NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Dua Hati Yang Saling Melengkapi

Pagi di Mansion Kaelric yang sunyi dan tenang. Mansion Kaelric memang besar. Tapi, kalau di tinggal sang empunya rumah jadi terasa sepi.

Veliora seharusnya berada di kampus pagi itu.

Semester akhir tidak menuntut banyak kehadirannya, hanya cukup untuk membuatnya tetap terlihat “ada” di kampus, tempat dia menimba ilmu.

Tapi hari itu, ia memilih tetap tinggal di Mansion Kaelric yang terasa nyaman untuknya sekarang.

Bukan hanya dia, Ibu Gerard pun terlihat senang berada di situ?. Tapi, Veliora merasa heran. Mengapa wanita tua itu lebih senang tinggal di paviliun?. Bukankah Kaelric mengijinkan dirinya untuk tinggal di rumah utama?

Langkah kaki Veliora sudah sampai di depan paviliun. Ibu Gerard duduk di teras. Seorang asisten rumah tangga yang duduk di samping dekat dengan wanita tua itu segera undur diri setelah melihat kedatangan Veliora.

"Ibu sudah sarapan?".

"Sudah, aku tadi sarapan roti panggang dan minum susu hangat."

Sarapan Ibu Gerard selalu sama.

Roti panggang tipis dengan sedikit olesan mentega, tidak lebih. Segelas susu hangat menemani di sampingnya. Terlihat sederhana.

Terlalu sederhana untuk seseorang yang tinggal di tempat seperti ini. Padahal, di Mansion Kaelric segalanya ada. Dan Kaelric tidak tanggung-tanggung dalam finansialnya. Itu terlihat dari semua orang yang bekerja disitu.

Mereka nampak tenang, bahkan tidak menuntut apapun. Seolah semua kebutuhan mereka sudah terpenuhi setiap saat.

"Kamu sendiri sudah sarapan?"

"Tentu sudah, Ibu."

"Sarapan kamu apa Veliora?"

"Ommelet dan jus buah. Saya tadi masak sendiri. Tentu saja, dibantu Bik Isa. Saya belum terlalu pandai memasak Ibu."

"Ya, belajarlah memasak, Veliora. Kebahagiaan seorang pria terletak pada perutnya. Kalau perutnya selalu dipenuhi dengan masakan wanita yang dicintainya, itu akan sangat berbeda."

"Kenapa Ibu bicara seperti itu?"

Ibu Gerard tersenyum. Lalu menggeleng perlahan.

"Tidak.. Tidak.. Biarkan semua berjalan perlahan. Tanpa ada paksaan."

Ibu Gerard bergumam diri. Namun, Veliora melihat suatu yang janggal dari nada bicara wanita tua itu.

Nada bicaranya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Yang tidak ingin Veliora tahu. Tapi, Veliora juga tidak ingin mencari tahu.

"Ibu mau ommelet masakan saya? "

Ibu Gerard melihat ke arah Veliora. Sekilas. Dia susah untuk menolak tawaran gadis itu.

"Boleh, aku ingin mencicipi ommelet buatan kamu."

"Oke, saya ambilkan di dalam ya bu?. Ibu tunggu disini."

Veliora pun masuk ke dalam rumah utama untuk mengambilkan ommelet.

"Ibu mau, Non?"

Bik Isa bertanya, setelah melihat Veliora mengambil beberapa potong ommelet dari meja makan.

Bik Isa nampak heran dengan apa yang dilihatnya.

"Memang, biasanya Ibu tidak mau diberi makanan Bik?"

"Selain, yang biasa dimakan. Ibu tidak pernah makan yang lainnya. Kecuali jika makanan itu yang membawa Tuan sendiri, Non."

Veliora mengangguk.

"Benar ini Nona Veliora menawarkan ommelet, tapi Ibu mau?"

"Memang kenapa, Bik?"

Bik Isa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Tidak... Tidak... Saya sangat senang, Non. Itu artinya Ibu mulai membuka diri."

"Tapi, bukankah Ibu seorang yang humble?. Bahkan, menganggap siapapun yang bekerja disini seperti anaknya sendiri?"

"Iya benar. Tapi, tidak seperti ini."

Veliora mengangguk. Lalu, pergi meninggalkan dapur besar. Berjalan keluar dengan membawa beberapa potong ommelet dan segelas jus jeruk.

Bik Isa nampak tersenyum melihat hal ini. Hal yang dinantikan semua penghuni Mansion Kaelric. Yaitu, Ibu Gerard mau membuka hati pada siapapun.

Sesampainya di paviliun, Veliora celingukan mencari dimana Ibu Gerard. Karena, sudah tak ada di teras depan. Kebetulan, lewatlah seorang tukang taman di dekatnya.

"Pak, Ibu dimana?"

"Eh, Non. Ibu kalau jam segini ada di teras belakang."

"Sedang apa Ibu di taman belakang, Pak?"

"Ibu menanam bunga Anggrek disana. Banyak sekali. Setiap hari dirawatnya sendiri. Sesekali, Tuan Kaelric kalau tidak sibuk menemani Ibu disana."

Veliora manggut-manggut.

"Dimana taman belakang itu Pak?"

"Lewat saja samping paviliun, Non. Lalu lurus ke belakang. Belok kanan sedikit. Nah, disitu Ibu berada."

Veliora mengangguk lalu beranjak menuju taman belakang. Benar, Ibu Gerard sibuk mengurus bunga Anggrek yang banyak macamnya.

Ibu Gerard nampak senang dengan aktivitasnya. Hingga, tidak melihat kedatangan Veliora.

"Ibu...!"

Sapa Veliora dari belakang. Wanita tua itu menoleh sebentar. Lalu mengulas senyuman tipis di bibir.

"Ya,.. Oh kemari rupanya. Darimana kamu tahu, kalau aku berada disini?"

"Tukang taman tadi yang kasih tahu, Bu!"

"Ini ommelet dan jus jeruk segar buat Ibu."

"Wah, terima kasih, Veliora. Ternyata, selain cantik, kamu juga baik."

Veliora merona merah pipinya. Laku mereka beralih ke teras belakang. Dekat dengan kebun Anggrek milik Ibu Gerard. Ya, dikatakan milik Ibu Gerard, karena memang Kaelric memberikan sebidang tanah untuk wanita tua itu sebagai hadiah. Karena, Kaelric tahu. Ibu Gerard suka dengan keindahan tanaman Anggrek. Agar tidak bosan dan merasa sendirian di rumah besar itu.

"Bunganya cantik-cantik ya Bu?"

"Ya, cantik seperti kamu. Aku senang sekali melihat kamu, Veliora. Ah, seandainya anak laki-lakiku sendiri tidak bodoh. Pasti aku senang  mengambil kamu sebagai menantuku. Tapi, kamu yang tidak cocok untuknya. Kamu lebih pantas dengan Kaelric. Kamu putri Kaeden."

Nampak sedikit terkejut dengan kalimat Ibu Gerard. Ibu ini berarti mengenal betul siapa Papi. Kata Veliora dalam hati.

"Ibu tahu siapa Papi saya?"

"Ya, siapa yang tidak mengenal Valerius Kaeden? Pendiri Kaeden Dominion Grup, dengan julukan Raja Tanpa Mahkota.  Dia adalah seorang yang ambisius dan berani mengambil resiko."

"Darimana Ibu tahu tentang Papiku?"

"Siapapun mengenalnya Veliora. Papimu seorang pria yang banyak dikenal semua orang."

"Hingga sesuatu yang besar menimpa dirinya. Dan... "

Ibu Gerard terisak menangis. Menangis, karena ingat sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana dia sanggup bertahan?.

Jauh sebelum ia berada di bawah perlindungan Kaelric, hidup Ibu Gerard sudah dijaga oleh tangan lain. Yaitu, Valerius Kaeden.

Valerius Kaeden tidak pernah menempatkannya terlalu dekat dengan hidupnya. Justru sebaliknya tinggal di sebuah rumah sederhana. Dan beberapa orang yang berjaga tanpa banyak bicara.

Cukup untuk memastikan satu hal, bahwa Ibu Gerard tetap hidup dan tidak terlihat oleh semua orang.

Ibu Gerard tidak pernah benar-benar jauh dari keluarga itu. Dia hanya memilih berdiri sedikit di belakang. Karena, terlalu banyak yang ia tahu. Dan tidak semuanya, layak untuk diungkapkan.

Semua rahasia Kaeden dan kematiannya. Juga sepak terjang Kaelric baik itu di dunia bersih maupun dunia bawah yang kelam.

"Ah, sudah Ibu. Sekarang, Papi sudah tenang. Lagipula, ada Daddy Kael di dekat saya. Jadi, saya merasa nyaman."

Veliora sebenarnya ingin tanya lebih dalam lagi. Tapi, karena suatu hal dia mengurungkan niat untuk bertanya.

Dia merasa senang, karena melihat Ibu Gerard kelihatannya menyukai ommelet yang dibuatnya. Lain kali, dia akan belajar memasak makanan yang lain pada Bik Isa.

Ahh.. Kenapa kelihatannya Kaelric memanfaatkan keberadaan dirinya di Mansion untuk merayu Ibu Gerard ya?. Entahlah, mungkin memang benar kalau sebenarnya Kaelric sangat berharap Ibu Gerard mau tinggal di rumah utama. Secara, Kaelric sepertinya sudah tak punya orang tua lagi. Sehingga, menganggap Ibu Gerard sebagai Ibunya sendiri.

"Andaikan, anakku patuh sedikit pada Papimu atau Kaelric, mungkin dia tidak seperti itu nasibnya. Seperti Ravian, dia sangat menghargai pekerjaannya. Setiap waktunya, dia curahkan untuk Bosnya itu."

"Bagaimana Ibu tahu juga tentang Ravian?"

"Bagaimana aku tidak tahu, Veliora?. Aku sudah bersama mereka sejak lama,” ucap Ibu Gerard pelan.

“Sejak Tuan Kaeden masih kecil, bahkan sebelum Gerard bisa berjalan.”

Ia tersenyum tipis, seolah mengingat sesuatu yang jauh.

"Aku yang menyusui beliau waktu itu.”

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya berarti besar.

" Berarti aku memanggil anda dengan sebutan nenek?"

Tanya Veliora mempertegas penjelasan yang diberikan Ibu Gerard.

"Terserah kamu mau panggil aku bagaimana, Veliora. Kehadiran kamu disini sudah membuat aku senang. Aku merasa tidak sendirian lagi."

"Atau kau boleh panggil aku Ibu."

Veliora menatap langit. Rasanya seperti menemukan sosok seorang Ibu.

"Saya sangat bahagia bisa bersama dengan putri Tuan Kaeden."

"Kalau begitu, boleh aku temani Ibu setiap hari atau bahkan sepanjang malam?"

Tanya Veliora.

Dia terkesan dengan sikap Ibu Gerard yang hangat. Sungguh berbeda dengan Maminya. Seraphina sebenarnya adalah sosok yang lembut dan penyayang. Tapi, karena ranah bisnisnya yang rawan, dia jadi lebih mementingkan bisnisnya itu. Tidak lagi menjadi sosok Ibu yang hangat seperti dulu.

"Peluklah aku Ibu." Pinta Veliora dengan lembut.

Ibu Gerard pun berjalan menghampiri gadis itu. Mereka berdua saling berpelukan erat. Seolah, mereka adalah Ibu dan anak.

Rasa bahagia terpancar dari wajah mereka.

"Aku sangat berharap Ibu mau tinggal di rumah utama. Temani saya, Ibu. Daddy sangat sibuk."

Ibu Gerard menggeleng pelan.

"Tidak.. Tidak... Tidak Veliora. Pasti nanti akan ada perubahan besar pada Kaelric. Aku yakin itu."

"Aku akan tetap disini, di paviliun ini. Rasanya lebih tenang dan damai."

"Ya sudah. Aku tidak memaksa Ibu. Aku hanya ingin Ibu mau ikut aku ke rumah utama. Itu saja."

Setelah itu, mereka kembali ke tempat masing-masing. Ibu Gerard kembali ke paviliun, sedangkan Veliora kembali ke rumah utama.

Setiap sisi bahkan setiap sudut Mansion Kaelric dipasang CCTV. Jadi, dia bisa melihat semua pergerakan di Mansion - nya dari jarak jauh. Bahkan, dia pergi ke luar negeri pun dia tahu apa yang terjadi disana. Dan tidak seorangpun yang bekerja di Mansion tahu hal itu.

******

Nampak senyuman tipis tersembul dari sudut Kaelric. Hari ini, dia ke kantor. Bukan untuk bekerja, tapi dia sedang bermalas-malasan.

Karena, beban kerja hari itu dia limpahkan pada Ravian.

Dia tak di ruang kerjanya. Dia menuju ke lounge eksklusif. Dia duduk di sofa hitam.

Di meja kecil di sampingnya, secangkir espresso mulai mendingin.

Kaelric tidak langsung menyentuhnya.

Tatapannya tetap pada layar tablet di tangannya. Dia memantau setiap sudut mansion melalui CCTV. Baru setelah beberapa saat, ia mengangkat cangkir itu. Satu tegukan. Terasa pahit bahkan cukup untuk membuat pikirannya tetap tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!