Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan dan Evan meresponnya. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
"Itu serius, Riri." Lylac membalas tatapan itu dengan santai, mencoba meyakinkan Riri lewat ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak tersenyum.
"Selamat pagi ..." Pembicaraan soal empu amplop warna merah muda terhenti karena guru pembimbing datang.
***
Perbincangan Riri dan Lylac lanjut saat bel istirahat pertama berbunyi. Murid-murid lain langsung berhamburan keluar kelas, sementara Riri segera memutar kursinya untuk kembali menghadap meja Lylac.
"Kita bahas lagi soal, amplop itu." Riri membuka kembali obrolan mereka yang sempat tertunda selama beberapa jam pelajaran tadi.
"Kamu kepikiran itu, ya?" Lylac bertanya sambil merapikan buku tulisnya ke dalam kolong meja.
"Jelas. Aku geregetan." Riri mengetuk meja dengan jarinya, merasa tidak tenang karena rasa penasarannya belum terjawab dengan logis.
"Sudah aku katakan itu milik hantu yang sering ngikutin aku." Lylac mengulangi penjelasannya dengan volume suara rendah agar tidak terdengar oleh murid lain yang masih tinggal di dalam kelas.
"Serius." Riri menuntut kepastian lagi, berharap Lylac akan meralat ucapannya yang terdengar tidak masuk akal tersebut.
"Ini serius sekali, Ri." Lylac menegaskan kembali posisi dirinya yang tidak sedang berbohong sama sekali.
"Enggak. Kamu lagi bercanda." Riri tetap menggelengkan kepala. Menolak memercayai keberadaan makhluk halus yang terlibat dalam urusan surat cinta sekolah mereka.
"Buat apa?" Lylac bertanya balik. Menantang alasan Riri yang terus-menerus menuduhnya tidak jujur.
"Kamu enggak mau aku tahu." Riri menyampaikan dugaannya bahwa Lylac hanya sedang mencari alasan agar identitas asli si pemilik surat tetap terjaga.
"Enggak gitu, Ri. Aku ini lagi jujur dan serius." Lylac menghela napas, merasa lelah karena kebenaran yang dia sampaikan justru dianggap sebagai bualan belaka.
"Tapi itu mustahil, Ly." Riri menyahut cepat. Menggunakan logika dasarnya sebagai manusia yang tidak pernah melihat hal-hal gaib seumur hidupnya.
"Aku tahu, tapi memang itu kenyataannya." Lylac menutup perdebatan itu dengan pasrah. Sadar bahwa meyakinkan orang normal tentang keberadaan Mika memang memerlukan usaha yang besar.
Riri diam. Dia menatap Lylac dengan seksama. Dia memperhatikan raut wajah sahabatnya itu dari dekat. Mencari-cari kebohongan di matanya namun hanya menemukan kesungguhan yang membuat perasaannya mulai tidak tenang.
"Apa kamu ngomong serius?" tanya Riri sekali lagi dengan suara yang mulai mengecil.
"Hhh ... Sudah aku katakan itu serius." Lylac menghela napas panjang sambil bersandar ke sandaran kursinya. Merasa lega sekaligus lelah karena akhirnya rahasia besar ini keluar juga dari mulutnya.
"Apa itu ... Apa itu makanya kamu sering ngomong sendiri?" Riri menghubungkan ingatan-ingatannya selama ini tentang kebiasaan aneh Lylac yang kedapatan komat-kamit sendirian di kelas atau di jalan. Dimana kini akhirnya memiliki jawaban masuk akal bagi dirinya.
Lylac melebarkan senyum tertangkap basah. "Begitulah." Dia menopang dagunya dengan tangan. Membenarkan kesimpulan Riri tanpa berniat membantah karena semua fakta tentang dirinya yang dicap aneh oleh murid lain bersumber dari hal itu.
Riri mendadak merasa tubuhnya meremang. Bulu kuduknya berdiri. Dia tidak percaya tapi rasanya percaya. Aneh pokonya. Riri reflek mengusap kedua lengannya sendiri sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling meja mereka. Merasa takut jika hantu yang dimaksud Lylac saat ini sedang berdiri tepat di dekatnya dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Mika menutup kedua telinha dengan jari saat Riri berteriak. Hantu itu refleks memejamkan matanya erat-erat karena posisi wajahnya tadi sangat dekat dengan sumber suara Riri yang melengking kencang.
Lyalc tersenyum pada teman-temannya untuk menetralisir keadaan yang mengejutkan. Dia mengangkat satu tangannya sedikit seolah memberi tanda bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada sahabatnya. Mereka lalu memalingkan wajah lagi. Anak-anak di kelas kembali melanjutkan aktivitas masing-masing dan mengabaikan bangku mereka.
"Mereka melihatmu aneh," bisik Lylac. Dia berbicara dengan volume sangat rendah di dekat telinga Riri yang posisinya masih menempel pada tubuhnya.
Riri bangun dari telungkupnya.
"Huh," dengusnya kesal. Ia merapikan rambutnya dengan kesal. Riri melepas pelukannya dengan cepat. Lalu duduk tegak kembali di kursinya sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.
"Padahal aku cantik, lho." Mika sedikit cemberut saat Riri berteriak takut. Hantu itu melipat kedua tangannya di dada sambil melayang turun ke atas meja, merasa tidak terima karena kehadirannya disikapi seperti monster yang menyeramkan.
Lylac tersenyum mendengar itu. Menurutnya juga hantu ini memang cantik, tapi namanya hantu ya tetap aja hantu. Wajar jika orang normal seperti Riri akan langsung ketakutan setengah mati saat tahu ada makhluk halus di dekatnya.
Kenapa dirinya bisa tidak takut karena dia sudah lelah cari uang meskipun masih sekolah? Pikirannya sudah terlalu penuh dengan urusan mencari uang saku sehingga rasa takutnya pada hal-hal gaib sudah lama hilang dan terkalahkan oleh rasa lelahnya bekerja.
"Ayo kita keluar. istirahat. Perutku keroncongan," ajak Lylac setelah Riri mulai tenang dari rasa takutnya. Lylac merapikan letak seragamnya dan menutup buku di atas meja, sengaja mengalihkan topik agar mereka tidak terus-menerus membahas hal gaib yang bisa membuat sahabatnya itu kembali merasa panik.
Kepala Riri mengangguk. Riri mengembuskan napas lega karena suasana menegangkan di bangku mereka akhirnya selesai. Mereka pun bangun dari duduknya dan berjalan keluar kelas. Riri berjalan sangat rapat di samping Lylac, bahkan sesekali memegang ujung lengan baju Lylac untuk memastikan dirinya tetap aman saat mereka melewati pintu kelas yang ramai oleh murid lain.
Mika ikut melayang mengikuti Langkah mereka. Hantu itu bergerak santai di udara, tepat berada di belakang punggung Riri sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri koridor yang mulai dipenuhi anak-anak yang juga ingin pergi ke kantin.
Riri melirik ke arah Lylac yang berjalan di sampingnya. Lalu melihat ke sekelilingnya. Ia merasa sekitarnya normal. Koridor sekolah masih dipenuhi oleh murid-murid yang berjalan berlawanan arah, suara bising obrolan terdengar dari mana-mana, dan suhu udara di sana pun terasa biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.
Apa benar ada hantunya ya? Meskipun ia ragu, tapi kenyataannya, Lylac sering ngomong sendiri yang ternyata itu ngobrol sama hantu.
Riri mencoba mencerna kembali semua kejadian aneh yang pernah dia lihat selama berteman dengan Lylac, dan ingatan tentang Lylac yang menyendiri sambil komat-kamit membuat kesimpulan mistis itu menjadi satu-satunya jawaban yang paling masuk akal saat ini.
"Kenapa?" goda Lylac. Dia menatap Riri dengan pandangan terhibur, melihat bagaimana sahabatnya itu mendadak bersikap waspada dan kaku di kursinya sendiri.
"Enggak apa-apa." Riri menyembunyikan rasa takutnya. Dia duduk dengan posisi tegak dan berusaha melirik ke kanan-kiri tanpa menggerakkan kepalanya, memastikan tidak ada hal aneh yang muncul secara tiba-tiba.
"Normal kok kalau kamu takut." Lylac menenangkan, menyadari bahwa reaksi Riri adalah hal yang wajar bagi manusia biasa yang tidak terbiasa dengan hal-hal gaib.