Rinduku terlarang untukmu.
Jonathan adalah bos yang sempurna seksi, matang, tampan dan yang penting adalah pengertian. Bagi Jonathan, Lily, sekretarisnya adalah sosok yang sempurna. Dia melakukan tugasnya sebagai sekretaris juga sebagai tunangan palsu yang akan menyingkirkan wanita penggoda dari dekatnya.
Tugasnya melebihi seorang istri, selalu melayaninya di kantor maupun di rumah kecuali di ranjang. Sampai Jonathan berpikir jika dia tidak akan bisa hidup tanpanya.
Hingga Bella datang membuat Jonathan jatuh cinta dan merubah semua cerita. Bella laksana seorang dewi didepannya. Dia memuja wanita itu dan berkeinginan untuk menikahinya dalam waktu dekat.
Lily merasa patah hati dan tersingkir. Dia mulai mundur dari kehidupan Jonathan secara perlahan. Memutuskan untuk menikah dengan mantan kekasihnya.
Jonathan mati-matian berharap Lily tidak meninggalkan pekerjaan. Hal itu membuat Bella sadar bahwa bukan dia yang Jonathan butuhkan. Bella cemburu dan berharap Lily pergi dari kehidupan Jonathan selamanya.
Akankah rindu Jonathan itu akan bersambut ataukah rindu itu akan terlarang selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit
"Kau sudah melakukan hal benar," tukas Jonathan. Aku tidak akan memintamu melakukannya dan merebut kau dari Alberth."
"Aku minta maaf," ungkap Lily dengan susah payah. "Aku minta maaf, dari awal aku memang mencintaimu dan ingin bersamamu tapi aku selalu mengacaukannya, ketika kau menawarkan kebersamaan, aku menolakmu. Padahal kita ... bisa saja hidup bahagia ketika itu."
"Aku tidak bisa bilang apa-apa tentang itu, semua sudah terjadi. Tidak ada yang salah di sini."
"Sebenarnya, aku ingin berbicara denganmu mengenai Melati dan ibunya." Lily mengatakannya dengan hati-hati. "Dia bercerita tentang ini dan itu, tentang perasaannya. Aku tidak tahu jika dia adalah anakmu, ehm itu jika kau tidak keberatan...."
"Ceritanya panjang, semua menyedihkan," Jonatan berharap andai dia bisa mengungkapkan semuanya di depan Lily, mungkin hatinya akan lebih lega karena ada yang mendengarkannya.
"Kau tahu bukan jika aku pendengar yang baik," ujar Lily.
"Aku tahu tapi itu tidak akan terjadi."
"Apa maksudmu, aku bisa menerimanya." Sebuah kekecewaan terpancar dari suaranya. "Aku dulu selalu mendengarkan cerita tentang semua wanitamu, aku bahkan yang menyiapkan kencanmu, hadiah untuk wanitamu, hingga penampilanmu secara keseluruhan."
"Kau pasti bisa mendengarkan semua curahan hatiku." Jonathan nampak berpikir kata tepat apa yang harus dia katakan pada Lily. "Jika kau jadi ibunya aku mungkin akan menceritakan semuanya padamu tanpa terkecuali, membagi beban berat yang ku pikul selama ini."
"Dia memang bukan anakku tapi aku bisa membantumu dan dia," desak Lily.
"Dengar dulu Okey. Kita sudah bukan seperti dulu, yang masih sama-sama single dan melakukan semuanya sesuai dengan keinginan hati kita. Sekarang kau sudah...." Jonathan tidak tahu hubungan apa dirinya dan Lily dulu. Bukan kekasih tetapi lebih dari kekasih. "Karena semua sudah tidak seperti dulu, aku menjaga batasan yang ada. Aku dan kau tidak bisa bersikap seperti dulu lagi, bahkan berbicara seperti ini tidak boleh...."
Deg!
Mata Lily memanas. Dia hampir lupa jika ada Alberth yang akan terluka jika mendengar apa yang dia lakukan dan bicarakan dengan Jonathan. Walau tidak melewati batas tetapi ini akan menyakitinya. Dia harus menjaga hati tunangannya.
Dia mengusap pipi dengan telapak tangannya berkali-kali. Setiap sel dalam tubuh Jonathan ingin sekali memberi ketenangan pada Lily dengan pelukannya. Berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, jika itu dia lakukan maka yang ada malah semua tidak akan baik.
Mereka berdiri terdiam, melihat keluar jendela. Menatap sebuah keluarga kecil yang baru saja keluar dari toko Go Win. Tawa lebar terlihat dari wajah mereka, sang Ayah menggendong putrinya sambil merangkul bahu sang istri. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua?
Lily akan membina keluarga dengan Alberth. Jonathan tidak menyalahkannya atas keputusan yang dia buat. Tidak iri pada kebahagiaan yang akan Alberth miliki ketika bersama dengan Lily. Dia hanya berharap hatinya tidak akan terluka sedalam ini.
Yang menyakitkan saat memandang mata Lily, dia bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Cinta dan kerinduan yang sama besarnya ketika dia meninggalkan Lily dulu di perkampungan untuk menikah dengan calon pilihan ayah wanita itu.
"Lily, aku harus pulang. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Aku harap kita bisa kembali bertemu sebagai teman," ucap Jonathan dengan kepedihan. Dia mengepalkan tangan erat agar tidak memeluk wanita itu lagi.
Dada Lily sendiri sudah terasa sangat sesak seperti akan meledak. Menahan setengah mati agar tidak ada air mata yang keluar.
"Ya, kita akan jadi teman. Hanya teman." ucapnya dengan suara gemetar. Jonathan kaku melangkah keluar ruangan itu dan turun ke bawah melewati tangga, di saat itu air mata Lily turun dengan derasnya, menatap nanar kepergian Jonathan hingga tidak terlihat lagi.