Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati rasa
"Assalamualaikum..." Fikri datang dengan muka lusuh dan kusam. Tampak jika Ia begitu lelah saat ini, tapi Ia bahagia karena akhirnya yang Ia inginkan tercapai.
"Papa...!" pekik Zalfa yang langsung menghampiri dan memeluknya.
"Hey, sayangnya Papa. Gimana kabarnya, sayang?" kecup Fikri dengan begitu mesra.
"Zalfa baik, Mama baik, Nenek dan tante baik." ucapnya dengan begitu ceria.
Fikri tersenyum sembari mengusap rambutnya yang lurus dan tebal itu.
"Mama mana?"
"Lagi shalat Maghrib di kamar." jawab Zalfa dengan menunjuk kamar Isti.
Fikri melangkah masuk, begitu berharap akan di sambut Isti dengan senyuman sayangnya. Karena setidaknya, Fikri kini telah memenuhi janji untuk naik tingkat di kantornya.
"Is, aku pulang." panggil Fikri.
"Ya, aku tahu. Pakaianmu ada di tempat tidur, segeralah ganti. Aku akan minta Ibu mempersiapkan Zalfa." ucap Isti, yang berdiri dan masih mengenakan mukenahnya.
"Is..." panggil Fikri yang kali inu begitu lembut, dan menggenggam tangan Isti dengan erat.
"Apalagi?"
"Jangan beginikan aku, Is. Aku masih begitu menyayangimu. Meski sudah terbagi, tapi rasa sayangku padamu masih begitu besar."
"Udah bukan masanya lagi kamu ngegombal, Mas. Kasihan Naya yang menaruh harapan besar padamu."
"Apa kau sudah tak mencintaiku?" tanya Fikri.
"Jangan ngomongin cinta, Mas. Malu sama umur. Usia seperti ini, bukan perkara cinta lagi yang di utamakan, tapi tanggung jawabmu terhadap keluarga."
"Aku masih bertanggung jawab, aku rela menghabiskan tenagaku untuk kalian."
"Apa perlu aku catat, apa yang aku korbankan demi kamu?"
Lagi-lagi Fikri kalah berdebat dengan Isti. Ia pun lagi-lagi diam, dan melepaskan genggaman tangannya dari Isti.
Isti langsung berjalan santai, meminta untuk Bu Laksmi mempersiapkan Zalfa dengan pakaian yang telah Ia pilihkan diatas tempat tidur. Bu Laksmi pun mengangguk dan langsung melaksanakan perintah Isti dengan baik.
Selama di rumah itu, Fikri diam-diam memperhatikan Rani yang tak kunjung pulang ke rumah. Ia pun mulai mempertanyakan keberadaan Rani pada Isti. Dan Isti menjawab seadanya dengan alasan yang selalu di berikan oleh Rani padanya. Fikri hanya diam dan mengangguk, Ia bangga jika akhirnya Rani akan menjadi seorang sarjana ekonomi. Pasti Ia akan dengah gembira mengantarkannya ketika wisuda nanti.
"Kemungkinan bulan depan kan wisudanya?" tanua Fikri.
"Sepertinya begitu, jika tak ada penundaan." jawab Isti, yang mulai memoles wajahnya dengan make up yang lumayan tebal.
Fikri diam-diam memperhatikannya dengan fokus. Dia kagum dengan Isti, karena di usianya yang sudah kepala Tiga, Ia masih bisa merawat dirinyga sendiri.
" Kenapa Naya justru tampak lebih tua dari Isti?" gumamnya dalam hati.
"Kenapa kamu ngeliatin aku? Mau ngelarang pakai make up lagi?" tegur Isti.
"Eng-engga.... Terusin aja, ngga papa. Aku seneng lihatnya, kamu semakin cantik sekarang."
"Ya, terimakasih sudah memberiku banyak waktu untuk bisa merawat diri." balas Isti, dengan nada menyindir pada Fikri. Entah, Fikri sadar atau tidak dengan adanya kalimat Satire dalam perkataan Isti itu.
Mereka kini telah siap dengan dandanan masing-masing. Dengan busana couple yang mereka buat beberapa bulan lalu untuk menghadiri pesta Ririn sahabat mereka. Mereka tampak sempurna, bagaikan keluarga yang begitu bahagia dan harmonis. Tak akan ada orang yang menyangka, jika telah terjadi sesuatu pada keluarga ini.
Fikri mengambil kunci mobil Isti, dan menggandeng Zalfa keluar. Sedangka Isti masih pamit dengan Bu Laksmi, dan meminta doa restu atas kenaikan pangkat kerja anaknya itu.
"Entahlah, Is. Ibu bingung harus berdoa bagaimana. Semua bagai buah simalakama buat Ibu. Ketika berdoa agar Ia semakin sukses, Ibu ingat jika semua harus kamu bagi dengan perempuan itu. Tapi ketika Ibu menyesalkan kesuksesannya, Ibu teringat perjuangan kalian mencapai titik ini, Is."
"Tetap berdoa yang baik, Bu. Karena pada dasarnya, Allah memberikna apa yang kita butuhkan. Bukan yang sekedar kita inginkan. Manusia tak akan pernah puas ketika sebuah keinginan tercapai, Ia akan terus meminta yang lebih lagi." jawab Isti.
"Ibu hanya meminta, agar kamu tetap sabar dengan semua ini. Ibu tak akan pernah ikhlas jika kalian....."
"Bu, jangan ucap itu dulu. Istirahatlah, jangan fikir macam-macam untuk malam ini." pinta Isti pada mertuanya itu.
Kini Isti menyusul Fikri dan Zalfa yang sudah menunggu di dalam mobil dengan begitu ceria. Benar-benar Fikri tampak seperti tak ada permasalah sama sekali di depan Zalfa. Antara permainan yang begitu baik, atau memang wataknya yang seperti itu. Isti yang benar-benar tahu, tapi Isti tak terlalu ambil pusing dengan semuanya.
Di sebuah hotel bintang Lima nan mewah, Fikri dan Isti menggandeng Zalfa masuk ke dalam ruangan tempat di adakannya acara perjamuan. Disana pun sudah berkumpul semua orang yang telah menunggu mereka semua dan menyambutnya dengan senyum ramah. Tampak Pak Bardo dan gadis kecilnya yang duduk berdua di kursinya.
"Ini dia, bintang kita." sambut Afin dan Ririn, yang memang sahabat dari keduanya.
Isti hanya tersenyum, dan memberikan pelukan pada Ririn sebagai tanda terimakasih telah menyambut mereka. Isti pun tak lupa memberi semangat pada Alfin, yang juga naik jabatan sebagai pengganti posisi Fikri sebelumnya.
"Sabarin aja, kalau suamimu akan lebih sibuk dari ini." bisik Isti pada Ririn.
"Aku belajar sabar dari Mba Isti." goda Ririn padanya.
Acara pun berlangsung meriah, dari kata sambutan dari Direktur utama mereka, penyerahan jabatan baru dari masing-masing profesi, hingga akhirnya acara hiburan yang telah di persiapkan Pak Bardo untuk mereka.
Semua tampak ceria, tak terkecuali Isti yang pura-pura lupa dengan semua tekanan dalam hatinya. Sandiwaranya sempurna, Ia seolah tak ingin pulang dan kembali meratapi nasib di rumah. Ia ingin lupa dan tetap bahagia seperti malam ini. Bersama semua sahabat yang selalu menghiburnya.
Di sisi lain, Naya sedang duduk dan kembali kesal dengan keadaan. Ia di kurung di dalam rumah, sementara mereka bahagia dengan pestanya. Mereka akan memberi selamat pada Isti akan dedikasinya yang telah menemani sang suami hingga ke titik itu.
"Aku juga ingin, aku juga ingin mendapatkan senyum dari mereka, dan tatap ramah dari mereka untukku." gerutu Naya dalam hati.
Ini hari terpenting bagi Fikri. Itulah yang Fikri ucapkan padanya. Ia sempat membuat hati Naya terenyuh, karena Naya lah orang pertama yanh di beri tahu akan kenaikan jabatan itu. Bahagia, haru, karena Fikri bilang itu semua demi kelangsungan hidup mereka.
Tapi, sebahagia dan sebangga apapun Naya, Isti yang tetap akan mendampingi Fikri dalam moment terpenting dalam hidupnya. Naya akan tetap tersembunyi, dan akan di tutup rapat agar tak merusak moment bahagia itu.
"Lalu, apa moment bahagia untukku Mas?" lirihnya dengan hati yang pedih.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya