Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-31 Hari pernikahan Agatha dan Vincent
Agatha menatap dirinya dalam cermin, ini adalah hari pernikahannya dengan Vincent. Ditatapnya dirinya yang sudah terbalut baju pengantin yang indah. Dia terlihat cantik hari ini. Tapi entah kenapa hatinya tidak merasa bahagia. Rasanya begitu sedih menikah tidak dengan orang yang dicintai. Diapun membayangkan alangkah bahagianya Amanda bisa menikah dengan Jonathan pria yang dicintainya juga mencintainya. Tidak seperti dirinya yang tidak mencintai calon suaminya, Vincent.
Agatha menghela nafas panjang, apa hendak dikata inilah jodohnya, menikah dengan Vincent, meskipun terasa berat dia harus menjalaninya. Dia harus mencoba membuka lembaran baru dengan Vincent, meskipun itu akan sulit, karena setiap kali melihat Vincent yang ada dibenaknya adalah pacarnya yang banyak, sungguh membuat kepalanya pusing. Tapi dibalik semua itu, yang paling mendasar adalah dia tidak mencintai Vincent, meskipun pria itu beribu ribu kali menyatakan cinta padanya, dia terlanjur jatuh cinta pada Jonathan dan itu tidak bisa dilupakan begitu saja.
Tok tok tok… terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk!” ucap Agatha. Seseorangpun membuka pintu kamarnya. Agatha membalikkan badannya menghadap pintu, dia terdiam saat melihat yang masuk ke kamarnya adalah Amanda.
Saudara kembarnya mendekatinya dan menatapnya.
“Kau sangat cantik,” ucapnya pada Agatha.
“Terimaksaih,” jawab Agatha, yang juga menatap Amanda.
“Apa kau bahagia?” tanya Amanda.
“Menurutmu?” Agatha balik bertanya.
Amanda tidak menjawab, dia kembali menatap saudara kembarnya. Matanya mulai memerah berkaca-kaca.
“Aku benar-benar minta maaf Agatha, aku telah merebut kebahagiaanmu, aku minta maaf,” kata Amanda, dengan menahan tangis.
“Sudahlah semua telah terjadi, aku akan menikah dengan Vincent,” ucap Agatha.
“Aku benar- benar merasa bersalah,” kata Amanda lagi, sambil menunduk sedih.
“Seharusnya aku menolak saat Jonathan memilihku, aku selalu dihantui rasa bersalah, aku telah menyakitimu,” lanjut Amanda.
Agatha menatap saudara kembarnya itu. Meskipun setiap kali melihat Amanda mengingatkannya akan kegagalan pernikahannya dengan Jonathan, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena walawbagaimanapun Amanda saudaranya, akan menjadi bagian hidupnya selamanya.
“Sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri,lagipula Jonathan kan menyukaimu,” ucap Agatha.
“ Aku benar-benar minta maaf,” kata Amanda lagi.
“Ya sudahlah, lupakan semuanya,” ucap Agatha
“Semoga kau bahagia dengan Vincent,” kata Amanda.
“Ya,” Agatha hanya mengangguk, merekapun saling tatap. Amanda langsung memeluk saudaranya itu.
“Aku menyayangimu,Agatha,” ucap Amanda.
“Aku juga,” jawab Agatha sambil membalas pelukannya Amanda.
“Sayang! Apa kau sudah siap? Ayo kita berangkat!” terdengar suara Elsa masuk ke dalam kamar dan dia menghentikan langkahnya saat melihat Kedua putrinya sedang berpelukan.
“Iya Mommy, aku sudah siap,” kata Agatha. Amanda segera melepas pelukannya.
Elsa melihat mata Amanda berkaca-kaca, tapi Elsa tidak bicara apa-apa. Dia menatap Agatha yang terlihat sangat cantik.
“Kau sangat cantik, sayang,” ucap Elsa. Agathapun tersenyum, tidak dengan hatinya. Apa yang di ucapkannya pada Amanda hanya hiburan saja, sebenarnya hatinya sakit dan tidak bahagia menikah dengan Vincent.
“Terimakasih Mommy,” kata Agatha.
“Ayo kita berangkat,” ajak Elsa yang diangguki Agatha.
Amanda menggandeng saudara kembarnya itu keluar dari kamar Agatha.
Sampailah mereka di sebuh hotel mewah. Mereka langsung menuju tempat acara pernikahan akan dilaksanakan, yaitu disebuah aula yang luas ditengah tengah sebuah taman yang ada di hotel itu, aula dan taman sudah dihias dengan banyak bunga-bunga yang cantik berwarna warni. Kursi kursi para tamu tampak sudah terisi penuh oleh undangan, para kerabat dan relasi.
Saat Agatha turun dari mobil, kamera foto langsung menyala dari berbagai sudut, saking banyaknya yang mengambil gambar.
Semua mata memandang kehadiran pengantin wanita itu yang berjalan dikarpet merah diiringi oleh para pengiring pengantin yang cantik cantik.
Diujung karpet itu sudah berdiri pengantin pria yang tampak sangat tampan hari ini, menatap pengantin wanita dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Agatha balas menatap tatapan pria itu yang tidak lain adalah Vincent. Inilah pria yang akan menjadi suaminya, semoga dia bisa menjalani pernikahan ini, batinnya.
Vincent merasa bahagia akhirnya dia bisa menikah dengan wanita pujaannya. Pengantin wanitanya terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin itu.
Vincent mengulurkan tangannya pada Agatha yang disambut Agatha dengan ragu. Ditatapnya tangan yang terulur itu.
“Sayang kau sangat cantik,” puji Vincent, tangannya masih terulur. Akhirnya Agatha menerima uluran tangannya Vincent. Diapun berdiri disamping Vincent.
Agatha menoleh pada pria disampingnya itu ternyata pria yang akan menjadi suaminya itu masih menatapnya. Agatha masih tidak percaya kalau dia akan menikah dengan pria playboy ini. Tapi apa mau dikata. Pria inilah yang akan menjadi suaminya sebentar lagi.
Vincent bisa mengerti tatapannya Agatha itu, tapi dia berusaha berbesar hati, dia yakin dia bisa membuat gadis ini jatuh cinta padanya dan melupakan Jonathan.
Acara pernikahanpun dimulai. Semua mata memandang pada kedua pengantin ini. Senyum bahagia bisa terlihat dari semua yang hadir, banyak yang memuji pasangan pengantin ini yang sangat serasi.
Saat mengucapkan janji pernikahan, hati Agatha rasanya tercabik cabik. Menikah dengan pria yang tidak dicintai ternyata begitu sangat menyakitkan. Ingin rasanya dia menangis, tapi ditahannya, dia tidak mau membuat keributan di acara pernikahannya ini, dia harus bisa menguasai dirinya sampai acara pernikahan ini selesai.
Agatha menatap cincin yang Vincent masukkan ke jarinya, ditatapnya cincin itu, cincin yang sangat indah. Kemudian diambilnya cincin dari kotak yang dibawa oleh panitia pernikahan lalu dimasukkan ke jarinya Vincent.
Vincent mendekatkan bibirnya mencium keningnya Agatha. Agatha merasakan dinginnya bibir pria itu saat menempel di keningnya.
Vincent menatapnya, sebenarnya dia ingin mencium bibir gadis yang sekarang menjadi istrinya tapi tidak dilakukannya, dia tidak mau membuat Agatha merasa tidak nyaman, dia tahu istrinya belum bisa menerima dirinya. Jelas terlihat kalau Agatha menahan rasa sedihnya, dia tidak mau membuat gadis itu semakin sedih.
“Kau istriku sekarang,”ucap Vincent, matanya tidak mau lepas menatap pengantin wanitanya itu.
Agatha balas menatap Vincent, entah kenapa dia tetap merasa kalau pria itu adalah orang asing baginya.
“Aku mencintaimu, Agatha,” ucap Vincent. Agatha hanya menatapnya, bibirnya tidak bisa mengucapkan apa yang Vincent ucapkan, dia butuh waktu.
“Kau harus membuka hatimu untukku, tidak perlu buru-buru, aku akan sabar menunggunya,” lanjut Vincent. Agatha masih tidak menjawab, dia kembali menunduk, dia merasa tersiksa dengan semua ini.
Saat bersanding dengan Vincent dilihatnya Jonathan duduk bersama Amanda di kursi depan, hatinya kembali terasa teriris iris, melihat mereka saling berpegangan tangan dan saling tersenyum, ingin menangis rasanya.
Sebuah tangan menggenggam tangannya erat, tangan Vincent yang menjadi suaminya sekarang.
Elsa dan Edward menghampir kedua pengantin. Mereka menatap Agatha dengan haru, akhirnya satu putrinya sudah menikah.
“Semoga kau bahagia, sayang,” ucap Elsa sambil memeluk Agatha. Putrinya itu langsung memeluknya sangat lama.
“Jangan menangis sayang, ini hari bahagiamu, jangan menangis,” ucap Elsa berbisik sangat pelan di telinga Agatha.
“Mommy aku tidak tahu apa aku bisa menjalani pernikahan ini?” bisik Agatha dengan suara yang tersekat menahan tangis.
“Bisa sayang, bisa,” jawab Elsa sambil mengangguk menatap putrinya dan mencium keningnya. Agatha hanya diam saja tidak menjawab. Kini Elsa menghampiri Vincent dan menatapnya.
“Kau sudah berjanji akan membahagiakan putriku maka bahagiakanlah dia,”ucap Elsa, mengingatkan janji Vincent padanya.
“Iya, aku berjanji akan membahagiakannya,” kata Vincent, mengangguk dengan mantap. Elsa merasa senang mendengarnya, semoga Vincent benar-benar menepati janjinya.
Sekarang Edward yang mendekati putrinya yang langsung menatapnya.
Ditatapnya putri cantiknya itu. Dia bahagia dia masih diberikan umur untuk bisa melihat putrinya menikah.
“Kau bahagia melihatku menikah, Daddy?” tanya Agatha pada ayahnya.
“Tentu saja sayang, kau juga harus bahagia dengan pernikahanmu, itu yang Daddy harapkan,” kata Edward, ditatapnya sakali lagi wajah putrinya lalu dipeluknya dengan erat.
Setelah Edward mengucapkan selamat, ada sepasang pria wanita yang bediri di dekat Edward, menatap pengantin, dia adalah Amanda dan calon suaminya, Jonathan.
“Agatha, semoga kau bahagia dengan pernikahanmu,” ucap Amanda.
Agatha hanya mengangguk, dia melihat tangan Amanda saling berpegangan dengan Jonathan, rasa sakit itu kembali muncul dihati tapi ditahannya. Kemudian Amanda memeluknya dan menciumnya.
Kini giliran Jonathan yang ada di depannya. Ditatapnya pria itu, pria yang beberapa waktu lalu adalah calon suaminya, kini pria itu sedang melihatnya bersanding dengan pria lain.
Jonathan menatap Agatha, dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan, kadang dia merasa bersalah telah menyakitinya, tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dia mencintai Amanda.
“Semoga kau bahagia,”ucap Jonathan, lalu memeluk Agatha yang hanya diam memantung.
Agatha kembali menatap Jonathan yang melepaskan pelukannya. Menatapnya dalam sedih dan kekecewaan. Kemarin-kemarin dia begitu bahagia mempersiapkan pernikahan dengan pria ini ternyata kebahagiaannya itu hanya seujung kuku yang kandas dalam waktu sekejap. Tidak ada yang bisa dia lakukan, untuk menagisinyapun sudah tiada guna lagi.
Jonathan berdiri menatap Vincent.
“Selamat,” ucap Jonathan sambil bersalaman lalu berpelukan dengan Vincent.
“Terimakasih,” kata Vincent.
Setelah itu banyak lagi ucapan selamat dari tamu-tamu juga keluarga besar baik keluarga Edward maupun keluarganya Mr.Arthur.
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤