"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Ada apa dengan mas Hafizh?
Senja mulai menyapa. Terlihat dari cahaya matahari yang sudah mulai meredup menyisakan warna jingga yang seakan melukiskan ketenangan bagi yang melihatnya.
Ini pertama kalinya aku menikmati keindahan senja di negara Eropa. Bersama dia yang selalu mengukir kebahagiaan padaku setiap harinya. Siapa lagi kalau bukan mas Hafizh, lelaki tampan yang meminangku beberapa bulan yang lalu.
Kupandangi lekat setiap sudut wajahnya. Sejalan dengan mulai terbenamnya matahari di ufuk barat. Ia tersenyum, dengan senyuman ikhlas nan meneduhkan jiwaku.
"Kenapa kau memandangiku sayang?" Ia memalingkan wajahnya menatapku.
Aku tersenyum bangga. Sebab lelaki ini sepenuhnya adalah milikku.
"Aku mencintaimu Mas," ucapku lirih dengan mata yang terus menatap pemilik wajah teduh yang berada di depanku.
Saat ini kami berada di taman belakang rumah. Duduk berhadapan ditemani dengan secangkir kopi susu dan juga croissant butter atau biasa disebut roti bulan sabit, buatan bibi Caroline.
"Aku juga mencintaimu sayang." Ia mengucap sambil meraih jari jemariku untuk diciumnya penuh cinta. Kubiarkan tangan lentikku merasai kembali sentuhan lembut dari bibir kenyalnya.
Sebuah dering handphone memalingkan perasaan kami masing-masing. Mas Hafizh segera bergerak cepat untuk meraihnya sebelum dapat kujangkau. Bodohnya aku, kenapa tidak sadar sebelum itu semua terjadi. Padahal tadi ia membiarkan benda pipih itu tergeletak begitu saja di samping kopi susu yang ia sesapi secara perlahan.
Kenapa aku bisa lupa hal yang ia lakukan di bandara tadi. Alih-alih membuka suara, malah aku terperdaya dan terbawa arus akan permainan cintanya.
Issss! Bodohnya aku!
Batinku menggerutu kesal. Ditambah dengan gelagat mas Hafizh yang menurutku tak biasa. Mengangkat telepon dan menjauhiku. Siapa sebenarnya yang sedang menghubunginya? Dan kenapa harus bersembunyi jika ingin berbicara? Apa ia benar-benar sedang bermain api dibelakangku?
Aku perhatikan seluruh kondisi di area taman ini. Hanya untuk memastikan bahwa tidak ada orang selain kami.
Aman!
Semua orang sedang menikmati kebersamaan di ruang keluarga rumah ini. Sedang anak-anak kurasa terpesona dengan taman bermain di samping rumah yang memiliki ayunan taman yang terbuat dari kayu.
Kudekati sedikit mas Hafizh yang terlihat serius berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Mencuri-curi pandang untuk melihat keberadaanku. Benar saja, sebelum raga ini sampai di depannya, ia sudah buru-buru mematikan ponselnya dan bergegas menemuiku lebih dulu.
"Sayang, kamu mau kemana?" Ia menyahut dengan tingkahnya seperti gerogi akan kehadiranku.
"Kamu tadi telponan sama siapa?" Kupicingkan sedikit mataku agar ia paham bahwa aku sedang mencurigainya.
"Ehh, itu si Ricko. Orang yang aku percayai untuk mengelola bisnisku di London, sayang." Ada gelagat tidak biasa dari tingkahnya. Ia tidak mau menatap mataku saat berbicara.
"Benarkah?"
"Apa kau tidak sedang berbohong padaku?" Aku tidak serta merta percaya pada perkataannya. Karena aku sangat yakin, bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak sedang berbohong, cinta," ia membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Menyunggingkan senyum seakan tidak sedang melakukan dosa.
"Lalu, kenapa kau harus menjauh dariku saat menerima telepon darinya? Apakah dia sebenarnya Miranda? Kau masih berhubungan dengannya?" Akhirnya pikiran buruk itu pun aku keluarkan. Sebab tidak tahan lagi atas hal tak biasa yang mas Hafizh lakukan hari ini.
Bukankah kita telah sama-sama berjanji untuk tidak saling menutupi sesuatu. Sekalipun itu hal terburuk yang akan sangat menyakitkan untuk kita. Tapi, hari ini mas Hafizh mengingkarinya. Ia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Bukan sayang. Aku sudah tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Aku kan sudah pernah berjanji padamu," tatapnya meyakiniku.
Tatapan itu menyiratkan bahwa perkataan itu sebuah kebenaran.
"Lalu apa Mas? Kenapa kau menyembunyikan handphone-mu dariku?" Setetes bulir bening lolos begitu saja dari netraku. Entah kenapa hal ini begitu menyakitkan untukku.
"Apa kau sedang berselingkuh? seperti yang mas Galih lakukan dulu?" Ucapku sarkas dengan tatapan menohok.
"Demi Allah sayang, aku tidak berselingkuh. Percayalah!"
"Lalu apa Mas? kau tidak memberikan jawaban pasti untukku."
"Hmm, aku tidak bisa memberitahukan padamu sekarang sayang. Sebab....." kata-katanya terhenti.
"Sebab apa?" teriakku penuh emosi.
Mas Hafizh hanya terus menyakiniku bahwa aku telah salah paham dengan dirinya. Namun ia tak jua mengatakan kebenarannya. Sehingga tidak membuat pikiranku berubah sama sekali. Aku masih saja menaruh curiga padanya.
"Ada apa denganmu Mas? Apa yang sedang kau sembunyikan?" Batinku berbicara.
Melihat tidak harapan akan jawaban dari mas Hafizh. Aku memilih untuk meninggalkannya. Menuju kamar untuk sekedar menenangkan diri dari pergulatan batinku.
Luka masa lalu cukup meninggalkan bekas luka teramat dalam. Sehingga, akan terasa perih jika tersentuh kembali. Atau paling tidak, ia dijaga ketat agar sakit itu tidak terasa lagi.
Dulu mas Galih juga memulainya dengan menyembunyikan segala aktivitas ponselnya dariku. Dan hari ini mas Hafizh juga seperti mas Galih. Apakah sejarah kelam itu kan terulang lagi?
Tidak, tidak. Aku tidak siap menanggung kecewa lagi. Baru saja aku mengecap kebahagiaan setelah memenangkan perang melawan kekecewaan teramat besar.
Tok... Tok... Tok
"Sayang, maafkan aku! Sungguh kamu telah salah paham denganku." Mas Hafizh menggedor pintu kamar kami dengan pelan.
Aku tidak menjawabnya. Serta menutup telingaku dengan bantal guling yang ada di sampingku. Membiarkan mas Hafizh yang semakin mengeraskan ketukan tangannya pada pintu kayu yang berdiri kokoh menutupi ruangan kamarku.
Sejuta kata ia lontarkan dari arah luar, demi untuk membujukku untuk menemuinya. Namun hati terlanjur lelah menunggu kejujurannya. Ucapannya hanya bertele-tele, tidak ada titik kebenaran yang terlihat disana.
Aku terus menenggelamkan diri pada kasur empuk yang cukup menenangkan ini. Berusaha terjun dan menyelami dunia mimpi. Karena hanya disana, rasa sakit tak akan berasa. Akan tetapi bayangan wajah gusar mas Hafizh terpatri dalam ingatan. Sial apa sebenarnya yang ia sembunyikan?
***
Ting... Ting... Ting
Getar handphone membangunkan. Ternyata tanpa kusadari, dunia mimpi telah berhasil mengambil alih kesadaranku. Kujangkau benda pipih yang terletak di atas nakas itu. Melihat jam analog yang terinstal di dalamnya.
Waktu sudah menunjukkan bahwa lima menit lagi memasuki waktu shalat Maghrib. Sebelumnya waktu di ponselku secara otomatis sudah mengikuti perputaran jam di kota London, sejak pertama kali kita sampai di bandara London Heathrow.
Secara perlahan aku bangun dari pembaringan. Dengan mata yang sedikit sembab karena tertidur dengan jejak tangis yang tertinggal.
"Sayang, shalat Maghrib dulu," sapa mas Hafizh dari luar pintu, bersamaan dengan ketukan pelan pada pintu.
Tanpa menjawab, aku mendekati pintu dan mencengkeram gagangnya sampai pintu itu terbuka.
Mas Hafizh nampak senyum bahagia saat melihatku membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih sayang," tuturnya kemudian, sambil melangkah masuk hendak memelukku. Namun secepat kilat aku mengelak dari pelukannya.
Tidak ada kata yang kuucapkan. Terlalu lelah mulut ini berdebat dengannya, jika ujungnya bukan jawaban jujur yang kudapati.
Biarlah!
Aku akan mau berbicara, hanya saat ia berjanji akan menceritakan dengan jujur segalanya. Mungkin begitu lebih adil untuk kami.
Aku segera berlalu dari hadapannya. Keluar dari kamar dan menuju tempat pengambilan air wudhu. Mas Hafizh hanya menatap kepergianku dengan tatapan entah. Tak dapat aku artikan, ada tawa dan juga kegusaran disana.
Ia kemudian mengekor di belakangku. Sedikit mencolek pinggangku untuk menggoda. Tapi aku biarkan saja, biar dia tau rasa bagaimana diabaikan olehku.
***
Mas Hafizh masih khusyuk memimpin doa di shaf terdepan. Dibelakangnya, aku, Fatih serta mbak Ani, mbok Darmi, dan mbak Nisa mengamini setiap doa yang ia lantunkan penuh harap.
Alhamdulillah!
Zikir itu terucap dari mulut mas Hafizh, zikir yang menutupi segala rangkaian shalat Maghrib yang kami tunaikan secara berjamaah di dalam ruangan cukup luas dan bersih. Yang sudah disediakan oleh paman Freddy dan bibi Caroline sejak kedatangan kami. Sebab mereka paham akan kewajiban kami sebagai seorang muslim yang mencoba untuk taat pada Tuhannya.
Masih dengan jurus diam seribu bahasa. Aku melangkah sendiri menuju kamar. Kali ini tidak ada bujuk rayu dari mas Hafizh, bahkan ia terlihat mengabaikanku. Dan sibuk kembali dengan mengutak-atik ponselnya.
Meski sedikit kesal, aku membiarkannya. Serta memilih mengajak anak-anak untuk bermain denganku bersama di kamar. Anehnya, anak-anak pun seakan sedang mempermainkan emosiku.
Terlebih Fatih, anak itu bukan anak pembangkang. Tapi saat hendak mengajaknya, ia malah tidak memperdulikan ajakanku. Serta menjauh pergi dengan raut wajah yang tak mampu kuterka.
Ada apa dengan mereka? Apa mereka sedang berkonspirasi dengan sang Abi, untuk sama-sama membuat emosiku memuncak?
Arggh. Angan untuk bersenang-senang di negara indah ini seakan luntur seketika dengan sikap yang mas Hafizh dan anak-anak tunjukkan padaku. Mereka mengecewakanku!
Dengan menahan amarah kutinggalkan mereka. Dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar. Mengambil mushaf kecil dan membacanya, untuk menyegarkan kembali hati yang tadi mulai dirasuki hawa panas dari iblis yang ingin menguasai hatiku dengan kebencian.
Satu jam lebih aku bermesraan dengan lantunan cintaNya. Selama itu pula, mas Hafizh ataupun anak-anak, tidak ada di antara mereka yang datang menemuiku.
Hingga notifikasi pesan mengalihkan perhatianku. Segera aku membukanya.
(Sayang, turunlah. Kami semua menunggumu di meja makan) sebuah pesan tanpa makna dari mas Hafizh. Yah, tanpa makna, sebab pesan itu hanya sebuah ajakan makan malam keluarga biasa.
Dengan perasaan yang sudah sedikit tenang. Aku putuskan untuk bergabung dengan mereka. Menuruni satu persatu anak tangga yang tidak terlalu curam. Dan cepat melangkahkan kaki menuju ruang makan.
"Surprise," teriak semua orang yang saat ini sudah berbaris rapi dengan senyum bahagia yang terkembang dari masing-masing mereka.
"Happy Birthday adik ipar," seru mbak Brenda bahagia. Disampingnya lelakiku sedang memegang kue tart cokelat tanpa lilin dengan tulisan ucapan selamat atas namaku.
Refleks aku menutup mulutku sebab kaget dengan semua kejutan yang mereka berikan. Oh ya ampun bagaimana aku bisa lupa kalau hari ini adalah tanggal kelahiranku.
Mas Hafizh dan semuanya melangkah tanpa nyanyian mendekatiku yang berdiri layaknya patung pajangan. Benar-benar tidak ada yang bisa kuperbuat lagi.
"Barakallah fii umrik istriku. Semoga sisa umurmu bertambah berkah, serta selalu menjadi istri dan ibu yang baik untukku dan anak-anak," ucapnya sambil mencium keningku.
Mulutku serasa keluh. Tak ada kata yang mampu kuucapkan, hanya tangis yang mampu menggambarkan tentang perasaan bahagiaku saat ini.
"Maaf, karena tadi membuatmu sedikit emosi sayang."
"Kau harus tau, tadi yang meneleponku mbak Alena. Sahabatnya mbak Brenda yang tinggal di London."
"Ia dimintai tolong olehku untuk mencarikan hadiah spesial ini untukmu. Sebab aku tak terlalu tau hadiah bagaimana yang pantas untuk kuberikan padamu," ujar mas Hafizh lagi, untuk memberi penjelasan. Dengan sekotak hadiah cukup besar yang ia sodorkan padaku.
"Kalau kamu tidak percaya. Silahkan periksa isi ponselku." Ia menyerahkan ponselnya padaku.
Aku tidak menerimanya karena aku sudah bisa membaca kejujuran dari raut wajah mas Hafizh. "Aku percaya padamu Mas. Dan terima kasih atas kejutanmu malam ini," tuturku semangat.
Ia tersenyum dan menyuruhku untuk membuka hadiah darinya.
Akupun membukanya. Namun betapa terkejutnya aku saat melihat isi dari kotak hadiah tersebut. Sebuah tas mewah bermerk Hermes Birkin yang di desain oleh desainer Jepang Ginza Tanaka terisi di dalamnya.
Tubuh tas ini dibuat dengan platinum 100% serta dihiasi 2000 berlian dan berlian berkilauan 8 karat berbentuk pir. Tak hanya sampai disitu, tas ini ternyata multifungsi. Berlian yang menghiasinya bisa dilepas dan boleh dipakai untuk dijadikan gelang atau kalung. Sangat fantastis bukan?
"Mas, ini sangat mahal. Kenapa kau memberikan hadiah ini padaku?" Entah harus bahagia atau tidak untuk menerima hadiah ini. Karena harganya yang kutahu cukup mampu untuk membelikan satu atau bahkan dua buah rumah mewah lagi.
"Usahaku tidak akan bangkrut hanya karena membelikan ini untukmu sayang. Malah kuyakin akan semakin bertambah, sebab aku membahagiakanmu!"
"Tapi Mas..."
"Sudah jangan banyak protes. Dan cobalah!" Mas Hafizh memotong kata-kataku serta menarik ke depan cermin untuk mencoba hadiah yang ia berikan.
Aku hanya pasrah dan mengikuti kemauannya. Meski dalam hati sedikit menyayangkan karena uang sebanyak itu hanya habis untuk membeli benda kecil yang kini sudah menggelayut di lenganku.
"Wow, ini sangat cantik jika dipakai olehmu sayang. Bahkan modelnya kalah jauh jika dibandingkan denganmu," sahut mas Hafizh bercanda.
"Apa sih Mas. Kamu lebay deh," sahutku memukul lengannya.
Ia pun terkekeh dan memelukku kembali penuh cinta seakan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang ikut bekerjasama atas kejutannya malam ini.
"Hey, kalau kau memeluk Rianti terus. Jadinya kapan kita bisa mengucapkan selamat padanya." mbak Brenda melerai pelukan mas Hafizh dan berdiri di antara kami sebagai pembatasnya.
"Apa sih Mbak. Nggak tau orang lagi enak meluk malah dilerai," gerutu mas Hafizh sedikit mendengus kesal.
"Kamu kan bisa melanjutkannya di dalam kamar nanti," sergah mbak Brenda tak kalah kesal.
Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kakak beradik ini.
"Baiklah. Kamu pemenangnya Mbak." Akhirnya mas Hafizh mengalah dan memilih mundur. Membiarkan yang lainnya memberi ucapan selamat dan mengambil beberapa foto denganku.
Bersambung 😁😁
Dunia fiksi mah bebas yah guyyys. Benda semahal apapun mampu dibeli dengan sekali khayal 🤣🤣🤣
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝