NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Lamaran di Ruang Tamu Lesehan

Langkah kaki Aiswa yang masih diselimuti rasa salah tingkah akibat bisikan Devan tadi, terpaksa berlanjut masuk ke dalam rumah.

Seperti biasa, ruang tamu kediaman keluarga Aiswa yang bergaya minimalis itu tidak memiliki sofa mewah. Hanya ada sebuah karpet bulu tebal bermotif geometris yang digelar rapi di atas lantai keramik, sebuah ruang tamu konsep lesehan yang hangat dan sederhana.

Bagi Devan Argian, atmosfer seperti ini tentu sangat asing. Namun, sang CEO tampaknya sama sekali tidak keberatan. Pria jangkung itu dengan santai melipat kaki panjangnya, duduk lesehan bersama Zianna di atas karpet.

Menariknya, konsep lesehan ini justru menjadi keuntungan besar bagi Zianna. Gadis kecil itu dengan sangat mudah menjangkau rak kayu rendah di sudut ruangan, tempat di mana Aiswa menyimpan "harta karunnya".

Mata bulat Zianna berbinar-binar saat jemari mungilnya menarik sebuah kotak besar berisi koleksi mainan. Di dalamnya ada boneka rajut, gantungan kunci flanel, hingga miniatur masak-masakan yang jumlahnya bisa dibilang sangat banyak untuk ukuran wanita dewasa seusia Aiswa.

"Tante Guru mainin ini semua?" tanya Zianna heran, menatap bolak-balik antara tumpukan mainan itu dan wajah Tante gurunya.

Aiswa yang baru saja meletakkan tasnya langsung terkekeh.

"Enggak dong, Sayang. Tante Guru cuma suka koleksi aja. Terus juga, kalau semisal ada anak murid Tante Guru yang datang ke rumah, jadi mereka bisa mainin ini," jelas Aiswa lembut sambil berjongkok di dekat Zianna.

"Berarti... Zianna mainin boleh dong?" pancing Zianna lagi, mendongak dengan tatapan memohon yang menggemaskan.

"Tentu boleh dong. Kalau kamu mau bawa pulang juga boleh banget," tambah Aiswa tanpa ragu.

"Serius, Tante Guru? Wah, senangnya!" Seru Zianna kegirangan sampai memeluk salah satu boneka rajut milik Aiswa.

Sebenarnya, jika dipikir-pikir, Zianna sama sekali tidak kekurangan mainan di rumah bak istana miliknya. Kamar bermainnya di mansion Argian dipenuhi oleh mainan edukasi impor yang harganya selangit.

Namun, tetap saja, memiliki dan membawa pulang barang milik Aiswa memberikan letupan kebahagiaan yang jauh berbeda bagi gadis kecil itu. Ada rasa kepemilikan dan kedekatan emosional yang tidak bisa dibeli dengan uang Devan.

Di ambang pintu pembatas ruang tengah, sosok Bunda berdiri tegak dengan melipat tangan di dada. Pandangan matanya menyipit tajam, meneliti sosok Devan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bunda sedang memastikan dengan saksama.

Apakah tuan muda kaya raya ini babak belur atau tidak?

Sebab, ingatan Bunda masih segar ketika Aiswa pamit pergi tadi pagi. Aiswa pergi dengan aura berapi-api seperti orang yang mau tawuran. Namun yang membuat Bunda heran bukan main, Devan justru duduk di sana dalam keadaan sehat walafiat, wangi, dan tampak luar biasa tampan.

Sebaliknya, justru Aiswa yang malah pulang-pulang sudah berganti pakaian dengan setelan baru yang sangat modis.

Merasa ada sesuatu yang mencurigakan, Bunda segera melangkah maju, lalu dengan gerakan cepat menarik lengan Aiswa untuk menjauh dari ruang tamu.

"Ais, ikut Bunda ke dapur sebentar. Bikin minum," bisik Bunda dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Begitu sampai di balik dinding dapur, Bunda langsung membalikkan tubuh Aiswa dan melakukan "sidak" kilat.

"Ais, jawab jujur sama Bunda," peringat Bunda dengan raut wajah super serius.

"Kenapa sih setiap kali kamu ketemu sama bapaknya Zianna itu, baju kamu pasti ganti? Pergi pakai baju apa, pulang pakai baju apa! Jangan macam-macam loh ya, Ais!"

Aiswa seketika menghela napas panjang. Kepalanya yang memang sudah pening pasca-menangis dan terkuras emosinya hari ini, rasanya semakin berdenyut.

Dengan setengah hati dan sisa tenaga yang ada, ia berusaha memberikan penjelasan logis agar Bundanya tidak berpikiran yang aneh-aneh.

"Bundaku yang paling cantik... Aiswa itu nggak ngapa-ngapain," keluh Aiswa sambil merogoh paper bag yang sejak tadi ditentengnya. Ia membuka bagian atasnya dan memperlihatkannya ke depan wajah Bunda.

"Tadi tuh di sana baju Ais ketumpahan kopi, Bun. Lihat nih nodanya masih ada."

Bunda melongokkan kepalanya, melihat noda kecokelatan yang memang tercetak jelas di pakaian lama Aiswa.

"Terus karena nggak nyaman, sama Pak Devan dibelikan baju baru di butik dekat sana. Ya udah deh, Ais ganti baju. Begitu ceritanya, Bunda," jelas Aiswa dengan nada meyakinkan, berharap interogasi ini segera berakhir.

Melihat bukti nyata di dalam paper bag tersebut, ketegangan di wajah Bunda berangsur mencair. Sifat protektif seorang ibu seketika digantikan oleh rasa lega.

"Oh... kirain kamu habis ngapain. Ya sudah, ini bawa minuman sama camilannya ke depan," ucap Bunda santai, beralih menata stoples kue di atas nampan.

Ketika Aiswa dan Bunda kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi teh hangat dan camilan, pemandangan di sana sukses membuat Aiswa kembali tertegun.

Aksara, adik bungsunya yang saat ini masih duduk di bangku SMA, terlihat tengah mengobrol dengan sangat seru dan intens bersama sang CEO bermuka dingin itu, yang tidak lain adalah Devan Argian.

Padahal, Aiswa tahu betul watak adiknya. Aksara adalah anak yang cerdas, namun biasanya dia tipe yang irit bicara, cuek, dan lebih banyak diam jika berada di sekitar orang baru. Namun kali ini? Aksara tampak begitu menggebu-gebu, mengimbangi setiap argumen yang dilontarkan oleh Devan.

Aiswa mencoba mendengarkan percakapan mereka saat meletakkan cangkir teh, namun sedetik kemudian ia langsung pusing sendiri.

Topik pembicaraan mereka terlalu dalam dan berat bagi kapasitas otak Aiswa yang sudah lelah. Intinya, percakapan itu berputar di sirkuit dunia bisnis, analisis pasar, dan strategi korporasi.

Aiswa mengerutkan keningnya, menatap Aksara dengan pandangan heran.

Sejak kapan adik bungsunya yang anak jurusan IPA ini mulai belajar soal bisnis dan ekonomi makro?

Sebuah pemikiran mendadak melintas di benak Aiswa. Jangan-jangan, selama ini Aksara terlihat cuek, diam, dan dingin di rumah bukan karena dia antisosial. Melainkan karena lawan bicaranya, termasuk Aiswa dan sang mantan, Aditya memang tidak ada yang bisa mengimbangi isi kepalanya.

Aksara tampaknya sengaja memilih diam daripada harus berbicara tentang hal-hal yang menurutnya tidak jelas atau tidak berbobot. Dan sore ini, Devan Argian hadir sebagai lawan bicara yang sempurna untuk memuaskan intelektualitas adiknya.

Menyadari kehadiran Aiswa dan Bunda yang baru saja meletakkan nampan, Devan perlahan menghentikan obrolannya dengan Aksara. Pria itu membetulkan posisi duduk lesehannya, menegakkan punggung, lalu mengubah atmosfer di ruangan itu dalam sekejap menjadi sangat formal dan sakral.

Pandangan mata Devan beralih menatap Ayah dan Bunda Aiswa yang kini sudah ikut duduk bersama di ruang tamu.

Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, dan tanpa aba-aba apa pun, sebuah kalimat meluncur mulus dari bibir sang CEO dengan nada yang teramat tenang, namun bergaung layaknya hantaman gada besi.

"Kedatangan saya mengantarkan Aiswa sore ini, sebenarnya sekaligus ingin menyampaikan niat baik saya yang tulus," ucap Devan, menatap langsung ke netra Ayah Aiswa.

"Di hadapan Ayah dan Bunda, saya, Devan Argian, ingin melamar putri kalian, Aiswa, untuk menjadi istri saya dan ibu bagi Zianna."

Hening.

Detik itu juga, waktu rasanya berhenti berputar di dalam ruang tamu tersebut.

Aiswa langsung melongo seketika. Seluruh tubuhnya menegang, membisu, dan matanya melotot sempurna menatap pria berjas di hadapannya. Untuk kesekian kalinya dalam hari yang melelahkan ini, Aiswa rasanya ingin pingsan saja dari kenyataan!

Jiwa Aiswa menjerit histeris. Bukan karena ia merasa senang atau terharu seperti perempuan di novel-novel romantis saat dilamar kekasihnya, melainkan karena rasa kesal dan syok yang sudah mencapai ubun-ubun!

Ya, Aiswa memang tahu betul kalau momen ini lambat laun akan datang, mengingat kesepakatan dan kedekatan mereka.

Tapi ya tidak hari ini juga, Malih! Tidak di saat matanya masih sembap habis menangis, tidak di saat ia masih memakai baju baru yang bahkan belum dicuci, dan sama sekali tidak dalam situasi "gedebak-gedebuk" pasca-drama labrak-labrakan tadi siang!

Ya Allah... kenapa hari ini hidup saya rasanya seperti wahana roller coaster yang remnya blong? Gedebak-gedebuk banget! tangis Aiswa menjerit pilu di dalam hatinya, sementara wajahnya di luar hanya bisa tertegun kaku menanti jawaban dari kedua orang tuanya.

1
Lisa
😊 Aiswa ada² aj nih disuruh naik mobil malah milih angkot 🤭
Ai_Li: Agak laen ga tuh Aiswa🤣
Terima kasih sudah mampir kakak🥰
total 1 replies
Vira Ajaa
ceritanya menarik,tidak bertele2 dan bikin baper
Ai_Li: Terima kasih kakak sudah mampir
semoga suka ceritanya, dan baca terus sampe tamat
total 1 replies
Lisa
😊 Ada aj yg bikin ketawa jika mereka bersama
Lisa: Sama² Kak Ai..😊
total 2 replies
Lisa
Pak Duda yg posesif nih 🤭😊
Ibu² kang Halu🤩
pak duda menang tipis tipis yaaa🤩 mulai gandengan nih pak duda kita🤩🤩🤩
Ibu² kang Halu🤩
nah nah nah, terkaget-kaget kau kan nenek rempong😆😆😆
Lisa
Wah siapa tuh yg dtg
Ai_Li: wihhh siapa ya hehehehe🤭
total 1 replies
Ibu² kang Halu🤩
satu bab lagi boleh kak????, mau tahu tempe aku, apakah nenek2 itu akan menciut nyalinya saat berhadapan sama pak duda kita🤩🤩🤩
Ai_Li: jawabannya ada di bab berikutnya kak hehehehe
total 1 replies
Lisa
Terima Aiswa lamaran dr papanya Ziana..
Lisa
Seru banget Kak..bagus ceritanya..semangat y Kak 💪😊
Lisa: Sama² Kak Ai..pasti aq baca sampai tamat Kak 😊
total 2 replies
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!