NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Lora

Matahari pagi itu muncul dengan wajah pucat, seolah enggan menyaksikan sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan oleh hujan darah. Meski sinarnya tidak seterik biasanya, kehadirannya membawa kelegaan luar biasa bagi penghuni Mansion Quizel. Cahaya ultraviolet yang terpancar mulai membersihkan aspal dari gerombolan zombi yang sebelumnya memenuhi jalan raya; mereka kini merangkak mundur, mencari perlindungan di lorong-lorong sempit, gudang bawah tanah, atau gedung-gedung tinggi yang tidak terjamah sinar matahari.

Di aula utama mansion, suasana terasa sangat formal dan disiplin. Elara berdiri di tengah ruangan dengan setelan taktis berwarna hitam karbon yang membungkus tubuh rampingnya. Di sampingnya, Leonard berdiri tegak seperti pengawal abadi, tangannya sesekali menyentuh hulu pedang raksasanya.

Elara menatap satu per satu tim intinya. "Hari ini adalah fase pertama ekspedisi kita. Hujan sudah reda, dan matahari adalah sekutu kita sementara waktu. Kita akan berpencar untuk menyisir kota. Kita harus mencari apakah masih ada penyintas yang layak untuk direkrut atau sumber daya yang tertinggal."

Ia mengarahkan pandangannya pada Herra dan Tobi. "Herra, Tobi, kalian ambil distrik barat. Wilayah itu dipenuhi gedung akademik dan laboratorium. Tobi, kecepatanmu adalah kunci, tapi dengarkan aku baik-baik: jangan ceroboh. Simpan energimu untuk hal-hal mendesak. Jika situasi tidak memungkinkan, segera mundur."

Tobi mengangguk mantap, wajah remajanya kini tampak jauh lebih dewasa. "Dimengerti, Nona Elara. Aku akan menjadi bayangan yang tak tersentuh."

"Aku dan Leonard akan menuju distrik selatan," lanjut Elara. "Sarah, Arkan, Pak Jaka, dan Pak Bara, kalian tetap di sini. Jaga benteng ini dengan nyawa kalian. Ingat, ancaman bukan hanya datang dari monster di luar, tapi juga dari penyintas yang mulai putus asa dan ingin merebut tempat ini. Gunakan sistem keamanan yang sudah dibangun Bara dan deteksi Arkan untuk memantau radius satu kilometer."

Setelah pembagian tugas selesai, dua kendaraan taktis hasil modifikasi Bara menderu keluar dari gerbang mansion, membelah keheningan kota yang kini menyerupai makam raksasa.

Wilayah Barat

Kendaraan taktis yang dikemudikan Herra berhenti tepat di depan gerbang utama sebuah fakultas ternama di distrik barat. Jalanan di sana sunyi senyap, hanya ada tumpukan kendaraan yang bertabrakan dan noda merah kering yang melapisi beton.

Tobi turun lebih dulu, kakinya nyaris tak bersuara saat menyentuh tanah. "Apa di dalam masih ada yang selamat, Kak?" tanyanya ragu sambil menatap gedung universitas yang menjulang suram.

Herra mengikuti di belakang, jemarinya berada di dekat pelatuk senapan serbu modifikasinya. "Harusnya masih ada yang terjebak. Tapi ingat, Tobi, karena matahari sudah muncul, semua zombi yang tadinya di jalan pasti masuk ke dalam gedung. Mereka akan berkumpul di tempat gelap yang tidak terpapar cahaya."

"Tapi kak, ga mungkin kita periksa ruangannya satu per satu. Itu butuh waktu lama, belum lagi risiko terkepung," Tobi menoleh ke arah pintu masuk yang gelap gulita seperti mulut monster.

DUAARRR!!

Tiba-tiba, suara ledakan hebat menggetarkan kaca-kaca gedung dari lantai atas. Sebuah kilatan api membubung keluar dari salah satu jendela di lantai lima.

"Itu bukan ledakan gas," ujar Tobi cepat, matanya membelalak. "Itu kemampuan spesial tipe api!"

Herra mengangguk setuju, matanya menyipit. "Seseorang sedang bertarung di atas sana. Kita tunggu di sini. Orang itu pasti sadar kehadiran kita jika dia cukup kuat."

Belum sempat Herra menyelesaikan kalimatnya, jendela di lantai lima terbuka lebar. Seorang wanita dengan rambut berantakan namun tatapan mata yang tajam muncul. Tanpa peringatan, ia menembakkan bola api besar yang menghantam aspal tepat satu meter di depan Herra sebagai bentuk peringatan.

Herra dengan tenang mundur satu langkah, tidak menunjukkan rasa takut. Ia melihat wanita di atas sana mulai melambaikan tangan, memberikan isyarat darurat.

"Lantai lima," gumam Herra. Ia melihat wanita itu mulai menurunkan seutas tali dari jendela. Tali itu tampak seperti sambungan kain-kain yang diikat kuat, namun panjangnya terbatas. "Lihat, talinya hanya sampai lantai dua. Masih kurang satu lantai lagi untuk mencapai jarak lompat yang aman."

Wanita di atas tampak ragu. Herra segera menggunakan bahasa isyarat taktis yang sudah dipelajarinya, bergerak dengan gerakan tangan yang lugas. 'Lompat saja. Kami akan menangkapmu. Percayalah!'

Herra tidak ingin berteriak karena suara bisa memancing mutan Stalker yang mungkin bersembunyi di balik bayangan gedung. Wanita itu tampak mengerti. Pertama-tama, ia melemparkan tas ransel miliknya. Tobi bergerak secepat kilat, menangkap ransel itu sebelum menyentuh tanah.

Kemudian, wanita itu mulai turun perlahan. Saat ujung tali tercapai di lantai dua, ia menarik napas panjang, menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak, dan melompat.

HUP!

Herra dan Tobi menangkapnya dengan sempurna. Kekuatan fisik mereka yang sudah berevolusi membuat berat badan wanita itu terasa ringan seperti bantal.

"Ah... terima kasih! Ya Tuhan, aku pikir aku akan mati membusuk di sana," ujar wanita itu terengah-engah begitu kakinya menyentuh tanah. "Aku sudah terjebak selama tiga hari."

Tobi memberikan ranselnya kembali. "Ini tasmu."

"Terima kasih. Aku Lora," wanita itu memperkenalkan diri. "Seperti yang kalian lihat, entah kenapa aku bisa menciptakan api dari tanganku. Kalian... kalian orang pemerintah?"

Herra menatap Lora dengan pandangan menyelidiki. Matanya yang tajam menyisir penampilan Lora yang sebenarnya 'terlalu rapi' untuk seseorang yang terjebak tiga hari di gudang penuh zombi. "Bukan. Kami adalah orang-orang dari Nona Elara. Aku Herra, dan ini Tobi. Kami tipe penyerang jarak jauh dan tipe kecepatan."

Lora memiringkan kepalanya, wajahnya tampak bingung namun ada kilatan aneh di matanya. "Kemampuan spesial? Tipe penyerang? Maksudnya?"

Herra menjelaskan singkat tentang klasifikasi kemampuan di dunia baru ini. Namun, saat Lora menceritakan tentang empat temannya yang berubah menjadi zombi di gudang karena serangan hewan mutan, Tobi merasakan sesuatu yang janggal.

'Wanita ini... tatapan matanya seakan tidak bisa dipercaya. Dia bilang semua temannya mati, tapi tidak ada bekas darah di pakaiannya sama sekali,' batin Tobi berkomunikasi lewat telepati kelompok dengan Herra.

Herra membalas dalam pikiran Tobi: 'Benar. Dia terlalu tenang untuk seseorang yang baru kehilangan teman. Kita bawa dia ke Mansion, biar Elara yang memutuskan.'

"Ikut kami kalau kamu mau tahu siapa Nona Elara," ujar Herra ketus.

"Ayo kak, masuk mobil," tambah Tobi, mencoba tetap ramah meski waspada.

Lora mengangguk antusias, namun saat ia memasuki mobil taktis yang mewah dan kokoh itu, batinnya bergejolak. 'Mobil ini dirancang khusus? Siapa sebenarnya Elara ini? Aku harus memastikan posisiku aman di sini.'

Di distrik selatan, jalan raya jauh lebih luas namun pemandangannya sama hancurnya. Elara dan Leonard berjalan menyusuri area pertokoan mewah. Elara menggunakan sensor sistemnya untuk memindai setiap bangunan.

Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari balik tumpukan puing. Rambutnya kusam, bajunya compang-camping, namun wajahnya masih sangat dikenali.

"Leo! Leo, itu kamu?" wanita itu berlari kencang. Itu Rachel.

Rachel mencoba menabrakkan dirinya ke pelukan Leonard, namun dengan refleks, Leonard bergeser ke samping, membuat Rachel hampir tersungkur.

"Leo! Syukurlah kamu selamat! Aku tahu kamu akan mencari ku!" Rachel berakting menangis, air mata palsunya membasahi pipinya yang kotor. "Ayahku... Tuan Wijaya... dia sudah berubah menjadi makhluk mengerikan itu, Leo! Aku sendirian!"

[TING!]

> Analisis Target: Rachel Wijaya

> Kemampuan Khusus:Arrow Manifestation (Tipe penyerang jarak jauh; mampu menciptakan anak panah energi tanpa busur).

> Loyalitas: 0% (Berbahaya/Oportunis).

> Saran Sistem:Tidak perlu direkrut. Target memiliki kecenderungan pengkhianatan tinggi dan akan menjadi beban mental bagi Tuan Rumah.

Elara hampir saja tertawa membaca saran dari sistemnya. 'Bahkan sistem pun tahu kalau wanita ini adalah sampah plastik,'batin Elara sinis.

"Lalu, apa hubungannya denganku, Rachel?" Leonard bersuara, nadanya begitu dingin hingga bisa membekukan darah. Ia melangkah mundur, sengaja berlindung di balik bahu Elara sebuah gestur yang sangat menghina bagi Rachel.

"Leo! Kenapa kamu bicara begitu? Kita punya masa lalu! Lihat aku!" Rachel mundur beberapa langkah. Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba tiga anak panah cahaya muncul melayang di sekelilingnya. "Aku punya kekuatan, Leo! Aku bisa berguna untukmu! Kita bisa menguasai dunia ini bersama-sama sebagai pasangan!"

Rachel menunjuk ke arah Elara dengan tatapan penuh kebencian. "Kenapa kamu masih bersama wanita tidak berguna ini? Dia hanya beban! Di luar sana banyak monster, Leo. Berikan saja wanita ini pada mereka sebagai umpan, lalu kita pergi dari sini!"

Mendengar kata-kata itu, aura di sekitar Leonard mendadak berubah menjadi mencekam. Tekanan udara di sekitar mereka seolah menurun drastis.

"Tau dari mana kamu kalau istriku tidak berguna?" Leonard bertanya dengan suara rendah yang mengancam.

Rachel yang sudah dibutakan oleh rasa iri dan emosi justru semakin menantang. Ia menambah jumlah anak panah energinya menjadi sepuluh, semuanya diarahkan ke arah Elara.

"Leo, lihat faktanya! Dia hanya wanita gemuk yang kebetulan kurus karena kelaparan! Dia tidak punya kekuatan! Jika dia mati di tanganku sekarang, apakah kamu akhirnya akan sadar dan kembali bersamaku?"

Rachel menarik napas panjang, tangannya gemetar siap melepaskan serangan. "Bagaimana jika wanita ini mati hari ini, Leo? Apa kamu akan bersamaku?!"

Elara hanya berdiri tenang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. Ia tidak mencabut busurnya, tidak juga menghindar. Ia ingin melihat sejauh mana Leonard akan bertindak.

Leonard melangkah maju, menghalangi pandangan Rachel ke arah Elara. Matanya berkilat biru tajam. "Rachel, kamu membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu yang singkat ini."

Ketegangan mencapai puncaknya di bawah sinar matahari yang redup. Rachel dengan penuh amarah melepaskan sepuluh anak panah energinya sekaligus menuju jantung Elara.

"MATILAH KAMU, PENGGANGGU!!"teriak Rachel histeris.

Bersambung...🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

1
Aquarius97 🕊️
iiiiiiihhhhh menakutkan.. jadi zombiiie😭😭😭
Aquarius97 🕊️
gabisa bayangin gabisa bayangin 😭😭😭😭
atang maulana
semangat 💪💪
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
setidaknya cari dulu atasanmu yg dulu elara. berikan dia untuk zombie itu
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
benar-benar pasangan yang klop. serta dukungan dari antek-anteknya 🤪
Three Flowers
untung saja tadi tidak ngotot ingin pulang lagi setelah diberitahu menantunya
Three Flowers
dari mana datangnya hujan merah ini? siapa pembuatnya?
-Thiea-
Mira punya tangan ajaib sekarang. Gak bingung walaupun g punya stok bahan makanan yang lengkap.
-Thiea-
Masing-masing punya kemampuan super. Sepertinya mereka mungkin bisa membantu orang-orang yang udah terkontaminasi virus.
PrettyDuck
yaudalaa, kan ada yg melindungi
PrettyDuck
untung mantu kalian elara pak, bu.
kalo gak udah ikut jado zombie kalian 😬
PrettyDuck
wiiii jadi manusia super semua mereka 😳
Dev..
waahhh..peradaban baru akan bangkit..
Mega Siregar
nah, loe merasakan apa yang dirasakan istri loe kan Leo saat dia tidak lagi bersikap manja atau mendekati loe, Leo? 😂
Miu.Nuha
laahh ...
gas donk kalo giniii, enak bener sistemny 🤤
Miu.Nuha
ajaib bener...
jadi pengen dehh /Hey//Hey//Hey/
Filan
jadi zombie nggak sih nantinya setelah dimakan otaknya /Shame/
Filan
yah biasa, pemeran utama pasti yang paling OP skillnya 🤣
copy kekuatan pasukanmu!
Cimol krispy
lengkap sudah formasinya. semua kekuatan yang dibutuhkan untuk dunia baru mereka tercukupi.
Cimol krispy
wih keren banget mereka jadi punya kekuatan masing²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!