Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Manis
"Ken, untuk apa semua koper-koper ini? Jangan bilang jika kau akan membawaku pergi berbulan madu?!" tebak Jessica melihat beberapa koper di letakkan di samping tempat tidur.
"Sebaiknya kau segera bersiap-siap. Pesawat kita akan lepas landas sekitar dua jam lagi."
"Tapi kita mau kemana?" tanya Jessica penasaran.
Ken tersenyum tipis. "Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba nanti. Dan sepanjang perjalanan aku akan menutup matamu dan kau tidak boleh melihatnya. Aku ingin memberikan sebuah kejutan padamu," ujar Ken sambil menarik gemas ujung hidung Jessica.
"Kejutan? Ahhh, jangan bilang jika kau akan membawaku bulan madu ke Paris?" tebak Jessica begitu antusias.
"Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba di sana. Jadi segera bersiap atau kita akan ketinggalan pesawat!!"
Jessica mencerutkan bibirnya dan menatap Ken dengan kesal. Inilah yang dia tidak suka dari suami tampannya itu. Ken terlalu banyak bermain teka-teki. Dan Jessica benci itu. Tapi dia sungguh penasaran kemana suaminya itu akan membawanya dan ia begitu tidak sabar dengan kejutan yang Ken berikan untuknya.
"Baiklah, aku akan bersiap sekarang." Ucapnya dan berlalu.
Ken tersenyum tipis. Pria yang selalu memasang mimik wajah dingin itu akhir-akhir ini lebih sering menebar senyum lebarnya. Lebih tepatnya setelah pertemuannya dengan Jessica satu setengah bulan yang lalu.
Hari ini Ken berencana memberikan kejutan besar untuk istri tercintanya itu. Dia akan membawa Jessica kembali ke Korea. Karena memang itu yang dia inginkan selama ini. Dan Ken akan mengabulkannya.
-
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam 21 menit dari China. Akhirnya mereka mendarat di negeri Ginseng dengan selamat.
Jessica masih belum tau lokasi mereka saat ini karena Ken belum juga membuka penutup mata dan telinganya. Wanita itu tidak tau kejutan seperti apa yang akan di berikan oleh suaminya itu untuknya.
"BIBI!!"
Buru-buru Jessica membuka penutup matanya setelah mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Meskipun telinganya tertutup earphone, tapi suara teriakan itu masih bisa di dengar dengan jelas.
Kedua mata Jessica membelalak melihat seorang gadis kecil yang begitu dia rindukan berlari ke arahnya dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.
"Laura?" seru Jessica dan menghampiri gadis kecil itu. Kedua tangannya di buka lebar, dan keduanya saling berpelukan.
"Aku merindukan, Bibi." Ucap Laura sambil mengeratkan pelukannya.
"Bibi, juga sangat merindukanmu." Jessica mencium kepala coklat Laura beberapa kali. Lalu pandangan Jessica bergulir pada kakak serta kakak iparnya. "Eonni," serunya dan langsung memeluk Ara. "Aku merindukanmu," Jessica memeluk manja dan mencium pipi Ara berkali-kali.
Ara tersenyum. Dengan senang hati dia membalas pelukan Jessica. "Eonni, juga sangat merindukanmu." Jawabnya.
"Apa kau tidak ingin memeluk, Oppa-mu juga? Padahal, Oppa, tampan mu ini sangat merindukanmu." Jessica tersenyum. Dengan segera dia memeluk kakak iparnya.
"Aku juga merindukan, Oppa." Ucapnya.
Beranjak dari hadapan Jessica. Laura menghampiri Ken dan langsung memeluknya. Laura sangat senang karena pada akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan paman tampannya.
Dan setelah saling melepas rindu. Mereka berlima pun bergegas meninggalkan bandara. Hans dan Ara tau bila Jessica dan Ken pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
-
Rasanya Jessica masih tidak percaya jika akhirnya dia kembali lagi ke negeri asalnya, yakni Korea.
Kejutan yang di berikan oleh Ken memang sangat luar biasa, bahkan Jessica tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya hanya dengan kata-kata. Dia terlalu bahagia hingga rasanya ingin menangis.
Setelah tiba di kediaman keluarga Kim. Mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah super megah nan mewah tersebut.
Tanpa menghiraukan suaminya, Jessica langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dia terlalu merindukan kamar yang selama lebih dari satu bulan dia tinggalkan.
Jessica membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Angin musim semi langsung menerpa wajah cantiknya dan mengibarkan helaian panjangnya yang terurai.
Gemerlap bintang tampak terang di penghujung musim semi. Angin lembut bertiup menerbangkan helaian daun pepohonan. Menciptakan irama indah ketika rerumputan menari dan saling bergesekan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya sebuah suara yang berasal dari balik punggung Jessica. Sontak wanita itu menoleh dan mendapati Ken berjalan menghampirinya.
Jessica tersenyum. Beranjak dari posisinya kemudian menghampiri Ken. Tubuh pria bereyepatch itu sedikit terhuyung karena pelukan Jessica. Wanita itu mengangkat wajahnya masih dengan senyum yang sama.
"Sangat, aku sangat bahagia. Terimakasih untuk kejutan manisnya, aku mencintaimu, Ken. Sangat-sangat mencintaimu." Jessica menyandarkan wajahnya pada dada bidang suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Dan selama nyawa ini masih menyatu dengan raga, apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia."
Jessica tersenyum lebar. Wanita itu menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ken. Betapa bahagian Jessica, memiliki Ken di sisinya.
-
"APA?! PERGI KE KOREA?!"
Maura memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar dari kedua sahabat Ken jika pria itu telah pergi ke Korea bersama istrinya. Maura yang merasa tidak terima segera pergi ke bandara dan berniat menyusul Ken ke Korea.
Mobil Maura melaju kencang pada jalanan kota yang lumayan legang. Matanya menatap lurus jalanan agar fokusnya tidak terbelah. Maura tidak akan membiarkan Ken lepas darinya, dia akan menghalalkan segala cara untuk membuat Ken menjadi miliknya.
Di tengah kesibukannya mengemudi. Maura menghubungi seseorang dan meminta dia untuk mengurus keberangkatannya ke Korea.
Setibanya di bandara. Maura langsung di sambut oleh seorang pria yang sepertinya memang sedang menunggu kedatangannya. Pria itu menyerahkan pasport dan tiket pesawat pada Maura.
"Pesawat mu akan berangkat lima belas menit lagi. Jadi sebaiknya sekarang kau bergegas."
"Aku tau, maaf sudah merepotkan mu."
"Bukan masalah besar. Pergilah atau kau akan tertinggal pesawat mu." Maura mengangguk dan berlalu meninggalkan pria itu.
-
Malam sudah semakin larut. Namun kesibukan masih terlihat di sebuah rumah mewah yang berada di khawasan elit kota Seoul. Kehangatan terasa dalam perbincangan mereka.
"Bibi, kenapa wajahmu berseri-seri? Ahhh, pasti karena sekarang kau dan paman tampan sudah menjadi suami-istri ya?" goda Laura melihat wajah merona Jessica.
Wanita itu mencubit gemas pipi gembil Laura. Gadis kecil itu selalu bisa membaca apa yang dia pikirkan. "Kenapa kau semakin cerewet saja, Sayang."
"Oya, Ken. Apa kepulangan kalian kali ini hanya untuk berkunjung atau untuk menetap?" tanya Hans pada sepupunya itu.
"Aku tidak ingin menjadi suami yang jahat dengan memisahkan Jessica dari keluarganya, Hyung. Untuk itu aku memutuskan untuk menetap di sini."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di sana? Apa kau akan meninggalkan dan melepaskannya begitu saja?"
"Perusahaan induk rencananya akan aku pindahkan ke negeri ini. Aku sudah menemukan lokasi yang strategis untuk membangun perusahaan. Dan pembangunan sudah mencapai 50%. Sebenarnya sudah lama aku mempersiapkan perusahaan itu, karena sejak awal aku memang berniat untuk menetap di Korea. Lebih tepatnya setelah aku bertemu dengan Jessica." Terang Ken panjang lebar.
Mendengar penuturan suaminya membuat Jessica merasa terharu. Wanita itu sangat bahagia karena Ken menjadikan dirinya sebagai prioritas utamanya.
"Sudah malam. Sebaiknya mengobrolnya kita lanjutkan besok saja." Ucap Ara menengahi perbincangan.
Ken dan Jessica mengangguk. Pasangan muda itu segera memisahkan diri dan pergi ke kamar mereka di lantai dua. Begitu pula dengan Ara dan Hans, sedangkan Laura sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu.
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt