NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Latihan Kedua

Sialan. Gue udah kagak sanggup! batin Kiano menelan ludah susah payah saat melihat Kalasugih meneguk minuman segar di kejauhan.

"Woy, Mas! Udah belum nih?!" teriak Kiano lantang dengan sisa tenaga yang ada.

Kalasugih menoleh. Ia bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celananya dari serpihan rumput, lalu berjalan mendekat. "Sudah, turunlah. Turunkan ember itu pelan-pelan, jangan sampai airnya tumpah," ucapnya datar.

"Alhamdulillah!" seru Kiano semringah penuh syukur.

Ia langsung melompat turun dengan sangat hati-hati, lalu meletakkan dua ember kayu itu di atas rumput. Sebelum Kalasugih sempat bersuara lagi, Kiano sudah bergerak secepat kilat menyambar botol air minum yang terbuat dari labu kering, lalu menenggaknya hingga tandas.

Glek! Glek! Glek!

"Ahhh... segarnya!" desah Kiano lega sembari menyeka sisa air di dagu dan peluh di pelipisnya.

Tanpa memedulikan harga diri sebagai pangeran, ia langsung menjatuhkan diri dan terlentang pasrah di atas hamparan rumput lapangan. Matahari pagi yang mulai menghangat tidak lagi ia pedulikan.

"Dharma, bagi kuenya dong. Kelihatannya enak tuh," ucap Kiano pada Dharma, menunjuk kue tradisional yang sedang dikunyah oleh sang pengawal.

"Ini, makanlah," sahut Dharma ramah sembari menyodorkan sepotong kue.

Kiano baru saja hendak memasukkan kue manis itu ke dalam mulutnya. Namun, aksinya terhenti seketika saat sebuah sandal kulit melayang cepat dari arah samping, menghantam telak kue di tangan Kiano hingga camilan itu terbang jauh ke udara.

Plak!

Kiano sontak bangkit dan melotot horor. "Heh, Mas! Apa-apaan sih lo?! Itu kue dikit lagi masuk mulut gue, anjir! Lo sirik banget kagak suka lihat gue santai dikit?!"

Kalasugih mendengus. Dengan gerakan anggun namun cepat, ia memungut kembali sandalnya yang tergeletak di rumput lalu memakainya lagi. "Bukan berarti aku mengizinkanmu untuk berleha-leha, Kiano. Latihanmu hari ini belum selesai."

Kiano refleks mengubah posisi duduknya menjadi tegak. "Hah?! Apa lo bilang? Bukannya tadi lo sendiri yang bilang udah selesai?!"

"Iya, yang selesai itu baru latihan mengangkat ember," balas Kalasugih tenang tanpa dosa. "Sedangkan latihan selanjutnya masih banyak lagi. Yang tadi itu baru permulaan, Kiano. Jadi, jangan harap kau bisa bersantai hari ini."

Kiano membelalak, lalu mengembuskan napas frustrasi yang penuh kepasrahan. "Gusti... kieu-kieu teuing mah paéhan wé atuh si Dharma! Geus teu kuat aing mah! Hayang geura balik ka imah!"   (" Ya Tuhan... kalau begini-gini amat, bunuh saja si Dharma! Gue udah enggak kuat! Pengen cepet pulang ke rumah!") teriaknya frustrasi dalam bahasa Sunda kasar.

Kalasugih hanya terkekeh puas. Menonton penderitaan pemuda modern yang biasanya manja itu ternyata menjadi hiburan tersendiri baginya.

Sementara itu, Dharma yang berdiri di sampingnya langsung melotot. Pengawal itu merasa namanya dicatut dalam doa kematian Kiano yang ngawur. "Heh, Kiano! Sembarangan kamu bawa-bawa nama saya dalam sumpah serapahmu! Itu semua deritamu sendiri. Jadi, semangat, ya!" seloroh Dharma, yang sejurus kemudian langsung meledakkan tawa puasnya bersama Kalasugih.

Kalasugih sontak menghentikan tawanya. Wajah pemuda berkumis itu kembali berubah serius dalam sekejap. "Sudahlah, tidak ada waktu untuk meratapi nasibmu. Kita lanjut ke proses latihan kedua. Ikuti aku, cepat jangan lelet!"

Tanpa menunggu balasan, Kalasugih langsung berbalik dan melangkah lebar menuju arah rimbunnya hutan.

"Kita mau ke mana lagi sih ini? Kagak bisa istirahat bentar apa?" keluh Kiano. Dengan langkah gontai, ia mulai berjalan menyusul Kalasugih.

"Dia bilang jangan banyak protes, Kiano," timpal Dharma sembari mengemasi sisa perbekalan di atas rumput. Pengawal itu bergegas mengekor di belakang mereka. "Kamu mau sandal kulitnya melayang lagi? Masih mending cuma sandal. Bagaimana kalau nanti tubuhmu yang dilempar ke angkasa?"

Kiano hanya mendengus kesal. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah demi melampiaskan emosi. Awas aja kalau gue udah kuat dan punya ilmu sihir. Gue kutuk kalian berdua jadi kodok sawah! Tahu rasa lo! batinnya geram sambil mendelik sinis ke punggung Kalasugih.

Setelah berjalan beberapa menit menembus rimbunnya pepohonan, sampailah mereka di tepi sebuah sungai yang permukaannya tampak tenang namun sangat luas. Kalasugih berdiri bersedekap dada di tepian, menatap lurus ke arah riak air yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

Kiano tiba di belakangnya dengan napas terengah-engah. "Ngapain lagi kita di sini, Mas?"

"Masuklah ke dalam air sungai itu, Kiano," perintah Kalasugih tanpa menoleh.

"Serius lo, Mas?!" Kiano melotot horor. "Kayanya airnya dalem banget deh. Lo sengaja mau bunuh gue, ya?"

Kiano memang pandai berenang di kolam mewah Jakarta. Namun, sejago-jagonya dia, jika disuruh berendam di kedalaman sungai dunia asing yang tidak masuk akal ini, bisa-bisa dia mati tenggelam secara estetik.

"Cukup di tepiannya saja, jangan terlalu ke tengah," potong Kalasugih ketus. "Duduk bersila di sana, pejamkan matamu, dan fokuskan seluruh pikiranmu. Konsentrasi. Hilangkan semua pikiran kotormu, dan jangan pernah membuka mata sampai aku menyuruhmu. Tetap diam di sana, sekalipun arus sungai menyeret tubuhmu atau ada seseorang yang datang mengganggumu. Cepat lakukan!"

Mata Kiano melebar sempurna. "Beneran sadis lo, Mas!"

Karena teringat ancaman Dharma dan ngeri membayangkan sandal kulit Kalasugih mendarat lagi di wajahnya, mau tidak mau Kiano mulai melepas alas kakinya. Ia berjalan hati-hati menuruni tepian sungai yang licin.

Kiano kemudian mengambil posisi bersila tepat di bagian air yang dalamnya sebatas dada.

Dinginnya air sungai langsung membuat tubuhnya merinding. "Udah nih, Mas!" seru Kiano pasrah.

"Pejamkan matamu, mulailah latihannya. Jangan harap kau bisa kabur, aku akan terus mengawasimu dari atas," balas Kalasugih.

Syuttt!

Dengan satu hentakan kaki yang ringan, tubuh Kalasugih melesat ke atas, melompat tinggi, dan langsung mendarat anggun di salah satu dahan pohon mahoni tua. Dari atas sana, ia duduk santai mengamati Kiano yang tampak memberengut sambil misuh-misuh tidak jelas di dalam air.

Kiano mulai memusatkan fokusnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, walau hatinya sedikit terpaksa. Kedua tangannya bertaut di depan dada, persis seperti ninja Konoha yang hendak mengeluarkan jurus andalan. Perlahan, ia mencoba mengosongkan pikirannya yang semrawut.

Keheningan seketika menyergap indranya. Hanya ada suara gesekan dedaunan hutan, gemericik air, desau angin siang yang berembus, dan kicauan burung yang saling bersahutan.

Kiano mulai merasakan sedikit ketenangan. Namun, baru beberapa menit menikmati kedamaian itu, ketenangannya langsung ambyar seketika saat sepasang tangan sedingin es mendadak merayap dari dalam air.

Tangan pucat itu meraba-raba tubuh bagian belakangnya, bergerak perlahan naik, lalu berhenti tepat di tengkuk Kiano. Menempel erat di sana macam cicak.

Astagfirullahaladzim! Apaan tuh?! batin Kiano panik setengah mati.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak membuka mata. Ternyata peringatan Kalasugih soal "sesuatu yang bakal mengganggu" itu bukan isapan jempol belaka. Ini pasti jin atau setan penghuni sungai!

Dalam hati, Kiano mulai merapalkan ayat-ayat suci sebisanya.

Hus, nyingkah sia, setan! Ck, lagian nih dedemit kagak ada kerjaan banget siang-siang bolong begini gangguin orang meditasi! batinnya kesal.

Bagi Kiano saat ini, rasa takut diamuk Kalasugih atau disuruh mengulang latihan fisik jauh lebih menyeramkan dibanding menghadapi penampakan di siang hari bolong. Jadi, ia memilih bertahan.

"Hai ganteng... boleh ikut gabung enggak? Aku temenin, ya..."

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!