Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terjebak
“Saya, Pak,” jawab Denis.
“Apa kamu sudah memastikan semuanya aman?” tanya Niko.
Denis terdiam, berpikir sebentar.
“Teralis sudah saya kunci, folding gate saya gembok, gudang memang sudah terkunci, Pak. Kuncinya juga saya bawa terus.”
“Kunci kamu bawa, Denis?” tanya Malik.
Mata Niko menyipit menatap Denis.
“Ya, kalau saya bawa terus, saya taruh di mana lagi, Pak?” jawab Denis.
“Siapa yang punya cadangan kunci?” tanya Niko.
“Bapak,” jawab Malik.
“Yang lain?”
Semua terdiam.
“Selain Bapak, enggak ada,” jawab Malik karena semua orang diam.
“Ruko ini kemalingan, tapi tidak ada satu pun pintu dan gembok yang rusak.”
“Maling sekarang canggih, Pak. Bisa membuka kunci tanpa jejak,” Denis mencoba menganalisis.
“Tapi kunci gudang kan pakai kode.”
“Yang tahu sandinya cuma aku sama kamu, Malik,” ucap Niko dengan tatapan curiga.
Malik tampak tak senang dituduh. Dia mengeluarkan ponselnya.
“Ini, Pak. Semalam saya mengantar istri saya kontrol, Pak.”
Malik memberikan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto dirinya dan istrinya yang sedang berada di rumah sakit, sekaligus menunjukkan bukti antrean.
“Denis, sebelum pulang apa ada yang mencurigakan?” tanya Niko.
Denis mengerutkan dahi. Semalam, sambil menjaga toko, dia bermain gim online sehingga sebenarnya tidak fokus. Namun, dia harus menjawab.
“Saya rasa tidak ada, Pak.”
Niko mengambil kunci gembok dan membolak-baliknya.
“Tidak ada kerusakan pada gembok. Ini benar-benar seperti dibuka dengan memakai kunci asli.”
Malik berdeham.
“Ada apa, Malik? Katakanlah,” ucap Niko yang masih mengamati gembok tanpa menoleh.
“Semalam saya pulang jam sebelas malam, Pak. Lampu ruko paling ujung masih menyala. Saya rasa kita harus memeriksa ruko itu, Pak.”
“Kenapa?”
“Mereka sudah beberapa hari mengontrak, tapi tidak berjualan apa-apa. Ini mencurigakan.”
Niko terdiam.
“Denis, coba kamu lihat-lihat sebentar ke sana. Yang lain lanjutkan aktivitasnya,” perintah Niko.
Denis melangkahkan kakinya menuju ruko tempat Amira.
Yang lain kembali menyebar ke area toko, melayani para pembeli yang tak seberapa.
Diam-diam Niko berjalan dan mengamati cara mereka berjualan.
“Udah harga pas, enggak bisa kurang,” ucap Lina.
“Yah, jualan kok enggak bisa ditawar,” kata pembeli.
“Ya udah, harga pas, Pak. Kalau Bapak enggak percaya, cari saja ke tempat lain.”
Niko berdeham.
“Ya, Bos? Ada apa?” ujar Lina.
“Bapak mau nawar berapa?” tanya Niko, mengabaikan Lina.
“Nah, gitu dong. Bos datang, temui pelanggan. Ini sound portable kok enggak bisa kurang, Bos?”
“Berapa Bapak nawarnya?” tanya Niko.
“Seratus ribu.”
“Masalah harga kita bicarakan belakangan. Tapi sebelumnya, silakan minum dulu,” ucap Niko.
“Nah, gitu dong. Kalau jualan ramah, jangan cemberut.”
“Sound ini mereknya bagus, Pak. Dijamin tahan lama. Harga Rp120.000 sudah termasuk garansi dua bulan. Kalau Bapak beli dua, baru harganya bisa Rp100.000 per unit. Kalau beli tiga, satuannya jadi Rp90.000,” jelas Niko.
“Wah, kalau tiga belum ada, Bos. Dua saja ya, Bos,” ucap pembeli.
“Baiklah. Kalau Bapak puas dengan barang ini, Bapak bisa order lagi dan menjadi reseller kami.”
“Wah, menarik. Terima kasih, Bos.”
Pembeli melakukan transaksi dengan lancar.
“Lina, kenapa kamu tidak memberi kelonggaran pada pelanggan?” tanya Niko.
Lina terdiam.
“Pak, kalau dijual dengan harga Rp100.000, saya enggak dapat komisi.”
“Loh, memang kamu enggak tahu harga aslinya berapa?”
“Rp100.000, Pak.”
“Masa sih?”
Kemudian Lina memberikan kertas daftar harga asli barang.
“Siapa yang buat ini?”
“Malik, Pak.”
“Oh, Malik ya,” ucap Niko. “Ya sudah, lanjut. Selanjutnya, kalau ada pelanggan minta penurunan harga, hubungi saya.”
“Loh, kata Malik enggak usah, Pak.”
“Siapa yang jadi bos di sini?” ucap Niko dengan nada kesal.
“Oh ya, Pak. Maaf. Baiklah kalau begitu.”
“Dari hasil penjualan tadi, kamu ambil komisi Rp10.000. Sisanya buat saya. Kalau kamu bisa meyakinkan pelanggan dengan harga yang kamu tawarkan, semua komisi buat kamu.”
“Oh, baik, Pak,” ucap Lina.
Tak lama kemudian Denis datang.
“Pak, saya menemukan ini.”
Denis memperlihatkan ponselnya.
“Apa itu?” tanya Niko sambil melihat gambar dan video yang ada di ponsel Denis.
“Pak, itu kan kunci ruko kita,” sahut Malik dari belakang.
“Ya, Pak. Saya juga kaget. Dua anak itu sedang memainkan kunci, Pak.”
“Wah, ini mencurigakan, Pak. Apa kunci cadangan Bapak ada?” tanya Malik.
Niko mengernyit, kemudian mengambil dompet dari laci mejanya.
“Iya kok enggak ada ya?” ucap Niko.
“Nah, kemarin-kemarin kan Bapak pernah main ke sana. Mungkin ketinggalan di sana, Pak,” ucap Malik.
Niko terdiam sambil mengerutkan dahi.
“Pak, bukankah ini kardus ponsel kita, Pak?” ucap Malik sambil menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan kardus ponsel.
“Wah, benar, Pak. Jangan-jangan barang-barang kita ada di sana, Pak,” lanjut Malik.
“Wah, kurang ajar! Mari kita ke sana,” ucap Niko.
Malik, Niko, dan Denis menuju ruko Amira.
Tampak Arjuna dan Dewi sedang bermain, menyusun bata-bata dan pasir.
Nanda duduk di teras ruko sambil mengorek-ngorek giginya.
“Wah, benar itu kardus ponsel kita, Pak!” teriak Malik.
Nanda melihat ke arah Malik dengan heran.
Kemudian Amira muncul sambil memegang ponsel.
“Wah, itu benar ponsel kita, Pak!” teriak Malik sambil menunjuk Amira.
Amira berjalan dengan tenang menuju Malik sambil memainkan ponselnya.
“Benaran, Pak. Wanita ini pencurinya,” tuduh Malik.
“Wah, cepat bawa dia ke kantor polisi, Pak!”
“Kenapa saya harus ke kantor polisi?” tanya Amira tenang.
“Kamu ini maling. Kamu harus ditangkap!”
“Maling teriak maling,” ucap Amira.
“Apa maksud kamu? HP itu milik toko kami. Jelas-jelas kamu mencurinya!”
“Hanya karena ponsel toko kamu ada pada saya, kamu mengatakan kalau saya maling? Bagaimana dengan bapak yang membeli sound di toko? Apa kamu akan bilang kalau dia juga pencuri?”
“Barang itu belum terjual dan sekarang ada di tangan kamu. Jelas kamu yang mencurinya!”
“Karena ponsel ini ada di tangan saya, dan karena ponsel ini belum terjual, kamu menuduh saya mencuri?”
Amira berjalan menuju Niko, lalu memasukkan ponsel itu ke saku baju Niko.
“Ponsel itu sekarang ada pada Pak Niko. Dengan logika kamu, aku bisa mengatakan kalau Pak Niko adalah pencuri.”
“Tidak bisa! Pak Niko pemilik toko. Mana mungkin dia pencuri?”
“Terus siapa dong pencurinya?”
“Ya, yang menaruh HP di kantong Pak Niko. Sama seperti Udin. Bukan Udin pelakunya, tapi orang yang menaruh barang pada Udin itulah pelakunya.”
“Banyak bicara! Barang sudah ada di tangan kamu, jelas kamu pencuri. Kamu hanya perempuan yang pandai bicara.”
Malik tak menyangka kalau wanita yang terlihat seperti gembel ini begitu pandai berargumen.
“Sudah, dasar maling kurang ajar!” ucap Malik sambil hendak menerjang Amira.
Namun, Niko menghalanginya.
“Santai dong, pencuri....”
“Kau berani menuduhku pencuri?” teriak Malik.
“Aku tidak menuduh. Sebentar lagi aku punya saksi sekaligus bukti.”
Lina berlari menuju ruko Amira, diikuti beberapa pria bertubuh kekar.
“Pak, dua orang ini cari Malik, Pak,” ucap Lina ketakutan.
“Kenapa kalian cari Malik?” tanya Niko.
Salah satu lelaki kekar itu melemparkan kardus ponsel ke hadapan Malik.
“Brengsek kau, Malik! Kenapa kau jual kardus ponsel isi bata, hah?”
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔