NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Persentasi

Setelah perjanjian semalam dengan Predy, paginya Regan datang ke kantor lebih awal dari biasanya.

Di ruangan, aroma kopi hangat memenuhi udara. Asap tipisnya masih mengepul dari dalam gelas.

"Ini udah," katanya sambil membuka proposal. "Yang ini harus aku cek lagi." Regan membuka proposal itu untuk ketiga kalinya. Beberapa halaman sudah penuh coretan kecil dengan tinta hitam.

Penampilannya jauh lebih rapi. Aroma parfum khasnya masih tercium tajam.

Pintu diketuk dari luar, tapi tidak membuat Regan menoleh.

"Masuk!" Teriaknya.

Setelah kalimat itu keluar, pintu dibuka. Ahsan masuk sambil membawa berkas.

"Ini yang kamu minta," katanya. Ia berdiri di samping meja kerja Regan.

"Simpan dulu," jawab Regan tanpa menoleh.

Ahsan tersenyum kecut. Ia menatap wajah Regan, ada yang berubah dari wajahnya. Kantung matanya sedikit lebih kusam dari hari kemarin.

"Semalam nggak tidur?"

"Tidur," jawab Regan santai.

Ahsan mendengus kecil. "Bohong, mata pandamu terlihat."

Regan akhirnya mendongak menatap Ahsan. Mulutnya terbuka, "serius?" Tanyanya.

Ahsan hanya mengangguk sekali.

"Ahhh, aku harus treatment setelah pulang persentasi nanti."

Ahsan terkekeh. "Terserah, sebentar lagi jam sembilan. Jalan sekarang." Kata Ahsan sambil melangkah ke arah pintu.

Regan menyiapkan beberapa kebutuhan yang ia bawa untuk persentasi dengan Predy. Setelah semuanya siap, ia memasukkan ke dalam tasnya.

Waktu menunjukkan pukul 08:15 saat Regan benar-benar pergi dari perusahaannya.

Sementara di pantry kantor, di jam kerja seperti ini tidak terlalu banyak orang. Hanya ada satu dua orang yang membuat kopi.

Termasuk, Alvero. Pria itu berdiri di depan mesin kopi. Pandangannya menatap ke jam di pergelangan tangannya.

"Tumben? Mau kemana Regan?" Gumamnya. Alvero melihat Regan saat keluar dari ruangannya. Dengan stelan dan tas yang biasanya dibawa oleh orang-orang hanya pada saat meeting saja.

Setelah kopi terisi penuh, Alvero segera mengambil gelas itu. Namun, saat ia berbalik. Sosok Ahsan baru saja masuk.

"Ngopi, Pak Al?" Tanyanya.

Alvero mengangguk. "Iya, kamu juga?"

"Iya, Pak. Butuh yang seger buat nemenin kerja." Jawab Ahsan yang sekarang sudah berdiri di depan mesin kopi.

Alvero hanya mengangguk lagi. Kakinya melangkah keluar, tapi di ambang pintu langkahnya kembali berhenti.

Ia berbalik pelan, menatap Ahsan yang masih berdiri. Ia ingin bertanya sesuatu, namun ragu. Alvero akhirnya menggeleng, lalu keluar.

Saat baru dua langkah, sekarang ia benar-benar berbalik dan kembali masuk ke pantry.

"Ahsan," panggil Alvero.

"Hm?" Ahsan langsung menoleh.

"Tadi... saya lihat Regan pergi. Penampilan juga nggak kayak biasanya, kamu tahu dia mau kemana?" Tanya Alvero akhirnya.

Ahsan terkekeh sambil mengangkat gelas kopinga. "Mau persentasi sama Pak Predy."

"Persentasi?" Ulang Alvero cepat.

"Hm, semalam kita ketemu sama beliau di restoran Alastor." Jelas Ahsan.

"Ohh," kepala Alvero mengangguk beberapa kali. "Sepertinya... kamu sama Jenar sering keluar bareng Regan."

"Iya, Pak. Regan punya janji mau traktir saya makan malam selama satu bulan. Tapi, Jenar malah suka ikut."

Alvero tersenyum tipis. "Oh, yasudah. Saya duluan."

"Iya, Pak." Jawab Ahsan. Ia menatap punggung Alvero yang perlahan menjauh. "Pak Al kepo banget kalau soal Regan." Gumam Ahsan sambil keluar dari pantry.

...****************...

Cuaca menjelang siang hari itu pucat. Matahari terhalang awan, tapi tidak benar-benar mendung.

Di ruangan yang asing, Regan duduk tegak. Tas ia taruh di meja, sementara tablet di tangannya.

Dinding kaca memperlihatkan sebagian kota Jakarta. Aroma pewangi ruangan dan kopi hangat memenuhi udara.

Regan dam Predy duduk berhadapan di sofa.

"Silahkan jelaskan tujuanmu, Pak Regan." Katanya, setelah ada jeda hening diantara mereka.

Regan tersenyum kecil. Ia berusaha tetap tenang dan profesional. "Perusahaan kami sedang mengembangkan divisi logistik dan distribusi regional." Penjelasan pertama keluar rapi.

Predy diam, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Regan.

"Dalam dua tahun terakhir pertumbuhan perusahaan kami stabil," lanjut Regan.

"Angkanya?" Tanya Predy.

Regan langsung menggeser slide di layar tabletnya. "Kami mencatat pertumbuhan dua belas persen."

Predy mengangguk tipis. "Tidak buruk."

Regan menghela napas kecil. Ia semakin percaya diri.

"Lalu?" Tanya Predy lagi.

"Dengan tambahan investasi... kami menargetkan ekspansi ke tiga kota."

Predy hanya mengangguk. Responnya masih datar. Ia membuka proposal, membacanya sebentar, lalu menutupnya lagi.

"Kenapa saya harus jadi investor perusahaan kalian?"

Regan memegang sesaat. "Karena perusahaan kami berkembang."

"Semua perusahaan yang datang ke saya mengatakan hal yang sama."

Regan menelan ludah, kali ini ia tidak bisa berkata-kata lagi.

"Apa kelebihan perusahaan kalian dibanding lima proposal yang saya terima minggu ini?"

Regan kembali menjelaskan, tangannya menggeser slide di layar tablet. Ia mulai menjelaskan lagi, beberapa angka.

Predy masih terus mendengarkan Regan, tidak menyela atau bertanya hal lain lagi.

Saat Regan berhenti berucap, Predy melihat jam di pergelangan tangannya.

"Pak Regan," katanya Predy pelan. "Saya melihat kamu menguasi perusahaanmu. Tapi kalau perusahaanmu tidak mendapat investasi dari saya..." kalimat itu menggantung seperkian detik. "... apa yang akan terjadi?"

"Kami tetap berjalan."

"Kalau begitu... berarti perusahaanmu tidak terlalu membutuhkan saya."

Bahu Regan kembali terangkat tegak. Ia menelan ludah.

"Saya belum melihat alasan kenapa saya harus percaya menitipkan uang kepada perusahaanmu." Predy menutup map proposal di meja. "Keberanianmu saya hargai."

Regan hanya mengangguk.

"Persentasimu terstruktur. Sayangnya..." Predy menatap Regan, ia tersenyum sopan. "Hari ini kamu belum berhasil meyakinkan saya."

Regan tersenyum tipis. Ia tahu, waktunya sudah habis.

"Kalau kamu datang lagi tiga bulan setelah ini, mungkin jawabannya berbeda."

Predy berdiri lebih dulu, lalu Regan menyusul. Setelah bersalaman. Regan langsung pamit pergi.

Lorong perusahaan itu terasa jauh lebih lebih panjang. Cahaya putihnya mendadak dingin. Regan menyeret langkahnya. Tatapannya kosong menatap lantai marmer.

Ia bukan berpikir karena dirinya bodoh. Tapi karena ia tahu, yang di tanyakan investor bukan jawabannya barusan.

Setelah hampir tiga puluh menit, Regan sudah kembali ke kantornya. Wajahnya jelas terlihat lesu. Ia tidak langsung masuk ke ruangannya, melainkan pergi cafetaria.

Begitu hendak masuk, ia berpapasan dengan Ahsan yang baru saja selesai makan.

"Regan, bagaimana?" Tanyanya. Ia berdiri di hadapan Regan.

Regan membuang napas. "Gagal."

Ahsan terkekeh kecil. "Gak papa. Pak Predy emang rada susah, makanya saya sama Jenar aja nggak sanggup."

Regan mendesah panjang. Tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia melewati Ahsan, melangkah ke meja yang penuh makanan. Rasanya, energi seolah terkuras habis.

Sementara Ahsan, ia langsung pergi ke pantry kantor. Pikirnya, ngopi setelah makan adalah combo sempurna untuk tetap fokus bekerja.

Di meja dekat dinding kaca, beberapa menu makanan yang Regan ambil sudah tersaji. Tapi ia tidak langsung melahapnya seperti biasa. Hanya mengaduk makanan dengan tatapan kosong. Sekarang, ia baru merasakan apa itu kegagalan. ​

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!