Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burning Faver
Tiga puluh menit telah berlalu sejak Emily menelan bulat-bulat tablet misterius yang diberikan oleh wanita tua paruh baya tadi. Di dalam keheningan kamar yang luas itu, Emily mencoba merebahkan tubuhnya di atas ranjang bermaterial sutra yang halus, berharap rasa lelah yang menggelayuti fisiknya setelah ketegangan panjang hari ini bisa segera menguap. Namun, alih-alih menemukan kedamaian yang ia dambakan, seberkas kegelisahan yang ganjil justru mulai merayapi seluruh permukaan kulitnya.
Awalnya, itu hanya terasa seperti getaran halus di ujung-ujung jarinya. Namun perlahan tapi pasti, kegelisahan itu bermutasi menjadi gelombang hawa hangat yang tidak ia mengerti. Emily bisa merasakan detak jantungnya berdegup jauh lebih cepat dan konstan dari biasanya, menciptakan tempo liar yang memburu di dalam rongga dadanya.
Kulitnya perlahan-lahan menghangat, menimbulkan rona kemerahan yang tipis. Sensasi gerah yang luar biasa mendadak menyergapnya, sebuah perasaan asing yang terasa sangat tidak masuk akal mengingat mesin pendingin ruangan di sudut kamar tersebut sedang bekerja dengan sangat sempurna, mengembuskan angin sedingin es.
Emily mengernyitkan dahi. Ia menegakkan tubuhnya, terduduk kaku di atas ranjang. Dengan punggung tangannya yang terasa dingin, ia mengusap leher jenjangnya berkali-kali, mencoba menghalau rasa tidak nyaman yang kian lama kian mengurung kesadarannya. Benteng pertahanannya yang biasanya tak mudah goyah, perlahan-lahan terasa mengikis, membuatnya merasa sangat rapuh dan sensitif terhadap stimulus sekecil apa pun.
"Mengapa panas sekali di sini?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara yang bergetar lirih. Tangan kanannya bergerak naik, mengipas-ngipas wajahnya yang kian memanas, berusaha mencari sedikit pasokan udara segar yang seolah mendadak lenyap dari ruangan itu.
Suara engsel pintu yang berputar seketika memecah keheningan senyap tersebut. Pintu kamar besar itu terbuka perlahan, dan dari balik sana sosok Raphael muncul bagai predator yang tahu persis kapan waktu yang tepat untuk menyambangi mangsanya. Pria itu berdiri tegak di ambang pintu, menatap Emily sekilas dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebelum akhirnya melangkah masuk dengan gestur yang teramat penuh percaya diri.
"Kau belum tidur?" tanya Raphael dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin, menyembunyikan rasa puas yang sedang bergejolak di dalam hatinya.
Emily menyibakkan selimut tebal yang membungkus kakinya dengan gerakan tergesa-gesa. "Belum. Aku... aku tidak bisa tidur," jawabnya tanpa menatap langsung ke arah pria itu. Ia hanya menoleh sekilas, terlalu sibuk mengatur ritme napasnya yang kian pendek dan terus mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang kini terasa matang karena panas.
"Mungkin itu efek karena kau baru saja mengalami shock," balas Raphael dengan suara pelan yang terdengar begitu lembut, seolah-olah ia adalah pria paling penuh perhatian di dunia ini. "Tubuhmu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah semua kejadian yang melelahkan itu."
Raphael mengikis jarak di antara mereka. Langkah kakinya yang berat bergaung pelan, sebelum akhirnya ia mendudukkan tubuh tegapnya di tepi ranjang. Jarak di antara mereka kini terpangkas habis, begitu dekat hingga Emily bisa menghirup dengan jelas aroma khas dari tubuh Raphael—paduan antara wewangian cologne premium yang mahal dan aroma tembakau tipis yang jantan. Aroma yang biasanya membuat Emily bersikap waspada, kini justru terasa seperti candu yang memabukkan akal sehatnya yang kian menipis.
"Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat sedikit pucat, tapi kulitmu memerah," ucap Raphael sembari menelengkan kepalanya sedikit ke samping. Sepasang netra hitamnya yang gelap menyorot mata Emily yang tampak gusar dan tidak fokus.
"Apa kau merasa tidak enak badan, hm?" tanyanya lagi, berpura-pura polos. Di balik topeng ketenangannya, Raphael tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam tubuh Emily. Reaksi hilangnya kendali diri inilah yang sejak tadi paling ia tunggu-tunggu.
Emily menggelengkan kepalanya dengan lemah, bersikeras untuk tetap terlihat tegar di hadapan pria yang paling ingin ia hindari ini. "Tidak apa-apa. Hanya... sedikit pusing."
Raphael tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia memperhatikan bagaimana leher jenjang Emily kini telah berubah warna menjadi kemerahan, pun sama halnya dengan kedua belah pipi wanita itu yang tampak merona. Dengan perlahan, Raphael mengulurkan tangan kanannya.
"Biarkan aku memeriksa suhu tubuhmu," bisiknya.
Ujung-ujung jari tangan Raphael yang terasa sejuk menyentuh permukaan pipi Emily yang terasa panas. Sentuhan fisik yang sederhana itu, entah bagaimana, memiliki efek yang luar biasa. Jari Raphael meluncur turun dengan lembut, sekaligus menyiksa, menelusuri garis rahang Emily hingga berhenti di pangkal lehernya.
Sentuhan itu seketika membuat seluruh tubuh Emily menegang sempurna. Sebuah sensasi ganjil yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak menjalar hebat dari titik sentuhan tersebut, menyerupai sengatan aliran listrik yang bergerak cepat membakar pembuluh darahnya.
Emily tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Akal sehatnya menolak, namun seluruh sel di tubuhnya justru berkhianat. Ia hanya tahu bahwa setiap gerakan kecil, sekecil apa pun dari jemari tangan Raphael, meninggalkan jejak candu yang membuatnya patuh menggebu.
Dan yang paling menakutkan dari semuanya adalah jauh di dalam lubuk hatinya, Emily merasa sangat menyukai sensasi sentuhan tersebut. Ia bahkan mendambakan lebih.
Tatkala Raphael merasakan ketegangan itu dan mulai berniat menarik kembali tangannya untuk menguji reaksi sang wanita, Emily bertindak di luar kendali logisnya. Dengan refleks, tangan kecil Emily bergerak cepat menahan pergelangan tangan Raphael, menghentikan gerakan pria itu.
Untuk beberapa detik, tatapan mata mereka kembali bertemu di dalam keheningan kamar yang sunyi. Di sudut bibir Raphael, sebuah seringai kemenangan yang teramat tipis mengembang tanpa disadari oleh Emily. Upayanya untuk meruntuhkan pertahanan sang wanita telah berhasil sepenuhnya.
Pria itu kembali menurunkan pandangannya, memasang kembali topeng kepolosan seolah ia tidak memahami arti dari Emily yang menahan tangannya tersebut, lalu menuruti saja keinginan dari tubuh sang wanita. Usapan jemarinya berubah menjadi jauh lebih lembut, bergerak konstan menelusuri pipi halus Emily berulang kali.
Sesekali, Raphael memberikan sedikit tekanan yang disengaja pada titik-titik di wajah Emily, membuat wanita itu hampir lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Tanpa sadar, Emily memiringkan wajahnya, membiarkan seluruh beban pipinya bersandar sepenuhnya di atas telapak tangan Raphael yang terasa sejuk dan menenangkan, menikmati setiap detik dari raba-raba elusan tersebut.
Raphael menatap helai-helai rambut Emily yang tampak sedikit kusut di beberapa bagian. Beberapa surai hitamnya yang basah akibat keringat tipis tampak menempe di kulit lehernya, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat teramat seksi di matanya.
Pria itu tersenyum tipis. "Sepertinya kau akan merasa jauh lebih nyaman dan sejuk jika rambutmu ini diikat," ucap Raphael dengan nada suara yang berat, dan sedikit serak. "Kau terlihat... sangat gerah, sweetheart."
Emily mengerjap pelan, matanya tampak sedikit sayu saat ia berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya untuk menolak pesona pria di hadapannya. "Mungkin," balasnya pendek. "Tapi aku... aku tidak bisa mengikat rambutku, entah mengapa."
Raphael mencondongkan tubuh tegapnya sedikit lebih maju, membuat aroma tubuhnya kian pekat mengurung indra penciuman Emily. Matanya menatap tengkuk putih wanita itu dengan pandangan yang tenang. "Kau ingin aku yang membantumu untuk mengikatnya?" tanyanya menawarkan diri.
Secercah rasa waspada yang tersisa di dalam benak Emily sempat membuat wanita itu menatap Raphael dengan cepat. Ia berusaha keras agar tidak terlihat canggung atau terpengaruh oleh situasi ini. Namun, kombinasi antara hawa panas yang membakar tubuhnya dan rasa lelah yang luar biasa akhirnya membuat Emily menyerah pada keadaan. Ia menghela napas panjang dan mengangguk pelan.
"Baiklah. Bantu aku.”
Raphael bergerak dengan sangat tenang, mengubah posisinya hingga kini ia berada tepat di belakang tubuh Emily. Kedua tangan kekarnya terulur ke depan, menyentuh pelan kedua pundak Emily sebelum dengan telaten menarik seluruh helaian rambut panjang wanita itu ke satu sisi tubuhnya.
Jemari Raphael yang dingin terasa sangat kontras saat bergesekan dengan kulit tengkuk Emily yang panas membara. Emily spontan menahan napasnya, tubuhnya refleks terlonjak kecil akibat sensasi kontras tersebut. Namun, Raphael seolah telah memahami taktik yang paling tepat untuk membuat mangsanya tidak melarikan diri dari cengkeramannya.
"Tenanglah," bisik pria itu tepat di dekat daun telinga Emily. Deru napas hangatnya berembus perlahan, menyapu permukaan kulit leher Emily. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membantumu merasa lebih nyaman."
Raphael meraih sebuah scrunchie kain yang melingkar di pergelangan tangan Emily, kemudian mulai mengumpulkan seluruh helai rambut wanita itu dengan gerakan yang sangat perlahan, teliti, dan hati-hati.
Emily terpaksa memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mencoba sekuat tenaga menolak arus sensasi aneh yang kian lama kian berkuasa atas tubuh dan pikirannya yang mulai gelisah.
Setelah menarik ikatan terakhir dengan sangat perlahan, Raphael memastikan bahwa simpul ikat rambut itu terpasang dengan rapi dan pas di belakang kepala Emily. Alih-alih menjauhkan tubuhnya setelah tugasnya selesai, Raphael justru kian mencondongkan tubuh bidangnya ke depan, menempel pada punggung Emily. Napasnya yang hangat dan berat kini menyentuh langsung kulit halus di dekat pangkal telinga Emily.
"Sudah selesai," bisik Raphael. "Sekarang... apakah kau sudah merasa jauh lebih nyaman dan sejuk, hm?"
Emily menarik napasnya sedalam mungkin, berusaha menetralisir otaknya agar bisa berpikir jernih dan menenangkan debaran jantungnya yang kian tidak keruan. Namun, bukannya menjadi tenang, detak jantungnya justru berdentum kian kencang, berpacu dengan rasa frustrasi dan gairah yang beradu menjadi satu di dalam darahnya.
"Atau..." Raphael menjeda kalimatnya sejenak, membuat suasana di kamar itu terasa kian mencekam. Suaranya menurun rendah, menjadi bisikan yang sangat dalam, "...kau ingin aku membantumu untuk meredakan rasa panas yang lain di tubuhmu? Kau hanya tinggal mengatakannya kepadaku, Emily. Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan malam ini."
Emily tidak menjawab. Kenyataannya, ia memang sudah tidak mampu lagi untuk merangkai satu patah kata pun. Ia hanya bisa memejamkan matanya erat-erat, mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk menahan gelombang aneh yang menyeruak hebat, mendominasi seluruh kesadarannya. Ia sendiri tidak tahu apakah esensi dari rasa ini adalah hawa panas tubuh, rasa gugup yang ekstrem, atau sesuatu yang jauh lebih dari itu semua—ia sama sekali tidak memahaminya dan ego tingginya menolak keras untuk mengakui kekalahan itu.
Namun, sebelum pikiran logis Emily sempat merangkai argumen atau penolakan, sesuatu yang hangat, lembut, dan sedikit lembap menyentuh permukaan kulit tepat di bawah daun telinganya. Raphael baru saja mendaratkan sebuah kecupan yang lembut di sana.
Tubuh Emily seketika terlonjak kecil akibat hal tersebut. Pertahanan terakhirnya runtuh berkeping-keping, dan napasnya yang tertahan seketika terputus dalam sebuah desahan lirih yang tanpa sadar lolos dari sela-sela bibirnya yang memucat. Malam panjang yang penuh dengan penaklukan ego baru saja dimulai.
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima