Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kediaman Nomor 444 dan Surat Tantangan Berdarah
Asrama Murid Luar sektor Barat adalah kawasan yang paling kumuh di seluruh hamparan sekte. Di sini, ribuan murid luar dari latar belakang rakyat jelata atau klan kecil ditempatkan. Tidak ada aturan tata krama yang kaku; yang ada hanyalah hukum rimba yang mentah. Siapa yang memiliki kepalan tangan lebih keras, dia yang mendapatkan kamar dengan letak energi spiritual (Qi) terbaik.
Lin Chen berjalan menyusuri koridor batu yang lembap. Berbagai tatapan penuh selidik dan permusuhan diarahkan padanya dari kamar-kamar yang dilewatinya. Jubah abu-abunya yang masih baru dan bersih menandakan bahwa ia adalah anak baru—mangsa segar.
Namun, saat mereka melihat plat kayu bertuliskan angka '444' di tangan Lin Chen, tatapan permusuhan itu seketika berubah menjadi tatapan kasihan dan ejekan.
"Hei, lihat. Anak baru itu dapat kamar 444," bisik seorang murid berwajah bopeng pada temannya.
"Hahaha, mati dia. Itu kan kamar yang terletak tepat di sebelah jalur pembuangan limbah alkimia. Qi di sana tidak hanya tipis, tapi juga beracun. Lagipula, tempat itu berada tepat di bawah wilayah kekuasaan Zhang Kuang."
Lin Chen mengabaikan bisikan-bisikan itu. Telinganya yang tajam menangkap setiap kata, namun ekspresinya tetap datar. Ia akhirnya tiba di ujung koridor paling gelap.
Kamar 444.
Pintunya terbuat dari kayu lapuk yang sebagian sudah digerogoti ngengat. Bau pesing bercampur aroma belerang menyengat hidung.
Kriet...
Lin Chen mendorong pintu itu terbuka. Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang batu keras, sebuah meja reot, dan jaring laba-laba di setiap sudut. Udara di dalam ruangan ini memang terasa keruh, dipenuhi oleh sisa-sisa racun dari tungku alkimia sekte yang dialirkan ke jurang di belakang kamar ini.
"Hmph, Sekte Pedang Awan Surgawi benar-benar memperlakukanmu seperti anjing buangan," cibir Mo Xuan di dalam kepala Lin Chen. "Udara di sini bisa merusak fondasi kultivasi seorang ahli Pengumpulan Qi tahap awal dalam waktu setahun."
"Hanya racun api sisa tungku alkimia. Bagi orang lain ini adalah racun mematikan, tapi bagi Seni Pemakan Surga Sembilan Naga..." Lin Chen melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Matanya memancarkan kilatan keemasan. "...ini hanyalah camilan gratis."
Lin Chen duduk bersila di atas ranjang batu. Ia memutar teknik kultivasinya. Udara beracun berwarna abu-abu kehijauan di dalam ruangan itu seketika tersedot ke dalam tubuhnya, dimurnikan secara brutal oleh Meridian Naganya menjadi seutas energi murni yang memperkuat fisiknya. Dalam waktu lima menit, kamar kumuh itu kembali memiliki udara yang bersih dan segar.
Baru saja Lin Chen berniat untuk memadatkan Qi di Dantiannya, sebuah suara ledakan kasar memecah ketenangan.
BRAAAK!
Pintu kayu lapuk kamarnya ditendang hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu melayang ke segala arah.
Tiga pemuda berwajah preman berdiri di ambang pintu, mengenakan seragam abu-abu yang sedikit dimodifikasi dengan lambang tengkorak kecil di kerahnya. Pemimpin mereka, seorang pemuda berambut cepak dengan bekas luka memanjang di pipinya, memancarkan kultivasi Ranah Pengumpulan Qi Bintang 3. Dua anak buahnya berada di Bintang 2.
Di Asrama Murid Luar, kultivasi Bintang 3 sudah cukup untuk menjadi seorang tiran kecil.
"Jadi kau yang bernama Lin Chen? Si sampah dari kota kecil yang menyinggung Kakak Senior Liu Meng'er?" Pemuda berambut cepak itu meludah ke lantai, tersenyum bengis. "Namaku Ma Liu. Kau beruntung hari ini Kakak Senior Zhang Kuang sedang sibuk, jadi dia mengutusku untuk menyambutmu."
Lin Chen membuka matanya perlahan. Ia bahkan tidak beranjak dari posisi duduknya. Matanya melirik sisa-sisa pintu kamarnya yang kini menjadi kayu bakar.
"Kalian merusak pintuku," ucap Lin Chen datar.
"Hahaha! Pintumu?!" Ma Liu tertawa terbahak-bahak, ditimpali oleh dua anak buahnya. Beberapa murid luar lain mulai berkerumun di lorong, menonton pertunjukan ini dengan antusias. "Bocah, kau belum sadar situasi, ya? Tidak hanya pintumu yang akan kancurkan, tapi juga seluruh tulang di tubuhmu!"
Ma Liu merogoh ke dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah perkamen berwarna merah darah, lalu melemparkannya ke wajah Lin Chen. Lin Chen dengan mudah menangkapnya dengan dua jari.
"Itu adalah Surat Tantangan Hidup dan Mati dari Kakak Senior Zhang Kuang!" Ma Liu menunjuk dengan arogan. "Zhang Han, murid yang kau buat cacat di kota sampahmu itu, adalah adik sepupu kesayangan Zhang Kuang! Kakak Senior Zhang sekarang sudah mencapai puncak Bintang 6 Pengumpulan Qi, penguasa absolut di sektor Barat ini!"
Ma Liu mendekat satu langkah, hawa membunuhnya menguar. "Kau punya dua pilihan. Pertama, kau merangkak seperti anjing, ikut denganku ke alun-alun, dan biarkan aku memotong kedua tangan dan kakimu sebagai permintaan maaf. Atau kedua, kau tanda tangani surat itu, naik ke Arena Hidup dan Mati saat matahari terbenam, dan biarkan Kakak Senior Zhang Kuang mengulitimu hidup-hidup di depan seluruh sekte!"
Kerumunan di luar lorong menahan napas. Zhang Kuang terkenal sangat sadis. Menantang murid baru ke Arena Hidup dan Mati di hari pertamanya... ini jelas pesanan dari petinggi sekte untuk melenyapkan Lin Chen secara "legal". Di atas Arena Hidup dan Mati, aturan sekte tentang larangan membunuh sesama murid tidak berlaku.
Lin Chen menatap perkamen merah darah di tangannya. Ia kemudian perlahan mengangkat pandangannya, menatap Ma Liu dengan senyuman yang sangat tenang... terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku akan memilih pilihan ketiga," bisik Lin Chen.
"Pilihan ketiga? Tidak ada pilihan ke—"
Sebelum Ma Liu sempat menyelesaikan kalimatnya, Lin Chen menghilang dari pandangannya.
WUSSS!
Hanya embusan angin yang terasa, dan detik berikutnya, tangan kanan Lin Chen sudah mencengkeram wajah Ma Liu dengan keras. Jari-jari Lin Chen menekan tulang pipi dan rahang pemuda itu layaknya tang baja.
"Uh—Mmph!" Ma Liu meronta panik. Ia mencoba mengalirkan Qi Bintang 3-nya, namun saat Qi-nya berbenturan dengan tubuh Lin Chen, energi itu seolah menabrak gunung besi—hilang tanpa jejak.
"Pilihan ketiga," suara Lin Chen bergema sedingin es abadi. "Kau dan anjing-anjingmu akan menggantikan pintuku yang hancur, dengan tulang kalian sendiri."
KRAAAK!
Lin Chen membanting wajah Ma Liu lurus ke lantai batu kamar. Lantai itu seketika retak parah. Hidung Ma Liu hancur, giginya rontok berhamburan. Darah menyemprot mewarnai lantai.
"Kakak Ma!" Dua anak buah Ma Liu terkejut setengah mati. Mereka serentak menghunus pedang mereka dan menebas dari sisi kiri dan kanan.
Lin Chen bahkan tidak repot-repot berdiri sempurna. Ia mengayunkan kaki kanannya dari posisi rendah dalam gerakan menyapu.
BAM! BAM!
Dua tendangan beruntun menghantam lutut kedua pemuda itu dengan presisi mutlak. Suara tulang kering yang patah terdengar sangat renyah di telinga para penonton di lorong. Kedua anak buah itu menjerit histeris dan jatuh berlutut, kaki mereka membengkok ke arah yang tidak wajar.
Hanya butuh tiga detik. Tiga murid elit sektor Barat kini mengerang tak berdaya di lantai kamar 444 seperti cacing yang terinjak.
Lin Chen berdiri tegak, menyeka sedikit debu di lengan bajunya. Ia sama sekali tidak melepaskan fluktuasi Qi di atas Bintang 1, murni hanya menggunakan sisa-sisa kekuatan fisik dari Mandi Darah Naga. Namun bagi para murid yang menonton, pemandangan ini ibarat melihat iblis yang turun ke bumi.
Lin Chen mengulurkan tangannya, memungut Surat Tantangan Hidup dan Mati yang tadi jatuh. Ia berjalan mendekati Ma Liu yang masih sadar meski setengah wajahnya hancur.
Dengan ujung sepatunya, Lin Chen mengangkat dagu Ma Liu.
"Dengar baik-baik, dan sampaikan ini pada majikanmu," ucap Lin Chen dengan suara yang menggema hingga ke lorong luar.
Sret! Lin Chen menggigit ujung jarinya dan mencap sidik jarinya yang berdarah di atas perkamen merah tersebut.
"Tantangan diterima. Katakan pada Zhang Kuang, saat matahari terbenam hari ini, pastikan dia membawa peti mati kayu kualitas terbaik. Aku tidak ingin mengotori Arena dengan daging cincangnya."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lin Chen menendang tubuh Ma Liu keluar dari kamar layaknya menendang kantong sampah, disusul oleh kedua anak buahnya.
"Enyah. Jangan halangi pemandanganku."
Lorong asrama itu menjadi sangat sunyi. Tidak ada satu pun murid yang berani bernapas keras. Tatapan mereka pada Lin Chen kini dipenuhi ketakutan absolut. Berita tentang murid baru yang mematahkan kaki anak buah Zhang Kuang dan menerima Tantangan Kematian seketika menyebar bak api liar, mengguncang seluruh Pelataran Luar Sekte Pedang Awan Surgawi dalam hitungan jam.
Di dalam kamar yang kini tak berpintu itu, Lin Chen kembali duduk bersila.
"Bintang 6 Pengumpulan Qi... bahkan jika dia punya sepuluh nyawa, dia tidak akan cukup untuk menahan satu tamparanmu," Mo Xuan mendengus pelan.
"Ini baru permulaan," Lin Chen memejamkan mata, memadatkan Qi emas di dalam Dantiannya. "Aku akan membunuh mereka satu per satu, dari bawah hingga ke atas, sampai sekte ini berlutut dan Liu Meng'er menyadari... siapa sebenarnya yang berada di dasar lumpur."