Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 - End
Pulang dari sekolah wajah Arra semakin ditekuk, Bunda dan Ayahnya pun meninggalkan ia dirumah hanya ditemani beberapa Art. "Aarghhh, Bunda kenapa ninggalin adek sih," kesal Arra beranjak naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Aku mau semuanya kembali seperti dulu. Abang Angga yang selalu jagain Arra, Ayah, Bunda, dan Bang Rafa yang selalu manjain Arra. Aku kangen itu semua," ratap gadis itu lesu, sambil merebahkan tubuh mungilnya dikasur dan memandangi langit-langit atap.
Dimas, dan Nisa bukan tanpa alasan bepergian dan meninggalkan Arra dirumah, mereka berdua sedang menyusul Angga yang baru saja tiba di tanah air dan bertahan di bandara menunggu kedua orang tuanya yang kekeh ingin menyabut dan menjemputnya pulang.
Angga pun hanya menurut. Sudah lama rasanya tidak dimanja dan diperhatikan seperti ini. Ia pun juga tak ingin selalu mendapatkan perlakuan sayang yang lebih, mengingat umurnya yang sudah dewasa dan lagi ai seorang kakak dari adik kecilnya yang sering cemburu jika ia disayang.
"Bunda harusnya ngajak Arra, pasti sekarang adek ngambek bund," seruan Angga saat bertemu kedua orangtuanya.
"Nggak akan bisa dia marah, apalagi ngambek cuma gara-gara Bunda sama Ayah jemput kamu Nak, adek kamu pasti ngerti." Nisa langsung memeluk Angga, anaknya itu tumbuh dengan begitu cepat, bahkan tubuh Angga seakan menenggelamkan dirinya di dalam dekapan hangat ibu dan anak.
"Ayah gak di ajak pelukan hmm," ucap Dimas berlagak meraju.
"Kamu makan apa saja kak disana, badan kamu ngalahin Ayah." ucap Dimas meneliti perawakan Angga yang bener adanya.
"Masih makan nasi, Ayah. Abang lihat juga makin gemukan," sahut Angga meladeni dan mengusap perut Dimas yang sedikit buncit.
***
Mondar-mandir di ruang tamu, ditemani Amoy si kucing hitam peliharaan Arra. Gadis itu juga membawa snack makan kucing instan.
"Harus makan banyak Moy, biar gemuk," elus Arra mengusap bulu kucing jantannya.
Tak lama kemudian pintu depan terbuka lebar, Bunda Nisa dan Angga masuk sambil menggiring koper. Arra yang melihat kedatangan sang kakak mengabaikan dan tetap betah bermain ditempatnya dengan Amoy.
"Sayang. Dek, abah pulang nih kamu gak kangen apa?" panggil Nisa menghampiri sang anak
"Arra," ucap Nisa duduk di samping Arra yang masih diam tak menanggapi. Nisa tahu pasti anak gadisnya itu tengah meraju karena ditinggal dirumah.
"Maafin bunda sayang. Bunda sama Ayah, salah karena ninggalin kamu. Bunda tadinya mau jemput adek, tapi pas abang kasih tau sudah sampai dibandara, bunda jadi buru-buru." jelas Nisa membujuk.
Arra memadang raut sang ibu. Iya juga sadar seharusnya tak pernah merajuk hanya karena ditinggal sendirian dirumah. Tidak selamanya juga ia akan terus hidup bersama kedua orang tuanya itu. "Adek juga minta maaf. Tapi lain kali jangan gitu ya bund," ucap Arra luluh. Tidak enak jika harus mendiamkan ibunya itu.
***
"Dek, kalau abang nikah boleh nggak," tanya Angga tiduran di samping sang adik. Untuk malam ini dan beberapa hari kedepan Angga akan terus menempel dengan adik satu-satunya itu.
"Ngapain nanya kaya gitu, kalau mau nikah! Nikah aja, yang penting calonya ada," sahut Arra meladeni. Meskipun mata, dan tangannya fokus men scroll layar Hp, tapi telinganya masih bisa fokus untuk mendengarkan ucapan sang kakak.
"Jadi boleh! Tapi abang masih ragu, sama calonnya. Udah lama gak ketemu soalnya dek," curhat Angga lagi.
"Kalau udah jodoh, pasti akan tetap nikah walau gak saling dekat dan sering ketemuan, abang!" balas Arra menyakitkan.
Malam ini ia akan menjadi pendengar yang baik untuk sang kakak, tidak seperti hari bisanya, Arra yang akan menjadi pendongeng dan kakaknya yang akan menjadi pendengar setia.