Chayra terpaksa menelan kenyataan pahit di hari pernikahannya. Calon imam yang sangat ia cinta ternyata telah menanam benih di rahim wanita lain.
Dengan sisa-sisa ketegaran, Chayra menerima takdir yang telah digoreskan oleh Illahi.
Meski Alif masih sangat mencintai Chayra, ia dilema ketika Kirana sang ibu angkat, memintanya untuk menjadi imam pengganti bagi Chayra.
Muhammad Alif Firdaus, ada apa denganmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Duka
Happy reading 😘😘😘
Chayra tak mampu lagi membendung derasnya air yang mengalir dari telaga bening, hingga mendorong Alif untuk mengulurkan tangan dan membawanya ke dalam dekapan.
"Sayang ... maaf. Maafkan mas Alif ...." lirihnya dengan nada suara yang terdengar bergetar. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya terasa sangat nyeri kala mendengar isak tangis wanita yang dicinta ....
Setelah tangis Chayra mereda, Alif melerai dekapannya. Ia seka jejak air mata yang membasahi wajah istri tercintanya itu lalu melabuhkan kecupan dalam di kening.
"Sudah larut malam, Yang. Lebih baik, Sayang segera tidur!"
"Iya Mas. Aku tidur di kamar sebelah ya --"
Alif menggeleng pelan dan mengulas senyum. "Sayang tetap tidur di kamar ini! Jika Sayang tidak ingin kita tidur seranjang, mas Alif bisa tidur di sofa atau di lantai, dan Sayang bisa tidur di ranjang."
"Tapi mas Alif nggak akan nyaman tidur di lantai atau di sofa --"
"Tidur di manapun, mas Alif akan merasa nyaman. Asal berada dekat dengan Sayang. Jika kita tidur di kamar terpisah, bagaimana mas Alif bisa menjaga Sayang? Sekarang, tidurlah Yang! Mas Alif janji, nggak akan meminta hak sebagai seorang suami ... sampai masalah rumah tangga kita terselesaikan. Doakan, semoga mas Alif bisa segera mengurai benang kusut yang membelenggu hubungan kita --" pintanya dengan kesungguhan hati.
"Iya Mas. Aku selalu berdoa, semoga Allah memberi petunjuk dan kemudahan. Jika kita memang berjodoh, insya Allah segala badai uji akan mampu kita lewati. Namun jika Allah menghendaki kita berpisah, semoga aku dan mas Alif bisa saling melepas dengan ikhlas --" Chayra berusaha menerbitkan seutas senyum meski hatinya remuk redam saat mengucapkan kata 'melepas dengan ikhlas'. Begitu juga dengan Alif. Bibir bisa berkata ikhlas, tetapi bagaimana dengan hati yang terlanjur di tumbuhi bunga-bunga cinta?
Mulai detik ini, saat ini, keduanya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Alif beranjak dari ranjang kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara Chayra, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Meski rasa kantuk mulai menyerang, sepasang jendela hatinya enggan terpejam. Chayra masih terngiang ucapannya sendiri.
Yaa Allah, berilah petunjuk dan kasih sayang-Mu kepada kami. Jika mas Alif seorang imam yang terbaik untuk hamba, maka kuatkanlah tautan cinta kami. Namun jika mas Alif bukan imam yang terbaik, lapangkanlah hati hamba untuk menerima takdir yang Engkau tulis untuk kami ....
Yaa Allah Yaa Robb, hamba seorang insan yang zalim. Ampuni segala dosa dan khilaf hamba. Berikan petunjuk dan kesempatan kepada hamba untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah hamba perbuat. Yaa Robb, lapangkanlah hati hamba untuk menerima takdir yang Engkau goreskan untuk kami .... Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kunanna minal khosirin. Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Setelah melangitkan pinta di dalam hati, Alif dan Chayra memejamkan mata. Mereka berlayar ke pulau mimpi, berharap menemukan ketenangan di sana. Sehingga esok pagi mampu untuk tetap tegar dan tersenyum menjalani hari ....
....
Pagi kembali menyapa berteman rintik gerimis sejak subuh tadi. Usai menunaikan ibadah sholat subuh, Chayra menyiapkan sarapan.
"Yang, mas Alif bantu ya?" tawarnya sambil memegang pisau dan sayur bayam yang tergeletak di atas meja.
"Nggak usah, Mas. Mas Alif 'kan sedang sakit. Lebih baik, mas Alif duduk manis sambil menonton TV. Nanti, aku buatin kopi --" Chayra menolak dengan tutur katanya yang terdengar halus.
"Mas Alif nggak sakit, Yang. Nih badan mas Alif segar, bugar --" Alif pantang menyerah. Diangkatnya satu tangan dan menunjukkan kekuatan otot-ototnya.
"Hmmm, terserah kamu dech, Mas. Tapi, kamu yang masak ya!" Chayra mengulas senyum dan menyodorkan spatula.
Seutas senyum yang menghiasi wajah cantik Chayra bagaikan embun yang mampu menyejukkan hati. Alif menarik kedua sudut bibirnya dan menerima spatula dari tangan Chayra. "Siap Yang. Mas Alif akan memasak makanan spesial untuk kamu --"
"Trimakasih, Mas."
"Kembali kasih, Sayang."
Satu jam berlalu. Alif dan Chayra telah selesai menyiapkan semua makanan untuk sarapan.
Keduanya duduk bersebelahan dan mulai menikmati semua makanan yang terhidang di meja.
"Mas --"
"Ya, Yang --"
"Mas Alif jadi membawa aku ke Kairo?"
"Tentu saja, Yang. Sayang keberatan?"
Chayra menggeleng dan memasang raut wajah sendu. "Aku nggak keberatan, Mas. Cuma kepikiran anak-anak didikku. Mereka seperti anak-anakku sendiri --"
Alif meraih tangan Chayra dan menggenggamnya erat. Kemudian ia menatap lekat raut wajah istrinya yang terlihat sendu. "Insya Allah, kita nggak akan lama tinggal di Kairo. Jika masalah rumah tangga kita bisa segera terselesaikan, mas Alif akan resign dari rumah sakit dan membawa Sayang pulang ke Jogja, supaya Sayang bisa kembali mengajar. Mas Alif ingin hidup bersama Sayang dan anak-anak kita kelak ... di kota ini. Kota tempat kita dibesarkan dan pernah menjalani hari-hari indah bersama, sebelum mas Alif melanjutkan study ke Kairo --"
Drttt ... drrtttt ....
Suara getaran benda pipih memangkas ucapan Alif dan mengalihkan atensi keduanya.
"Sebentar ya, Mas --"
"Iya Sayang."
Chayra mengambil benda pipih miliknya kemudian menggeser layar untuk menerima panggilan telephone dari Raina.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'allaikumsalam, Ra --"
"Ada apa, Ma? Kenapa, nada suara Mama terdengar bergetar?"
"Oma Shella --"
"Oma buyut, kenapa Ma?"
"Oma Shella, meninggal dunia Ra --"
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un --" Tangan Chayra terasa lunglai, hingga benda pipih yang berada di dalam genggamannya terlepas.
"Ada apa, Yang? Mama bilang apa?" Alif melisankan tanya disertai raut wajah yang menyiratkan rasa cemas.
"Oma buyut --"
"Oma buyut, kenapa Sayang?"
"Oma buyut, meninggal Mas --" Chayra menangis tergugu, meluapkan duka yang kini tengah dirasa.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Yang sabar dan ikhlas, Yang --" Alif merengkuh tubuh Chayra dan membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya punggung istri tercintanya itu, untuk mentransfer energi positif agar kembali merasa tenang.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon doanya ya Kakak-kakak, semoga author diberi kemudahan untuk UP setiap hari. Sehingga ... Insya Allah, di penghujung Ramadhan nanti, konflik Chayra dan Alif terselesaikan. Bagaimana ending kisah mereka? Tetap stay dan silahkan berkomentar apapun. Tetapi author minta, jangan menurunkan rate ⭐, supaya semangat author tidak meredup. 😉🙏
Mohon maaf apabila salah kata dan bertebaran typo, trimakasih dan banyak cinta 😘💖
nyesal deh dulu saat jadi susmi istri tidak melakukan hub susmi istri dgn Elmira
nyesal nikahin Chayra
katanya hanya Chayra Lif
Aku juga nyesel Lif tekah menganggapmu baik
Ceraikan saja Chayra Lif mudahkan
berbahagialah bersama Elmira zLif
Ada misteri dihidup Allif
Alif ada apa dihidupmu sekarang ?
terluka lagu dong cyara