(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Sang Kaisar
Badai celah ruang yang diciptakan oleh Hukum Kaisar Mutlak merobek udara di sekitar Kuil Leluhur. Ribuan retakan hitam pekat menyedot cahaya, suara, dan puing-puing bangunan, berniat mencabik-cabik Chu Chen hingga ke tingkat jiwa.
Kaisar Yan Luo berdiri di udara dengan napas memburu. Matanya yang memerah menatap lekat ke pusat badai. Serangan ini menguras separuh dari saripati kehidupannya di Puncak Penyatuan Langit, tetapi ia tidak punya pilihan. Pemuda itu telah menelan Urat Nadi Kekaisaran; jika ia dibiarkan hidup sedetik lebih lama, seluruh benua ini akan kiamat.
Namun, suara tawa yang tenang dan menggema tiba-tiba terdengar dari dalam badai ketiadaan tersebut.
"Kau menamai ini Kiamat Langit dan Bumi?"
Dari balik ribuan celah ruang yang mengamuk, sesosok tubuh perlahan melangkah keluar.
Chu Chen tidak terluka sedikit pun. Jubah abu-abunya berkibar pelan, tidak tergores oleh hisapan ruang. Di sekeliling tubuhnya, memancar sebuah selubung cahaya merah keemasan yang membentuk perwujudan bayangan sisik naga raksasa.
Setiap kali celah ruang mencoba menyentuh selubung itu, celah tersebut langsung tertutup paksa, seolah hukum alam di dalam jangkauan Chu Chen telah ditulis ulang oleh kehendak yang jauh lebih purba dan berkuasa.
"A-Apa?!" Kaisar Yan Luo terhuyung mundur. "Kau menolak Hukum Ruang dengan tubuh fisik?! Bahkan Raja Fana tidak bisa melakukan itu!"
"Raja Fana kalian membangun istana dari lumpur dan ranting," Chu Chen terus melangkah maju menaiki udara, matanya yang berupa pupil vertikal emas menatap sang kaisar dengan kebosanan. "Sementara istanaku dibangun dari tulang para dewa dan ditempa oleh api penciptaan."
Di dalam Dantian Chu Chen, Istana Jiwa Naga yang kini telah memadat seutuhnya bergetar. Sebuah takhta hitam di tengah istana itu memancarkan aura penindasan mutlak.
Alam Raja Fana Tahap Awal!
Tapi kekuatan yang mengalir di pembuluh darah Chu Chen saat ini seratus kali lipat lebih mengerikan daripada Raja Fana mana pun dalam sejarah Benua Tengah.
"Aku akan mengulitimu hidup-hidup!" raung Kaisar Yan Luo, kehilangan seluruh sisa wibawanya.
Ia merogoh kehampaan dan menarik keluar sebilah pedang emas raksasa yang memancarkan pendaran sembilan matahari. Itu adalah Pedang Matahari Suci, pusaka warisan tertinggi kekaisaran tingkat Surga!
Tebasan Pemusnah Dewa!
Kaisar Yan Luo menebaskan pedang itu dengan seluruh sisa kekuatan Penyatuan Langit Puncaknya. Langit seolah terbelah menjadi dua. Sebuah gelombang pedang emas yang panjangnya mencapai sepuluh mil melesat turun, membawa panas yang bisa menguapkan lautan.
Menghadapi tebasan yang bisa membelah benua itu, Chu Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak menggunakan Telapak Penghancur Matahari.
Chu Chen hanya mengangkat tangan kanannya, merentangkan jari-jarinya, dan menyongsong bilah pedang pusaka itu dengan telapak tangan kosong.
TRANGGGGG!!!
Suara logam yang berbenturan dengan sesuatu yang jauh lebih keras menggema, memecahkan gendang telinga siapa pun yang masih hidup dalam jangkauan seratus mil.
Mata Kaisar Yan Luo nyaris melompat keluar dari rongganya.
Pedang Matahari Suci... pusaka tingkat Surga yang tak bisa dihancurkan... terhenti mutlak di telapak tangan Chu Chen. Zirah Tulang Naga Hitam yang melapisi tangan pemuda itu memercikkan bunga api emas, namun tidak ada setetes darah pun yang tumpah.
"Pusaka fana yang tumpul," ucap Chu Chen datar.
Chu Chen meremas bilah pedang itu.
KRAAAAK!
Pusaka warisan tertinggi kekaisaran itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam mati. Pukulan balik dari hancurnya pusaka jiwa membuat Kaisar Yan Luo memuntahkan darah emas segar, tubuhnya terhempas ke belakang.
Sebelum sang kaisar bisa menstabilkan dirinya, Chu Chen telah menghilang.
WUSH!
Kecepatan Chu Chen di Alam Raja Fana tidak lagi terikat oleh waktu. Ia muncul tepat di atas dada Kaisar Yan Luo. Lutut kanannya menghantam dada sang kaisar dengan kekuatan batu langit raksasa.
BUGH!
Tulang rusuk kaisar hancur lebur. Tubuh Yan Luo meluncur deras ke bawah, menghantam puing-puing Kuil Leluhur hingga menciptakan kawah sedalam ratusan tombak.
Chu Chen mendarat dengan anggun di dasar kawah, berjalan perlahan mendekati kaisar yang kini terkapar tak berdaya dalam genangan darahnya sendiri.
"K-Kau..." Yan Luo terbatuk, darah menyembur dari hidung dan mulutnya. Mahkotanya telah hancur, rambutnya acak-acakan. "Kekaisaran... tidak akan mati... Klan Dewa dari Wilayah Pusat akan... akan menghukummu..."
"Klan Dewa?" Chu Chen berhenti tepat di depan wajah Yan Luo. Senyum pemangsa yang luar biasa kejam terukir di bibirnya. "Terima kasih sudah memberitahuku di mana hidangan selanjutnya berada."
Chu Chen mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram wajah sang kaisar.
Seni Kaisar Naga Penelan Semesta: Pelahapan Mutlak!
BUMMM!
Pusaran Ketiadaan meledak dengan keganasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbeda dengan menyedot ahli biasa, menghisap Puncak Penyatuan Langit seperti meminum seluruh saripati sebuah benua.
Jeritan Kaisar Yan Luo terdengar sangat memilukan, merobek sisa-sisa langit Ibukota Suci. Hukum alam, saripati kehidupan berusia ribuan tahun, dan lautan energi kaisar ditarik paksa. Di dalam Dantian Chu Chen, Istana Jiwa Naga menyerap energi itu dengan rakus, menggunakannya untuk menstabilkan dan memperkokoh fondasi Raja Fana yang baru saja ia capai.
Dalam waktu dua puluh tarikan napas, suara jeritan itu terhenti.
Kaisar Yan Luo, penguasa tertinggi Kekaisaran Matahari Suci, mengering menjadi sekam, lalu hancur menjadi debu kelabu yang tertiup angin kehancuran. Kekaisaran yang telah berdiri megah selama ribuan tahun, kehilangan kepalanya secara mutlak.
Chu Chen berdiri tegak. Ia menghembuskan napas pelan, mengeluarkan uap berwarna emas kemerahan. Dantiannya bergemuruh pelan, kekuatannya kini telah stabil sepenuhnya di Alam Raja Fana Tahap Awal, menuju Tahap Menengah.
Di saat yang sama, bencana di luar kawah mencapai puncaknya.
Tanpa Urat Nadi Naga Emas dan tanpa kendali dari sang kaisar, sisa tujuh matahari buatan di langit meledak secara berurutan. Ledakan cahaya kematian raksasa menghiasi langit. Pulau-pulau melayang di Lingkar Dalam runtuh sepenuhnya, menabrak Lingkar Tengah dan kawasan Lingkar Luar.
Ibukota Suci Kekaisaran Matahari Suci... benar-benar tenggelam dalam kiamat.
Chu Chen menoleh ke arah Meng Fan dan Bai yang bersembunyi di balik pilar batu yang masih berdiri. Ia melambaikan tangannya, menciptakan sebuah selubung pelindung dari Qi Yin-Yang yang membungkus mereka bertiga, menolak segala puing bangunan dan ledakan api yang berjatuhan.
Di kejauhan, jauh di luar batas Ibukota Suci, para pengintai dan ahli dari Sembilan Sekte Besar yang awalnya berkumpul untuk menyerbu Awan Suci, kini melayang di udara dengan tubuh gemetar hebat.
Mereka menyaksikan dari jauh bagaimana Ibukota Suci runtuh. Mereka merasakan hilangnya aura Kaisar Yan Luo dari dunia fana.
"K-Kaisar... mati..." gumam salah satu Penatua sekte dengan mata terbelalak ngeri. "Bocah iblis itu... dia menghancurkan sebuah kekaisaran purba hanya dalam waktu satu hari!"
Kepanikan mutlak menyapu barisan sembilan sekte. Tidak ada lagi niat untuk membalas dendam atas kematian pewaris mereka. Tidak ada lagi persekutuan. Mereka memutar arah kapal-kapal mereka, melarikan diri dengan kecepatan membakar umur, berniat untuk menyegel gerbang sekte mereka rapat-rapat dan berdoa agar iblis itu tidak melirik ke arah mereka.
Di tengah reruntuhan ibukota yang terbakar, Chu Chen melayang perlahan ke udara, membawa selubung pelindung berisi Bai dan Meng Fan.
"Kekaisaran ini sudah habis," ucap Chu Chen datar, matanya menyapu lautan api di bawahnya.
Ia menoleh ke arah Bai, yang masih menatap debu Kaisar Yan Luo dengan pandangan kosong.
"Kau bilang ada Sembilan Klan Dewa di Wilayah Pusat," ucap Chu Chen, matanya memancarkan keserakahan yang tak berujung. "Bersiaplah, Bai. Setelah aku menelan sisa-sisa sembilan sekte pengecut itu untuk camilan... kita akan pergi mencari tahu apakah para 'Dewa' itu memiliki darah yang bisa memuaskan dahagaku."