Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Kedua Kalinya
"Mari, Nona. Silahkan kenakan gaun pengantin Anda." Di dalam sebuah gedung besar, Sekertaris Wen telah menunggu dan memberikan Sania sebuah gaun putih yang dipenuhi dengan pernak pernik berlian.
"Hanya pernikahan rahasia kenapa harus semewah ini? Aku hanya perlu memakai gaun biasa dan acara akan tetap berlangsung, tidak harus menyewa gedung sebesar ini, lagian untuk apa? Toh tidak akan ada juga yang datang." Sambil mengitari pandangan ke setiap sudut gedung yang sudah dihias sedemikian rupa. Indah memang, tapi apa gunanya bagi Sania jika pernikahan tersebut hanyalah sebuah permainan yang mereka perankan berdua.
"Pernikahan Tuan muda Zan tidak bisa dianggap remeh, Nona. Ada atau tidaknya tamu undangan yang datang, acara akan tetap digelar mewah meski tanpa ada yang melihat, Anda tidak akan mengerti soal ini," jawab Sekertaris Wen dengan seulas senyum ramah.
"Baiklah, aku tahu dia kaya, dia bebas menghamburkan uangnya meski hanya menikah dengan wanita seperti saya. Oke, saya mengerti, jika memang itu yang kalian inginkan, akan kuladeni hingga akhir, memangnya aku tidak bisa mengatur siasatku sendiri? Satu lawan dua, mari kita lihat siapa yang akan menang." Sania membuang muka sinis sembari merampas gaun dari tangan Sekertaris Wen.
"Kau lihat wanita itu, Wen. Jelas-jelas tidak suka, tapi ia masih menerimanya, aku harus mengatakan dia wanita baik, atau bodoh? Cukup unik dan aneh, tapi malah akan menikah dengannya." Zan tersenyum ringan menatap punggung Sania yang bertolak pinggang.
Sekertaris Wen membalas dengan senyum samar. "Beberapa tahun ini, sangat jarang bisa melihat Tuan muda tersenyum seperti itu." Ya, semenjak Zan mengetahui kelainan otaknya, senyuman ramah dan bersemangat di bibir Zan mulai memudar hingga tak pernah tampak sekali pun sampai saat ini, entah kapan terakhir kali ia melihat Zan tersenyum, pemuda yang dulunya mulai mencoba untuk ramah lingkungan, kini begitu menutup diri dari hadapan publik, tidak akan bicara jika tidak menyangkut soal bisnis. Sebagai orang yang sudah cukup lama bersama Zan, ia ikut merasa senang dengan hadirnya senyum itu, mungkin itu adalah awal dari hal besar yang akan datang di masa depan, semangat hidup yang dulu tidak terkejar, mungkin akan ia dapatkan kembali dengan kehadiran Sania. Namun, itu hanya sekedar mungkin, bukan kepastian, karena perasaan mereka, tidak akan pernah ada yang tahu, termasuk diri mereka sendiri.
"Sejak kapan kau lalai dengan ucapanku? Kau tidak senang aku menikahinya? Jangan bilang kau menyukai wanita itu dan menganggap aku sebagai perebut wanitamu?" tegur Zan ketika melihat Sekertaris Wen terus diam tak memedulikan ucapannya.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya sungguh tidak berpikir seperti itu." Sekretaris Wen segera membungkukkan badan meminta maaf.
Kini Sania dan Zan sudah berdiri berdampingan, siap untuk menjalankan perintah dan mengucap janji suci pernikahan.
"Kini kalian berdua sudah sah menjadi suami istri, silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita sebagai tanda pernikahan yang tidak akan pernah dipisahkan oleh apa pun."
Zan menatap Sania sedikit lama, meraih kedua belah tangan Sania, tapi Sania mencoba untuk menarik tangannya kembali. "Menurutlah, kamu sudah menjadi istri saya, meski di sini tidak ada banyak orang, kamu juga tidak boleh menjatuhkan reputasi saya di mana pun itu, paham?" gumam Zan dengan suara kecil, penuh akan penekanan.
Tangan Sania perlahan melemah dan pasrah. "*Ini telah menjadi kesepakatan yang sudah kusetujui, aku benar-benar tidak bisa lepas dari pria ini*," batin Sania sambil menatap mata Zan terlalu dalam.
Zan mendaratkan bibirnya ke bibir milik Sania, mereka saling memejamkan mata dengan pikiran yang mengambang di kepala masing-masing.
"*Sudahlah, ini bukanlah yang pertama kalinya, tidak ada yang perlu aku khawatirkan terhadap tubuhku, selama dia adalah suamiku, maka ini bukanlah sebuah kesalahan. Ya, ini bukanlah tindakan asusila, kami sudah sah*," batin Sania, masih merasakan betapa hangat dan lembutnya bibir pria yang kini menjadi suaminya.
demi bonus sania ck ck ck