Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku ibunya
Mona memasuki kamar Naya dan berdiri tepat di hadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya. Naya pun mendongak.
"Akhirnya kamu kembali ke habitatmu! Kamu memang pantas berada di posisi ini, Babu!" tandas Mona angkuh.
Naya tak mau ambil pusing dan lantas bangkit lalu menyeretnya dengan kasar keluar dari kamarnya. "Kamu jangan coba-coba membuat masalah denganku! Kita sama-sama kerja jadi aku minta jangan buat masalah denganku!"
Mona mendekatkan dirinya pada Naya hingga hampir tak ada sekat antara mereka, "Aku jamin hidupmu akan susah di rumah ini!" ancamnya melotot.
Naya tak berkata apapun dan hanya menatapnya tajam, "Terserah," bisiknya.
Mona meninggalkannya dengan dada yang panas. Naya menatapnya terpaku dengan dada yang terasa sesak.
13.00 wita:
Atas perintah Ilham, seorang ajudannya di minta mengantar Naya ke sekolah Sulaiman untuk menjemputnya. Setelah sampai di depan gerbang sekolah ternyata Sarah juga tengah menanti Sulaiman di depan pintu mobilnya dengan bersandar santai. Sarah menatap Naya tajam, "Sedang apa dia di sini?" bisiknya.
Bel sekolah berbunyi nyaring dan semua anak-anak keluar berhamburan. Senyum Sulaiman mengembang saat melihat Naya dari kejauhan. Ia sangat merindukan Naya dan masih ingat dengan jelas bagaimana Naya begitu menyayanginya. Ia pun berlari kearah Naya dan samasekali tak menghiraukan Sarah.
"Mama Naya!!" teriaknya girang.
Sarah terkejut. Ia pun mendekati Naya dan Sulaiman dengan langkah cepat, "Sulaiman?" panggilnya kepada putranya yang saat ini berada dalam gendongan Naya. "Sama Mama yuk. Kan sudah janji kita akan beli ponsel baru," bujuknya halus.
Sulaiman bingung. Ia pun menggeleng, "Nggak jadi, Ma. Aku mau sama Mama Naya. Aku sudah kangen banget!"
"Tapi kan kita udah janjian? Kata Papa kalau udah janji harus di tepatin?" pintanya memaksa.
Mulut Sulaiman monyong dan ia merengut. Ia sudah benar-benar rindu pada Naya, "Besok aja...."
"Tapi Mama sudah pesan ponselnya dan tinggal Sulaiman lihat dan pilih, suka atau tidak," paksanya.
"Maaf, Nona. Kelihatannya Sulaiman benar-benar tak mau. Sebaiknya di tunda dulu," sela Naya halus.
Sarah melotot dengan wajah kaku, "Aku ibunya! Aku lebih berhak atas dirinya di banding dirimu!" hardiknya.
Sulaiman mulai menangis. Naya pun memeluknya lebih erat. Sarah bingung dan kini ia tak punya kuasa karena tangisan putranya. Ia geram kepada Ilham karena mengirim wanita ini, namun demi merebut hati Sulaiman perlahan agar anak itu suatu saat nanti mau tinggal bersamanya ia pun mengalah. Ia membelai punggung Sulaiman dan berlalu. Ia berbalik sejenak menatap Naya sembari memasang kacamata hitamnya, "Dia akan menjadi batu sandunganku mendapatkan Sulaiman," batinnya dan masuk kedalam mobilnya.
Dalam perjalanan pulang Naya dan Sulaiman bercanda ria hingga tiba di rumah. Abdulloh dan Susan menyambutnya saat anak itu berlari masuk kedalam rumah. Di mata Abdulloh, Sulaiman terlihat lebih riang dari hari biasanya, "Cucuku,,,,!" pekiknya sembari menggendong Sulaiman dan menciumnya berkali-kali.
"Terimakasih Kakek sama Nenek kasi Mama Naya buat Sulaiman," gumam Sulaiman bahagia, padahal ia tahu jika kebeadaan Naya bukan atas andil Abdulloh dan Susan. Namun ia tetap ingin berterimakasih, dan Abdulloh mengetahui itu.
"Bawa Sulaiman kedalam dan mandikan," perintah Susan kepada Naya.
"Baik, Nyonya," timpal Naya sopan dan halus.
Naya segera mengambil Sulaiman dari Abdulloh dan membawanya menuju kamar.
Sementara itu Rangga mengirim pesan singkat kepada Naya, "Sayang, apa kamu sudah muali bekerja? Apa yang kamu lakukan sekarang?"
Ting! Ponsel Naya berdenting ketika ia akan membuka baju Sulaiman di atas ranjang. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku roknya dan mebaca pesan Rangga, "Sudah," balasnya. "Aku tunggu Mas pulang," godanya jail. Rangga pun tersenyum dan tak sabar pulang ke rumah. Ia ingin segera malam pertama dengan Naya. Di benaknya manisnya bibir Naya sudah terbayang.
Cuaca terasa sangat panas di luar rumah. Tias berasa ingin sekali minum kopi es yang terletak di pinggir jalan dekat rumah, tetapi ia merasa tak mungkin jika ia sendiri yang harus membelinya. Saat itu Naya pun melintas hendak masuk kedalam dapur. Ia pun memanggilnya sambil berteriak kencang, "Naya!"
Naya berbalik.
"Kemari!" perintahnya.
Naya sudah berpikir jika itu pasti mau cari gara-gara dengannya.
"Ada apa?" tanyanya saat tiba di hadapan Tias.
"Belikan es kopi di depan! Cepat!" perintahnya.
Naya menatapnya lekat.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat!" bentak Tias geram.
Naya tak ingin ada perkara apapun hanya karena masalah sepele ini. Ia pun mengalah dan meminta uang pada wanita itu, "Uang nya?" pintanya dingin.
"Pakai uang mu dulu, nanti ketika suamiku pulang aku akan menggantinya!"
Ucapan suamiku yang di tujukan kepada Rangga membuat hati Naya seketika sakit karena ia juga istri dari Rangga. Naya pun mengalah dan keluar untuk memenuhi perintahnya.
Cuaca yang begitu terik membuat peluh Naya bercucuran. Sesekali ia menyeka keringatnya dan mengibaskan tangannya untuk mendapatkan sedikit kesejukan. Jalanan setapak yang ia lalui di penuhi oleh segerombolan ibu-ibu yang tengah bergosip. Mereka sudah tahu jika Naya kini adalah seorang pembantu di keluarga bekas suaminya dari mulut Mona yang ingin menjatuhkan harga dirinya. Pandangan curiga dan bisikan kasar samar-samar sampai ke telinga Naya. Ia berusaha untuk tak mempedulikannya dan menatap lurus kedepan.
Setelah sampai di penjual es kopi Naya harus mengantre lama karena ramai pembeli. Ia harus berdiri dengan sabar. Sementara itu Tias berdecak kesal dan mulai hilang kesabaran karena terlalu lama menunggu di atas sofa.
Setelah mendapatkan pesanannya Naya kembali menapaki jalan yang tadi ia lewati dan tanpa sengaja bertemu dengan Nirwan. Ia terkejut dan menegmbangkan senyuman saat Nirwan menghentikan sepeda motornya di hadapannya, "Mau kemana?" tanya Nirwan sumringah.
"Nih, beli es kopi," gumamnya seraya mengangkat tas kresek es kopi di tangan kanannya.
"Mau ku antar? Supaya cepat sampai. Peluhmu sampai banjir begitu."
Naya berpikir sejenak dan menggeleng, "Tak usah terimakasih. Dekat juga nih."
"Ok," angguk Nirwan. Kalau begitu aku lanjut dulu. Hati-hati," ucapnya dan bergegas meninggallkan Naya.
Setelah Naya tiba di rumah Tias bangkit dengan hati yang panas mendekatinya, "Dari mana saja kamu! Dua jam baru kamu sampai!" hardiknya.
Naya tersentak dan lantas menjelaskan padanya, "Tadi antreannya panjang. Jadi aku harus menunggu lama."
"Bohong! Kamu sengaja kan untuk membalasku! Kamu tak terima aku perintah seperti ini!" sungut Tias murka.
"Siapa bilang?" timpal Naya ketus. "Aku benar-benar berkata yang sebenarnya!"
Tanpa Naya duga Tias lebih mendekat padanya dan melayangkan tangan kanannya pada es kopi di tangan Naya hingga jatuh tercecer.
"Apa-apaan kamu!" teriak Naya terkejut. Ia pun segera mengambil es kopi yang masih tersisa di dalam cup itu.
Tias kembali menyambar es kopi di tangan Naya hingga kembali terjatuh dan ia berlalu. Hatinya puas karena berpikir sudah membalas perlakuan buruk Naya padanya.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya