(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Usulan yang mengejutkan
Di waktu yang sama, rumah Rasti masih terlihat sedikit sisa ketegangan yang menggantung di udara. Bu Sari mengusap wajahnya kasar, sambil menghempaskan tubuh ke atas sofa sambil menatap uang seratus lima puluh ribu rupiah hasil dari penjualan gorengan.
Tanpa ada yang menyadarinya, Doni mengantongi uang puluhan juta di dalam tasnya. Hal itu membuat Doni sedikit gelisah, jika ia ketahuan membawa uang sebanyak itu, tentu akan datang banyak pertanyaan kepada dirinya.
“Tumben sekali kamu habis jualannya?” tanya Bu Sari.
Doni menoleh ke arah ibunya pelan sambil menjawab. “Tadi, Doni jualan di dekat pameran yang ada di ujung jalan, untungnya banyak orang yang beli disana,” jawab Doni terpaksa berbohong.
Bu Sari mengangguk pelan. “Kalo begini ceritanya kan, bisa kaya kita,” ucapnya sambil memasukkan uang ke dalam dompetnya.
Sementara Farhan baru saja pulang, dan memberi sejumlah uang kepada Rasti yang hanya berjumlah tidak lebih dari tiga juta rupiah.
“Rasti!” panggil bu Sari.
Rasti pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat kusut. “Si Farhan cuma kasih uang segini? Ck! Katanya manager, gajihnya gede tapi kasih duit cuma dikit, gimana sih katanya mau jadi menantu ibu,” gerutu bu Sari sambil berdiri dan menuju kamarnya.
Mendengar itu Rasti hanya bisa menghela napas pelan, ada yang berbeda sejak kepergian Raka dari rumah ini. Ia mulai merasakan penyesalan, dan Rasti perlahan sadar selama Raka ada di rumah ini, semuanya terlihat baik-baik saja.
Bahkan, keperluannya tak pernah kurang sedikitpun, tapi kini... rumahnya itu terasa hambar. Bahkan tangannya mulai di penuhi lecet akibat mencuci pakaian.
Doni yang sedang melahap sisa nasi di piringnya, memperhatikan Rasti yang hanya diam di ambang pintu sambil menatap lurus ke arah luar.
“Nyeselkan? udah ngusir orang yang bantu kita disini,” celetuknya sambil berlalu pergi.
Namun, bukannya marah tapi Rasti malah diam saja karena perkataan adiknya itu memang benar. Ia tak bisa membantahnya.
“Mas...” batinnya sambil membalikkan badan lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
***
Sementara itu, di mansion keluarga Pradipta, suasana malam terasa jauh lebih tenang. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya hangat ke jendela besar ruang keluarga, menciptakan suasana yang nyaman.
Setelah percakapan singkat dengan Selina dan pengacara keluarga, Raka memilih naik ke lantai atas membawa beberapa dokumen kerja yang belum sempat ia periksa. Jas hitamnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja gelap dengan lengan yang digulung sedikit, membuat kesan dingin khas dirinya terlihat lebih santai dibanding pagi tadi.
Pintu balkon kamarnya terbuka setengah, membiarkan angin malam masuk pelan. Raka berdiri di dekat jendela besar sambil memegang segelas kopi hitam yang mulai kehilangan uap panasnya.
Tatapannya lurus ke halaman mansion, pikirannya justru kembali pada kejadian sore tadi.
Doni, anak remaja dengan seragam sekolah kusut yang berjalan membawa kotak gorengan sambil berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Raka menghembuskan napas panjang, entah kenapa, bagian itu jauh lebih mengganggu pikirannya dibandingkan dengan rapat perusahaan atau keributan dengan Farhan.
Doni masih terlalu dini untuk memikirkan tagihan rumah, terlalu awal untuk memikul kecemasan orang dewasa.
Jemarinya bergerak pelan mengetuk sisi gelas sebelum akhirnya ia mengambil ponsel di atas meja.
Nama Jack langsung muncul di layar, tak butuh waktu lama hingga sambungan tersambung.
“Tuan muda?” suara Jack terdengar sigap dari seberang.
“Besok,” ucap Raka tenang, “buat rekening pendidikan atas nama Doni.”
Jack sempat diam sepersekian detik sebelum langsung menjawab, “Baik, Tuan muda.”
“Pastikan uang sekolahnya aman sampai dia kuliah,” lanjut Raka datar. “Dan cari tahu sekolah apa yang bagus untuk dia nanti.”
“Baik tuan muda.”
Raka terdiam sesaat sebelum kembali berkata, “Satu lagi.”
“Silakan, Tuan muda.”
“Pantau kondisi rumah itu diam-diam,” ujarnya pelan. “Terutama Doni. Jika ada sesuatu yang membahayakan dia, beritahu aku.”
Nada suaranya tetap datar, tetapi cukup membuat Jack memahami satu hal, Raka mungkin sudah memutus hubungan dengan keluarga itu.
Tetapi tidak dengan Doni, panggilan berakhir, Raka menaruh ponsel perlahan lalu kembali memandang ke arah luar.
Pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan.
Tok... Tok... Tok...
“Tuan muda?”
Suara pelayan terdengar hati-hati dari luar.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
“Maaf mengganggu,” ucap pelayan sopan. “Nyonya Shanum meminta Tuan muda turun, untuk makan malam.”
Raka sedikit mengernyit. “Makan malam?”
Pelayan mengangguk kecil. “Nyonya bilang Tuan muda belum makan banyak sejak sore.”
Beberapa detik Raka terdiam. “Baik,” jawabnya akhirnya.
Tak lama kemudian, langkahnya turun menuju lantai bawah. Namun baru sampai di ruang keluarga, ia menghentikan langkah sesaat.
Selina masih ada di sana, wanita itu duduk bersila di sofa sambil membuka laptop dan beberapa berkas kerja, rambut panjangnya diikat asal, sementara di meja terdapat beberapa camilan dan kopi yang terlihat sudah hampir dingin.
Begitu mendengar langkah kaki, Selina refleks mengangkat kepala.
“Oh,” ucapnya spontan. “Kamu belum tidur?”
Tatapannya berhenti sepersekian detik pada Raka yang kini terlihat jauh lebih santai tanpa jas formal.
Lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
“Aku pikir kau sudah tidur sejak tadi karena lelah, mungkin,” gumamnya kecil sambil pura-pura kembali fokus pada layar laptop.
Raka melirik meja penuh dokumen itu. “Lalu kau sendiri kenapa masih bekerja?” tanyanya tenang.
Selina mendecak kecil. “Kalau bukan gara-gara keputusan besar seseorang siang tadi, aku juga sudah tidur.”
Namun anehnya, nada keluhannya tidak terdengar benar-benar kesal. Di sudut ruang makan, aroma makanan hangat mulai tercium pelan, sementara untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mansion besar itu terasa sedikit... hidup.
“Kau sudah makan Selina?” tanya Raka, “kalau belum ayo, temani aku.”
Setelah mengucapkan itu Raka langsung beranjak pergi, meninggalkan Selina yang terdiam begitu mendengarnya.
“Tu-tunggu!” ucapnya sambil menutup laptop dan buru-buru berdiri menyusul Raka yang sudah lebih dulu masuk ke dalam dapur.
Di dapur Raka terdiam beberapa saat, melihat deretan masakan yang di masak langsung oleh ibunya nyonya Shanum.
Nyonya Shanum menatap keduanya sambil terkekeh pelan. “Ayo cepat kalian makan dulu, jangan cuma bengong disitu aja.”
Raka dan Selina duduk bersebelahan, keduanya terlihat menikmati hidangan sederhana yang di masak langsung oleh ibu dari Raka.
Di tengah keduanya sedang menikmati makanan mereka, Nyonya Shanum mengucapkan kalimat yang membuat keduanya nyaris tersedak.
“Sebaiknya kalian menikah saja, jika urusan Raka sudah selesai,” celetuk Nyonya Shanum.
“Uhuk! Uhuk!”
Raka dan Selina buru-buru meraih gelas minum.
“Hah?! Nikah?” ucap keduanya serempak, lalu Raka dan Selina saling bertukar pandang sesaat sebelum akhirnya kembali ke arah Nyonya Shanum.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km