NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:765
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Mata yang Terbuka

Raka masih berdiri di depan papan tulis.

Kapur di tangannya berhenti tepat di tengah kalimat yang belum selesai. Tulisan itu sederhana—rumus biasa, pelajaran biasa. Namun pikirannya… tidak lagi berada di ruang kelas itu.

Kalimat terakhir yang ia baca dari buku itu masih terngiang.

Tidak semua yang bisa dilihat… harus dilihat.

Ia menelan ludah.

Suara siswa di belakangnya terdengar samar, seperti datang dari tempat yang jauh. Tawa kecil, bisikan, gesekan kursi—semuanya terasa asing.

Sejak semalam… semuanya berubah.

Raka menarik napas panjang, lalu melanjutkan menulis.

Namun saat ia menoleh sedikit—

Ia melihat sesuatu.

Di sudut kelas.

Seorang siswa.

Duduk diam.

Menunduk.

Raka mengernyit.

Ia tidak ingat ada siswa yang

duduk di sana.

“Siapa itu…?” gumamnya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Ia mencoba fokus kembali.

Mungkin hanya halusinasi.

Mungkin efek kurang tidur.

Namun beberapa detik kemudian—

Ia kembali melirik.

Dan siswa itu… sudah mengangkat kepala.

Mata mereka bertemu.

Dingin.

Kosong.

Dan terlalu… diam.

Raka langsung membuang pandangan.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Jangan lihat terlalu lama…

Ia ingat itu.

Salah satu “cara” dalam buku itu.

Melihat terlalu lama… berarti mengundang.

Ia menutup matanya sejenak.

Menenangkan diri.

“Pak, lanjutkan dong…” suara seorang murid membuyarkan lamunannya.

Raka membuka mata.

“Ya… ya,” jawabnya cepat.

Ia kembali ke papan tulis, tapi tangannya sedikit gemetar.

Ketika pelajaran berakhir, bel berbunyi nyaring.

Siswa-siswa mulai keluar.

Raka berdiri diam, membereskan buku-bukunya.

Ia melirik lagi ke sudut kelas.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menghela napas lega.

“Mungkin aku cuma terlalu lelah…” bisiknya.

Namun saat ia berbalik untuk keluar—

Seseorang berdiri tepat di depan pintu.

Siswa yang tadi.

Wajahnya pucat.

Matanya gelap.

“Pak…” suaranya pelan.

Raka membeku.

“Iya…?” jawabnya hati-hati.

Siswa itu mendekat sedikit.

“Bapak… juga lihat mereka, ya?”

Dunia seperti berhenti sejenak.

Raka menatapnya.

“Siapa maksudmu?”

Siswa itu tersenyum tipis.

“Yang ada di sudut-sudut… yang muncul kalau kita tidak sengaja melihat terlalu lama.”

Raka tidak menjawab.

Siswa itu melanjutkan—

“Saya juga lihat, Pak… sejak saya menemukan buku itu.”

Napas Raka tercekat.

“Buku apa?” tanyanya cepat.

Siswa itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah buku tua.

Sampulnya… sangat familiar.

Raka mundur satu langkah.

“Itu… dari mana kamu dapat?”

Siswa itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap buku itu, lalu kembali ke Raka.

“Dari tempat yang sama seperti Bapak.”

Raka merasa tengkuknya merinding.

“Siapa namamu?” tanyanya.

Siswa itu tersenyum.

“Nama tidak terlalu penting, Pak.”

Ia lalu mendekat lebih dekat.

“Tapi yang penting… kita tidak sendirian.”

Raka menggeleng.

“Dengarkan saya,” katanya tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Kalau kamu sudah mulai melihat hal-hal aneh… berhenti. Jangan lanjutkan.”

Siswa itu tertawa kecil.

“Terlambat, Pak.”

Ia membuka buku itu.

Dan memperlihatkan halaman yang sama yang pernah Raka baca.

Cara ke-1.

Cara ke-2.

Cara ke-3.

Sampai—

Cara ke-10.

Raka langsung menutup buku itu dengan cepat.

“Jangan!” bentaknya.

Siswa itu terdiam.

Namun kemudian…

Ia tersenyum lebih lebar.

“Bapak takut?”

Raka menatapnya tajam.

“Aku tahu apa yang terjadi kalau kita melanjutkan.”

Siswa itu mengangguk pelan.

“Saya juga.”

“Lalu kenapa kamu masih melakukannya?”

Siswa itu terdiam sejenak.

Lalu menjawab dengan suara yang sangat pelan—

“Karena mereka tidak akan

berhenti… walaupun kita berhenti.”

Hening.

Kalimat itu menggantung di udara.

Raka tidak bisa menyangkalnya.

Ia sendiri sudah merasakannya.

Sekali pintu itu terbuka…

Tidak mudah untuk menutupnya kembali.

Tiba-tiba—

Lampu kelas berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu padam.

Gelap.

Raka menahan napas.

“Jangan panik…” katanya pelan.

Namun siswa itu tidak menjawab.

“Hey… kamu di mana?”

Tidak ada jawaban.

Raka meraba-raba dinding, mencari saklar.

Saat lampu kembali menyala—

Siswa itu sudah tidak ada.

Hilang.....

Seolah tidak pernah ada di sana.

Namun buku itu…

Masih tergeletak di lantai.

Raka menatapnya.

Ragu.

Ia tahu seharusnya ia tidak menyentuhnya lagi.

Namun perlahan…

Tangannya bergerak.

Mengambil buku itu.

Sampulnya terasa dingin.

Lebih dingin dari sebelumnya.

Ia membuka halaman pertama.

Tulisan itu masih sama.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Di bagian bawah halaman—

Muncul tulisan baru.

Tulisan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Kamu tidak bisa kembali setelah ini.”

Raka menelan ludah.

Tangannya gemetar.

Ia membalik halaman berikutnya.

Tulisan lain muncul.

“Tapi kamu masih bisa memilih… bagaimana menghadapinya.”

Napasnya semakin berat.

Ia menutup buku itu dengan cepat.

Tidak.

Ia tidak akan jatuh lebih dalam.

Ia harus berhenti.

Ia harus mencari cara untuk menutup semua ini.

Namun saat ia melangkah

keluar kelas—

Ia melihat lorong sekolah yang panjang itu.

Dan di sepanjang lorong…

Berdiri sosok-sosok.

Diam.

Menatapnya.

Puluhan.

Mungkin lebih.

Beberapa di antaranya adalah siswa.

Beberapa… bukan.

Raka membeku.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Wajahnya perlahan menjadi jelas.

Itu siswa tadi.

Tapi…

Matanya kini sepenuhnya hitam.

“Pak…” katanya pelan.

“Sekarang… Bapak sudah benar-benar melihat.”

Raka mundur selangkah.

Jantungnya berdegup kencang.

“Apa yang kalian mau?” tanyanya.

Sosok itu tersenyum.

“Kami tidak mau apa-apa.”

Ia mendekat.

“Kami hanya ingin… dilihat.”

Tiba-tiba—

Semua sosok itu bergerak.

Langkah mereka serempak.

Mendekat.

Semakin dekat.

Raka berbalik dan berlari.

Langkahnya menggema di lorong.

Namun lorong itu terasa semakin panjang.

Semakin gelap.

Dan suara langkah di belakangnya…

Semakin banyak.

Ia tidak berani menoleh.

Ia hanya berlari.

Berlari.

Berlari.

Sampai akhirnya—

Ia melihat cahaya di ujung lorong.

Pintu keluar.

Harapan.

Raka mengumpulkan sisa tenaganya dan berlari lebih cepat.

Namun saat ia hampir mencapainya—

Sebuah suara berbisik di telinganya.

“Kalau kamu keluar… kamu membawa kami.”

Raka berhenti mendadak.

Napasnya tersengal.

Ia menoleh perlahan.

Sosok-sosok itu kini berdiri tepat di belakangnya.

Sangat dekat.

Terlalu dekat.

Dan semuanya… tersenyum.

Raka memejamkan mata.

Ia tahu sekarang.

Ini bukan tentang lari.

Ini bukan tentang menghindar.

Ini tentang pilihan.

Perlahan, ia membuka matanya.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia tidak mengalihkan pandangan.

Ia menatap mereka.

Satu per satu.

Tanpa takut.

Tanpa lari.

Dan di saat itu—

Sesuatu berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!