak. Ia duduk di kursi yang terdapat sebuah keyboard. Pemain keyboard yang sedang beristirahat hingga suasana cukup sepi. Tania yang bingung karena ingin pergi tapi entah kemana. Ingin menjerit tapi tak mungkin.
Hingga ia melihat keyboard yang ada dihadapannya. Ia yang pandai bermain piano cepat menarik kursi dan membenarkan posisi duduknya.
Ia menyapu tuts Tuts keyboard itu. Hingga jari-jarinya dengan lentur memainkan nada dari sebuah lagu Someone you loved yang bercerita tentang seseorang yang sangat terpukul karena sang kekasih meninggalkannya. Bahkan ketika dalam keadaan terpuruk kekasihnya tidak ada di sampingnya.
Lagi itu sering dinyanyikan oleh William untuk nya. Hingga Tania dengan muda hapal lirik dan not balok nya. Kini ia dapat merasakan betapa sakit dan terpukul nya ketika ditinggalkan oleh orang yang kita cintai.
Tak ada suara yang Tania yang lontarkan. Hanya deraian air mata yang mengiringi lincahnya tangan Tania yang menghasilkan glitch dalam visualisasi tangannya. Nada-nada yang mampu mewakili bibir yang tak mampu berucap.
Abhi yang mendengar nada-nada piano itu pun cepat mencari sumber suara. Sosok yang berbeda namun Abhi kenali. Perempuan berbaju merah itu memainkan Piano itu sambil menatap dirinya dan berderai air mata. Abhi yang juga menatap ke arah Tania membuat sepasang suami istri itu menangis dalam satu rasa. Tapi untuk orang yang berbeda.
"Kamu sangat mencintainya Bhi. Apakah aku yang terlambat datang atau inikah balasan karena pernah menyakiti hati orang yang amat mencintai kita.?"
"Kamu menangis Tania? Untuk siapa tangisan mu?Apa betul kata Suryo jika kamu punya hati pada ku dalam kegilaan mu? Kenapa kamu terus menatap ku seperti itu?"
Tania tak tahan dengan rasa sesak didadanya. Ia berdiri dan berlari ke arah Abhi. Ia berlari tanpa alas kaki. Tanpa menghiraukan panggilan ibu Kinan. Dan tanpa memperdulikan beberapa orang yang mendokumentasikan dirinya ketika bermain piano tadi.
"Bruuugh."
"Hiks.Hiks.Hiks."
"Sakit. Sakit saat tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan. Inikah yang kamu rasakan Willian ketika aku terus menolak mu."
Tania menangis tersedu-sedu dalam pelukan Abhi. Abhi yang kaget hanya terpaku. Ia tak tahu apa perihal yang membuat istrinya itu menangis begitu memilukan dan kini berlari memeluk dirinya.
"Tangisan apa Tania? Tangisan cinta kah? tangisan kasihan kah karena kamu tahu cinta ku tak sampai?"
Abhi mengusap punggung Tania lembut. Ia pun seolah butuh bahu untuk bersandar. Abhi menjatuhkan dagunya pada pundak Tania. Ia juga menangis namun tanpa suara Isak tangis.
Hanya dada yang terus bergerak menahan sesak di dada. Satu pasang suami istri yang menangis karena rasa tersakiti.
Dari teras rumah tak jauh dari tempat Abhi dan Tania sedang saling mencoba menenangkan lewat bahasa mereka. Ibu Kinan bermunajat dalam hatinya.
"Tuhan, Panjangkan usia pernikahan anak ku. Jika Tania jodoh Abhi. Maka dekatkanlah hati mereka. Satukan mereka dalam satu rasa cinta."
"Kadang kita tak harus memiliki apa yang kita inginkan Bang. Belajarlah mencintai Tania. Aku pun akan belajar mencintai Calon suamiku. Semoga kita sama-sama menemukan kebahagiaan bersama orang yang Allah kirimkan untuk kita."
kka sebutir debu.. maa syaaAlloh rindu akan ilmumu.. kak /Sob/ gmna kbarnya kka?? sejak tahu novel yg kka belum up sya gak buka noteltoon lagi.. tp sekarng bbrpa hri tiba2 mau buka lagi ternyata kka bkin karya baru..
makasih kak../Rose/
alhamdulillah ibu kinan bener" sdh sembuh