Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Kencur Melawan
“Daaa... Om.”
Sehabis membuka pintu, Putri berjalan ke pos satpam. Si pemilik mobil menurunkan kaca.
“Belajar yang pintar ya, Putri...”
“Iya, Om.”
Lalu Ken menaikan kaca, dan tancap gas. Jalanan masih lengang. Aktifitas belum menggeliat di sana-sini. Pria berseragam biru cerah itu, terus melajukan mobilnya membelah langit kelabu. Dia sehabis mengantar Putri sekolah.
Selang sesaat mobil tiba di markas. Setelah turun dari mobil, dia berjalan ke gedung tempat kerjanya. Terdengar nada dering di Hp-nya. Setelah tahu siapa yang menelponnya, diangkatnya.
“Ya?” sapanya.
“Wah.... Parah elo!" kecam Awang.
“Pagi-pagi banget, elo nelpon gue hanya mau ngomong gitu?”
“Iya lah!”
“Hanya gitu doang, udah serasa tersika lahir bathin banget elo."
“Eh! Gue tersiksa bukan nganterin anak itu doang. Tapi dari pertama elo udah ngerjain gue.”
"He..." Ken cengengesan.
“Pantas elo nyuruh gue ngurusin tuh anak. Tahu gitu, nggak jadi gue barter lukisan sama elo.”
“Baru gitu doang."
“Baru gitu doang, baru gitu doang, baru gitu doang apaan? Eh! Elo udah ngerjain gue habis-habisan. Terus tahu nggak, sampai Isya, gua baru tiba nganterin dia. Udah mana gue di taruh dia di tempat pembuangan Jin lagi!"
Bingung. “Maksudnya?”
“Gue disungsepin dia di bawah pohon beringin. Tuh, anak nggak mau gue antar sampai rumahnya.”
Tertawa lepas. “Huahuahua...”
“Jangan ketawa elo. Kampret bener!”
“Berarti tuh anak tahu, elo cocoknya di mana.”
“Sialan benar elo!”
“Huahuahua...” Ken tertawa lagi.
“Eh! Ngomong-ngomong kok cabe-cabean elo, manggil Om sih! Kenapa elo...”
“Udah ya, gue mau kerja nih!”
Klik! Telepon dimatikan Ken.
Dia tahu, sahabatnya itu mau tahu kenapa dia gak mengoreksi panggilan calon bininya.
Awang di sana melongo. Lalu menurunkan Hp-nya di telinga, dan mengamati layar.
“Asem bener!” umpatnya.
*********
“Yuk, ke kantin?”
“Nggak ah, badan gue sakit-sakit.”
Mimi merebahkan kepalanya ke meja. Putri kembali duduk. Dia pun sebenarnya malas, takut ketemu Boy di sana. Seharusnya dia menanyakan kenapa cowok itu tahu rumah orang tua Ken. Namun melihat wajah cowok itu saja, membuat dia teringat tentang pernyataannya tempo hari yang belum dibalasnya.
“Kenapa elo nggak pergi?” tanya Mimi.
“Nggak jadi deh! Gue di sini saja.”
“Nggak lapar elo?’
“Gue kan, setia sama elo.”
Mendengus. "Cih!"
Cengengesan. "He..."
"Eh! Ntar pulang antarin gue, yuk?”
“Katanya badan elo sakit-sakit.”
Jadi sehabis diantar Awang, ke dua kaki Kencur 2 masih kram. Rasa ngilu itu jadi menjalar ke seluruh badannya. Namanya anak nggak pernah ngerasain susah. Ya, sebenarnya Mimi 11-12 lah sama Putri.
“Udah agak mendingan sih! Cuman gue malas aja bergerak ke kantin.”
“Emang elo mau kemana?”
“Kakak gue ulang tahun. Gue mau beli kado.”
“Oo... Gitu. Tunggu ya.”
Bingung. “Maksudnya?”
“Gue ijin dulu sama Om gue.”
“Oo..." Mimi baru paham.
Kemudian Putri mengeluarkan Hp-nya di tas, dan mengetik pesan. Namun saat mau dikirimnya tiba-tiba dia jadi urung. Karena dia baru sadar, kenapa juga dia harus melapor? Dia berhak jalan dengan siapa saja. Lagian, orang tuanya nggak pernah melarang sampai segitunya. Jadi lebih baik dia memberi kabar ke bapak Ken saja agar tidak menjemputnya. Setelahnya, dia memasukkan kembali Hp-nya ke tas.
“Udah?” tanya Kencur 2.
“Udah. Ntar gue antar elo.”
Putri menjawab, tanpa mengatakan kepada siapa sebenarnya dia mengirim pesan. Tapi sebenarnya gak mungkin juga dia jujur. Itu kan, ke bapak Ken.
Beberapa jam kemudian, bel berbunyi. Waktu pulang sekolah telah tiba. Dua gadis ceriwis itu membereskan peralatan sekolah mereka. Lalu keluar kelas berjalan ke jalan raya. Setiba di sana, mereka memberhentikan taxi. Kemudian meluncur pergi ke mall.
Sementara itu di lokasi lain, di salah satu ruangan kerja Angkatan Udara. Ada yang sedang memperhatikan jam dinding.
Sesaat lagi Pinky-nya sampai rumah. Dirasa-rasa waktunya sudah pas, Ken meraih Hp-nya dan mengamati layar. 5 menit, sampai 10 menit ditunggu namun belum juga ada kiriman photo dari Pinky-nya. Karena gak sabaran, Ken akhirnya menekan tombol menghubungi Putri.
Sepertinya folder-nya hari ini absen. Karena yang dihubunginya tidak ada mengangkat teleponnya. Bahkan sudah dihubunginya berulang kali.
Sedangkan dua gadis ceriwis itu di sana sebaik tiba di mall. Lagi asik menelusuri pertokoan. Mall yang mereka pijaki nggak jauh dari sekolah. Kakak Mimi bergender cowok, dan duduk di bangku kuliah. Mereka mencari kado untuk seusia segitu. Yang tentunya tidak jauh beda saat Putri mencari kado buat Boy. Karena usia segitu beda tipis.
Tiap toko khusus cowok mereka singgahi. Akhirnya Mimi menjatuhkan pilihan ke jacket milenial kekinian berbahan denim. Di toko terakhir yang mereka singgahi.
“Ini, saja.”
“Iya, keren!” setuju Putri.
Seusai Mimi bayar, mereka keluar. Namun tak terduga di depan toko, mereka papasan dengan cowok yang saat ini lagi dihindari Putri.
“Boy!” pekik mereka.
“Eh!” kaget Boy juga.
“Lagi pada ngapain nih kalian?” lanjutnya.
“Elo juga lagi ngapain di sini?” tanya balik Mimi.
“Oo... Gue mau cari sticker buat motor gue.”
Lalu mata Boy curi-curi pandang ke gadis di sebelah lawan bicaranya. Yang salah tingkah ketemu dengannya.
“Temenin gue, yuk?” ajaknya kemudian.
“Ayok!" balas Mimi.
Putri terkesiap, namun dia nggak bisa perbuat apa-apa. Karena Mimi mengikuti langkah kaki Boy, dan dia pun jadi mengikuti.
Setelah Boy dapat barang yang di carinya, mereka mampir ke toilet. Karena Mimi kebelet pipis. Ditinggal berdua begitu, Putri jadi makin kalut. Tentu karena dia takut ditagih tentang jawaban pernyataan Boy. Tapi karena ada hal yang ingin diketahuinya. Jadi perasaan tentang hal itu diredamnya.
“Boy, kok elo tahu rumah gue sih?” tanyanya.
“Gue sebenarnya waktu itu ngikutin elo. Habis gue merasa nggak sopan aja ngantarin cewek nggak sampai rumahnya. Selain itu, yahhh... Gue cemas juga. Kalau belum lihat elo sampai rumah.”
"Oo... Gitu.”
“Sorry ya Put.”
“Yuk, udah, yuk!” Mimi membuyarkan obrolan mereka.
"Eh! Sekarang kita kemana nih?” lanjutnya.
“Pulang aja, yuk?" pinta Putri.
"Ya udah, yuk!"
Putri sebenarnya enggan pulang diantar Boy. Karena terus dipaksa Mimi, jadi mau nggak mau dia tak bisa menolak. Kemudian mereka berpisah di parkiran.
Lalu di motor, Putri melamun. Beberapa kali diajak ngomong dengan cowok di depannya dia tidak fokus. Kenapa? Sungguh dia sedih. Disaat cowok idamannya membuka hatinya kepadanya, malah dia harus menjauh.
Dua tahun lebih dia memendam perasaannya. Dari yang sekedar curi-curi pandang lewat kelas Boy. Lalu diam-diam memandangi di perpustakan, dan menonton basket, kemudian di kantin, dan lain sebagainya. Betapa menyedihkannya rasa suka yang dimilikinya, yang begitu lama dipupuknya, tapi terpaksa harus dienyahkannya. Disaat dulu dia bersusah payah mencari-cari perhatian, dan mengidolakan Boy setengah mati. Namun jadi begini...
“Sudah sampai Put," ucap Boy.
“Iya.”
Putri turun dari motor, membuka helm, dan menyerahkan ke Boy.
“Makasih ya, Boy.”
“Pengennya gue ngantar elo sampai rumah. Tapi elo nggak ngijinin."
Harusnya dimana-mana cewek senang. Jika cowok idamannya mengantar sampai rumah. Atas itu, Putri jadi kembali sedih. Dia jadi menundukkan kepala.
“Sorry ya Boy.”
“Nggak apa-apa. Ya udah, elo jalan deh! Gue lihatin.”
Saat Putri mendongakan kepala. Alangkah terkejutnya dia, melihat mobil yang sangat dikenalinnya melaju di belakang Boy. Kemudian membunyikan klakson.
Tin! Tin! Tin!
Boy menoleh. Ken menepikan mobilnya ngasal, lalu turun dari mobil.
“Dari mana kamu?” tanyanya ke Putri.
Putri tidak menjawab. Karena otaknya masih kaget jadi sulit mencerna situasi yang terjadi saat ini. Ken beralih ke cowok itu.
“Kamu, masih saja menemui keponakan saya. Sa...”
“Saya mencintai keponakan Om,” potong Boy.
Terbelalak. “Apa?!”
Begitu pula Putri terkesima. Tentu dia kaget hal yang dulu diidam-idamkannya sekarang terdengar nyata di depan matanya.
Jelas, tempo hari cowok itu menembak tidak ada embel-embel kata cinta ke gadis itu. Hanya bilang suka saja. Wajar, jika gadis itu jadi kaget.
“Saya mencintai keponakan Om. Memang saya masih kecil. Tapi apa saya salah punya perasaan cinta di usia saya? Cinta tidak mengenal batas usia kan, Om?”
Ken menarik nafas dalam-dalam. Dia nggak menyangka anak ingusan itu berani bicara begitu padanya. Lalu dilihatnya Putri yang lagi memandangi cowok itu tak berkedip. Karena itu, lekas di tariknya Putri di bawanya ke mobilnya.
“Ayo, pulang.”
“Boy!” seru Putri.
Setelah Putri dimasukkan ke mobil, Ken balik lagi menghampiri Boy.
“Cinta memang tidak mengenal batas usia. Tapi keponakan saya hanya diijinkan mengenal cinta yang didalamnya berisi keseriusan. Bukan cinta-cintaan monyet. Paham kamu maksud saya?"
Boy terkesima, pria itu kembali melempar ucapan saat pertemuan mereka di mall. Yang bermakna, tunggu dia sampai matang dulu, baru boleh pacarin Putri.
Ken lekas balik badan, dan masuk mobil. Lalu pergi meninggalkan bocah ingusan itu. Putri memandangi Boy dari balik kaca. Kemudian dia beralih ke pria di sebelahnya.
“Om kasar banget sama Boy!” kesalnya.
“Kamu habis dari mana? Kenapa nggak kabarin, Om?” tanya Ken, berbicara lain.
“Oh ya, masalah itu. Putri nggak mau lagi mengikuti aturan Om. Terserah Om mau ancam-ancam Putri. Putri nggak peduli! Putri punya kebebasan sendiri. Om nggak berhak atur-atur Putri. Memang Om, siapa? Papi, Mami, Putri saja, nggak melarang Putri sampai segitunya. Ya! Memang Putri dititipin sama Om. Tapi bukan berarti Om bisa sebebas-bebasnya melarang Putri."
Lekas Ken menghentikan laju mobilnya, dan menoleh.
“Tadi kamu bilang, apa? Memang, Om siapa?”
Ken bertanya ke poin yang mengganjal di hatinya. Yang tadi ada dikatakan Putri.
“Iya! Memang Om siapa?!” ucap Putri melotot tajam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesuai perkataan Author, seminggu 4-5 x terbit. MInggu ini sudah 5, sampai ketemu lagi minggu depan. Jangan lupa rating bintang 5, like, & komen. Tinggalkan jejakmu...
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya