Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Debu perak berkecamuk di sepanjang garis pantai Azure Coast, menciptakan tirai kabut yang memisahkan barisan aliansi dengan hamparan laut yang mendidih. Ketika jarum-jarum hitam milik Xylar menghantam posisi Kael, tidak ada suara ledakan besar. Yang terdengar hanyalah desisan ribuan ular besi yang meleleh saat berbenturan dengan sisa-sisa perisai Celestial Void yang dipertahankan Kael dengan sisa tenaganya.
Ketika kabut itu akhirnya tersapu angin belerang, sosok Kael kembali terlihat.
Ia masih berdiri tegak, namun lutut kanannya gemetar hebat. Zirah kain hitam di bahu kirinya telah hancur, menampakkan kulitnya yang kini retak lebih dalam, memancarkan cahaya putih keperakan yang bocor dari sirkuit mananya yang kelebihan beban. Darah manusia—berwarna merah pekat—merembes dari sudut bibirnya, menetes ke atas pasir pantai yang telah memutih.
"Kael!" Liora berlari menuruni bukit karang, mengabaikan peringatan Jaina. Ia langsung memeluk bahu Kael yang panas, mencoba menyalurkan energi penyeimbang melalui sentuhan fisiknya.
"Jangan mendekat, Liora..." bisik Kael. "Energi di dalam diriku... tidak lagi stabil. Sisi Void-ku sedang mencoba memakan cahaya yang kau kirimkan."
Di tengah laut, Xylar melayang mendekat. Delapan lengan berbilah tulangnya bergerak-gerak seperti kaki laba-laba raksasa di udara. "Sangat menyedihkan. Dua serangga mencoba menahan runtuhnya fondasi dunia. Kau tahu, Kael, setiap detik yang kau buang di sini adalah detik di mana gerbang di Deepest Trench terbuka semakin lebar. Legiun sejati kami bahkan belum mulai melangkah."
Dari barisan belakang, Jenderal Vorgas melangkah maju melewati Kael dan Liora. Tubuh obsidiannya yang setinggi dua meter memancarkan uap hitam yang pekat—energi Void murni, tanpa campuran cahaya.
"Tuanku," Vorgas berlutut di depan Kael untuk terakhir kalinya. "Kau harus pergi sekarang. Kapal Nadir telah disiapkan di dermaga rahasia di balik tebing selatan. Biarkan aku dan sisa Sayap Eclipse menahan wanita jalang ini di sini."
Kael menatap jenderal setianya. "Vorgas, jika kau menggunakan seluruh energimu melawan Xylar tanpa pasokan cahaya, kau akan berasimilasi dengan Abisal. Kau akan kehilangan kesadaranmu."
Vorgas mendongak, matanya yang menyala ungu menatap Kael dengan loyalitas yang mutlak. "Aku adalah bayangan yang kau ciptakan dari abu Solaria, Tuanku. Hidupku adalah milikmu, dan matiku adalah untuk jalanmu. Jika aku harus menjadi monster di dasar laut ini agar kau bisa mengembalikan fajar sejati, maka itulah takdir terindah bagi seorang jenderal."
Tanpa menunggu jawaban Kael, Vorgas berdiri dan berbalik menghadap Xylar. Ia meraung, sebuah suara yang menggetarkan fondasi laut, dan tubuh obsidiannya mendadak meledak menjadi kabut hitam raksasa yang membentuk wujud naga bayangan tanpa sayap.
"VOID ASSIMILATION: TOTAL DARKNESS."
Naga bayangan Vorgas melesat maju, melilit tubuh Xylar dan menyeret Sang Ratu Penyesalan itu turun dari udara, masuk ke dalam pusaran air laut yang bergolak. Jeritan amarah Xylar menggema saat bilah-bilah tulangnya mencoba memotong kabut Vorgas, namun sang jenderal menolak untuk melepaskannya, mengunci sang penguasa Abisal dalam pertarungan hidup mati di bawah ombak.
"Kita harus pergi, Kael! Sekarang!" Jaina berteriak sambil memimpin sisa ksatria Solaria untuk membentuk barisan pertahanan baru di sekitar dermaga selatan.
Kapal Nadir bukan terbuat dari kayu biasa; ia adalah kapal perang kuno Celestia yang telah dimodifikasi oleh para teknisi Ironfist dengan pelat logam anti-sihir dan ditenagai oleh sisa Inti Surya yang dibawa Liora. Kapal itu meluncur membelah ombak ungu yang berbusa, menuju pilar cahaya hitam yang berada tepat di tengah samudra.
Di atas dek kapal, hanya ada Kael, Liora, dan sekelompok kecil ksatria elit.
Angin di tengah samudra bertiup begitu kencang hingga mampu merobek layar kain biasa. Di atas mereka, awan kelabu berputar membentuk spiral raksasa, seolah-olah langit sedang dihisap oleh pilar hitam tersebut.
Kael duduk di dekat anjungan, tangannya menggenggam pedang Eldravale yang ditancapkan ke dek logam. Setiap napas yang ditariknya terasa membakar paru-parunya.
"Jaringannya... semakin melemah," ucap Liora yang duduk di sampingnya, memegang kristal transmisi yang kini retak-retak. "Metatron dan para pendeta di garis belakang diserang oleh sisa-sisa Ravager yang muncul dari bawah tanah kota. Mereka sedang bertarung mempertahankan menara transmisi."
Kael memejamkan mata. Ia bisa merasakan denyut energi dari benua luar. Satu per satu, titik-titik cahaya mana dari para penyihir Veridian dan Ironfist mulai padam di dalam persepsi magisnya. Aliansi mereka sedang sekarat di daratan.
"Mereka akan mati, Kael," Umbra berbisik dari sudut bayangan dek, suaranya penuh kepuasan yang sinis. "Dan kau akan terjebak di dasar laut ini sendirian. Tidak akan ada cahaya yang tersisa untuk menyeimbangkan Void-mu. Pada akhirnya, kau akan menjadi inang baru bagi Abisal."
"Jika mereka mati, aku akan menyusul mereka setelah menutup gerbang ini," jawab Kael di dalam pikirannya.
Kapal Nadir tiba di tepi pusaran air raksasa yang mengelilingi pilar cahaya hitam. Air di sini tidak lagi bergerak mendatar; ia jatuh ke bawah seperti air terjun melingkar menuju palung terdalam bumi—The Deepest Trench.
"Kita tidak bisa berlayar lebih jauh!" teriak kapten kapal dari Ironfist. "Gravitasi di depan akan menghancurkan lambung kapal!"
Kael berdiri. Ia menatap Liora. "Kau harus tinggal di sini, Liora. Jaga kapal ini tetap berada di permukaan. Jika aku tidak kembali dalam satu jam, perintahkan Jaina untuk meledakkan Inti Surya di kapal ini. Hancurkan seluruh palung ini, bahkan jika itu berarti menenggelamkan setengah benua."
Liora menggelengkan kepala, air mata peraknya mengalir namun matanya memancarkan tekad yang tak bisa diganggu gugat. "Tidak, Kael. Aku ikut denganmu. Aku adalah jangkar cahayamu. Jika aku tinggal di sini, kau tidak akan bertahan lima menit di dalam palung itu."
Sebelum Kael sempat mendebat, Liora menggenggam tangan kiri Kael—tangan yang memiliki Sigil Void. Seketika, rasa sakit di dada Kael mereda saat kehangatan esensi fajar dari Liora mengalir masuk, menstabilkan retakan di kulitnya untuk sementara.
Kael menghela napas panjang. "Kau selalu keras kepala, Liora."
"Aku belajar dari kaisar terbaik," balas Liora dengan senyum tipis.
Kael merangkul pinggang Liora, lalu melompat dari anjungan kapal Nadir, langsung menuju ke dalam pusaran air hitam yang jatuh ke dasar dunia.
Mereka tidak tenggelam seperti batu; Kael menggunakan kekuatan Sigil keenamnya—Void Domain—untuk menciptakan bola udara dan ruang isolasi di sekitar mereka. Mereka meluncur turun menembus kegelapan air yang kental, melewati ribuan makhluk Abisal berukuran raksasa yang sedang berenang naik seperti larva yang keluar dari sarangnya.
Makhluk-makhluk itu mencoba menyerang bola pelindung Kael, namun setiap kali mereka menyentuh medan energi perak-hitam tersebut, mereka langsung lenyap, ternetralisir oleh frekuensi Celestial Void.
Setelah beberapa menit kejatuhan yang menegangkan, mereka mendarat di dasar palung.
Tempat itu tidak seperti yang mereka bayangkan. Itu bukan gua batu yang gelap, melainkan sebuah ruang hampa yang luas di mana hukum ruang dan waktu tampaknya tidak berlaku. Di tengah ruangan terapung sebuah struktur arsitektur kuno yang hancur—Altar Primordial. Di atas altar tersebut, berdiri sebuah gerbang geometris raksasa yang terbuat dari zat hitam yang terus berputar, melepaskan gelombang anti-materi ke atas bumi.
Dan di depan gerbang itu, berdiri sosok ketiga dari Penguasa Abisal.
Berbeda dengan Malphas yang berotot besar atau Xylar yang memiliki banyak lengan, makhluk ini berukuran sama dengan manusia. Ia mengenakan zirah emas yang telah usang dan rusak, wajahnya tertutup topeng perak tanpa ekspresi. Namun, aura yang dipancarkannya begitu padat hingga bola pelindung Kael langsung pecah saat mereka menginjakkan kaki di lantai altar.
"Selamat datang, Kael Ravenhart," sosok itu berbicara dengan suara yang sangat tenang, bersih, dan berwibawa—suara seorang dewa. "Aku adalah Aethelgard, Sang Penguasa Akhir."
Kael menarik Liora ke belakang punggungnya. Ia merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Makhluk di depannya bukan sekadar monster, ia memiliki sisa-sisa energi Pencipta yang telah terkontaminasi oleh Abisal.
"Kau adalah salah satu dari Tujuh Ksatria Pencipta yang mengunci gerbang ini di Era Pertama," ucap Kael, mengenali zirah emas tersebut dari catatan kuno Celestia.
Aethelgard tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar kesepian di tengah kehampaan. "Ya. Aku yang menguncinya, dan aku juga yang menyadari bahwa mengunci gerbang ini adalah sebuah kesalahan. Dunia di atas... Archeon... adalah sebuah eksperimen yang gagal. Penuh dengan siklus kebencian, kasta mana, dan perang yang tak pernah berakhir. Abisal bukanlah penghancur, Kael. Kami adalah penghapus. Kami datang untuk membersihkan papan tulis ini agar Pencipta bisa memulai kembali dari awal."
Aethelgard menghunus pedangnya—sebuah bilah cahaya putih yang diselimuti oleh kabut hitam Abisal.
"Kau telah mencapai Garis Ketujuh, Kael. Kau tahu potensi dari penciptaan kembali. Bergabunglah denganku. Biarkan dunia ini kembali ke ketiadaan, dan kita akan membangun Archeon yang baru bersama-sama. Tanpa penderitaan, tanpa air mata."
Kael menatap tangan Liora yang masih menggenggamnya, merasakan detak jantung gadis itu yang hangat. Ia lalu teringat pada anak-anak di pengungsian, pada para ksatria yang saling membantu tanpa peduli kasta, dan pada tunas Yggra yang mulai tumbuh di Eldravale.
"Dunia yang kau sebut gagal itu... sedang belajar untuk merangkak kembali, Aethelgard," ucap Kael, melangkah maju dengan pedang Eldravale yang kini menyala dengan seluruh sisa energi Celestial Void yang ia miliki. "Penderitaan dan air mata adalah apa yang membuat mereka nyata. Aku tidak akan membiarkanmu menghapus air mata itu hanya karena kau terlalu pengecut untuk melihat mereka berjuang."
Aethelgard menghela napas di balik topeng peraknya. "Sangat disayangkan. Kau memilih untuk mati bersama masa lalu."
Sang Penguasa Akhir melesat maju, dan benturan pedang mereka di dasar dunia memicu getaran yang merobek sisa-sisa kain realitas di sekitar mereka. Babak terakhir penyegelan Gerbang Abisal telah mencapai puncaknya di bawah doa-doa dunia yang mulai terbakar oleh malam.