Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.
Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.
Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi Dara
Dua hari sudah berlalu, setelah kejadian yang memalukan baginya. Di mana Dara dilamar dan disaksikan seluruh karyawan restoran. Dara malu, sehingga ia membolos kerja karena tak sanggup menampakkan wajahnya. Bukan karena Dara takut, ia hanya ingin menenangkan diri sebelum menghadapi Reza yang sangat kecewa padanya.
Perubahan yang Dara tunjukan dua hari ini cukup membuat Mama naik darah dalam sekejap. Semua perkataan Mama berhasil dijawab dengan seimbang oleh Dara. Tak jarang Mama dan Raffa dibuat heran dengan perubahan Dara. Dara sekarang lebih banyak bicara dan melawan. Melontar kalimat tanpa berpikir terlebih dahulu. Benar-benar menjadi pribadi yang lain. Dara bukan lagi tipe wanita penurut, bisa di bilang dia membangkang acap kali Mama memerintah dirinya untuk membersihkan rumah. Dara hanya berpikir untuk apa ia membersihkan rumah seluas ini jika Mama sendiri memperkerjakan banyak pelayan. Apa mereka hanya makan gaji buta? Tidak, 'kan.
Di ruang keluarga, ada Mama yang sedang duduk santai menikmati teh susu ditemani sebuah sinetron. Dara keluar kamar karena merasa haus. Ia sempat melirik pada Mama yang mendengus kesal pada sinetron yang sedang berlangsung.
"Punya menantu ko modelan begitu, sedikit berkelas dong," ucap Mama memaki pemeran di sinetron tersebut. Dara hanya memandang dari kejauhan sinetron yang dilihat Mama.
"Menantu idaman itu yang bisa bikin mertua bangga bukan malu-maluin," sindir Mama saat Dara melewatinya hendak kembali ke kamar.
Dara berhenti, menatap mata dengan tersenyum, mendekat lalu duduk tidak jauh darinya. Mama memicing mata melihat tingkah Dara.
"Kalau Mama mau menyindir jangan dibelakang orangnya, Ma. Bicara sama Dara biar Dara bisa menjadi menantu yang Mama idamkan," ucap Dara lembut. Tidak ingin memancing keributan.
"Saya sedang mengkritik pemeran sinetron tersebut bukan kamu." alibi Mama.
"Dara tahu maksud perkataan Mama." Dara melipat tangan dengan memandang datar ke arah televisi.
"Kalau iya. Mau apa kamu. Kamu tidak pantas menjadi menantu saya," desis Mama.
"Tapi nyatanya Dara sudah menjadi menantu Mama, istri dari Mas Raffa," bantah Dara tersenyum tipis menunjukkan jika ia yang menempati posisi tersebut.
"Huh Bangga sekali kamu," sinis Mama.
"Ya, Dara bangga. Kenapa Dara harus malu memiliki Mas Raffa." Menatap Mama hanya diam.
"Bahkan dia sudah berani menatap diriku," lanjutnya dalam hati.
"Ingat ya setelah kamu melahirkan. Putra saya akan menceraikanmu, jadi jangan berbesar hati karena sudah dinikahi Raffa."
"Tidak ada perceraian diantara kita, jadi Mama bersikap lah lebih baik pada Dara." Tersenyum smirk mengalihkan pandangannya.
"Apa maksudmu."
"Intropeksi diri dulu sebelum mengkritik orang lain. Belum tentu diri sendiri sudah lebih baik." Dara berbicara dengan begitu lugas, menatap ke arah televisi dimana Mengkritik peran menantu.
Mama marah karena Dara seperti menyindir dirinya. Mama berdiri, siap melayangkan sebuah tamparan pada Dara, tapi sebelum terealisasikan. Raffa datang tepat waktu menghentikan Mama. Karena tak kunjung merasakan perih, Dara mencoba membuka mata melihat Raffa yang menyekal pergelangan tangan Mama.
"Jangan hentikan Mama, Raf. Dia berhak mendapat tamparan karena sudah menghina Mama!" serunya.
Dara diam menyaksikan dengan raut datar. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk melawan semua yang berusaha menjatuhkan dirinya. Biarkan kali ini Dara mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya seperti apa yang Fera katakan. Menjadi pemberani.
"Biar Raffa yang mengurus istri raffa sendiri." Melepas tangan Mama. Menarik Dara agar berdiri dari duduknya.
Keajaiban dari mana sehingga Raffa mengakui Dara sebagai istri. Raffa tidak sedang mabuk, 'kan. Dia sadarkan dengan apa yang dia katakana tadi. Panggilan istri yang Raffa sematkan untuk Dara. Membuat senyum terbit di bibir chery Dara.
"Kamu belain dia. Kamu tahu dia tadi mengajari Mama untuk intropeksi diri." Menyentil dahi Dara hingga wanita itu sedikit terhuyung. Dara mengusap dahinya hendak membalas perbuatan Mama, tapi di cegah oleh Raffa.
"Raffa tidak membela hanya saja perlakuan Mama tidak pantas sebagai seorang ibu."
"Kamu sudah berani mengajari Mama. Ingat Raffa Mama yang sudah melahirkan kamu!" bentak Mama sudah tersulut amarah karena Raffa yang bersikap seakan melindungi Dara
"Raffa masih menghormati Mama sebagi orang tua, tapi Raffa tidak bisa menerima sikap Mama pada Dara."
"Cukup Raf. Kamu sudah berjanji untuk menceraikan dia dan menikahi Khanza jangan lupakan itu." Mama menatap tajam pada sorot mata anaknya yang tidak terlihat seperti biasa.
"Itu dulu sekarang aku berubah pikiran. Tidak akan ada perceraian diantara kami." Tanpa sengaja Dara mencengkram lengan Raffa. Ia terkejut mendengar perkataan Raffa
Mama melotot tak percaya. Begitu tegasnya Raffa berkata tidak ada perceraian. Bagaimana bisa pria itu cepat sekali berubah pikiran, tapi kenapa. Sungguh kejadian ini membuat Dara shock.
"Kamu membohongi Mama. Kam ...."
Ting Tong
Suara bel rumah berbunyi mengalihkan semua perhatian mereka. Mbok Sumi berlari membuka pintu mempersilahkan tamu masuk, kemudian Mbok Sumi pamit kebelakang. Arya berjalan menghampiri Raffa, menunduk sopan pada mereka yang berada di sana.
"Ada apa, Arya. Saya sudah menerima dokumen yang kamu berikan," ucap Raffa mengingat jika Arya sudah menyerahkan dokumen penting padanya
"Maaf, tuan. Saya menggangu waktu Anda. Saya hanya ingin menyampaikan amanah dari seseorang," ucap Arya.
"Katakan."
Arya memberikan sebuah undangan pada mereka bertiga. Semua menatap dengan bingung undangan pernikahan tersebut.
"Apa kau akan menikah, Nak?" tanya Mama. Arya menggeleng.
"Itu adalah undangan pernikahan Nona Khanza," ucap Arya berhasil mengalihkan perhatian Raffa. Melayangkan tatapan tajam pada Arya yang memandangnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Masih Raffa ingat jika Arya tidak berhasil menemukan Khanza, tapi apa ini. Arya menyerahkan undangan pernikahan Khanza padanya.
"Khanza? Menikah?" beo Dara masih tidak yakin dengan ucapan Arya. Cepat sekali Khanza berpindah hati dan memutuskan menikah dalam waktu dekat.
"Jangan membohongi saya!" seru Raffa. Menarik kerah kemeja Arya.
"Tidak mungkin. Khanza akan menjadi menantu saya. Dia tidak boleh menikah selain dengan Raffa tidak boleh." Gumam Mama yang didengar Dara.
"Sudah sepatutnya Khanza memulai hidupnya. Terima takdir tuhan, Ma. Jika Dara yang menjadi menantu Mama bukan Khanza." Mama menggeleng kembali ingin menampar Dara, tapi Raffa segera memposisikan tubuhnya di depan Dara sehingga Raffa yang terkena tamparan Mama. Dara menutup mulut melihat semuanya, Arya pun terkesiap ditempatnya, sedangkan Mama menatap tangannya yang gemetar setelah tamparannya terkena sang putra. Raffa mengelus pipinya kemudian menatap Mama.
"Raffa peringatkan untuk tidak menyakiti Dara."
"Kamu sudah masuk ke dalam perangkap wanita ular itu. Mama tidak percaya Raffa yang begitu mencintai Khanza kini merelakan Khanza menikahi pria lain."
"Arya katakan dimana Khanza berada." Raffa kembali menarik kerah kemeja Arya. Matanya terlihat penuh amarah
"Maaf, tuan. Nona melarang saya, tapi beliau sudah mencantumkan tempat dimana pernikahan akan dilaksanakan." Tersendat-sendat Arya mengucapkannya.
"Kamu boleh pergi." Mendorong Arya hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Arya mengangguk pergi meninggalkan suasana yang semakin mencekam. Dara yang menyaksikan hanya bisa diam tanpa niat bergerak sedikitpun.
"Kamu harus menghentikan pernikahan Khanza bagaimanapun caranya. Mama ingin Khanza yang menikah denganmu."
"Jangan merusak kebahagiaan orang lain, Ma," ucap Dara.
"Diam." Raffa memperingati Dara untuk tidak bersuara.
"Turuti perkataan Mama atau Mama akan pergi dari rumah ini."
"Pergi lah," ucap Raffa yang ditatap Mama tidak percaya. Putranya begitu tega mengusir dirinya hanya demi Dara.
"Mas," cicit dara pelan. Ia tidak mungkin tega melihat sang mertua meninggalkan rumah.
"Baik, Mama akan pergi. Jangan cari Mama jika suatu saat nanti kamu menyesal." Mama pergi dari hadapan Raffa, memasuki kamar, lalu keluar membawa koper besar.
"Mas, hentikan Mama," lirih Dara, tapi tidak dihiraukan oleh Raffa.
Mama menatap marah karena Raffa tidak berusaha menghentikan dirinya. Sudah kepalang malu, akhirnya Mama tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah.
***
Happy reading.
Itu Raffa kesambet apa sampe bersikap kek gitu sama Dara. Dia lagi gak pura-pura kan ya. Astaga pengen tek ihh tuh Raffa.
Salam sayang dari aku.
heheh
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius