NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Selingkuh / Tamat
Popularitas:10.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kirana Pramudya

Rumah tangga dibangun di atas dasar cinta kasih sepasang suami dan istri. Cinta kasih yang tulus mampu membuat rumah tangga bertahan. Kasih yang tulus mampu membuat rumah tangga menghadapi cobaan. Akan tetapi, bagaimana dengan rumah tangga yang dibangun tanpa cinta?

Di sisi lain Khaira Amaira dan Raditya Wibisono justru terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. "Aku meminangmu tanpa cinta. Aku meminangmu hanya untuk memenuhi perjodohan yang dibuat Ayahku ... dan, aku sudah memiliki wanita lain yang kucintai." Satu kalimat yang diucapkan Radit kepada Khaira di malam pertamanya, benar-benar meninggalkan luka mendalam bagi Khaira. Mungkinkah garis takdir memang tidak mempersatukan keduanya? Dapatkah cinta tumbuh dalam mahligai rumah tangga mereka? Mampukah keduanya menyatukan dua jiwa dalam satu hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Hari Bersama

Seperti yang sudah direncanakan Radit dalam hatinya sendiri, tanpa ada seorang pun yang tahu. Akhir pekan ini, pagi-pagi Radit telah bergegas dari rumahnya. Ia akan mengunjungi Khaira hari ini. Sementara Felly tengah melakukan perjalanan luar kota bersama rekan kerjanya. Wanita itu beralasan tidak akan pulang ke rumah selama 3 hari untuk melakukan pekerjaan di luar kota. Maka Radit memutuskan untuk menemui Khaira di hari Sabtu ini.

Pagi-pagi Radit telah bersiap dengan sepeda motornya, tak lupa ia membawa bubur ayam yang akan ia makan untuk sarapan begitu sampai di rumahnya Khaira. Entah apa yang terjadi, hari ini Radit begitu senang akan kembali bertemu dengan Khaira.

Perjalanan jauh yang harus ditempuhnya bukan masalah berarti untuk Radit. Setelah berkendara hampir satu jam, akhirnya ia telah tiba di rumah Khaira.

Pria itu segera turun dari sepeda motornya dan mengetuk pintu rumah Khaira. Dengan membawa kantung plastik berisi bubur ayam di tangan kirinya.

Tookk.... Tookk.... Tookkkk....

Khaira di dalam rumah, tentu saja cukup kaget siapa yang datang ke rumah sepagi ini.

Pelan-pelan ia menuruni anak tangga dan bergegas membuka pintu. Hanya suara ketukan saja yang terdengar.

Begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya Khaira melihat Radit yang berdiri di hadapannya.

"Mas Radit...," sapanya dengan wajah kaget. Ia sungguh tak mengira sepagi ini Radit sudah berdiri di hadapannya.

"Iya. Aku masuk ya...," balasnya dengan ekspresi wajahnya yang datar.

"Silakan masuk." Khaira mempersilakan suaminya itu untuk masuk.

"Hei, kamu sudah sarapan belum? aku bawa sarapan nih." ucapnya sambil mengangkat kantung plastik yang berisi dua kotak Styrofoam.

Khaira semakin terkejut dengan Radit. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pria itu datang, dan kali ini dia membawa makanan. Tindakan yang aneh.

"Biar aku siapkan. Mas tunggu saja dulu di meja makan." ucapnya sembari menerima bungkusan kantung plastik dari tangan Radit.

Dengan cekatan, Khaira mengambil Styrofoam dari dalam kantung plastik, lalu bubur ayam ia pindahkan perlahan-lahan ke dalam mangkok dalam mengubah tampilannya.

Khaira membawa dua mangkok bubur ayam ke meja makan, tak lupa ia menyajikan kerupuk dan seduhan teh hangat.

"Silakan dimakan, Mas...," ucapnya sembari menyajikan semangkok bubur ayam ke hadapan Radit.

"Hm, makasih ya...," ucapnya sembari menerima mangkok berisi bubur ayam.

Keduanya duduk saling berhadapan sambil menikmati bubur ayam dan secangkir teh hangat.

"Hari ini sibuk enggak?" tanya Radit tiba-tiba.

Khaira mendongakkan wajahnya, menatap Radit.

"Tidak. Kenapa?" jawabnya singkat.

"Muter-muter Jakarta yuk. Mau?" Radit menawarkan kepada Khaira untuk berkeliling Ibu Kota. "Tapi naik sepeda motor, mau enggak?"

Khaira sebenarnya ragu, terlebih ia mengingat bagaimana sepekan yang lalu ia menerima terror usai ke rumah orang tuanya bersama Radit.

"Tapi nanti ada yang marah enggak? Aku sudah diperingatkan seseorang tidak boleh dekat-dekat sama kamu." Khaira berkata jujur kali ini. Bukan untuk mengadu, tetapi menerima terror dan dalam keadaan tinggal sendirian di dalam rumah itu sangat menakutkan.

"Siapa?" tanya Radit dengan raut wajah yang nampak curiga. Ia pun tidak tahu siapa yang sudah memperingatkan Khaira. "Bilang sama aku."

"Aku juga tidak tahu siapa, aku tidak kenal orangnya. Tetapi orang itu tahu, saat aku habis bersama Mas Radit ke rumah orang tuaku."

Radit nampak berpikir siapa orang yang telah memperingatkan Khaira. Selama ini, dia pun merasa tidak bermasalah dengan siapa pun.

"Jangan dipikirin, kalau ada apa-apa kabarin aku."

"Hmm, iya." ucap Khaira singkat.

"Jadi mau enggak muter-muter sama aku?" tanyanya sekali lagi.

"Ya boleh."

"Kalau gitu cepat habiskan dan bersiaplah. Aku tunggu."

"Iya..." jawab Khaira.

Selesai sarapan dan membersihkan meja makan, Khaira masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Karena hari ini akan naik sepeda motor, jadi Khaira memilih mengenakan celana jeans panjang, kemeja, dan tidak lupa ia membawa jaket. Jika biasanya Khaira membiarkan rambutnya terurai, kali ini ia menguncir rambutnya model ponytail.

"Sudah?" tanya Radit begitu Khaira sudah turun ke bawah.

"Iya." jawabnya singkat.

Radit pun berjalan keluar, mengeluarkan kendaraannya lalu bersiap menaikinya. Tidak lupa ia memberikan sebuah helm kepada Khaira. Tangannya mengulurkan helm, dan Khaira menerimanya dan langsung memakainya.

"Berangkat sekarang ya?" ucapnya sembari menoleh ke belakang, memastikan Khaira telah duduk dengan nyaman.

"Iya." sahutnya sambil menganggukkan kepalanya perlahan.

Radit pun mulai melajukan kendaraannya menyisir sepanjang jalan, dari kaca spionnya terkadang ia melihat Khaira. Gadis itu terlihat kecil di balik punggung Radit. Entah mengapa, sesekali Radit tersenyum di balik helm full face yang menutupi wajahnya.

"Kamu pengen pergi ke mana?" tanya Radit kepada Khaira.

"Aku ngikut aja, soalnya aku anaknya jarang pergi-pergi juga." sahutnya.

"Ke Kota Tua, mau enggak?" Radit menawarkan pada Khaira untuk ke Kota Tua.

"Iya, boleh."

Setelah Khaira mengiyakan, Radit melajukan kendaraannya menuju Kota Tua.

Khaira mengamati pemandangan di sekitarnya, kali ini bukan dari balik kaca jendela mobilnya. Ia menikmatinya secara langsung. Dan, ini merupakan pengalaman pertama menaiki sepeda motor dengan jarak tempuh yang jauh. Tidak terpikirkan sebelumnya, kali ini justru ia berkendara seperti ini bersama suaminya sendiri.

Sepanjang perjalanan, keduanya memang lebih banyak diam. Tetapi, saat berhenti di lampu merah, Radit sesekali menoleh ke belakang. Hingga akhirnya motor yang mereka kendarai telah sampai ke Kota Tua. Radit memarkirkan sepeda motornya terlebih dahulu dan memasukkan satu helmnya ke dalam jok sepeda motor.

"Jalan-jalan ya?" ucap Radit sembari melihat pada Khaira.

"Iya, ayo."

Keduanya pun berjalan bersama menyisir jalanan di Kota Tua yang dipenuhi dengan bangunan sejarah dan museum. Khaira menengok ke sekitarnya, tempat ini terlihat menarik dan kesan kuno yang ditinggalkan membuat kawasan ini terlihat klasik.

"Mau masuk ke Museum atau jalan dulu?" lagi Radit menawari Khaira ingin kemana.

"Terserah Mas Radit aja." Khaira berjalan sembari mengikuti langkah kaki Radit.

Langkah kaki Radit yang lebar, membuat Khaira sering tertinggal di belakang. Hingga beberapa kali Radit harus berhenti dan menunggu Khaira. Jika dahulu mungkin pria ini akan marah-marah, sekarang ia hanya diam menunggu Khaira. Jika dulu mulutnya akan mendidih dan langsung mengomel, sekarang Radit rasanya sudah tidak bisa mengomeli Khaira.

"Kita minum itu dulu ya. Aku haus, nanti lanjut jalan lagi." tangan Radit menunjuk gerobak penjual minuman 'Teh Cincau' yang berada di seberang mereka. "Mau enggak?"

"Aku sebenarnya belum pernah nyoba sih, enak enggak?" tanya Khaira penasaran. Tapi ia tetap berjalan mengikuti langkah kaki Radit.

"Pak, minta dua ya. Diminum di sini." pesannya kepada penjual minuman itu.

Sementara Khaira menunggu dengan duduk di kursi plastik yang disediakan. Tidak sampai lima menit dua gelas teh cincau dingin telah mereka terima.

"Diminum, ini enak kok." Radit membuka pembicaraan, karena melihat Khaira yang masih mengaduk-aduk minumannya.

1
falea sezi
novel ne buruk bgt karena wanita nya bodoh oon harga dirinya gk ada
falea sezi
skip novel g jelas peran utama bloon gini kok banyak. like mash banyak novel yg bagus dr ini
evi carolin: maaf ga lanjut baca ,membosankan membingungkan lemah banget karakter si cewek
total 1 replies
Rumyati Raharjo Raharjo
Lumayan
Rumyati Raharjo Raharjo
Kecewa
Ayu Setuthi
seruuu
Selvi Pandeirot
lajut
Kadek Murdani
bener khaira aku gak setuju khaira balik sama radit jijik
evi carolin: awas ya klo sikhaira dibuat balikkan lg enak banget si Radit giliran disakiti Felly eh malah pake acara melow n ngedrop basi banget jd laki
total 1 replies
Ernawati
orng bnyk duit,mertua ada,orng taupn ada,lngkp semua,masak GK ada yg bantu urus cucu,dunia halu.!
Santy
Bru ni baca crta yg cewek ny bodoh bin oon sekolah Tinggi sampai s1 tp msih oon dlm cinta aisssss
evi carolin: aisss ngapain jg mengingat dan mengenang lelaki macam dia ,bodoh banget , jd perempuan jgn polos banget rugi sendiri dia aja ingat kamu cuma sesat ,hati dan pikiranmu yg hrs tegas dan kuat jgn cuma pendidikan mu yg hebat
total 1 replies
Novita Nathan
jgn lah mau balik ke Radit,laki² g guna....
nyesel jga krna wanita kesayangannya trnyata murahan....
Nadia
Khaira cuman jadiin cadangan, orang yg dicintai udah ketauan belangnya baru nyadar ciih kebanyak novel kek gini ya
Nadia
aku paling benci cerita yg perempuanya udah disakiti, trs dinaikin dikit aja luluh,
Nadia
perempuan bodoh, pendidikan tinggi tp mau aja dizalimi,
Nadia
kenapa se setiap novel ceritanya perempuan bodoh semua mau ditindas, ngomong kek sama ortunya mertuanya
Yus Warkop
mampir
Alea
laki laki yg tidak setia memang pinter memperlakukan cewek Khai.
jangan mudah terpesona. Inget cara dia memperlakukan kamu kalau dia lagi sama feli. Mulutnya jahat banget.Apalagi kelakuannya.ihh nauzubillah
Alea
"tunggu gue bercerai ya Tam,nggak lama kok." kalau aku sih udah ngomong gitu.
terus aku rekam kalau Radit dan Feli berduaan lalu kasih liat ke orang tua dan mertua.
kemudian aku jadikan alasan buat menggugat cerai.
Terus terima pernyataan cintanya Tama, hidup normal kayak mahasiswa mahasiswi pada umumnya
Alea
ngapain sedih karena Radit dikhianati.
nyorakin atau nyukurin sih iya kalau aku mah
Alea
kalau nggak bersyukur nggak akan bahagia thor
Alea
emangnya kamu menghargai orang
menghargai istri mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!