Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang Pupus
Malam harinya Raka mengantar Nia pulang. Selama perjalanan pulang Nia terus mengembangkan senyuman, membuat Raka gemas melihatnya. Raka menghentikan mobil di pertengahan jalan, lalu merogoh sesuatu dalam sakunya.
"Kenapa berhenti?" tanya Nia.
Raka mengeluarkan benda yang selalu ia bawa kemana-mana. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Dibukanya lalu disodorkan pada Nia seraya berkata, "Maukah kamu menjadi istriku?"
Nia terbelalak. Senang bercampur haru menjadi satu. Netranya meneteskan air mata, menatap mata Raka lekat.
"Ini terlalu cepat," jawab Nia.
"Aku tahu. Terima saja dulu jika kamu bersedia, nanti aku akan kembali melamarmu bersama keluargaku," jelas Raka.
Nia mengangguk. Raka menarik tangan Nia lalu melingkarkan sebuah cincin di jari manisnya. Setelahnya, ia mengecup punggung tangan wanitanya itu.
"Mau jalan-jalan dulu?" tawar Raka hendak menyalakan mesin mobilnya kembali.
"Emang kamu gak capek?" tanya Nia.
"Entahlah, selama bersamamu rasanya aku tak mengenal lelah," ungkap Raka.
"Lain kali aja, ya. Aku lelah, Yang. Mau istirahat aja," tolak Nia.
"Oke, Sayang. Tapi boleh gak aku ngelus perutmu? Hehe," pinta Raka.
"Emm, boleh."
"Hai, Sayang. Kenalin aku dokter muda yang akan menjadi ayahmu. Lekaslah keluar biar bisa cepet ketemu Ayah ganteng," ucap Raka seraya mengelus perut Nia.
Tiba-tiba ada gerakan di dalam sana, seolah memberi respon pada Raka membuat Raka dan Nia tertawa bahagia.
***
"Assalaamu'alaikum," ucap Nia memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam. Udah pulang, Dek? Rakanya mana?" jawab Febi dari dalam.
"Dia langsung pulang, Mbak. Tadi antar sampai depan aja."
"Gimana lancar?" Febi menanyakan pertemuan Nia dengan calon mertuanya.
"Alhamdulillah, Mbak. Ibunya Raka terima aku, walau awalnya menegangkan."
"Baik 'kan dia?"
Nia hanya mengangguk. Kakinya melangkah menuju dapur, mengambil segelas air lalu meminumnya. Febi mengekorinya dari belakang.
"Terus gimana kamu udah bilang sama Ibumu?"
"Belum, Mbak. Aku rasa nanti saja kalo Ibu udah pulang."
"Menurut Mbak mending dari sekarang!"
"Emm, iya deh, nanti aku coba."
Nia berlalu menuju kamar, ia mulai penat ingin segera beristirahat.
***
Pagi harinya Nia bekerja seperti biasanya, dengan berboncengan motor bersama kakaknya yang baik hati itu. Keadaan perut Nia yang semakin membuncit, Febi tak bisa membiarkannya berangkat kerha sendiri.
Sesampainya di klinik, Nia mempersiapkan segala kebutuhannya untuk memulai kerja. Jam menunjukkan pukul 07.15, ada waktu sekitar lima belas menit lagi klinik mulai beroprasi. Nia memutuskan untuk menyeduh kopi di belakang, ia membuatkan dua gelas kopi panas untuknya dan untuk Tari.
"Mbak, nih ngopi dulu," ujar Nia seraya menyodorkan satu gelas kopi pada Tari di ruangannya.
"Wahhh, tumben. Makasih, ya!" balas Tari.
"Oh, ya, Mbak, kayaknya dalam waktu dekat aku bakal ngundurkan diri," ungkap Nia
"Ah, kok cepet banget sih! Sayang banget deh udah mau peegi lagi ajan"
"Hehe, aku mau mulai fokus persiapan buat bersalin, Mbak."
"Emangnya sekarang udah berapa minggu?"
"33 Mbak."
"Wah, gak kerasa, ya. Ya udah, nanti kamu tinggal buat aja surat pengunduran diri, entar aku yang kasi ke dokter Tama."
"Siap, Mbak. Makasih banyak, ya."
"Udah jam setengah 8 nih. Yuk, mulai kerja," ajak Tari.
Nia mengangguk, bergegas keluar menuju ruangannya. Lalu membalikan gantungan open/close tanda klinik mulai beroprasi.
Seperti biasanya klinik ramai pengunjung, didominasi oleh balita dan lansia. Sebelumnya, setelah Dokter Raka resign dari klinik ini, dokter Tama telah menggantinya dengan dokter Siska untuk menangani balita.
Setalah kurang lebih 4 jam beroprasi klinik kembali tutup untuk istirahat sejenak. Namun bagi Nia ini merupakan jam pulangnya. Ia segera membereskan dan menyusun data kunjungan pasien hari ini. Setelah semua selesai Nia pamit pada Tari untuk pulang.
Nia menuju keluar klinik diikuti oleh Tari. Saat Nia keluar, ia berpapasan dengan Angga yang hendak masuk. Untuk beberapa saat mereka mematung saling berpandangan. Hingga Angga membuka suara mengajak Nia berbicara.
"Boleh bicara sebentar?" tanya Angga.
"Boleh," jawab Nia disertai anggukan.
Mereka berjalan berdua menuju kursi yang berada di halaman belakang klinik. Bersamaan dengan itu, Raka datang hendak menjemput Nia. Tari yang melihatnya beranjak untuk memberi tahu mereka, namun tangan Raka mencegahnya.
"Biarin aja," ujar Raka.
"Hah?" Tari tak mengerti.
"Gak apa-apa mungkin aada yang ingin disampaikan Angga," jelas Raka.
Sebetulnya Raka telah mengetahui sejak Angga mengajak Nia. Dia percaya pada kekasihnya itu dan membiarkan mereka berbicara berdua.
***
Setelah Nia dan Angga duduk berdua, mereka terdiam. Hening. Tak ada percakapan. Mungkin, Angga bingung untuk memulainya, sedangkan Nia menunggu mantan kekasihnya itu berbicara.
"Aku telah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan dokter Raka. Baru-baru ini kami jadian, dan rencananya jika bayi ini telah lahir kami akan melangsungkan pernikahan," papar Nia tanpa diminta.
Angga tertegun, sepertinya dia terlambat selangkah oleh dokter muda itu. Dia mengurungkan niat untuk menyampaikan sesuatu yang hendak dibicarakan. Padahal awalnya, dia bermaksud ingin kembali kepada Nia dan berusaha meyakinkan orang tuanya. Biaralah jika orang tuanya menolak hubungan dia, maka dia akan nekad mengikuti jejak kakaknya.
"Syukurlah, aku pikir kamu masih setia menungguku," jawab Angga dengan senyuman dipaksakan.
Nia acuhkan pernyataan itu.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Nia.
"Ah, tidak. Awalnya aku hanya ingin memastikan apakah kamu masih sendiri atau sudah punya kekasih. Tapi ternyata kamu masih bisa membaca pikiranku seperti dulu, kamu menjelaskan tanpa aku minta," ujar Angga.
"Untuk apa?" tanya Nia.
"Maksudnya?"
"Untuk apa kamu peduli aku sendiri atau tidak?"
"Ah, sudahlah. Tak perlu dibahas sampai sejauh itu. Oh ya, selamat atas hubungan kamu dan dokter Raka. Dan tolong kabari aku jika kamu melahirkan dan menikah. Izinkan aku bertemu anakku," pinta Angga.
"Ya, tentu saja. Aku takan membuat anak ini melupakanmu, walau kamu hanya sebatas ayah biologisnya," jelas Nia.
"Terima kasih," ucap Angga.
"Dan kamu, semoga sukses di masa depan. Gelar serta semua keinginanmu yang sedang kamu capai semoga berhasil didapatkan. Serta aku do'akan, semoga kamu menemukan penggantiku yang lebih baik. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, mencintai wanita dengan mengotorinya bukanlah cinta." Nia berkata dengan menundukkan kepala.
"Ah, ya. Terima kasih." Hanya itu yang dapat diucapkan Angga.
Nia beranjak dari tempat duduknya, ia merasa sudah tak ada lagi yang perlu mereka bahas. Namun tangan Angga menghentikannya, tiba-tiba dia memeluknya dari belakang. Nia berusaha melepaskan pelukan itu, namun tangan Angga semakin erat memeluk.
"Lepaskan! Apa yang sedang kamu lakukan?!" bentak Nia.
"Tolong izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Berikan aku waktu sebentar saja untuk meluapkan semua rasa yang ada dalam dada. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja, jika memungkinkan aku ingin berlari bersamamu menata kehidupan baru. Aku sudah tak peduli dengan masa depanku, karena kamulah masa depanku sesungguhnya."
Tiba-tiba Raka datang menyaksikan hal yang membuat hatinya mendidih.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍