Follow Ig me :@Thalindalena
"Jangan sok suci. Kamu sama halnya dengan wanita murahan di luaran sana !" Hina Doni.
Citra tidak menanggapinya,ia memilih bangkit dari tempat dan berjalan ke kamar mandi dengan keadaan tertatih dengan melilitkan selimut di tubuhnya. Tidak lupa sebelum itu ia mengambil pakaiannya yang berserak dilantai.
Apa yang terjadi ? Diantara mereka berdua ?
Penasaran ? Yuk simak terus kisah nya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawanya pergi 2
Ana dan Leon duduk di kursi berseberangan dengan tempat duduk Ayah, mereka duduk hanya terhalang oleh meja kerja.
Ayah menatap putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Siapa namamu?" Tanya Ayah kepada Leon.
"Leon Ferdiansyah, Tuan." Jawab Leon dengan tegas dan menatap pria yang di depannya dengan datar. Tidak ada rasa takut sama sekali dalam diri Leon.
Ayah mengernyit ketika mendengar nama Leon.
"Kau putra Tuan Ferdi?" Tanyanya lagi.
"Iya!"Jawab Leon tegas.
Ayah tersenyum tipis disana.
"Tuan Leon, Saya tidak tahu ada hubungan apa anda dengan putriku,tapi saya melihat jika anda sangat peduli dan mencintai putri saya." Ayah menjeda ucapannya lalu melirik putrinya yang tertunduk sambil meremat kedua tangannya.
"Saya adalah ayah yang buruk untuk putri saya. Seharusnya saya melindunginya dari apapun yang membuatnya terluka. Tapi, saya—." Ayah tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi. Ia menangis dan terisak lirih. Kini dirinya menyesali semuanya. Seharusnya dulu ia tidak membawa putrinya kerumah neraka ini.
"Ayah." Lirih Ana, lalu beranjak dari duduknya kemudian memeluk Ayahnya dari samping.
"Maafkan Ayah, putriku. Ayah jahat kepadamu."
"Bagiku Ayah adalah Ayah yang terbaik di dunia ini. Ayah tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf, ini semua sudah takdirku Ayah." Ana berkata dengan lirih kemudian mengurai pelukannya lalu mengusap Air mata Ayah yang membasahi pipi.
Entah terbuat dari apa Ana ini, dia begitu baik dan juga tulus.
"Terimakasih Ana." Ucap Ayah dengan tulus,
Ana mengangguk lalu kembali ketempat duduknya lagi.
"Tuan Leon, saya sudah tidak perlu khawatir lagi dengan putri saya lagi. Bawalah dia pergi bahagiakan dia dan jangan pernah menyakitinya lagi. Bawa dia pergi dari rumah terkutuk ini."
"Apa?!" Leon tercengang ketika mendengar ucapan Ayah. Ia tidak pernah berpikir jika dirinya akan mendapatkan restu secepat ini.
"Ayah ini bicara apa?" Protes Ana.
"Saya menyerahkan putriku pada anda, Tuan Leon. Bukankah Tuan Leon sangat mencintai Ana?" Tanya Ayah kepada Leon, ia tidak memperdulikan protes Ana.
Bukan tanpa sebab Ayah mengatakan hal itu dan Bukan juga karena Leon putra dari Tuan Ferdian tapi karena Ayah merasa jika Leon adalah pria yang tepat untuk Ana.
"Sangat saya sangat mencintai putri anda Tuan" Jawab Leon sambil melirik Ana.
"Lalu Ana?! Kau setuju 'kan jika menikah dengan Leon?" Tanya Ayah pada Ana.
"Ayah!!! A a ku." Ana tiba-tiba gugup ketika di tanya seperti itu oleh Ayahnya.
"Ayah tahu kau juga mencintai Tuan Leon, kan?" Ayah bertanya lagi.
"Ayah aku.... Iya aku mencintainya." Jawab Ana lirih dan semakin menundukan kepalanya.
Pipi Ana terasa memanas ketika ia mengungkapkan rasa cintanya di depan pria yang sudah lama mengisi hatinya. Tapi, dulu Ana terlalu takut karena mengingat dirinya hanyalah anak pembawa sial seperti kata ibu tirinya, ia merasa tidak pantas bersanding dengan Leon.
Leon menatap Ana dengan tatapan yang sulit di artikan, kemudian Leon tersenyum bahagia begitu juga dengan Ayah.
Apa ini mimpi? Batin Leon.
"Secepatnya pernikahan kalian harus di laksanakan, Karena saya tidak ingin anda membawa putri saya dengan status yang tidak jelas." Ucap Ayah dengan nada tegas.
"Malam ini saya akan menikahi Ana, Ayah." Ucap Leon dengan nada tegas.
"Ya! Saya setuju." Jawab Ayah.
Lebih cepat lebih baik bukan?
Sedangkan Ana mendelik kesal kepada Leon.
"Leo!!!" Protes Ana.
Dukung terus ya seyeng dengan cara like, komentar , vote dan kasih hadiah.
tuh pRT tar mupeng denger desahan kalian berdua /Facepalm//Facepalm/