Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"maaf menganggu non Clara, di depan ada tuan Raja, dia meminta agar non Clara keluar menemui nya," ucap sang kepala pelayan.
"Astaga mati gue," seketika wajah Clara sedikit pucat mendengar nama Raja.
Ia berdiri dari duduknya dan segera berpamitan kepada Linus dan Maya untuk segera pergi dari rumah itu.
Melihat Clara pergi dari sana karena Raja, hati Linus kembali terasa sakit seperti tertusuk duri, dua puluh empat jam bersama Clara membuat dirinya merasa tidak ingin berpisah, apalagi kejadian semalam membuat hati Linus semakin tidak bisa tahan kalau saat ini emang dia sudah jatuh cinta kepada Clara.
Selain galak, cantik, Clara juga perhatian dan lebih penting lagi, ia begitu mirip dengan Cery hal ini membuat Linus furstasi memikirkan Clara apalagi soal ciuman pertama nya ya g jatuh kepada bibir Clara semalam.
"Aku ke kamar dulu ma," dengan wajah dingin Linus meninggalkan ruang tengah menaiki tangga menuju kamar nya.
Sementara mama nya tau kalau saat ini respon sang anak sedikit aneh.
Rena yang tidak bisa berkata-kata apapun hanya melihat punggung Linus yang kian menghilang.
"Rena, kenapa dengan Linus? Kok kelihatan nya dia agak kecewa setelah Clara pergi, apa dia suka sama Clara ya?" Maya bersemangat sekali mengatakan hal itu kepada Rena.
"Tante! Kok Tante ngomong gitu sih? Bukan nya Tante udah sepakat sama papa aku buat ngejodohin aku sama Linus? Tanye gak mungkin lupa soal itu kan? Aku gak mau ya Linus sampai suka sama Clara aku gak peduli Linus cuma milik aku pokoknya titik!" Rena yang emosi segera mengambil ponselnya dan kemudian pergi dari rumah Linus, ia terlihat sangat marah.
"Berani-beraninya dia marah kepada ku? Dasar anak kurang hajar, tunggu aja sampai aku dapat kerja sama dengan perusahaan Tian grup, aku tidak akan mempedulikan kesepakatan apapun lagi dengan keluarga nya yang tidak terlalu penting itu," umpat mama Maya setelah Rena pergi.
Ya, semalam Rena lah yang menelpon mama Maya, dia menceritakan hal yang tidak-tidak kepada mama Maya tentang Linus dan Clara sehingga membuat orang tua itu kembali dalam satu malam dengan pesawat dari luar negeri.
"Kalau tau begitu aku gak bakalan kembali aku bisa mengunakan Linus dan Clara untuk mendapatkan kerja sama,iya aku harus melakukan sesuatu," batin mama Maya yang memang gila akan harta.
Sementara itu di sisi lain.
Kini Clara sudah tiba di rumah nya, sang papa dan mama tiri nya sudah menunggu di ruang kelaurga.
"Pa, ma," lirih Clara yang di belakang nya berdiri Raja.
Tadi Raja datang untuk menjemput Clara dan mereka langsung kembali ke rumah, dari tadi juga Raja tidak mengatakan apapun kepada Clara wajahnya juga sangat terlihat jika sedang marah.
"Duduk kamu," ucap papa Tian.
Clara duduk berhadapan dengan papa dan mama nya, sementara Raja duduk di sebelahnya.
"Pa aku minta maaf," lirih Clara tidak berani menatap wajah sang papa.
"Lain kali kalau mau nginep di rumah temen bilang dulu sama papa sama Mama atau sama kakak kamu, agar kami gak khawatir, untung kakak kamu sigap nyariin kamu," ujar sang papa.
Clara terkejut karena entah dari mana sang papa mendapatkan kabar kalau Clara nginep di rumah teman nya.
"Maaf pa, aku gak tau kalau tadi malam bakal badai dan akhirnya gak bisa pulang," jawab Clara lagi.
"Udah-udah sekarang sebaiknya kamu ke kamar dan mandi, mama sama papa gak marah kok, cuma mau kamu tau kalau bikin orang tua khawatir itu gak baik, untung Raja bilang kamu baik-baik aja nginep di rumah Della temen kamu," ujar Tara sambil tersenyum untuk membuat Clara tidak merasa tertekan dan takut.
Lagi-lagi hal ini membuat Clara tercengang, namun Raja berdiri dan kemudian memegang lengan nya.
"Ayo kakak anterin ke kamar, pa, ma, kami ke atas dulu," ujar Raja yang kemudian membawa Clara pergi dari sana.
Sejujurnya papa Tian agak sedikit tidak percaya, namun karena Raja di sana dia berusaha untuk berfikir fositif ia awalnya menduga kalau Clara mulai nakal dan main di bar dengan teman-teman yang tidak bertanggung jawab.
"Mas udah, jangan mikirin yang enggak-enggak lagi, sekarang Clara tangung jawab Raja aku percaya kok sama dia, dia bisa jagain Clara wakilin kamu," ungkap Tara menenangkan sang suami.
"Iya, aku percaya Raja," jawab Tian.
Sementara itu di kamar Clara ...
"Kak, makasih ya udah bantuin aku bohong sama mama dan papa, kalau gak ada kak Raja aku gak tau bisa apa, aku gak bakal bisa beralasan gini," ujar Clara sambil menudukkan kepala di hadapan Raja.
Ya, Raja tadi malam nginap di rumah Bastian dan dia berbohong kepada orang tuanya kalau Clara saat itu ada di rumah Della temannya, dia bahkan meminta Della untuk menelepon mama Tara agar mama dan papa percaya.
"Itu bukan masalah lagi, tapi Lo juga gak seharusnya nginep di villa Linus," Raja benar-benar tidak tahan untuk marah.
"Gak ngapa-ngapain sama sekali kak, awalnya juga mau pulang cuman gak bisa karena hujan," jelas Clara sambil memegang tangan Raja.
"Lo gak tidur sekamar sama dia kan? Lo juga gak ngelakuin apa-apa kan? Maaf kalau pertanyaan gue agak jahat gini, tapi gue gak mau Lo sampai di apa-apain sama dia," Raja mulai mengintrogasi sang adik.
"Gak kak, gak ada yang terjadi sama aku dan Linus, gak ada apa-apanya, dan tadi aku ketemu sama mama nya," lirih Clara berbohong dan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mama nya? Bukan nya dia bilang kalau mama nya sedang di luar negri ya?" bingung Raja.
Clara teridam, ia lega karena Raja percaya bahwa di antara ia dan Linus benar-benar tidak ada yang terjadi dan kini terfokuskan kepada masalah lain.
"Rena, dia yang ngadu ke mama nya Linus tentang aku sama Linus ke villa pribadi itu, dan tante Maya langsung kembali tadi malam, tapi anehnya dia gak marah sama aku dan malahan suka pas aku bilang kalau aku ini putri tunggal Tian Chaseiro." Jelas Clara.
Raja menatap Clara dengan tatapan kesal, tak di sangka sang adik begitu polos mengatakan tentang kelaurga kepada Maya, wanita mata duitan dan gila kekayaan itu.
"Clara seharusnya Lo gak bilang ke Tante Maya soal siapa papa Lo, dia pasti tau sesuatu tentang papa, sehingga memeprlakukan Lo dengan baik kayak gini,dia itu wanita yang gila akan keausan dan harta, tapi gue mau tanya dia kenal dan curiga gak kalau Lo ini Cery?" oceh Raja.
Clara mengelengkan kepala nya menatap Raja dengan tatapan bersalah." Dia sama sekali gak kenal aku kak."
Raja sedikit merasa lega setelah mengetahui kalau Maya tidak mengenali Clara sama sekali, dengan begitu tidak ada orang yang akan menghalangi rencana Clara balas dendam dengan kelaurga Linus dan Rena yang sudah berhutang banyak dengan hidup nya.
"Yaudah, sekarang sebaiknya Lo istirahat dan mandi," Raja memilih keluar dari kamar Clara karena ingin memberikan waktu untuk sang adik beristirahat.
"Tap ..." Clara bahkan tidak sempat angkat bicara, sang kaka sudah keluar dari kamar itu.
Sejujurnya Clara hendak bertanya soal ucapan Linus di villa kemarin kepada Raja.
"Kalau gue nanyain sama kak Raja tentang dia yang suka sama gue dia marah gak ya? Tapi gimana kalau Linus bohong, ah udah lah lupain aja capek banget," Clara segera melupakan dan mengurungkan niatnya untuk bertanya soal itu kepada Raja.
Ia mengambil handuk nya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Sementara itu di sisi lain,
"Linus, kenapa kamu gak pacaran aja sama Clara?" sedari tadi mama Maya mencoba mengorek informasi hubungan Linus dan Clara ia berharap anak nya berpacaran dengan Clara agar bisa bekerja sama dengan perusahaan Tian grup secepatnya.
Mama Maya merasa kalau ia meminta bantuan Clara perusahaan mereka secepatnya akan segera bekerja sama dengan perusahaan Tian grup, namun tidak enak minta bantuan begitu saja kalau Clara dan Linus tidak ada ikatan sedikit pun.
Mama Maya juga membayangkan bagaimana keluarga mereka akan bertambah kaya raya jika Linus dan Clara di persatukan.
"Ma, sebaiknya mama keluar dari kamar aku, aku gak akan pacaran sama Clara karena keinginan mama," jawab Linus risih.
Sejujurnya rasa kecewa Linus semakin besar terhadap sang mama, bagaimana tidak, ia memaksa masuk ke dalam kamar sang anak hanya untuk mencari tau soal Clara, tidak terlihat sedikit pun rasa khawatir sang mama dengan keadaan tangan nya yang masih mengunakan arm Sling.
"Loh kenapa? Kalian bukanya deket banget? Kalau kamu pacaran sama Clara,mama gak akan repot-repot memenuhi perjanjian perjodohan mu dengan Rena, mama tau kamu gak suka kan sama Rena?" sambil berlagak seolah sangat perhatian terhadap perasaan anak nya, Maya mengelus punggung Linus.
Linus seketika berdiri dari duduknya, ia terlihat sangat marah sampai-sampai matanya memerah.
"Cukup ma! Aku ini bukan boneka yang seenaknya mama suruh-suruh! Dulu cuman gara-gara kelaurga Rena bantuin perusahaan kita mama dan kelaurga nya antusias banget buat jodohin aku sama Rena setelah lulus SMA."
Maya menatap Linus dengan tatapan tajam namun masih tidak bisa berkata-kata apa-apa.
"Sekarang setelah mama tau kalau kelaurga Clara lebih kaya dari keluarga Rena mama malah suruh aku buat deketin dan pacaran sama dia! Mama pikir aku ini akan terus nurutin mama? Aku gak mau ma! Aku gak mau nyakitin Clara, kalau pun aku punya perasaan dan pengen bersama sama dia itu karena aku beneran cinta!"
Dengan rasa kesal dan amarah yang memuncak, Linus tidak lagi bicara sopan dengan mama nya ia benar-benar tidak tahan terus berada di bawah kendali mama Maya yang sangat egois.
"Satu lagi, Clara itu pacarnya Raja, dan dia gak bakal suka sama aku selama Raja ada di samping nya, mama jangan banyak berharap," sambung Linus dengan nada suara rendah.
Plak! ...
Sebuah tamparan keras dari Maya berhasil mendarat tepat di pipi kiri Linus, wanita itu baru pertama kali nya mendapatkan perlawanan dari sang anak dan merasa tidak terima.
Bersambung ....