Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.
Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.
Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.
Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?
Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Kenapa? Aku serius tentang ini," Kata Devan dengan sedikit penekanan, membuat Sandra mengerutkan dahinya dalam.
"Coba kasih tau gua, apa yang bikin lu yakin mau nikahi Gua dalam waktu sesingkat ini? Gua yakin lu hanya terlalu tertantang Ama gua, ingin menahlukan cewek cuek yang jauh lebih tua dari lu yang udah lama ga percaya cinta lagi. Anak muda sekarang suka tantangan, cuma itu, ntar lu udah dapetin hati gua lu baru nyadar ternyata hubungan ini hanya sebatas itu aja, lu bosen dan lu akan cari tantangan yang lainnya, lu belum sadar begitu Dev?" Kata Sandra yang akhirnya mencurahkan semua pemikirannya tentang hubungan ini.
Devan hanya diam memainkan rahangnya, ternyata dia masih saja dianggap Sandra pria yang sama seperti pria lain. Tak salahnya sih, mereka memang baru dekat dan Sandra bukan tipe wanita yang dengan mudah percaya hal seperti ini bisa terjadi.
Devan membenarkan posisi duduknya, dia lalu segera ingin mengambil ancang-ancang untuk memundurkan mobilnya. Sandra yang tak mendapat jawaban hanya bingung, kenapa tiba-tiba ingin pergi? Devan tersinggung?
"Mau kemana?" Tanya Sandra yang melihat Devan sudah memundurkan mobilnya sedikit.
"Pulang ketemu ibu kamu, bicara mau melamar kamu," kata Devan dengan wajah keras yang sangat serius, tak ada lagi wajah senyum nan ramah yang biasa dia tunjukkan.
"He? Jangan gila ya, lu masih gak ngerti ya apa yang gua bilang dari tadi," kata Sandra melarang, dia tak tahu Devan benar-benar akan melakukannya atau hanya gertakan semata, tapi Devan saat ini terlihat serius sekali.
"Aku ngerti, tapi kamu yang ga ngerti dari tadi aku serius, kalau kata-kata aku kamu ga ngerti, ya udah mungkin dengan tindakan kamu langsung ngerti kalau aku serius dengan kata-kata dan kamu," kata Devan yang sedikit bernada tinggi, urung dia melajukan mobilnya.
"Ga bisa! Ga bisa! Lu jangan nikahi Gua!" Kata Sandra lagi.
"Kasih gua satu alasan kenapa gua ga boleh nikahin lu!" Kata Devan.
Sandra diam, dia tahu persis apa yang membuat dirinya dan Devan tidak bisa bersatu.
"Ga ada kan? Kamu saja yang ragu dengan keseriusan aku, mungkin memang usia aku masih muda, tapi ga ada yang bisa mengatakan bahwa umur segini aku ga boleh nikahin wanita yang lebih tua dariku, aku serius San sama kamu," kata Devan yang cukup muak dengan masalah umur ini, kenapa jika dia lebih muda? Tak bisa kah dia dipercaya?
"Gua udah ga suci lagi Van!" Ujar Sandra yang akhirnya mengeluarkan apapun yang ada di dalam pikirannya sekarang. Sebenarnya dia sama sekali tak ingin mengucapkan hal ini, tak ada minatnya untuk mengatakan hal ini pada siapapun, tapi sikap Devan yang mendesaknya malah membuat Sandra yang sudah menyimpan masalah ini dalam-dalam menjadi lepas kontrol.
Devan terdiam menatap mata Sandra yang mulai tampak berkaca di balik pantulan lampu kuning yang remang.
Sandra bisa melihat wajah kaget dan tampak syok dari Devan.
"Gua ga sesuci yang lu liat dan gua ga sebaik yang lu pikir, gua udah pernah tidur Ama cowok lain, yakin lu bisa Nerima cewek yang semua tubuhnya udah pernah disentuh Ama cowok lain?" Kata Sandra, bulir air matanya akhirnya keluar juga, 7 tahun menutupnya rapat, menyembunyikannya untuk dirinya sendiri, akhirnya keluar juga semua kepedihannya. Ternyata sekian lama pula, menceritakan hal ini tetap saja tak bisa membuatnya kebal dan tak meneteskan air mata.
Hal ini membuat Devan tertegun, matanya menatap mata yang berair itu, bahunya yang tadi terangkat perlahan menurun. Dia bisa merasakan pedihnya.
Sandra sadar akan keadaannya, dia menarik hidungnya yang berair, menyeka air matanya dengan kasar, namun jejak basah itu masih terlihat.
"Sekarang lu tahu kan? Lu Ama gua beda banget, bukan hanya masalah beda umur atau apalah, ini lebih dari itu. Lu masih muda Van, lu bisa dapetin cewek yang jauh lebih baik dari gua, lebih muda, lebih cantik, dan pastinya lebih terhormat dari gua," kata Sandra tersenyum getir dan kembali mengusap air matanya yang kembali mengalir, sakit sebenarnya mengatakannya tapi inilah yang sebenarnya.
Devan diam seribu bahasa, sepi terasa sesaat walaupun suara lagu masih mendayu di radio mobil itu.
"Gua mau pulang," kata Sandra dengan suara seraknya, tak tahan dengan suasana yang semakin mendingin.
Devan yang dari tadi hanya diam saja segera bersiap untuk memundurkan mobilnya. Dalam hening mereka menghabiskan waktu di jalan.
Sandra membuka sabuk pengamannya saat Devan sudah duluan keluar dari mobilnya, Sandra melihat ke arah Devan yang nyatanya tetap membukakan pintu untuk Sandra.
Sandra hanya memandang sekilas wajah Devan yang datar, dia menunduk sambil keluar dari mobil itu, setelah Sandra keluar, Devan segera berjalan ke arah rumah Sandra.
Sandra menekan Bel, Pak Kardi segera membukakan pintu pagar dan pintu rumah juga langsung di bukakan oleh Bi Masri, Ambar pun datang dengan senyuman sumringahnya.
"Sudah pulang, cepat sekali?" Ujar Ambar.
"Iya, soalnya Sandra capek Bu, Devan juga capek, dia udah mau pulang," ujar Sandra, senyumnya tersungging kaku, membuat Ambar bisa menangkap sedikit kejanggalan.
"Oh, ya udah," kata Ambar tak ingin memaksa, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
"Ya, hati-hati di jalan," kata Sandra pada Devan yang hanya diam memperhatikan Sandra.
"Iya, Bu, izin dulu," kata Devan menyalami Ambar, tak lama pria itu berjalan pergi. Sandra yang melihat Devan mulai pergi juga langsung masuk tanpa melihat pria itu pergi dari rumahnya.
Ambar jadi bingung, dia menarik napasnya panjang, sepertinya memang tak akan semulus pemikirannya, padahal dia kira setidaknya Sandra tak perlu dilangkahi lagi oleh adiknya yang sebentar lagi akan melangsungkan pesta pertunangannya.
Sandra masuk ke dalam kamarnya, dia menghempaskan tasnya dan tubuhnya ke ranjangnya yang empuk, dekorasi kamar yang tak pernah berubah sejak dia kuliah itu tampak menyesakkan buat Sandra, sayup dia dengar suara mobil yang baru saja dihidupkan.
Sudah, sudah pergi, Devan sudah pergi dari rumahnya dan juga dari hidupnya. Pada akhirnya tak ada yang bisa merima dirinya bukan? Sial sekali dia pernah menaruh secercah harap pada Devan.
Bodoh! Itulah bodohnya dia, sudah tahu tak mungkin, tapi hanya karena teman dan keluarganya mendukung dan mengelu-elukan Devan, dia izinkan harap itu muncul sesaat, walau sesaat tapi rasa sakitnya sama saja. Ah! Mulai saat ini memang dia seharusnya hanya percaya dengan dirinya sendiri, tak akan ada kecewa jika dia hanya berharap pada dirinya sendiri.
Sandra cukup lama menatap langit-langit rumahnya, wajahnya diam, tapi air matanya kembali menetes, hangat melewati ujung matanya hilang di helaian rambutnya. Hanya sekali dia melakukan dosa, tapi dampaknya, seumur hidup dia rasakan, kira-kira siapa yang mau menerima wanita bekas seperti dirinya?
Sandra menutup matanya, perlahan masuk ke dalam dunia mimpi, lelap dalam buaian pelukan mimpi.
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
aku juga gitu
wkwkwkwk
Jo... ica ae...
Sandra...
Abang datang Neng...
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆