Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Perjalanan yang Canggung
Resepsi pernikahan yang megah itu akhirnya selesai menjelang larut malam. Satu per satu tamu undangan mulai meninggalkan gedung, menyisakan kelelahan yang tergambar di wajah anggota keluarga utama. Sesuai dengan janji dan kesepakatan sebelumnya, Mita bersiap untuk ikut pulang ke rumah utama keluarga Baskoro.
Saat Mita sedang mengemas barang-barangnya di area tunggu bersama Rara dan Sari, Papa Baskoro berjalan mendekat dengan wibawanya yang hangat. Pria paruh baya itu menatap Mita dengan senyuman tulus sebelum beralih kepada kedua sahabat anak angkatnya tersebut.
"Mita, barang-barangnya sudah siap?" tanya Papa Baskoro lembut. Ia kemudian menatap Rara dan Sari. "Dan kalian berdua... Rara, Sari, malam ini kalian juga harus ikut menginap di rumah Papa, ya. Kamar Mita sangat luas, dan Papa rasa kalian bertiga pasti butuh waktu untuk mengobrol santai. Anggap saja rumah sendiri."
Mendengar ucapan langsung dari orang terpandang seperti Papa Baskoro, Rara dan Sari seketika saling berpandangan dengan wajah memerah. Mereka berdua mendadak salah tingkah, merapikan gaun mereka dengan gugup seraya mengangguk tak enak hati. "Eh... iya, Om. Terima kasih banyak sebelumnya, jadi merepotkan," sahut Sari dengan tawa canggung.
Papa Baskoro terkekeh pelan melihat kepolosan sahabat Mita tersebut. Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok Sam yang berjalan mendekat bersama Vanya yang masih mengenakan gaun pengantinnya.
"Sam!" panggil Papa Baskoro tegas. "Kamu pulang sekarang, kan? Tolong antarkan Mita, Rara, dan Sari sekalian pulang ke rumah. Kalian pulang semobil dengan Sam ya."
Sam sempat tertegun sejenak. Tatapannya beralih dari sang ayah ke arah Mita, membuat suasana di antara mereka mendadak terasa kaku. "Baik, Pa. Sam setuju," jawabnya dengan suara datar. Vanya yang berdiri di samping Sam hanya bisa tersenyum masam, tidak berani membantah mertuanya.
Di dalam mobil mewah milik Sam, keheningan yang mencekam langsung terasa begitu pintu ditutup. Sam fokus menyetir di balik kemudi, sementara Vanya duduk di kursi depan, tepat di samping suaminya. Di kursi belakang, Mita duduk di tengah, diapit oleh Rara dan Sari yang memegang tangannya erat.
Sam sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, memperhatikan Mita yang menatap lurus ke luar jendela. Bayangan tentang ucapan Nia di pesta tadi—soal Mita yang hamil—terus berputar-putar di kepalanya, berbenturan keras dengan kecurigaannya terhadap perut buncit Vanya yang bahkan belum pernah ia sentuh sama sekali.
Tiba-tiba, Vanya yang duduk di depan memecah keheningan dengan nada yang sengaja dibuat manja, namun matanya melirik sinis ke arah kaca spion untuk memancing emosi Mita di belakang.
"Oh ya, Mas..." ucap Vanya membuka suara dengan percaya diri. "Mengenai tempat tinggal kita selanjutnya setelah menikah ini... aku mau kita tinggal di rumah mewahmu yang dulu itu, Mas. Rumah yang pernah kamu tinggali bersama Mita waktu kalian masih bersandiwara dulu."
Vanya sengaja memberi penekanan pada kata 'bersandiwara' sebelum melanjutkan dengan nada menuntut yang manja, "Aku ingin menata ulang semua isinya dan tinggal di rumah mewah itu. Toh, sekarang rumah itu kosong, kan? ... bisa kan, Mas?"
Mita yang duduk tepat di tengah kursi belakang seketika menahan napas. Rara dan Sari di sampingnya langsung menegang, menatap tajam ke arah punggung kursi Vanya karena merasa wanita itu sengaja ingin memamerkan kemenangannya. Sementara itu, Sam terdiam sejenak. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat, matanya melirik tajam ke spion tengah untuk melihat bagaimana reaksi Mita atas pancingan Vanya tersebut.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)