Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 5 - FIRONA (1)
Pesawat logam itu berhenti tepat di batas langit kota Firona. Posisinya menggantung diam, terlalu tinggi untuk dijangkau oleh para penjaga di bawah. Di jalanan kota, keadaan langsung kacau. Sebagian orang berlari ketakutan mencari tempat berlindung, sementara sisanya hanya terpaku, bingung dan bertanya-tanya tentang benda asing apa yang sedang mereka lihat.
Tiba-tiba, beberapa bagian sisi dari pesawat itu terbuka dan menampilkan lubang-lubang laras yang mencurigakan. Sesuatu keluar dari sana, melesat dengan sangat cepat ke arah pemukiman masyarakat.
BOOM! BOOM! BOOM!
Arta yang berada cukup dekat dengan kota dapat melihat ledakan demi ledakan yang terus menghujani Firona tanpa ampun. Rumah-rumah hancur berantakan. Debu-debu tanah berterbangan di langit hingga membuat suasana menjadi gelap, tetapi serangan terus diluncurkan hingga kota itu hampir rata dengan tanah dan puing-puing.
Semua orang yang ada di luar kota menyaksikannya dengan tubuh lemas. Beberapa pasukan kota ras Lizardman yang mengawal mereka langsung menjatuhkan senjata dan lari ketakutan.
Arta menyaksikan benda itu secara langsung. Jantungnya berdegup sangat kencang, tangannya dingin, dan ia melangkah maju dengan kaki yang bergetar hebat. Namun, langkah Cassian mendahuluinya.
"Ti- Tidak! Rumahku! Rakyatku!" teriak Cassian hancur. Ia berlari kencang menuju kota yang hancur itu, tanpa memedulikan tamu-tamu yang sebelumnya ia sambut dengan hangat.
Arta pun ikut berlari menuju kota, tepat di belakang Cassian. Pikirannya benar-benar kacau. Trauma mendalam terhadap teknologi asing dari bulan itu bangkit kembali, membuatnya ketakutan hingga tidak terpikirkan untuk melesat menggunakan sihirnya. Ia hanya bisa berlari dengan napas yang mulai terasa sesak.
"Arta! Tunggu!" teriak Elian yang kemudian menyusul dari belakang. Ia membawa pedang besi biasa yang ia ambil dari salah satu pasukan kota. Tidak hanya dia, bahkan anggota tim lainnya seperti Grom, Reldia, Lilia, dan Raylen juga ikut berlari bersama mereka.
Mereka memasuki gerbang kota yang sama sekali lagi. Namun, kali ini bukan suara atau tatapan canggung orang-orang yang menyambut mereka, melainkan teriakan dan tangisan dari orang-orang yang bisa selamat secara ajaib. Mereka merangkak di antara puing, menangis dan menjerit kesakitan menahan luka.
Dari tempat Arta berdiri saat ini, ia juga dapat melihat vila yang sebelumnya berdiri megah kini telah runtuh dan terbakar. Cassian yang berada di sampingnya langsung lemas dan tersungkur pingsan ke tanah.
Sebelum matanya terpejam, Cassian membisikkan kata-kata samar yang hampir tidak bisa didengar. Ia memanggil nama-nama keluarganya yang mungkin saja sudah tiada di dalam runtuhan vila itu.
"Tuan Cassian! Sadarlah!" ucap Elian panik sambil memeriksa kondisi Count muda itu.
Di tengah alun-alun kota yang sebelumnya indah karena ditumbuhi bunga taman, pesawat logam itu turun dengan pelan dan dingin.
Gerakannya begitu sunyi, seakan tidak memiliki rasa bersalah setelah merenggut ratusan nyawa orang-orang dalam sekejap.
Arta memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Tubuhnya mulai terasa lemas, tetapi ia memaksa kakinya untuk terus berjalan mendekati pesawat itu.
Sebuah pintu di pesawat itu terbuka. Enam sosok robot humanoid keluar dari sana dengan gerakan yang kaku dan teratur. Mereka dilengkapi dengan senjata dan perlengkapan logam yang sangat asing di mata orang-orang, tetapi Arta samar-samar mengingatnya. Bentuk mereka sama persis dengan yang ada di dalam video dokumenter dari Nebula dulu.
"Nebula... inikah musuh-musuh yang pernah kamu peringatkan?" bisik Arta dengan suara yang bergetar pelan. Ia berusaha keras menahan dirinya agar tidak jatuh tersungkur ke tanah.
Napas Arta semakin terengah-engah karena trauma itu. Kepalanya pusing, dan penglihatannya sesekali berputar tidak fokus.
Puk.
Sebuah tangan mendarat di pundaknya. Elian sudah berdiri di sebelahnya dengan napas yang juga memburu.
"Arta, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Elian dengan gugup. Tangan kanannya telah memegang erat gagang pedangnya, bersiap untuk bertarung menahan serangan musuh di depan mereka. "Kalau kamu tidak bisa fokus, menjauhlah dulu. Biar kami yang urus benda-benda logam ini!"
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat