WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.
Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.
"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.
"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.
"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.
penasaran? baca selengkapnya di sini saja.
Picture from pinterest editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 jalan jalan
Susan terlihat menatap kota Boston dari tempatnya berdiri sekarang, ia berada di ruang tunggu lantai sepuluh tempat perusahaan Malik bekerja. Sudah hampir satu jam pemuda itu mengurus urusan pekerjaannya sebelum berjanji mengajak Susan pergi jalan-jalan.
"Maaf lama," ucap Malik yang baru saja datang.
"Aku ambil waktu seharian untuk menemanimu jalan-jalan, besok mungkin tidak akan bisa," ujar Malik lagi.
Susan yang melihat pemuda itu datang pun langsung menoleh, ia mengulas senyum lalu menghampiri.
"Pergi sekarang?" tanya Susan yang sebenarnya sudah merasa bosan sejak tadi.
Malik mengangguk, akhirnya keduanya keluar dari perusahaan dan pergi jalan-jalan.
Susan mengajak Malik pergi ke banyak tempat, menghabiskan waktu bersama karena tidak setiap hari merekabisa seperti ini.
Mereka tampak bergandeng tangan, keduanya kini berada di Boston Public Garden, taman dengan hamparan bunga tulip yang indah.
"Ternyata empat tahun terasa cepat jika dihitung dengan jari, dan terasa lama ketika dijalani," ujar Malik dengan senyum tipis di wajahnya.
Mereka berjalan santai menikmati udara dari embusan angin di taman itu.
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat," timpal Susan, membuat langkah Malik terhenti.
"Apanya cepat?" tanya Malik yang kini menghadap pada Susan.
"Aku tidak akan ambil liburku, melanjutkan study agar bisa selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan," jawab Susan penuh semangat.
Malik tersenyum, ia kemudian menyolek ujung hidung gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Kenapa buru-buru, hah? Sekolah yang benar dan fokus, jangan berpikir untuk cepat-cepat lulus," ucap Malik kemudian.
Pemuda itu kembali melangkahkan kaki, menggandeng Susan menyusuri taman itu.
"Aku ingin cepat lulus agar kamu bisa cepat melamarku," ucap Susan yang membuat langkah Malik terhenti.
Pemuda itu tidak percaya jika Susan mengatakan hal itu, ia memutar badannya agar bisa menatap wajah gadis itu.
"Kamu yakin ingin aku segera melamar? Kamu nggak kepengen bebas, bekerja atau sekedar bermain dengan teman-temanmu?" tanya Malik memastikan.
Pemuda itu hanya berpikir jika gadis itu saja menginginkan kuliah, dia pasti ingin bisa bekerja setelahnya, menuai apa yang sudah ia tanam selama bertahun-tahun.
Susan tidak menjawab, ia melepas genggaman tangan Malik. Mengulurkan kedua tangannya lantas memeluk pemuda itu membuat Malik terkejut.
"Kuliah hanya untuk menambah kecerdasanku, meski tanpa kuliah aku sudah bisa menghasilkan uang. Andaipun nantinya aku tidak bekerja di perusahaan besar, tapi aku masih bekerja dan membangun perusahaan kecilku sendiri," jawab Susan seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.
Malik membalas pelukan gadis itu, ia meletakkan dagunya di pucuk kepala Susan.
"Oke, jika itu yang kamu inginkan," timpal Malik yang tentu saja membuat Susan tersenyum senang.
Bukan ingin terburu-buru, hanya saja ia merasa sudah terlanjur cinta. Apalagi ketika tahu jika pemuda itu pernah menyelamatkan nyawanya, membuat perasaan yang awalnya tumbuh tanpa kesengajaan itu kini bisa tumbuh dengan subur dan terus tumbuh semakin besar.
-
-
Keduanya kini sudah berada di Museum Sains, Boston. Susan terlihat sangat antusias melihat-lihat tempat itu. Malik hanya mengekor pada Susan yang terus melangkahkan kaki, gadis itu benar-benar bersemangat ketika berada di tempat itu.
"Ma, ayo!"
Susan menarik tangan Malik, mengajak pemuda itu masuk ke taman kupu-kupu. Di taman itu mereka bisa melihat ribuan kupu-kupu yang terbang bebas di sekitar mereka, banyak tanaman eksotis yang dikembang biakan di taman itu.
"San!"
Malik memanggil gadis itu yang sedang mengejar kupu-kupu, satu tangannya sudah memegang ponsel dengan mode merekam. Susan yang sadar akan hal itu masih berjalan di depan Malik seraya menjulurkan lidahnya, mengejek kekasihnya yang terus mengambil gambar maupun video dirinya.
Malik tampak tersenyum melihat kebahagiaan gadis itu, berpikir jika waktu bisa berhenti, maka ia ingin waktu berhenti sekarang di mana hanya ada dirinya dan gadis itu, melihat senyum yang terus merekah di bibir Susan membuatnya merasa enggan untuk meninggalkan gadis itu setelah ini.
-
-
Malam sudah menyapa, rembulan menggeser sang surya untuk kembali ke peraduan. Kini Malik dan Susan pun sudah kembali ke apartemen gadis itu.
"Besok aku bisa menemuimu, tapi mungkin sore atau malam," ucap Malik ketika dirinya mengantar Susan sampai di depan pintu.
"Oke," sahut Susan sedikit mengangukan kepala.
"Kamu menginap di hotel?" tanya Susan kemudian.
"Iya," jawab pemuda itu seraya mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya.
Susan hanya menganggukan kepala tanda mengerti, ia lantas membuka pintu apartemen miliknya. Karena Susan sudah hampir masuk ke apartemennya, Malik pun memilih memutar badan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap.
Susan yang sudah membuka pintu unit tempatnya tinggal, kembali membalikkan badan, ia menarik tangan Malik yang hampir melangkahkan kaki, membuat pemuda itu terkejut.
Dengan berjinjit, Susan merangkulkan kedua lengannya di leher pemuda itu, ia kemudian mendaratkan bibirnya di bibir hangat Malik membuat pemuda itu terkesiap. Malik merengkuh pinggang Susan, membalas ciuman gadis itu.
"Menginaplah," pinta Susan saat tautan bibir mereka terlepas.
Malik menarik kedua sudut alisnya, tidak mengerti kenapa Susan memintanya menginap.