Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Dijodohkan
Kamila berdiri memandang dirinya dipantulan cermin yang sedang memakai baju kebaya warna maroon yang terlihat pas ditubuhnya yang ramping dan agak mungil. Tidak terlalu mewah tapi cukup elegan. Kamila memang tipe gadis yang nggak terlalu ribet. Dia suka fashion yang simple tapi nggak ketinggalan zaman.
"Udah oke nih, nggak sabar untuk acara besok," senyum Kamila mengembang sempurna melihat penampilannya yang memuaskan. Tinggal make up sedikit sudah perfect.
"Kamu cantik sekali dek pakai kebaya ini. Besok pasti semua terpukau dengan penampilan kamu," ucap Karina memuji adek satu-satunya itu.
"Ah kakak selalu bisa aja bikin aku senang, aku kan jadi malu kak," timpal Kamila tersipu malu.
"Emang tante Kamila cantik kok. Tapi mama Vano yang paling cantik," Devano tiba-tiba ikut nimbrung ditengah obrolan mama dan tantenya.
"Dih, bisa aja Vano. Ikut-ikutan mamanya aja," timpal Kamila gemas sama keponakannya yang pintar itu.
Mereka pun tertawa bersama membuat suasana terasa hangat dengan candaan-candaan kecil.
****
Kamila dan keluarganya berangkat bersama menuju gedung yang menjadi tempat diadakannya acara Wisuda Kelulusan Kamila. Walau sedikit gugup tapi dengan kehadiran keluarganya memberi semangat untuk Kamila.
"Tenang, kamu cantik banget hari ini dek. Jangan grogi kayak mau dilamar aja," goda Karina melihat raut tegang diwajah adeknya.
"Kakak apaan sih? Siapa juga yang mau lamaran, baru juga mau wisuda ini," sewot Kamila mendengar celetukan kakaknya.
"Papa rasa umur kamu sudah cukup sayang untuk segera menikah setelah ini," imbuh papa Kamila terlihat tidak sedang bercanda.
"Papa pasti bercanda kan? Ayolah pa, Kamila masih mau bebas melakukan apa yang Kamila suka. Belum berfikir sejauh itu," ucap Kamila nggak terima kalau harus menikah muda.
"Sudah sudah, itu difikirkan nanti. Sekarang kmu fokus dulu dengan acara wisuda kamu. Tuh teman-teman kamu sudah masuk ke dalam gedung," tunjuk papa Kamila ke kumpulan para wisudawan memutus perdebatan yang belum jelas itu.
"Oke, aku kesana dulu ya pa, kak? Vano, tante kesana dulu ya?," Kamila meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan wisudawan lain.
Acara wisuda itu berjalan lancar dan khidmat. Walau Kamila tidak menjadi lulusan terbaik tapi nilai akademiknya termasuk memuaskan. Keluarganya sangat bangga dengan pencapaian yang diraih Kamila.
"Setelah lulus rencana kamu apa dek?," tanya Karina memecah keheningan dimobil saat perjalanan pulang.
"Belum tahu kak, aku pengen mencari pengalaman dulu didunia kerja sambil mempraktekkan ilmu yang aku dapatkan. Ya seperti orang-orang pada umumnya lah," jawab Kamila sekenanya. Karena memang dia belum ada rencana yang pasti.
"Harusnya kamu fikirkan dengan matang dek, supaya jelas masa depan kamu. Mumpung masih ada kesempatan untuk meraih cita-cita. Kalau sudah terlanjur menikah kayak kakak, cita-cita pun terpaksa harus rela terkubur," ucap Karina menasehati adeknya dengan menjadikan dirinya contoh untuk dijadikan pertimbangan.
"Iya kak, nanti aku fikirkan. Sekarang aku pengennya cepet pulang terus rebahan. Rasanya capek plus ngantuk," jawab Kamila menyudahi perdebatan panjang yang belum jelas ujungnya itu kalau tidak segera dipotong.
"Sudahlah Karina, biarkan adekmu istirahat dulu. Pasti dia capek setelah acara yang cukup lama tadi," Pak Herman menengahi perdebatan adek kakak tersebut.
"Iya pa," jawab Karina patuh tidak berani membantah kalau sudah papanya yang ngomong.
Sesampainya dirumah, Kamila langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti kebayanya dengan baju rumahan yang lebih santai dan nyaman. Dia sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya yang sangat lelah dikasur empuknya.
"Hah, leganya. Akhirnya bisa rebahan juga," Kamila menghembuskan nafas lega.
Dalam hitungan detik matanya menutup dengan sempurna. Rasa kantuk dan lelah seperti obat tidur yang mampu menghipnotisnya.
Tok..tok..tok..
"Kamila, bangun," suara Karina mengusik mimpi indah Kamila. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Iya kak," jawab Kamila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ya ampun, kamu baru bangun tidur ternyata? Buruan bangun dan segera bersih-bersih. Papa dan Vano sudah menunggu di meja makan sejak tadi," ucap Karina sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat adeknya yang nyawanya belum terkumpul sempurna itu.
"Iya kak, badanku bener-bener capek banget hari ini," dengan langkah malas Kamila berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih kemudian bergabung dengan keluarganya untuk makan malam.
Setelah selesai makan malam, mereka berbincang sebentar menciptakan suasana hangat dikeluarga Kamila.
"Vano, habis makan kamu lanjut belajar ya?," perintah Karina pada anaknya.
"Iya ma, siap. Tapi temenin ya? Ada PR yang cukup sulit, Vano butuh bantuan mama," ucap Vano memelas.
"Iya sayang, setelah mama selesai beres-beres mama nyusul nanti," walau ada pembantu Karina tetap turun tangan sendiri urusan pekerjaan rumah. Dia sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
"Kamila, setelah makan papa tunggu diruang kerja papa. Ada sesuatu yang mau papa bicarakan dengan kamu," ucap Pak Herman dengan nada lembut tapi tegas.
"Iya pa," Kamila tidak bertanya ataupun membantah.
"Papa duluan ya? Ada yang harus papa cek dulu," Pak Herman meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
"Iya pa, Kamila mau bantu kakak dulu sebentar," jawab Kamila dengan sopan.
Kamila berjalan keruangan papanya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa penasaran menyelimuti hatinya. Tapi sesaat kemudian dia melangkahkan kakinya dengan yakin, siap mendengarkan apapun yang akan papanya bicarakan.
Tok..tok..tok..
Walaupun itu ruangan papanya sendiri tapi Pak Herman selalu mengajarkan etika dan kedisiplinan kepada anak-anaknya. Beliau sangat menjunjung privasi.
"Masuk," suara berat Pak Herman terdengar jelas saat mengetahui kedatangan Kamila.
Kamila langsung masuk dan duduk disofa tepat disamping ayahnya yang terlihat sudah bersantai.
"Ada apa pa? Kamila sedang tidak membuat kesalahan kan?," tanya Kamila sedikit ragu.
Pak Herman tersenyum tipis melihat kegugupan anaknya.
"Tumben kamu merasa gugup saat papa panggil. Biasanya juga selau ceria," goda Pak Herman pada anak gadisnya.
"Entah lah pa, rasanya hari ini aura papa beda bikin Kamila takut," Kamila tersenyum canggung takut salah ngomong. Entah kenapa hari ini perasaannya beda dari biasanya.
"Hahahaha, baru kali ini papa lihat kamu takut sama papa. Biasanya juga paling cerewet," imbuh Pak Herman tidak percaya.
"Ih papa, Kamila serius tau," Kamila menanggapi candaan papanya dengan cemberut.
"Iya iya maaf sayang. Jangan cemberut dong. Ada yang mau papa sampaikan sama kamu sayang," Pak Herman berubah menjadi serius.
"Apa pa?," tanya Kamila singkat karena penasaran.
"Karena kamu sudah dewasa dan kuliah kamu juga sudah selesai, papa berniat mau menjodohkan kamu dengan laki-laki pilihan papa. Papa ingin ada yang menjaga kamu saat papa nggak ada sayang," ucap Pak Herman to the point.
"APAA? Tapi Kamila belum siap pa. Kamila masih ingin bebas dan mewujudkan mimpi Kamila. Ini..ah," Kamila tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ini sangatlah mendadak baginya.