Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Maafkan aku
Wang Chan terbangun.
Mata perlahan terbuka, masih berat, masih buram. Langit-langit kayu yang tidak begitu asing menyambutnya. Dinding-dinding rumah Nuan Shuang yang sederhana tapi hangat. Ranjang empuk yang membuatnya ingin kembali tidur.
Ia menghela napas pelan. Luka-lukanya sudah sembuh. Tidak ada bekas tusukan di bahu, tidak ada goresan di lengan, tidak ada rasa sakit di tulang rusuk.
Bahkan bekas luka lama yang ia bawa sejak kecil, kini juga hilang.
Wang Chan tahu pasti Nuan Shuang yang menyembuhkannya. Tidak ada orang lain yang memiliki kemampuan seperti itu.
Tidak ada orang lain yang mau repot-repot menyembuhkan luka-lukanya.
"Sungguh berbahaya, aku hampir saja mati," gumamnya.
Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia menentang dan bertarung seperti itu. Tanpa perhitungan. Tanpa rencana cadangan. Tanpa memikirkan konsekuensi.
Jika itu adalah dirinya sebelumnya, mungkin ia akan menerima saja bergabung dengan Keluarga Wen. Lebih aman. Sisanya ia tinggal melarikan diri pada saat yang tepat.
Tapi entah mengapa, kali ini ia tidak mau.
Mungkin karena Wen Tianren terlalu memaksakan kehendak. Mungkin karena ia sudah lelah tunduk pada orang-orang yang menganggapnya remeh.
Mungkin juga karena Nuan Shuang telah mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
"Entah apa yang kupikirkan."
Wang Chan perlahan berdiri. Tubuhnya masih terasa sedikit sempoyongan, seperti baru turun dari kapal setelah berbulan-bulan di laut. Kaki-kakinya masih gemetar, otot-ototnya masih terasa kaku.
Tangannya berpegangan pada pintu saat hendak keluar dari kamar. Kayu pintu itu dingin, halus, terawat dengan baik.
Lalu ia sedikit terkejut ketika melihat ke ruang tamu.
Tiga wanita tampak di kursi panjang.
Qing Yi dan Liu Chiyang duduk bersebelahan, rapat, hampir menempel. Keduanya terlihat sedikit kesal. Entah mengapa. Mungkin karena harus menunggu. Mungkin karena sesuatu yang lain.
Liu Chiyang menyilangkan kakinya seperti biasa, jubah tipisnya kembali memperlihatkan pahanya yang putih. Qing Yi di sampingnya juga tidak kalah santai, pakaian yang longgar membuat bahunya terekspos.
Di depan mereka, di kursi tunggal yang biasa ia tempati, Nuan Shuang duduk dengan senyumannya. Senyum misterius yang membuat orang tidak bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.
Tepat ketika Wang Chan keluar dari balik pintu, semuanya langsung menoleh.
Tiga pasang mata. Tiga ekspresi berbeda.
Qing Yi dengan matanya yang membulat, campuran antara lega dan kesal.
Liu Chiyang dengan matanya yang menyipit, seperti kucing yang baru menemukan mainan baru.
Nuan Shuang dengan matanya yang tenang, yang sudah tahu semuanya dari awal.
Qing Yi dan Liu Chiyang langsung bergerak. Cepat. Bersamaan. Seolah sudah berlatih berjam-jam.
Mereka muncul di sisi kanan dan kiri Wang Chan, masing-masing memeluk erat tangannya, membantu berjalan, meskipun sebenarnya Wang Chan tidak perlu ditolong.
"Xiao Chanchan, kau baik-baik saja?" Liu Chiyang menengok ke kanan, matanya memeriksa wajah Wang Chan dari dekat.
"Wang Chan bodoh, kau membuatku takut!" Qing Yi di kiri tidak kalah keras, suaranya sedikit tinggi, tapi getarnya justru menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Meski kedua wanita itu sedikit memarahinya, Wang Chan bisa merasakan puncak kembar keduanya yang empuk menekan lengannya dari kiri dan kanan. Sensasi yang luar biasa.
Wang Chan berusaha tidak berpikir terlalu jauh tentang hal itu.
Ia duduk di kursi panjang yang tadinya ditempati Qing Yi dan Liu Chiyang. Kedua wanita itu masih di sampingnya, tidak bergerak, masih memeluk tangannya.
Qing Yi di kiri. Liu Chiyang di kanan.
Nuan Shuang di depannya, tersenyum.
"Kami sudah dengar semuanya."
Qing Yi membuka pembicaraan. Suaranya tidak lagi tinggi, tidak lagi ceria. Ada nada serius yang jarang keluar dari mulutnya.
Wang Chan mengangguk.
"Begitu."
Nuan Shuang pasti sudah menjelaskan pada keduanya. Tentang asal-usulnya. Tentang Transformasi Iblis Langit. Tentang tawaran yang ia berikan pada Wang Chan.
"Begitu? Itu saja?"
Qing Yi langsung menarik kerah pakaian Wang Chan.
Tangannya yang mungil mencengkeram kain di dada Wang Chan dengan erat, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Wang Chan, selama ini kau menyembunyikannya dari kami! Kenapa?"
Wang Chan sedikit bergeser. Ia melepaskan tangan Qing Yi perlahan, tidak kasar, tapi tegas.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau kalian terlibat dalam masalahku."
"Kau sungguh pandai membuat alasan."
Liu Chiyang menarik telinga Wang Chan. Jari-jarinya yang lentik mencubit daun telinga Wang Chan dengan kekuatan yang cukup membuat mata Wang Chan berair.
"Tu—sakit!"
"Sakit? Kau tahu apa yang lebih sakit? Hampir kehilanganmu!"
Liu Chiyang melepaskan telinga Wang Chan, tapi matanya masih tajam.
Nuan Shuang hanya tertawa kecil. Tawanya lembut, tidak mengganggu, tapi cukup untuk membuat Qing Yi dan Liu Chiyang sedikit tenang.
"Tenanglah. Hubunganku dan Wang Chan berbeda dari kalian. Aku tidak akan mengganggu hubungan romantis kalian."
Ucapan Nuan Shuang langsung membuat Liu Chiyang dan Qing Yi menoleh.
Bersamaan. Cepat. Seolah ada yang menarik tali di belakang kepala mereka.
"Mana ada romantis!" Qing Yi memekik.
"Tidak ada begitu!" Liu Chiyang ikut memekik, nadanya sama persis.
Keduanya menjawab bersamaan. Lalu saling menoleh dengan kebingungan. Mereka menatap satu sama lain sejenak, lalu sama-sama membuang muka ke arah yang berlawanan.
Wang Chan merasa sedikit pusing. Baru saja bangun, sudah dikelilingi wanita yang saling berteriak tentang romantis.
"Aku baru sadar, ternyata luka dalamku belum separah ini," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri. "Kalian bertiga jauh lebih merepotkan daripada Keluarga Wen."
"Hm?" Qing Yi menyipitkan mata. Matanya yang bulat kini menjadi dua garis tipis yang tajam.
"Hm?" Liu Chiyang ikut menyipitkan mata. Matanya yang biasanya lembut kini berubah menjadi dua bilah pisau.
Wang Chan segera mengangkat kedua tangannya. Gerakan cepat. Reflek seorang pejuang yang sudah terbiasa menghadapi bahaya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
Nuan Shuang menahan tawa di belakang tangannya. Bahunya sedikit bergetar, matanya berbinar, dan wajahnya yang cantik itu terlihat lebih cerah dari biasanya.
Suasana yang sempat tegang perlahan mencair. Seperti es yang meleleh di bawah sinar matahari pagi. Seperti kabut yang menghilang ditiup angin.
Qing Yi akhirnya menghela napas panjang.
"Aku tidak benar-benar marah karena rahasiamu," ucapnya.
Wang Chan menoleh.
"Lalu?"
"Aku marah karena kau mencoba menanggung semuanya sendirian."
Wang Chan terdiam.
Liu Chiyang yang biasanya paling berisik, yang biasanya paling banyak bercanda, juga tampak lebih serius dari biasanya.
Jari-jarinya yang tadi mencubit telinga Wang Chan kini diam di pangkuannya, menggenggam ujung jubahnya sendiri.
"Kau tahu apa yang kami rasakan saat melihat kau hampir terbunuh?" suara Liu Chiyang pelan, hampir berbisik.
Wang Chan menunduk. Matanya menatap lantai kayu yang mengkilap. Tidak bisa menjawab.
Ia memang tidak pernah memikirkan hal itu.
Baginya, semakin sedikit orang yang terlibat, semakin aman mereka. Itu logika sederhana yang ia pegang sejak kecil.
Ia tidak punya keluarga. Ia tidak punya siapa pun. Hanya dirinya sendiri. Jadi ia terbiasa menanggung semuanya sendirian.
Tapi dari sudut pandang orang-orang yang peduli padanya, menghilang lalu muncul dalam keadaan sekarat, jelas bukan pengalaman yang menyenangkan.
"Maafkan aku."
Kalimat itu keluar pelan. Hampir tidak terdengar.
Qing Yi dan Liu Chiyang sama-sama terkejut. Mata mereka membuka lebar, alis mereka naik, dan mulut mereka sedikit menganga.
Wang Chan jarang meminta maaf secara langsung.
Bukan karena ia sombong. Tapi karena ia tidak pernah merasa perlu. Selama ini, tidak ada yang peduli apakah ia meminta maaf atau tidak.
Tapi sekarang, ada orang yang menunggu maafnya. Ada orang yang pantas menerimanya.
Nuan Shuang tersenyum tipis. Senyum yang tidak bisa diartikan, tapi matanya terlihat lebih lembut dari biasanya.
"Nah, bukankah ini lebih baik?"
Liu Chiyang mendengus. Tangannya yang tadinya diam di pangkuan kini naik, menyilang di dadanya.
"Aku masih belum memaafkannya."
Wang Chan menoleh, sedikit tersenyum.
"Telingaku sudah jadi korban. Bukankah itu cukup?"
"Tidak."
"Tidak."
Qing Yi dan Liu Chiyang menjawab bersamaan lagi. Kali ini mereka tidak saling menoleh, tidak saling bingung. Mereka hanya menatap Wang Chan dengan mata yang sama-sama keras.
paling sukakarakter nuan shuang
paling sukakarakter nuan shuang