NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Sekar langsung membeku. “Apa?” suaranya hampir tidak terdengar, tapi penuh keterkejutan. Ia menatap Aji cepat. “Belum sekolah?”

Aji mengalihkan pandangan, wajahnya terlihat tidak nyaman.

Sekar menelan ludah. Dadanya terasa semakin berat. “Kenapa nggak bilang ke aku?” tanyanya, kali ini lebih tegas. Tidak ada jawaban langsung. Yang ada hanya keheningan yang canggung.

Mila keluar dari dapur, meletakkan minuman di meja tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar, seolah topik itu bukan sesuatu yang penting.

“Aji lagi belum dapat kerja,” akhirnya ibu itu yang menjawab. “Sekarang juga makan masih di sini.” Kalimat itu seperti palu yang menghantam pelan tapi berkali-kali.

Sekar menatap Sea lagi. Anak itu duduk diam, kecil, kurus… dan ternyata tidak sekolah. Padahal usianya sudah seharusnya masuk SD. Hatinya seperti diremas. Bukan hanya marah. Bukan hanya kecewa. Tapi… hancur. Ia menarik napas dalam, berusaha menahan emosinya tetap di tempat. Bukan sekarang. Bukan di depan Sea. Tangannya kembali menggenggam tangan kecil itu, lebih erat dari sebelumnya. Dan dalam hatinya, satu tekad itu muncul lagi, kali ini lebih kuat. Sea aku nggak akan biarin kamu seperti ini lagi.

Sore itu perlahan meredup, cahaya matahari yang tadi masuk dari jendela kini berubah menjadi semburat keemasan yang tipis, membuat suasana ruang tamu terasa semakin sendu. Sekar masih duduk di samping Sea, jemarinya tidak pernah benar-benar lepas dari tangan kecil itu, seolah ia takut jika ia lengah sedikit saja, anak itu akan kembali menjauh darinya.

Ia menatap wajah putrinya lama, mencoba menyimpan setiap detail—mata yang kini tampak lebih sayu, pipi yang sedikit lebih tirus, dan sikap diam yang terasa asing bagi anak seceria Sea dulu. Dengan suara yang ia jaga tetap lembut, Sekar membungkuk sedikit dan berbisik, “Ibu… mau ajak kamu pulang dulu ya.” Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Sekar, itu seperti doa yang akhirnya menemukan jalannya. Sea tidak langsung menjawab.

Anak itu hanya menatap Sekar dengan ragu, seperti menimbang sesuatu di dalam kepalanya, kebiasaan baru yang langsung menusuk hati Sekar. Dulu, Sea akan langsung melompat ke pelukannya tanpa bertanya apa pun. Kini, ia seperti harus meminta izin pada dunia yang salah.

Sebelum Sekar benar-benar berdiri, suara mantan ibu mertuanya memotong suasana dengan nada yang lebih tegas, seolah pembicaraan penting memang sudah menunggu untuk disampaikan sejak tadi. “Sekar,” panggilnya.

Sekar menoleh perlahan, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meski hatinya mulai tidak nyaman. Perempuan itu menarik napas panjang, lalu menatap Sekar dengan cara yang sulit dijelaskan, tidak sepenuhnya dingin, tapi juga jauh dari hangat.

“Kita ini keluarga,” katanya membuka, nadanya terdengar seperti wejangan, “harusnya bisa saling bantu.” Sekar diam, menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan itu, dan benar saja, kalimat berikutnya datang tanpa jeda. “Mila sebentar lagi melahirkan. Kamu lihat sendiri kan kondisinya.”

Sekar sempat melirik ke arah Mila yang duduk diam dengan perut besar, wajahnya lelah namun tetap tanpa ekspresi.

“Aji juga belum kerja,” lanjut ibu itu, semakin lugas. “Nggak mungkin dia nanggung semuanya, anak sama istri yang mau melahirkan.” Setiap kata terasa seperti beban yang ditumpuk perlahan, sampai akhirnya inti dari semuanya disampaikan tanpa lagi dibungkus halus. “Jadi untuk sementara… kamu tangani dulu soal Sea.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Sekar menatap perempuan itu, tidak langsung menjawab, karena di dalam dirinya ada dua perasaan yang saling bertabrakan. Di satu sisi, ini adalah hal yang ia inginkan sejak lama, kesempatan untuk membawa Sea, untuk merawat anaknya tanpa batasan, tanpa harus mencuri waktu atau bersembunyi. Tapi di sisi lain, cara itu disampaikan membuat hatinya perih. Ini bukan pengakuan atas haknya sebagai ibu. Ini bukan permintaan dengan hormat. Ini seperti… beban yang dialihkan, tanggung jawab yang dilemparkan karena mereka sudah tidak sanggup menanggungnya.

“Daripada membebani kami terus,” lanjut ibu itu tanpa sadar menambah luka, “lebih baik kamu yang urus. Kamu kan sekarang… sudah mampu.”

"Bu!" tiba-tiba Aji yang sejak awal diam menyela. "Sekar tetap saya yang jaga. Mila pasti sanggup. Iya kan, Mil!" Aji menatap istrinya dengan tegas, tak memberi ruang untukku mendapatkan Sea.

Sekar menunduk sebentar, menarik napas panjang untuk menahan gejolak di dadanya. Ia ingin marah. Ingin bertanya kenapa selama ini Sea tidak sekolah dan tidak pernah diberi tahu. Ingin menuntut kenapa anaknya harus sampai berada di kondisi seperti ini. Tapi di sampingnya, ada Sea, duduk diam, mendengarkan, mungkin memahami lebih dari yang seharusnya anak seusianya pahami. Dan itu cukup untuk membuat Sekar menelan semua emosinya kembali. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, menatap mantan ibu mertuanya dengan ketenangan yang ia paksa dari dalam dirinya. “Baik, Bu,” jawabnya akhirnya, singkat, tanpa nada tinggi, tanpa perlawanan. Ia tidak butuh pengakuan dari mereka. Ia hanya butuh anaknya.

Sekar lalu menoleh ke Aji. Lelaki itu tidak berani menatapnya, hanya duduk diam dengan wajah yang sulit dibaca. Sekar tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Semua sudah terlalu jelas. Ia kembali menatap Sea, mengusap lembut pipi anak itu dengan kasih sayang yang selama ini tertahan. “Ayo, Sayang,” bisiknya pelan, kali ini dengan keyakinan yang lebih kuat, “kita pulang.” Sea masih ragu sejenak, tapi akhirnya berdiri. Perlahan… lalu mendekat pada Sekar, membiarkan tangannya digenggam. Hangatnya terasa nyata di telapak tangan Sekar, dan itu cukup untuk membuat dadanya sesak oleh rasa haru yang tak bisa ia keluarkan. Ia berdiri, berpamitan singkat tanpa banyak kata, karena ia tahu jika ia berbicara lebih lama, emosinya bisa runtuh di tempat itu.

Langkahnya menuju pintu terasa berbeda dari saat ia datang tadi. Tadi ia melangkah dengan penuh ketegangan, dengan luka yang masih terbuka, dengan ketakutan akan kemungkinan terburuk. Tapi sekarang… ia melangkah membawa sesuatu yang paling ia perjuangkan selama ini. Sea berjalan di sampingnya, kecil, diam, tapi nyata. Lita mengikuti di belakang, tetap setia tanpa banyak bicara. Saat Sekar melewati ambang pintu itu, ia tidak menoleh lagi. Tidak pada Aji, tidak pada Mila, tidak pada rumah yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Karena ia tahu, apa yang ia bawa keluar dari sana hari ini bukan sekadar anaknya, tapi juga awal dari perubahan besar dalam hidup mereka berdua. Dan di dalam hatinya, Sekar menyadari satu hal dengan sangat jelas, ini bukan akhir dari perjuangannya. Ini justru awal. Dan kali ini, ia tidak hanya akan bertahan. Ia akan memperjuangkan Sea sepenuhnya.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!