Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-benar berakhir? (revisi)
Adella merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di sana, ia sudah lelah berlatih. Matanya tak sengaja melihat sosok laki-laki yang tadi ia pukuli. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat wajah laki-laki itu di penuhi memar, tapi entah kenapa ia memiliki firasat buruk pada orang itu. Memang benar ada beberapa anggota baru, tapi pada laki-laki bernama Rafka itu ia langsung bereaksi berlebihan ketika pertama kali melihatnya.
Apakah mungkin jika dia memang suruhan seseorang untuk memata-matai dirinya? entah apa yang di lakukan Gavin hingga ia menjadi korban seperti ini.
Adella berdiri, lalu menghampiri Rafka yang tengah berbincang dengan salah satu anggota elang. "Maaf gua udah bikin Lo jadi begitu," kata Adella tanpa basa-basi.
Rafka menoleh, "Harusnya sih ga gua maafin, tapi karena Lo adiknya dari ketua kita, mana bisa ga gua maafin," ujar Rafka.
Jika di perhatikan, Rafka tidak jauh berbeda dengan Alaska, keduanya sama sama memiliki tampang yang tampan, tapi karena saat ini wajah Rafka di penuhi lebam jadi terlihat biasa saja.
Mungkin ia harus menyelidiki dan mengawasi gerak-gerik Rafka dan beberapa anggota baru, di keadaan seperti ini ia tidak bisa percaya pada sembarang orang begitu saja atau akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri. Lagipun kenapa harus merekrut orang baru? bukankah anggota mereka banyak dan terbilang cukup, untuk apa meminta bantuan orang lain lagi?
Adella kembali ke sofa, lalu mengetik sesuatu di ponselnya untuk ia kirim ke Gavin, ia ingin tahu siapa yang memasukkan anggota baru itu.
"Sibuk ga?"
Adella menoleh, "Engga, kenapa?" tanya Adella.
"Mau ngobrol sebentar sama Lo." Adella mengangguk lalu mempersilakan Alfi untuk duduk, ya dia adalah Alfi bukan Alaska.
"Lo masih marah ya sama Alaska?"
sejenak Adella terdiam, marah? ia ingin marah, tapi alasannya apa?pada Alaska yang sudah punya pacar baru atau pada dirinya sendiri yang terlambat menjelaskan semuanya?
Lagipula ia tidak punya hak untuk marah pada Alaska bukan? hubungan mereka sudah selesai sejak ia meninggalkan Alaska ke Singapura, karena sebelumnya Alaska sudah bilang jika dia lebih memilih putus dari pada LDR, secara tidak langsung kepergiannya mengakhiri hubungannya, kan?
"Engga kok," jawab Adella.
"Terus kenapa ngehindar terus?"
"Kapan? terakhir ketemu kan kemarin, terus sekarang ketemu lagi gua ga ngehindar, kan?" ujar Adella. Alfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar juga mereka baru bertemu kemarin ketika Adella menjelaskan semuanya dan mengungkapkan kekecewaannya lalu bertemu kembali hari ini.
Mereka memang bertemu, tapi tak saling menyapa. kedua mata mereka saling menatap, tapi keduanya memilih bungkam. Seolah jarak mereka begitu jauh hingga tidak saling melihat.
"Terus hubungan Lo sama Alaska gimana?"
"Apanya yang gimana? kita udah selesai jadi ga gimana-gimana."
"Lo ga mau balikan?" tanya Alfi. Seketika Adella tersenyum tipis, entah apa yang membuatnya tersenyum, bagi Alfi senyuman Adella itu sangat menyeramkan.
"Gua terlalu berbahaya buat Alaska, jadi lebih baik dia sama Fany."
"Mulut Lo mungkin bilang kaya gitu, gimana hati Lo? gua rasa kalimat Lo mengandung kebohongan," kata Alfi.
Adella menghembuskan napasnya kasar, "Tentang gua yang berbahaya itu beneran, gua ga bisa ada di dekat orang-orang yang gua sayang," jelas Adella.
"Jadi Lo masih sayang sama Alaska?" lantas Adella menoleh, lalu menoyor kepala Alfi yang berani-beraninya menjebak dirinya lewat kalimat.
"Kalo tentang Alaska Sama Fany?"
Seketika Adella terdiam, hatinya mendadak berdenyut nyeri. Alaska adalah cinta pertamanya, pacar pertamanya, dan mantan pertamanya. bagaimana bisa ia secepat itu mengikhlaskan dan melupakan Alaska untuk orang lain.
Adella adalah salah satu orang yang sulit merasakan jatuh cinta, ia tidak mudah menyukai seseorang, tapi sekalinya ia menemukan sosok yang benar-benar ia sayangi, maka ia juga sulit untuk melupakannya.
"Gua bahagia kalo dia bahagia, gua duluan," kata Adella lalu ia langsung berpamitan agar Alfi tidak punya kesempatan lagi untuk mengorek perasaannya.
Yang sudah berlalu biarlah berlalu, ia tidak ingin mengubah apapun karena Adella yakin jika takdir Tuhan adalah jalan terbaik untuknya, dan untuk semua orang. Jika ia memang di takdirkan untuk berpisah dengan Alaska, maka ia akan belajar mengikhlaskan Alaska bahagia dengan orang yang tepat untuk laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya itu.
Beberapa meter dari tempat percakapan Alfi dan Adella, Alaska melihatnya dengan tatapan datar. meskipun ia tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, tapi ia merasa cemburu dengan Alfi yang bisa mengobrol dengan leluasa tanpa canggung dengan Adella. Bahkan sejak pertama kali datang dan melihat Adella, ia tidak berani mengambil untuk mendekat pada gadis itu.
Alfi yang melihat Alaska langsung menghampiri laki-laki itu, "Kenapa ga Lo jelasin kalo Lo sama Fany itu cuma-"
"Gua beneran pacaran sama dia," potong Alaska.
***
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌