NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sentuhan Kecil, Skenario Duda, dan Potret Keluarga Bahagia

Aiswa merasakan sentuhan halus yang berulang kali mendarat di pipinya. Sentuhan jemari mungil yang hangat, menepuk-nepuk pelan kulit wajahnya seolah berusaha mengusik kenyamanan tidurnya.

Kelopak mata Aiswa bergerak perlahan, mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa kantuk dan pusing yang tersisa di kepalanya.

Ketika retinanya berhasil menangkap dengan jelas siapa sosok pelaku utama yang membuatnya terbangun, sebuah senyuman tulus langsung terukir di bibir Aiswa. Tangannya terulur lembut, mengelus rambut halus gadis kecil di hadapannya.

"Zianna? Kok bisa ada kamu di sini, Sayang?" tanya Aiswa dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Kesadarannya belum pulih total, membuat fungsi otaknya lambat memproses keadaan. Aiswa bahkan sama sekali tidak menyadari jika posisi tubuhnya saat ini masih bersandar dengan sangat nyaman di dada bidang Devan.

Ya, Devan duduk tepat di antara Zianna dan Aiswa di kursi penumpang bagian belakang. Bahkan saat ini, tubuh mungil Zianna berada dalam pangkuan nyaman papanya.

"Iya, Tante Guru!" sahut Zianna dengan nada suara yang sangat antusias, matanya berbinar cerah.

"Papa jemput Zianna di rumah tadi, katanya ada Tante Guru mau diajak main bareng. Zianna senang banget dong!"

Mendengar kata 'Papa' dan 'jemput', kesadaran Aiswa seketika melesat pulih 100 persen. Ia menoleh ke samping dan sedetik kemudian, manik matanya langsung bertubrukan dengan tatapan intens Devan yang sejak tadi memperhatikannya dari jarak super dekat.

Aiswa tersentak hebat. Begitu sadar dirinya telah menjadikan dada sang CEO sebagai bantal darurat, ia langsung menjauhkan tubuhnya dengan gerakan patah-patah yang panik. Ia berdehem kecil beberapa kali, berusaha mati-matian menutupi rasa terkejut dan salah tingkahnya yang luar biasa.

Aiswa memijat pelipisnya, mencoba mengingat kronologi kejadian sebelum dia pingsan karena tidur.

Seingat gue tadi peluk Shena di parkiran restoran sambil nangis, kan? Kenapa sekarang pas bangun malah ada di pelukan bapaknya Zianna?! Ya Allah, malu-maluin banget! Mana tadi sebelum tantrum gue sempat marah-marah dan menunjuk-nunjuk mukanya lagi. Ini malah ketiduran sambil meluk dia! batin Aiswa menjerit frustrasi, rasanya ingin tenggelam saja ke dasar bumi.

"Tapi Tante Guru kelihatan capek sekali, ya? Tadi tidurnya enak banget sambil peluk Papa," celetuk Zianna dengan polosnya.

Kalimat jujur tanpa filter dari bocah itu sukses membuat mata Aiswa melotot sempurna.

Wajahnya yang semula pucat karena habis menangis kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Dia benar-benar malu sampai ke ubun-ubun! Di seberangnya, Devan hanya menyunggingkan senyum miring yang begitu tipis, sangat menikmati kepanikan gila gadisnya.

"Eh... e-enggak kok, Zianna sayang. Tante Guru nggak capek, tadi cuma... cuma kelilipan aja makanya merem," kilah Aiswa asal-asalan dengan kegugupan yang teramat ketara.

Perasaan malunya membuat ia salah tingkah setengah mati, tangannya bingung harus memegang apa.

Melihat ekspresi panik Aiswa, Zianna justru memiringkan kepalanya dan kembali berucap dengan nada manis.

"Tante Guru, Zianna nggak apa-apa kok berbagi Papa buat Tante Guru peluk. Kalau sama Tante Guru, Zianna bakal kasih apa pun yang Zianna punya."

Mendengar pernyataan luar biasa dari anak usia prasekolah itu, jantung Aiswa serasa mau copot.

Khawatir Zianna akan mengeluarkan skakmat-skakmat ajaib lainnya yang bisa membuat Devan semakin di atas angin, Aiswa dengan gerakan refleks langsung membekap mulut kecil Zianna menggunakan telapak tangannya secara halus.

"Sshhh... Zianna sayang, diam dulu ya," bisik Aiswa panik.

Dengan cepat, ia mengangkat tubuh Zianna dari pangkuan Devan dan memindahkannya ke atas pangkuannya sendiri. Aiswa sengaja memutar posisi duduk mereka agar menghadap ke jendela luar mobil, membelakangi Devan sepenuhnya.

"Zianna... tadi pagi sekolah nggak?" tanya Aiswa buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum harga dirinya hanyut tak bersisa.

"Sekolah, Tante! Tadi itu ada temen Zianna yang menangis kencang banget karena nggak mau ditinggal sama mamanya di depan kelas," cerita Zianna.

Gadis kecil itu mulai terpancing masuk ke dalam topik baru. Dan akhirnya, obrolan antara guru dan murid itu mengalir dengan seru. Keduanya tampak tenggelam dalam obrolan dunia anak-anak yang penuh keceriaan.

Melihat pemandangan di depannya, senyum Devan kembali terukir. Kali ini, senyuman itu terlihat begitu tulus dan hangat, menghilangkan kesan dingin yang biasanya melekat erat pada garis wajahnya.

Sementara itu, di kursi kemudi bagian depan, Lucas yang sejak tadi bertindak sebagai sopir darurat mencuri pandang lewat kaca spion dalam. Matanya menatap haru pemandangan di baris belakang.

Lucas sudah bekerja menjadi asisten pribadi Devan dalam waktu yang cukup lama, bahkan sejak sebelum Devan menikah dengan mendiang ibu kandung Zianna.

Lucas tahu benar bagaimana hancurnya sang bos di masa lalu. Setelah ibu Zianna meninggal dunia, bosnya itu bertransformasi menjadi sosok yang kaku, kejam, dan sama sekali tidak pernah mengulas senyum.

Wajahnya selalu datar seperti robot korporat. Namun hari ini, kehadiran seorang Aiswa terbukti mampu membawa kembali senyuman yang telah lama hilang itu.

Kehangatan, ketulusan, dan keceriaan alami yang dimiliki Aiswa sanggup mencairkan dinding es tebal yang membentengi sisi dingin sang CEO, meskipun Lucas juga sadar betul bahwa kelakuan gadis TK ini terkadang memang sedikit berada di luar nalar.

Beberapa puluh menit membelah kemacetan, mobil mewah itu akhirnya berhenti dan terparkir sempurna di sebuah kawasan taman wisata wahana permainan terbesar di tengah kota.

Mereka bertiga turun dari mobil. Begitu kakinya memijak tanah, Zianna langsung menggandeng jemari Aiswa dengan erat.

"Tante Guru, Zianna ajak main ke sini nggak apa-apa, kan, sebelum kita pulang ke rumah?" tanya Zianna sambil mendongak, memasang wajah memelas yang sangat menggemaskan.

Aiswa hanya bisa mengulas senyum pasrah. Ya, bagaimana dia bisa menolak jika posisinya sekarang mereka sudah berdiri tepat di depan gerbang tiket masuk?

Ini anak strateginya benar-benar turunan bapaknya banget! Tahu aja cara menjebak orang dengan halus, batin Aiswa mendengus geli.

Akhirnya, mereka mulai melangkah masuk ke dalam area wahana permainan. Sore itu, kompleks taman wisata tampak sangat ceria dengan lampu-lampu neon yang mulai menyala warna-warni.

Suasana sedih dan sesak yang sempat mendera Aiswa akibat kejadian dengan Aditya di restoran tadi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh tawa renyah Zianna.

Mereka mulai mencoba berbagai wahana. Dimulai dari komidi putar raksasa yang lambat, di mana Zianna duduk di atas replika kuda putih sementara Aiswa berdiri di sampingnya menjaganya sambil sesekali tertawa lepas.

Devan? Pria bermata elang itu hanya berdiri di luar pagar pembatas, melipat kedua tangannya di dada sambil terus mengunci pandangannya pada dua sosok berharga di hidupnya dengan senyuman yang enggan luntur.

Keseruan berlanjut saat mereka naik wahana kereta mini yang memutari taman. Zianna bersikeras ingin duduk di tengah, menjepit Aiswa di sisi kiri dan Devan di sisi kanan.

Sepanjang perjalanan kereta, Zianna tidak berhenti mengoceh dan menunjuk badut-badut yang melintas. Di satu momen, ketika kereta berbelok tajam, tubuh Aiswa sempat oleng dan menabrak bahu kokoh Devan. Bukannya menjauh, Devan justru dengan sigap merangkul pundak Aiswa, menahannya agar tetap aman di posisinya sampai kereta berhenti. Tatapan mereka sempat bertemu di balik keremangan cahaya taman, menyisakan debaran halus yang membuat Aiswa buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak panas.

Mereka terlihat begitu seru, bahagia, dan membaur satu sama lain. Bagi mata-mata asing pengunjung taman yang melintas di sekitar mereka, ketiganya terlihat seperti sebuah potret keluarga kecil yang sangat harmonis dan bahagia. Kombinasi antara ayah yang tampan berwibawa, ibu yang cantik nan ekspresif, serta anak perempuan yang sangat menggemaskan.

Setelah puas menjajal beberapa wahana yang ramah anak, Zianna tiba-tiba menghentikan langkah kakinya di depan sebuah spot foto berlatar belakang istana lampu yang megah.

"Tante Guru! Ayo kita foto bareng!" seru Zianna sambil menarik-narik ujung baju butter milik Aiswa. Ia kemudian menoleh ke arah papanya.

"Papa, ayo ke sini! Kita selfie bertiga!"

Aiswa sempat tersentak ragu.

"Eh, Zianna... Tante Guru foto berdua sama Zianna aja, ya? Biar Papa yang fotoin kita," bujuk Aiswa halus, merasa agak canggung jika harus berfoto bersama Devan dalam satu bingkai.

Namun, bukan Devan namanya jika tidak memanfaatkan peluang emas ini. Tanpa menunggu persetujuan Aiswa untuk kedua kalinya, Devan sudah melangkah maju dan berdiri tepat di sisi kanan Aiswa. Tubuh jangkung pria itu merapat, memangkas jarak di antara mereka hingga lengan mereka saling bersentuhan.

Devan mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk mengambil sudut pandang selfie yang pas.

"Zianna di depan, lihat ke kamera," perintah Devan dengan suara baritonnya yang tenang.

Mau tidak mau, Aiswa akhirnya menurut. Ia hanya bisa menghela napas pasrah dan mencoba memasang senyum terbaiknya di depan kamera. Zianna tersenyum lebar sambil membentuk pose dua jari di depan dada.

Tepat sebelum tombol rana ditekan, Devan sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Aiswa, sementara tangan kirinya yang bebas diam-diam bergerak di balik punggung Zianna, melingkar lembut di pinggang Aiswa, menarik gadis itu sedikit lebih merapat ke tubuhnya.

Cekrek!

Satu buah potret berhasil diabadikan. Di dalam layar ponsel tersebut, terekam dengan sangat jelas sebuah gambar yang begitu epic. Zianna yang tertawa riang di bagian depan, Aiswa yang tersenyum manis dengan sedikit gembung di pipinya yang menggemaskan, serta Devan yang menatap lurus ke arah kamera dengan senyuman paling menawan dan bahagia yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Sebuah potret masa depan yang diam-diam sudah Devan kunci di dalam hatinya.

***

Hai teman-teman apa kabar?

Gimana menurut kalian bab ini? Seru gak?

Oiya temen-temen asalnya dari mana nih

Yuk tulis di kolom komentar

Salam hangat dari Author🥰

jangan lupa tinggalkan jejak, berupa like vote and coment

Yukk follow akun Author, Terima kasih🥰

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!