Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Pelelangan Gelap
Kereta kuda yang membawa Putri Woerlt telah meninggalkan balai kota sepuluh menit yang lalu. Lacus berencana untuk mencari penginapan sebagai tempat berkumpul nantinya dengan Yula maupun Yoshizu. Esha masih mengendalikan jalan kuda, menelusuri kota yang tampak begitu tenang. Setiap orang yang mereka lewati memandang dengan tatapan takut.
Pemimpin kota menawarkan penginapan terbaik dan pengawal untuk Lacus dan rekannya, namun Lacus menolak dengan halus dengan alasan tidak mau mencari perhatian sekitar. Jikalau bisa, tidak ada yang menyadari dirinya sebagai Putri Woerlt hingga ia kembali ke perjalanan selanjutnya kelak. Itulah taktik Lacus.
“Jika ada yang menghalangi jalan kita kelak, itu tak lain ialah suruhan Jilra Flaksh,” gumam Lacus menerka apa yang akan terjadi ke depan. “Ternyata memang pemimpin baru itu mencurigakan.” Ia terus memikirkan setiap kalimat yang dilontarkan Jilra Flaksh, setiap keganjalan pada sikap pria tersebut.
“Andai aku memiliki ilmu magica telepati,” sesal Lacus untuk kedua kalinya tak sempat mempelajari magica tersebut. “Pasti aku telah menghubungi Yula dan memintanya mencari semua informasi mengenai Jilra Flaksh.” Ia tertegun sesaat. Lalu membuka jendela bilik. “Esha,” panggilnya.
Esha hanya menoleh sedikit ke belakang.
“Kita beralih arah. Kita cari pemimpin kota sebelumnya, Kurikh Saber.”
Esha heran, “Mulai dari mana kita mencarinya?” Mereka baru saja tiba di Samber, tak mengenal seluk-beluk kota. Bahkan wajah sang pemimpin sebelumnya tak ia ketahui. Lain hal jika Lacus mengenali pemimpin tersebut sebelumnya.
“Mungkin ke rumah sakit yang ada di sini,” jawab Lacus tak ragu, “Di kota ini hanya ada satu rumah sakit. Dan jika memang Paman Kurikh sakit, kita bisa menjenguknya ke sana. Tapi jika Jilra Flaksh itu berbohong....”
“Aku yakin kita telah diawasi oleh orang-orang Flaksh itu,” ujar Esha.
Lacus tertegun.
“Jika mereka mengetahui tindakan kita, pasti mereka akan menghadang kita, Putri. Hari sudah mulai gelap, tak sebaiknya Anda beristirahat? Aku yakin jika kita tak berbuat hal yang mencurigakan, mereka juga tak akan bertindak. Tidakkah lebih baik menunggu Si Telinga Kelinci dan Pemimpin Perampok kembali?”
“Esha...,” Lacus tersenyum, “kamu begitu berhati-hati dalam bertindak. Aku mengagumi jalan pikiranmu. Tapi ... kurasa Yoshizu akan telat berkumpul kembali pada kita. Bagaimana kalau kita menjemput Yula saja? Kurasa ia telah tenggelam dalam tumpukan buku dan lupa untuk kembali,” putus Lacus kemudian.
“Baiklah, Putri,” Esha mengangguk patuh.
“Panggil saja kakak, seperti Yula,” titah Lacus.
Esha terkejut. “Tidak. Aku tidak bisa melakukannya,” tolaknya enggan.
“Tidak apa, Esha,” pinta Lacus, “jangan terlalu kaku begitu. Kita ‘kan sudah seperti satu keluarga dalam perjalanan ini. Lagipula, aku lebih suka dipanggil kakak daripada tuan putri. Kita tak lagi di lingkungan kerajaan!”
Masih berat bagi Esha, terlalu cepat baginya memanggil Lacus dengan sebutan kakak. “A-a-aku akan mengalihkan perjalanan kita ke gedung pertemuan. Kita akan jemput Yula,” putus Esha mengalihkan pembicaraan.
Lacus tertawa kecil melihat kegugupan Esha. Ia kembali ke dalam bilik. Menyusun rencana selanjutnya.
.
.
.
Sudah benda kelima yang ditampilkan di atas panggung pelelangan namun benda yang dimaksud Yoshizu masih belum keluar. Mereka berdua mulai mengira bahwa kehadiran benda itu di pelelangan gelap hanyalah kabar bohong belaka.
“Apa benar guci itu ada?”
Yula terlihat lelah. Dibalik topeng, ia tengah jengah. Tangannya sangat gatal untuk bertindak. Ia ingin menyelamatkan seluruh benda-benda bersejarah yang dijual secara ilegal tepat di depan matanya. Ia tidak berdaya, dengan posisinya saat ini tidak memiliki hak untuk menutup pelelangan tersebut. Namun ia menikmati pemahaman pelelangan gelap yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Menjadi pelajaran berharga tersendiri baginya, meski ia tak akan mengikuti pelelangan seperti ini ke depannya.
Mulut Yoshizu yang tidak tertutup oleh topeng itu tersenyum, “Sabarlah, Yula, hingga akhir acara. Aku tak mau pergi tanpa kepastian.”
Yula menghela napas dan meregangkan otot agar badannya rileks, ia kembali bersandar dengan kedua tangannya diletakkan di belakang kepala. “Baiklah. Aku akan bertahan hingga akhir.”
Benda kelima telah terjual, semua orang yang datang dalam acara pelelangan bersorak riuh karena seruling yang diakui sebagai alat musik bersejarah saat perang dulu terjual dengan harga yang tidak terbilang murah. Sang pembawa acara yang memimpin jalannya pelelangan mengumumkan benda terakhir untuk dibawa ke atas panggung. Benda keenampun dibawa dengan meja dorong oleh seorang perempuan cantik yang menarik perhatian seluruh mata, ia membuka penutup kain hitam yang menyembunyikan benda yang dibawanya. Pembawa acara langsung mengenalkan benda yang baru tiba itu.
“Baiklah ini adalah benda langka yang terakhir! Sebuah benda yang sangat langka dari sebuah klan yang kita kenal dengan Klan Naga!”
Sekali lagi seluruh orang dalam ruang pelelangan itu bersorak riuh.
Mata Yula terbuka lebar. “Itu dia!” pekiknya.
Yoshizu sudah bersiap dengan papan-papan harganya, inilah yang ditunggunya. Ia ingin memenangkan pelelangan dan mengambil guci itu. Ia harus menyelamatkan benda peninggalan yang bisa menjadi petunjuk dalam pencarian Esha akan keluarganya. Ia tidak boleh melepaskannya begitu saja. Ia menetapkan dalam hati apapun hasilnya nanti guci itu harus ia dapatkan. Semua demi membantu Esha, tekadnya.
Di atas panggung, sang pembawa acara kembali melanjutkan penjelasannya setelah suasana agak tenang. “Ini adalah guci peninggalan Klan Naga. Benda ini sangat terasa magis dan menyimpan kekuatan magica tersendiri. Ayo, siapkan papan harga kalian dan kami akan membuka dengan tawaran seribu reup!”
“Seribu?” Yula terperangah. “Itu harga modal dagang yang diberikan kerajaanku!” Ia melirik Yoshizu yang bersiap mengangkat salah satu papan harga. “Kamu punya uang berapa sih?” herannya. Karena Yula tak yakin akan meminjamkan uangnya pada Yoshizu jika harganya di luar jangkauan mereka.
“Tenang saja! Ikuti saja siasatku,” ungkap Yoshizu bersemangat mulai mengangkat papan setelah tawaran dari dua orang yang tertarik dengan guci tersebut.
“Aku tak akan meminjamkan sekeping pun koin padamu!” gerutu Yula. “Kalau begini lebih baik kita ambil saja. ‘Kan semua benda di sini juga hasil curian,” gumamnya kemudian.
Yoshizu tidak mendengarkannya. Gemuruh orang-orang di ruangan membisingkan pendengaran.
Saat mereka bicara sudah ada yang menawar seribu lima ratus reup. Yoshizu mengangkat papan harga lebih dari tawaran sebelumnya. Beberapa orang pun mengangkat papan selanjutnya hingga dua ribu reup tercapai. Yoshizu tetap mengangkat papannya, orang-orang telah menyerah kecuali satu orang, laki-laki tua yang menyaingi Yoshizu dalam menawarkan harga. Dan guci terpaut dengan harga tiga ribu empat ratus lima ribu reup oleh laki-laki tua itu.
Yoshizu terhenti dan menyerah. Ia memperlihatkan ekspresi kekecewaan, tapi Yula tahu itu hanyalah kepuraan. Karena tidak ada lagi orang yang menawar, maka guci itu berhak dimiliki oleh laki-laki tua yang telah menawar harga tertinggi. Setelah pembawa acara menetapkan harga sesuai dengan tawaran laki-laki tua itu, ia menutup acara pelelangan dan laki-laki tua itu turun ke bawah ke arah panggung pelelangan. Sorak riuh kembali terdengar. Semua barang dan para penawar pergi ke belakang panggung untuk serah terima barang dan membayar sesuai tawaran.
Yoshizu tersenyum miring saat pelelangan ditutup. Ia memberi kode dengan tangan pada Yula agar bergerak mengikutinya. Yula mengikuti tanpa mengeluarkan suara. Mereka berdua beranjak keluar dari tempat duduk menjauhi orang-orang, mereka tak kembali ke pintu di mana mereka masuk, mereka pergi ke bawah ke tempat keluar lainnya. Hingga mereka tiba di belakang panggung di mana guci akan diberikan pada penawar yang tertinggi. Mereka memutuskan untuk menunggu transaksi berakhir. Saat itulah Yoshizu, ia akan mencoba berbicara dengan laki-laki tua yang mendapatkan guci itu.
Namun apa yang mereka lihat bukanlah transaksi yang seharusnya. Sepuluh laki-laki berpakaian serba hitam menyerang acara transaksi itu. Mereka memukul semua orang hingga pingsan, kecuali laki-laki tua itu.
.
.
.
Lacus memasuki gedung pertemuan yang hanya dikunjungi oleh beberapa pedagang yang sedang bercengkrama. Esha ada berjalan tepat setelahnya. Hari sudah remang, sebentar lagi malam akan menyelimuti kota. Lacus mempergegas langkah mencari sosok Yula. Perpustakaan di gedung tersebut sangat mudah ditemui karena berada di ruangan terbuka. Ia menghampiri pustakawan yang tengah istirahat sembari menyesap teh hangat di tempat duduknya.
“Permisi, Pak,” sapa Lacus ramah. “Apa ada seorang gadis kecil berumur dua belas tahun ke sini? Rambutnya sebahu dan sangat ceria.”
“Ah!” Tak ada yang mengunjungi perpustakaannya hari ini kecuali satu orang, tentu ia langsung mengingatnya. “Gadis ceria yang sangat suka buku!” ujarnya senang. “Iya, tadi anak itu ada di sini. Saya kaget saat ia bertanya buku yang membahas Klan Naga.” Pustakawan itu tertawa mengingat ekspresi Yula yang antusias diberikan buku tersebut.
Kening Esha berkenyit. “Klan Naga?”
Lacus tergagu. “Nanti kujelaskan, Esha,” pintanya tak mempertanyakan hal tersebut kini. Ia kembali menatap pustakawan tua itu. “Dia ada di sini, tadi? Apa Bapak tahu kapan dan ke arah mana ia pergi setelah dari sini?”
Pustakawan itu mencoba mengingat, telunjuknya menggaruk kening. “Ia telah pergi tepat sebelum matahari tenggelam. Ia pergi ke dalam,” menunjuk ke dalam gedung, “saya tidak tahu gadis kecil itu ke ruang yang mana, tapi sampai saat ini ia tak lewat kembali bersama seorang pemuda tampan.”
“Jangan bilang ia bertemu dengan Yoshizu?” terka Esha heran. Lacus mengangguk, berfirasat sama. “Apa urusan Yoshizu ke sini? Bukannya ia mencari sesuatu?”
Lacus berpikir sesaat. Ia tak tahu harus mencari keduanya ke mana. Gedung pertemuan ini cukup besar, ada banyak ruang yang dijadikan tempat rapat bagi para pedagang yang tiba. Apa ada ruang penyimpanan? Ruang rahasia? Jikalau pun ada, menurutnya, akan susah menemukan keduanya dengan cepat. Ia membutuhkan keduanya untuk menangani pemimpin baru kota itu.
Lacus tersenyum dengan hati resah. “Seharusnya aku menentukan tempat pertemuan. Bodohnya aku,” sesalnya mengingat tak tahu harus di mana menunggu Yula dan Yoshizu setelah mereka berpencar. Ini menjadi pelajaran bagi Lacus.
“Tenang saja, Putri, kita akan menemukan mereka. Atau ... malah Si Telinga Kelinci itu yang dahulu menemui Anda,” ungkap Esha mengalihkan pandang, menyembunyikan keperhatiannya.
Senyum Lacus mengembang. Ia mengubah pandangan yang merasa tenang jika selalu bersama Yula, namun dengan rekannya yang kini bersamanya, ia merasakan hal yang sama. “Aku percaya pada para rekanku.”
Lacus ingin berpamitan pada pustakawan, namun pria tua itu menganga menatapnya. “A-apa saya tak salah dengar? Pemuda ini memanggil Anda ... putri?”
Esha merasa bersalah tak sengaja mengungkapkan identitas Lacus.
Lacus tersenyum gugup. “Sebenarnya....”
“Anda dari mana, Tuan Putri?” tanya pustakawan itu sambil menundukkan badan.
“Kumohon, Pak, jangan menundukkan badan Anda. Aku tak ingin diketahui oleh siapapun,” pinta Lacus. Pustakawan itu sedikit menaikkan badannya, menatap wajah Lacus yang tetap ramah padanya.
“Jika benar Anda seorang Putri, tolong, bantu kota kami,” pinta pustakawan itu kembali menundukkan badan. “Kirimkan kami bantuan mengembalikan kota seperti semula. Setelah Tuan Saber menghilang—”
“Menghilang?” kaget Esha. “Dia tidak sakit?”
Pustakawan menggeleng lemah, “Itulah yang disampaikan para bangsawan dan pemimpin baru pada kami. Namun tak ada sedikitpun informasi di mana Tuan Saber berada.” Ia semakin menundukkan badan, “Hamba mohon, Tuan Putri, sampaikan berita pada Kerajaan Woerlt akan keadaan kami. Sudah beberapa kali kami mencoba melakukannya, semua pembawa berita menghilang.”
Lacus dan Esha saling memandang.
“Kecurigaan Anda benar, Putri. Jilra Flaksh sangat mencurigakan,” ungkap Esha yakin.
Lacus kembali menatap pustakawan lebih serius. “Apa Bapak tahu latar belakang pemimpin kota baru, Jilra Flaksh?”
“Ia diangkat menjadi pemimpin kota, menggantikan Tuan Saber sudah dua tahun. Dipilih oleh para bangsawan. Hanya itu yang hamba ketahui. Mohon maaf, Tuan Putri.”
“Selama dua tahun tapi semua info mengenai Kota Samber tak sampai keluar, berarti mereka memiliki niat besar terhadap kota ini,” gumam Lacus. “Mereka memiliki tujuan terencana.”
“Tampaknya ... Jilra Flaksh itu orang yang cerdik,” terka Esha. “Pantas, ia dapat bermulut manis di depan Anda.”
“Kita harus segera menemukan Yula dan Yoshizu. Tampaknya situasi kita lebih rumit dari yang kita bayangkan,” putus Lacus.
Esha mengangguk.
“Kami akan mencari tahu dan menangani permasalahan ini. Terima kasih atas informasinya, Pak. Jangan katakan pada siapapun tentang saya dan rekan saya,” pinta Lacus, kemudian ia pamit dan melangkah cepat keluar gedung. Esha berjalan tepat setelahnya. Sang pustakawan menundukkan badan sebagai salam hormat, berdoa dalam hati atas keselamatan dan keberhasilan Lacus dalam tindakannya, berdoa semoga kehadiran sang putri tersebut dapat mengembalikan kedamaian tempatnya menghabiskan umurnya.
Lacus dan Esha baru saja melangkahkan kaki keluar pintu keluar gedung, dua pria menunggu mereka di sana. Namun salah satunya telah mereka kenali sebelumnya di balai kota. Pria jakung yang mendampingi pemimpin kota baru. Ia menatap Lacus dan Esha dengan mata sipitnya yang tajam.
Esha segera berdiri di depan Lacus, bersiaga untuk menyerang. Lacus menepuk pundak Esha, ia tersenyum menyikapi tindakan rekannya. Kemudian berdiri di sampingnya. “Kita hadapi bersama,” perintahnya. “Sepertinya Tuan Flaksh masih mengkhawatirkan keadaan saya. Saya tersanjung jika kehadiran Anda berdua mendampingi kami menuju penginapan,” ujarnya pada kedua pria yang masih belum diketahui niatnya.
“Putri Woerlt, jika Anda bersedia untuk tidak ikut campur, kami akan membiarkan Anda dan rekan Anda pergi dengan tenang dari kota ini.” Suara pria jakung itu sangat berat, bernada datar namun cukup menggetarkan siapapun yang mendengar suaranya. Namun tidak pada Lacus maupun Esha, mereka tetap bersiaga.
“Saya hanya ingin menemui Tuan Kurikh Saber. Apa itu termasuk mencampuri urusan kalian?” Lacus memperlihatkan ekspresi heran. “Mungkin bagi kalian kedatangan kami akan ‘mengganggu istirahat’ Tuan Saber, tapi setidaknya saya ingin melihat kondisi yang sesungguhnya. Tidak lebih.” Ia memberi penekanan nada di setiap kalimatnya.
Pria yang lebih rendah dari pria jakung itu menghela napas. “Kalau begitu tidak ada pilihan.” Ia tersenyum sinis, menatap tajam dengan mendongakkan kepala. “Begitu bukan, Tuan Putri?”
Tanpa aba, pria itu melesat cepat menghampiri Lacus. Namun dengan cepat Esha menangkis serangannya. Keduanya saling mengadu kekuatan magica.
“Esha!”
Lacus tidak bisa lengah, karena pria jakung itu turut menyerang. Ia mengeluarkan bayangan pekat dari kedua tangannya, perlahan bayangan itu memanjang menjadi tali, melingkari Lacus lalu mengikatnya.