Karena melakukan " hubungan " sebelum keduanya resmi menjadi suami istri, akhirnya Aira menyerah dan menerima pinangan dari Rendra. Namun, karena restu yang belum juga di dapat dari keluarga Aira, akhirnya mereka memilih untuk menikah diam-diam.
Rendra memandangi wanitanya yang masih terlelap. Dilihatnya lekat-lekat, gadis yang baru saja berubah menjadi wanita karena perbuatannya. Cantik, selalu membuatnya hatinya sejuk ketika memandang wajahnya.
" Maaf sayang, hanya ini satu-satunya cara untuk membuatmu terikat padaku. Terlalu banyak orang diluar sana yang ingin merusak hubungan kita "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama pelakor
Tentu saja Aira tidak mudah percaya setelah mendengar ungkapan hati Rendra. Dia tahu Rendra selama ini memang mencoba mendekatinya. Namun, dia juga tidak bisa lupa, apa yang di dengarnya di Rumah Sakit waktu itu ketika Rendra mendapatkan panggilan dari seorang wanita. Belum lagi, hubungan Rendra dengan Ernest yang masih berjalan.
Aira menghampiri Erna dan Farah yang sudah terlebih dahulu pergi ke kantin. Erna dan Farah nampak menikmati semangkuk bakso . Aira duduk disamping Erna sehingga posisi nya berhadapan dengan Farah.
" Ra..nggak pesan?"
" Nggak Far, aku mau langsung pulang "
" Di jemput Rendra ?"
" Iya.., ini hari ke 7, eh bukan masih hari ke 6", jawab Aira sambil menghitung dengan jemarinya
"Yang namanya orang bayar hutang bukan kayak gini Ra, bayarnya ", goda Erna
" Terus aku harus bagaimana?"
" Nyuci baju, apa bersih-bersih rumah Rendra. Lah ini malah Rendra yang jadi sopir " jawab Erna
" Tahu....Rendra cuma modus "sahut Farah
Aira hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Dia sebenarnya tahu dari awal tujuan Rendra, namun dia memilih untuk menyetujuinya agar hutangnya lunas.
" Ya sudah, aku pulang dulu ya. Sopirku sudah menunggu , bye", pamit Aira sambil menyerput Es teh milik Erna .
" AIRA!!!!!", spontan Erna berteriak
Rendra sudah menunggu kedatangan Aira dari dalam kampusnya. Siang itu, dia berencana mengajak Aira makan siang bersama karena kepulangan Aira bertepatan dengan makan siang.
" Maaf mas, lama nunggu. Aira tadi ngobrol di Kantin"
" Nggak apa-apa, kamu sudah makan?"
Aira menggelengkan kepalanya.
" Kita cari makan dulu ya, kebetulan aku juga belum makan siang"
" Oke "
Kali ini tanpa berdebat, Aira mengiyakan ajakan Rendra. Di dalam mobil, mereka tidak berbicara seperti biasa. Hanya suara Radio yang siang itu menemani perjalanan mereka. Rendra tahu, Aira sedang dalam keadaan lelah , jadi dia membiarkan gadisnya itu untuk menikmati perjalanan mereka.
" Ra..mau makan apa?"
" Hmmm, makan di sepanjang jalan pemuda, mas mau? "
Aira memilih tempat tersebut karena pilihan makanan yang ada disana, sangat beragam. Meskipun hanya tempat sekumpulan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Namun rasa makanannya enak dan yang paling penting tempatnya nyaman dan bersih karena tidak berada dipinggir jalan utama.
Rendra ingin menolaknya, karena letaknya yang dekat dengan perusahannya dan pastilah para karyawannya juga menikmati makan siang disana. Namun, demi wanitanya dia rela melakukannya. Bukan masalah harga diri yang dia utamakan, tetapi kenyamanan Aira yang menjadi taruhannya. Bisa saja ada salah satu karyawannya yang melihat dan menyapanya, bisa terbongkar identitas yang selama ini dia tutupi di depan Aira.
Aira kecewa ketika sudah sampai di warung yang dia pilih, tetapi tidak mendapatkan tempat duduk. Beruntung, sekumpulan orang yang berada di sebuah meja, buru-buru menyelesaikan makannya, dan menawarkan tempat duduk untuk Aira.
" Mbak mau makan? silahkan kami sudah selesai ", ucap wanita itu ramah
" Terima kasih mbak",
Wanita itu dan ketiga temannya tersenyum ke arah Rendra dengan sedikit menundukkan kepalanya. Rendra membalasnya dengan anggukkan disertai dengan pejaman matanya. Dia tahu betul, itu adalah sekumpulan karyawannya, meskipun tidak mengenalnya secara personal, tapi dia mengetahui dari ID card yang mereka kenakan.
Seperti biasa, Aira yang memilihkan menu makanan untuk Rendra. Ini adalah pengalaman pertama Rendra makan ditempat keramaian seperti ini. Namun, jika saja Aira tahu siapa Rendra yang sebenarnya, mungkin dia tidak akan berani mengajak Rendra makan ditempat seperti ini.
Rendra mengantarkan Aira untuk pulang ke rumah. Tidak seperti biasa, Rendra langsung pergi tanpa berbincang dengan Aira. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, begitu pamitnya ke Aira.
Setelah mandi, Aira merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya, sambil memainkan ponselnya. Sampai akhirnya dia mendapat pesan yang berhasil membuatnya kelimpungan .
Fatma :
Mbak nggak menyangka kita sama-sama pelakor . Hehehe
Aira tidak terima dengan isi pesan yang dikirimkan oleh Fatma. Dia pun membalas dengan kesal.
Aira :
Kenapa mbak bisa ngomong seperti itu? Suami siapa yang aku rebut ?
Fatma :
Jangan kamu kira mbak nggak tahu, kamu habis jalan dengan pacar Ernest
Aira :
Setidaknya dia belum menikah dengan Ernest, bukan seperti mbak. Sudah tahu mas Tyo suami orang, tetap saja mbak mau
Fatma :
Setidaknya mas Tyo bukan pasangan dari saudara mbak sendiri.
Aira :
Iya aku tahu.
Fatma :
Ra.., mbak cuma bercanda tadi, kenapa kamu marah seperti ini?
Aira :
Aira nggak marah kok ,
Fatma :
Kamu dirumah? mbak kesana
masih tak ulang bacanya,,iseng buka komen",,
malah bow maylada udh ad boyfriend barunya.. padhl keren mik