NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Di Balik Senyum Teman, Ada Pisau Terhunus

Minggu-minggu berlalu, dan bisikan yang semula samar kini telah berubah menjadi arus deras yang mengalir di setiap sudut gedung Adhitama Group. Di mana pun Nara melangkah, ia selalu disambut oleh tatapan yang menyelidik, senyum yang penuh makna tersirat, atau bisikan yang segera terhenti begitu ia mendekat. Bagi banyak orang di sana, kehadiran Nara kini bukan lagi sekadar kehadiran seorang karyawan baru, melainkan sebuah teka-teki yang sekaligus menjadi bahan pembicaraan utama yang mengisi kekosongan waktu istirahat mereka.

Namun di antara semua orang yang menatapnya dengan pandangan meremehkan atau penasaran, ada satu sosok yang berdiri paling dekat, namun justru menyimpan rasa yang paling rumit dan berbahaya. Sosok itu adalah Dinda. Wanita yang dulunya dikenal sebagai teman lama Nara, yang konon menjadi orang yang membantu mempermudah proses penerimaan Nara di perusahaan ini. Di permukaan, Dinda selalu tampak ramah, selalu tersenyum, sering kali berjalan berdampingan dengan Nara, dan bahkan berulang kali berkata kepada orang lain bahwa ia sangat bangga bisa membantu teman masa kecilnya mendapatkan kesempatan bekerja di kota besar ini.

Namun, di balik senyum manis itu, di balik sapaan hangat itu, tersimpan rasa iri yang telah lama membara dan kini tumbuh semakin besar, memakan hati nuraninya perlahan-lahan.

Dinda sebenarnya bukanlah orang asing bagi kisah hidup Nara. Ia mengenal betul asal-usul Nara—seorang gadis desa yang tumbuh dalam kesederhanaan, tanpa koneksi kuat, tanpa kekayaan, dan tanpa keistimewaan apa pun di mata dunia. Dinda selalu merasa dirinya lebih unggul; ia lahir di kota, memiliki penampilan yang menarik, pandai bergaul, dan sudah bekerja di sini cukup lama sehingga ia merasa memiliki kedudukan yang pantas dihormati. Ia yang pertama kali mendengar kabar bahwa ada kesempatan lowongan, dan atas dasar rasa kasihan sekaligus rasa aman karena menganggap Nara tidak akan pernah bisa bersaing dengannya, Dinda mengajak Nara untuk melamar.

Namun, apa yang terjadi belakangan ini sama sekali tidak sesuai dengan bayangannya.

Pertama, meski datang dengan bekal kemampuan yang dianggap biasa saja, Nara ternyata bekerja dengan sangat baik. Ia teliti, cepat belajar, jujur, dan memiliki cara berkomunikasi yang tulus sehingga perlahan namun pasti, mulai dihargai oleh beberapa orang yang objektif. Hal itu membuat posisi Dinda yang selama ini merasa paling menonjol di bagian administrasi mulai terancam.

Namun yang lebih besar lagi adalah masalah hati. Dinda telah lama menyimpan rasa kagum yang mendalam—bahkan bisa disebut obsesi—kepada sosok pemilik perusahaan ini, Arkan Adhitama. Baginya, Arkan bukan sekadar atasan, melainkan sosok pria idaman yang memiliki segalanya: ketampanan, kekayaan, wibawa, dan kekuasaan. Selama bertahun-tahun, Dinda diam-diam berharap bisa menarik perhatian Arkan, menjadi wanita yang dipilihnya, dan menduduki posisi paling tinggi di perusahaan ini. Ia merasa dialah yang paling pantas berada di sisi Arkan.

Lalu datanglah Nara.

Awalnya Dinda mengira kedatangan Nara hanyalah kebetulan biasa. Namun, ada hal-hal yang membuat firasatnya yang penuh kecurigaan itu semakin kuat. Ia ingat betul bagaimana Arkan pernah terlihat bersama Nara di luar kantor beberapa waktu yang lalu, saat acara di luar kota. Ia melihat bagaimana meski di kantor Arkan bersikap dingin dan profesional, namun ada tatapan-tatapan singkat yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Dan kini, melihat kondisi Nara yang mulai mengandung tanpa ada penjelasan jelas mengenai siapa suaminya, benih-benih kebencian itu tumbuh subur dalam hatinya.

"Jadi begitukah..." gumam Dinda pelan di dalam hatinya suatu sore, saat melihat Nara berjalan melewati ruang kerjanya. Matanya menatap perut Nara yang mulai sedikit menonjol di balik seragam yang agak longgar itu dengan pandangan tajam yang penuh kebencian. "Gadis desa itu ternyata bukan datang sembarangan. Dia mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dia mendekati Arkan, memanfaatkan kebaikannya, lalu sekarang berjalan dengan bangga membawa buah hubungan terlarang itu."

Bagi Dinda, ini bukan lagi sekadar masalah persaingan kerja. Baginya, Nara telah menjadi penghalang terbesar di antara dirinya dan apa yang ia inginkan. Dan karena Nara tidak berbicara mengenai siapa ayah dari anak yang dikandungnya, Dinda dengan mudah menyimpulkan hal terburuk: bahwa Nara adalah wanita licik yang berhasil memikat Arkan, lalu dibuang begitu saja, dan kini berjalan di sini sebagai wanita yang hamil di luar nikah. Pemikiran itu justru membuat Dinda merasa dirinya berada di pihak yang benar, seolah apa pun yang akan dilakukannya terhadap Nara adalah wajar sebagai bentuk pembalasan atas kesalahan yang diperbuat gadis itu.

Sejak hari itu, Dinda mulai bergerak diam-diam. Ia tidak lagi hanya berdiam diri mendengarkan gosip yang ada, melainkan mulai menjadi sumber utama penyebaran kabar yang semakin memutarbalikkan fakta. Ia bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang selama ini juga kurang menyukai kehadiran pendatang baru, lalu dengan nada berbisik yang seolah ingin menjaga nama baik Nara namun sebenarnya menanamkan keraguan, Dinda mulai menambahkan bumbu-bumbu yang paling menyakitkan.

"Jujur saja, aku sangat kasihan melihat Nara," ujar Dinda suatu hari di ruang istirahat, di hadapan beberapa orang yang sedang berkumpul. Wajahnya tampak sedih, seolah benar-benar bersimpati. "Aku dulu teman dekatnya, jadi aku tahu sedikit banyak hal. Tapi sungguh, aku bingung harus bicara apa. Awalnya aku berharap dia datang ke sini untuk memperbaiki nasibnya dengan cara yang baik. Tapi ternyata, dia memilih jalan yang salah."

Salah satu rekan kerjanya, wanita bernama Sari, yang selalu haus akan kabar baru segera bertanya dengan penasaran. "Maksudmu apa, Din? Kamu tahu sesuatu yang lebih jelas?"

Dinda menghela napas panjang, menundukkan wajahnya seolah ragu untuk berbicara, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga mereka, namun suaranya tetap terdengar cukup jelas bagi orang-orang di sekitarnya.

"Aku mendengar kabar... dan aku takut ini benar... bahwa Nara sebenarnya bukan bekerja di sini untuk mencari nafkah yang halal. Dia menjadi simpanan seseorang, mungkin orang penting di lingkungan ini, dan sekarang dia mengandung anak itu. Tapi sayangnya, pria itu tidak mau bertanggung jawab. Dia hanya dimanfaatkan, lalu dibiarkan begini saja. Itulah sebabnya dia diam saja saat dihina, karena dia sadar dia salah langkah."

Kabar itu menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Kini, gambaran tentang Nara berubah sepenuhnya di mata mereka. Bukan lagi sekadar gadis desa yang sial, melainkan wanita yang licik, yang berani mengambil risiko besar demi kekayaan, namun akhirnya berakhir dalam keadaan memalukan. Dinda dengan cerdik menyusun kata-katanya sedemikian rupa sehingga ia tampak sebagai teman yang peduli, sementara di saat yang sama ia memastikan bahwa rasa hormat yang mungkin masih tersisa bagi Nara lenyap sama sekali.

Namun, menyebarkan gosip saja ternyata belum cukup bagi hati Dinda yang semakin gelap. Ia ingin lebih dari sekadar merusak nama baik Nara. Ia ingin Nara menderita, ingin Nara tidak sanggup lagi bertahan di sini, ingin Nara pergi dari tempat ini dengan rasa malu yang sebesar-besarnya. Dan cara yang paling ampuh, menurut pemikirannya, adalah membuat Nara gagal dalam pekerjaannya, bahkan mengalami hal yang lebih buruk terkait kehamilannya itu.

Sebagai kepala bagian yang membawahi Nara, Dinda memiliki wewenang untuk membagi tugas. Maka, ia mulai menggunakan wewenang itu secara licik.

Suatu pagi, saat pekerjaan di kantor sedang menumpuk karena adanya tenggat waktu pengiriman laporan penting, Dinda mendekati meja Nara dengan tumpukan berkas yang sangat tebal. Ia meletakkannya tepat di depan Nara dengan senyum yang masih dipaksakan.

"Nara, maaf ya, semua orang sedang sibuk sekali hari ini. Bagian ini harus selesai sore ini juga, dan aku percayakan padamu karena aku tahu kamu rajin," ujar Dinda lembut. Padahal, jumlah pekerjaan itu setara dengan tugas tiga orang sekaligus, sesuatu yang sangat berat diselesaikan dalam waktu singkat, apalagi bagi seseorang yang sedang mengandung dan butuh istirahat teratur.

Nara menatap tumpukan berkas itu, lalu menatap wajah Dinda. Ia merasakan ada ketidakwajaran di sini. Ia tahu beban ini sebenarnya seharusnya dibagi rata. Namun, karena tak ingin terlihat mengeluh dan ingin membuktikan bahwa ia mampu, Nara mengangguk pelan. "Baik, Kak Dinda. Akan aku kerjakan sebaik mungkin."

"Bagus. Oh ya, di gudang arsip lantai bawah ada kotak-kotak lama yang harus dipindahkan ke ruang ini agar bisa diperiksa isinya. Tolong diangkat sekarang juga ya, sebelum sore nanti. Kuncinya ada di sini." Dinda menyerahkan kunci itu, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.

Tugas memindahkan kotak arsip itu berisi dokumen-dokumen lama yang berat, sesuatu yang sangat dilarang dilakukan oleh ibu hamil menurut saran dokter dan pesan-pesan perhatian yang sering disampaikan Arkan. Nara mengerti betul risikonya. Namun ia juga sadar, jika ia menolak tanpa alasan yang jelas, Dinda pasti akan menggunakannya sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Nara tidak disiplin atau enggan bekerja keras.

Sepanjang hari itu, tekanan demi tekanan datang bertubi-tubi. Dinda terus menambah tugas, mengatur jadwal agar jam istirahat Nara menjadi sangat singkat, bahkan menunda pengiriman berkas penting yang seharusnya menjadi acuan kerja Nara sehingga Nara hampir saja membuat kesalahan laporan yang fatal.

Sore itu, saat Nara terlihat agak pucat dan memegang pinggangnya yang terasa nyeri hebat karena duduk terlalu lama dan bergerak terus-menerus, Dinda kembali mendekat. Kali ini ia berbicara agak keras, agar didengar oleh orang-orang di sekitar.

"Nara, sepertinya kamu mulai sering terlihat tidak enak badan ya? Kalau begitu, mungkin lebih baik kamu beristirahat di rumah saja. Takutnya nanti pekerjaan kantor jadi terganggu karena kondisi kesehatanmu yang tidak menentu. Lagipula, apa gunanya memaksakan diri bekerja kalau kondisinya begini?"

Kalimat itu terdengar seperti perhatian, namun maknanya sangat tajam: ia ingin mendorong Nara agar mengundurkan diri atau setidaknya dianggap tidak mampu bekerja.

Namun, Nara bukanlah wanita yang mudah menyerah. Meski hatinya sedih melihat sikap teman yang dulu dipercayainya berubah menjadi demikian, matanya perlahan terbuka akan kebenaran. Ia mulai menyadari bahwa di balik semua kesulitan yang ia hadapi belakangan ini, ada tangan Dinda yang bergerak mengatur segalanya. Ia teringat ucapan orang-orang bahwa Dinda sering terlihat berbisik-bisik dengan orang lain membicarakan dirinya. Ia teringat bagaimana gosip buruk itu selalu datang dari arah yang sama.

Nara menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang berpacu, lalu menegakkan kembali punggungnya. Ia menatap lurus ke arah Dinda yang berdiri di hadapannya, menatap dengan pandangan yang tenang namun tajam, tanpa rasa takut lagi.

"Terima kasih atas perhatianmu, Kak Dinda," jawab Nara pelan namun jelas, membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu ikut mendengarkan. "Kesehatan saya baik-baik saja, dan saya sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan. Saya masuk ke sini untuk bekerja dengan tanggung jawab, dan saya tahu betul batas kemampuan saya serta cara menjaga diri saya sendiri. Tidak perlu khawatir berlebihan."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit mengeras, seolah ingin menyampaikan pesan yang lebih dalam.

"Dan satu hal lagi... saya percaya, setiap orang yang bekerja di sini berhak diperlakukan sama, tanpa memandang kondisi apa pun. Ada aturan yang melarang perlakuan yang tidak adil atau pembebanan tugas yang berlebihan tanpa pertimbangan yang wajar. Saya berharap kita semua memahami hal itu, demi kelancaran kerja kita bersama."

Wajah Dinda sedikit berubah pucat mendengar jawaban itu. Ia tak menyangka Nara berani menanggapi sedemikian rupa, seolah sudah mengerti maksud tersembunyi di balik sikapnya. Namun, karena tidak ingin terlihat bersalah di depan umum, Dinda hanya tersenyum kaku, lalu berbalik pergi dengan perasaan makin tersulut amarah.

Malam itu, saat di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Nara menceritakan segalanya kepada Arkan. Ia menceritakan bagaimana Dinda yang dulunya teman baik, kini menjadi orang yang paling kejam menyebarkan fitnah, yang membebani pekerjaannya dengan sengaja, dan yang berusaha membuatnya jatuh sakit agar tidak bisa lagi bekerja di sini.

Arkan mendengarkan dalam diam. Sepanjang jalan, raut wajahnya yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi serius dan dingin. Ia sebenarnya sudah mulai mendengar laporan-laporan kecil mengenai perlakuan yang diterima Nara, namun mendengar penuturan langsung dari istrinya membuat rasa marah itu makin berkumpul di dada.

"Jadi selama ini dia yang menjadi sumber utama semua gosip itu?" gumam Arkan pelan, matanya menatap lurus ke jalan di depannya, namun pikirannya berputar memikirkan langkah selanjutnya. "Aku sudah menduga ada yang tidak beres, tapi aku tidak menyangka rasa irinya sudah sedemikian dalam hingga berani mengganggu keselamatanmu dan anak kita."

Ia menoleh ke samping, menatap wajah Nara yang terlihat lelah namun tetap tegar. Arkan meraih tangan itu, menggenggamnya erat.

"Tenanglah, Sayang. Dinda mungkin berpikir dia pintar bersembunyi di balik kedok persahabatan, tapi dia salah besar jika mengira bisa berbuat semaian tanpa ada yang tahu. Dia melupakan satu hal: bahwa di perusahaan ini, segala sesuatu tercatat, dan segala tindakan yang merugikan orang lain atau melanggar aturan tidak akan dibiarkan begitu saja."

"Namun," tambah Arkan pelan, suaranya melembut kembali, "aku ingin tahu apa keinginanmu. Apakah kamu ingin aku bertindak sekarang, atau kamu ingin tetap menjalani ujian ini sampai batas yang kita sepakati sebelumnya? Karena bagaimanapun juga, tindakannya ini bukan lagi sekadar urusan mulut, tapi sudah menyangkut keselamatan."

Nara terdiam sejenak, memandang keluar jendela yang mulai dilalui lampu-lampu kota. Ia memikirkan Dinda, memikirkan rasa iri yang membutakan hati wanita itu.

"Biarkan dulu, Mas," jawab Nara akhirnya. "Bukan karena aku takut, tapi karena aku ingin dia yang membuka kedoknya sendiri. Selama ini dia bersembunyi di balik wajah baiknya. Biarkan waktu yang menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dan aku ingin membuktikan, bahwa meski dia mencoba menekan, memutarbalikkan fakta, dan membebani pekerjaanku, aku tetap bisa berdiri tegak dan bekerja dengan baik. Keberhasilan kerjaku adalah jawaban yang paling menyakitkan baginya."

Arkan tersenyum bangga mendengarnya. Ia kembali teringat mengapa ia begitu mencintai wanita ini. Di tengah badai yang datang dari mana saja, Nara tetap memilih jalan kebenaran dan ketenangan.

"Baiklah, aku mengikuti keinginanmu," ucap Arkan. "Tapi ingat, batas kesabaranku ada di sini. Sekali dia mencoba hal yang lebih berbahaya, atau sekali saja dia membahayakan kesehatanmu, aku tidak akan menunggu lagi. Rahasia apa pun akan kubuka demi melindungi kalian berdua."

Malam itu di rumah, saat Arkan sedang memijat lembut kaki Nara yang pegal, ia kembali berbicara pada perut istrinya yang mulai terlihat jelas membulat itu.

"Nak," bisiknya lembut, "Dunia tidak selalu ramah ya. Ada orang yang merasa bahagia saat orang lain sedih. Tapi Ayah dan Ibu mengajarimu satu hal: kebaikan dan kebenaran itu meski berat dijalani, pasti akan menang pada akhirnya. Bersama Ibu, kita hadapi semua ini dengan hati yang kuat."

Namun, Arkan tahu dalam lubuk hatinya, sikap Dinda yang makin berani itu menandakan bahwa bahaya makin dekat. Rasa iri yang sudah menjadi kebencian itu tidak akan berhenti hanya karena ketenangan Nara. Di balik senyum manis yang masih dipasang Dinda setiap hari di kantor, rencana-rencana yang lebih licik sedang disusun. Dan Episode selanjutnya akan membuktikan, bahwa musuh yang paling dekat adalah yang paling sulit diduga, namun sekaligus yang paling mudah tergelincir oleh kebenaran.

 

Bersambung...

1
Rani Febrianti
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!