Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibenci Karna Tak Pantas
"Sayang, jangan lari-lari....." Ryan selalu menggandeng tangan putrinya menyusuri lorong toko mainan.
"Papa! Lihat itu!" Begitu masuk, mata Fiska langsung berbinar-binar. Dia berlari kecil menuju rak boneka.
Ryan tersenyum kecil, "Ambil saja, Nak....."
"Yang ini juga lucu!"
"Ambil,"
"Papa, aku mau yang itu juga....." tunjuk Fiska pada boneka yang lebih besar.
"Ayok masukkan ke keranjang...."
Semakin lama, isi keranjang semakin penuh. Berbagai jenis mainan menumpuk di dalamnya.
Susternya mulai membelalakkan mata saat mengikuti mereka sambil menggeleng geleng kecil.
"Fiska...? Sepertinya itu sudah cukup." Susternya mengejar Fiska yang masih berlari kecil.
Fiska tak mempedulikannya, dia kembali menunjuk sebuah rak di sudut toko.
"Papa, yang itu...... Boleh aku ambil?" tanya Fiska pada ayahnya. Dia sedikit memasang ekspresi kasihan.
Ryan menoleh pada keranjangnya, memang sudah hampir penuh. Tapi melihat putrinya begitu, ia tak tega untuk mengatakan tidak boleh.
"Kalau Fiska suka, ambil saja." ucap Ryan akhirnya.
Suster itu langsung menatap cepat Ryan.
"Sudah, Sus...... Biarin aja dulu ya....." Ryan mengerti arti tatapan suster itu.
Fiska kembali mengambil beberapa jenis mainan lagi dan kadang ia tak meminta ijin pada ayahnya lagi.
"Fiska..... Cukup Sayang." ucap Ryan saat melihat Fiska ingin berlari ke rak yang berbeda lagi.
"Iya, Papa...." jawab Fiska pelan.
"Ayok kita bayar......." Mereka pergi menuju. ena kasir. Fiska digandeng oleh susternya, sementara Ryan mendorong keranjang yang sudah terasa berat itu.
Mendekati meja kasir, Fiska berhenti.
"Kenapa, Fiska?" tanya susternya.
Fiska melepaskan tangannya dari genggaman suster.
"Papa......" Fiska menarik ujung lengan kemeja Ryan. "Aku boleh ambil satu lagi?"
"Fiska.....! No!!" suara susternya sedikit meninggi melarang Fiska.
Ryan menatap wajah putrinya yang penuh harap.
"Boleh...... " Ryan sungguh tak tega menolak permintaannya.
"Pak Ryan!!" Protes suster.
Ryan terkekeh kecil, "Biar saja Sus. Anggap saja karna ia sudah berani ke dokter gigi."
"Astaga.....!" Serunya tak habis pikir.
Fiska tersenyum bangga mendengarnya dan langsung mengambil cepat mainan yang ditunjuknya.
Saat mereka tiba di kasir, tumpukan mainan itu memenuhi meja pembayaran. Kasir yang bertugas melayani dengan ramah. Tapi sesekali ia melirik tumpukan mainan itu dengan ekspresi heran.
Fiska berdiri kegirangan dan tepuk- tepuk tangan kecil melihat semua jenis mainannya,satu persatu mulai dibungkus. Sementara suster itu hanya bisa menghela napas pasrah.
"Wah, banyak sekali mainannya, Pak." ujarnya sambil tetap memindai satu per satu barang.
"Iya, Mbak." Ryan tersenyum kecil.
Kasir itu terkekeh pelan.
"Putri satu satunya, Pak?"
Ryan menoleh ke arah Fiska yang sedang sibuk memeluk salah satu boneka pilihannya.
"Maaf, saya lancang, Pak." Kasir itu berpikir jika Ryan tak nyaman dengan pertanyannya.
"Tak apa...... Dia memang putri saya satu satunya." ucap Ryan dengan senyum yang sangat hangat.
Kasir itu mengangguk seolah langsung mengerti.
"Pantas....." gumamnya sangat pelan.
Seluruh barang selesai dipindai dan dibungkus rapi. Kasirnya menatap layar komputer di depannya beberapa saat.
"Totalnya dua puluh juta rupiah, Pak."
Seketika mata suster membelalak.
"Dua puluh juta?!" ulangnya hampir tersedak.
Ia menoleh ke arah tumpukan mainan itu. Ia sadar betapa banyak barang itu.
"Astaga......" Dia menatapnya tidak percaya.
"Banyak kan, Sus?" tanya Fiska pada suster dengan wajah berseri seri.
"Sangat......"
Suster itu sudah tak mampu lagi untuk mengekspresikannya, tapi beda dengan Ryan yang tampak sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya tetap tenang.
"Ini," Ryan memberikan kartunya.
"Debit atau kredit, Pak?"
"Debit."
"Ini, Pak. Terimakasih sudah berbelanja....." ucap kasir itu dengan hormat.
"Horeeee.....!" teriak Fiska sambil melompat lompat kegirangan. Senyuman tak pernah lepas sejak keluar dari kasir.
Mereka berjalan menuju area parkir, diikuti beberapa pekerja toko yang membantu membawa belasan kantong belanja dan kotak-kotak mainan hingga troli penuh.
Beberapa pengunjung bahkan sempat menoleh penasaran melihat rombongan kecil itu. Suster yang berjalan di samping Ryan menggeleng pelan.
"Pak, jangan terlalu dimanjakan."
Ryan melirik sekilas, lalu kembali menatap Fiska yang asyik menghitung jumlah kantong mainannya.
"Nanti Fiska terbiasa mendapatkan semua yang diinginkannya."
Ryan terdiam sesaat. Pandangannya kembali jatuh pada putrinya yang tertawa lepas tanpa beban.
"Tak apa, Sus."
Suster menghela napas, "Tetap saja harus ada batasnya, Pak."
"Fiska pantas untuk itu....." Balas Ryan tersenyum tipis.
Suster hanya bisa tersenyum pasrah. Ia sadar satu hal, bagi Ryan semua mainan itu tidak seberapa. Tapi caranya menunjukkan Fiska pantas bahagia.
"Papa, nanti kita main sama ya di kamar Fiska......" ucap Fiska begitu sampai di rumah mereka.
"Iya sayang....." balas Ryan tersenyum lembut.
Satpam yang berjaga di pos depan segera berlari menghampiri.
"Selamat sore, Pak Ryan." sapanya.
"Pak, tolong angkat semua barang di pikap itu ke dalam rumah." perintah Ryan tenang.
"Baik, Pak." Satpam itu langsung memberi isyarat kepada dua temannya lagi yang baru beberapa hari bekerja disana.
Mereka mulai menurunkan satu per satu kotak mainan. Salah seorang dari mereka sampai menggeleng heran.
"Mau ada acara doorprize?"
Satpam senior itu tersenyum kecil, dia sudah tau, itu hanya sekedar mainan untuk putrinya.
"Papa...... Mainannya bagus-bagus kan?"
Ryan tersenyum, "Tenang. Semua akan masuk ke kamar bermain Fiska...." Ryan mengecup puncak kepala putrinya.
"Apa ini?!?" Ibu Ryan yang baru juga sampai terlihat heran dengan apa yang dilihatnya sendiri.
"Ibu....?" Ryan juga terlihat terkejut, tak menyangka kehadiran ibunya malam itu.
"Ada apa ini, Ryan? Ada acara?" Ibunya mengamati satpam yang bolak balik mengangkat barang.
Ryan terdiam. Karna kalau dia menjawab jujur yang ada pasti ibunya marah-marah.
"Sudah selesai, Pak. Semua sudah kami antar ke kamar main nona Fiska." lapor satpam tadi.
"Apa? Semua tadi itu mainan? Sebanyak itu??" tanya Ibunya mengernyit.
Ibu menatap tajam Ryan.
"Oma......?" panggil Fiska tak tau arti tatapan itu. "Nanti sekalian kita main sama ya, Oma....." Lanjut Fiska penuh excited.
Ibu Ryan menatap Fiska dengan sorot mata yang dingin. Tidak ada senyum seorang nenek yang baru melihat cucunya. Yang terlihat justru tatapan sinis.
"Karna anak ini?!"
Ryan langsung menggendong Fiska setelah mendengar ucapan itu.
"Bu?!?"
Sang ibu mendengus pelan, "Kenapa?!? Lihat saja, baru sekecil ini sudah banyak maunya...."
"Sus, bawa Fiska dulu ke dalam ya......"
"Baik, Pak."
"Sayang, kamu bersih bersih dulu sama Suster ya......setelah itu kita main sama. Oke??" Ryan tak ingin Fiska merasa sedih dengan respon ibunya tadi.
"Ayok.....Biar nanti bisa langsung main ya...." Suster itu menggendong Fiska dan membawanya masuk.
"Anak itu memang menyusahkan!!" gerutu ibunya pelan. Semenjak ada Fiska di hidup mereka, ibunya tak pernah bisa menerima dia.