NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Baru

Malam yang seharusnya menjadi puncak perayaan ulang tahun ke-23 Zidan baru saja dimulai. Setelah pesta kecil di bengkel, Zidan membawa Shakira pulang dengan sisa adrenalin yang masih memompa jantungnya. Sesampainya di rumah, suasana sunyi senyap karena Papa dan Mama sedang menginap di rumah saudara.

Di dalam kamar, aroma lilin aromaterapi vanila yang dinyalakan Shakira memenuhi ruangan. Zidan sudah melepaskan kemeja montirnya, menyisakan kaos dalam putih yang mencetak jelas lekuk otot perut dan dadanya yang liat. Ia menatap Shakira yang baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan slip dress satin hitam tipis yang jatuh pas di lekuk tubuhnya.

"Sini, Ra," suara Zidan merendah, parau oleh gairah yang sudah ia tahan sejak di bengkel tadi.

Zidan menarik pinggang Shakira, mendudukkannya di tepi ranjang sementara ia berlutut di antara kedua kaki istrinya. Tangan Zidan yang besar menelusuri paha Shakira yang halus, membuat gadis itu bernapas pendek. "Hadiah tumpengnya tadi enak. Tapi hadiah utamanya... aku mau sekarang."

Zidan mulai menciumi leher Shakira, memberikan tanda-tanda kecil yang membuat Shakira mendesah tertahan. Tangan Zidan bergerak ke arah tali tipis di bahu Shakira, perlahan menurunkannya. Suasana semakin panas, kulit mereka yang bersentuhan seolah memicu aliran listrik yang membakar. Zidan baru saja hendak menyesap bibir Shakira lebih dalam, saat tiba-tiba...

JEBRET!

Seluruh ruangan seketika menjadi gelap gulita. Hening. Hanya suara napas mereka yang memburu yang terdengar.

"Mas! Ihhh aku takut!" pekik Shakira refleks. Ia langsung merapatkan tubuhnya ke arah Zidan, memeluk leher suaminya dengan sangat erat di tengah kegelapan total.

Zidan terdiam sejenak, menghela napas panjang karena momen indahnya terinterupsi secara kasar. "Ya ampun... PLN hobi banget ya ganggu rumah tangga orang. Masa mati lampu sekarang?"

"Mas, jangan lepasin! Kamu di mana? Aku nggak liat apa-apa!" Shakira semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya tenggelam di ceruk leher Zidan yang hangat dan beraroma maskulin.

"Aku di sini, Sayang. Persis di depan kamu. Tenang, cuma mati lampu doang," Zidan mengelus punggung polos Shakira, mencoba menenangkan istrinya yang memang sedikit fobia dengan kegelapan total. "Jangan gemeteran gitu, ada aku."

"Cari senter atau apa gitu, Mas. Gelap banget, aku ngeri..." bisik Shakira parau.

Zidan terkekeh rendah di tengah kegelapan. Tangannya tidak bergerak mencari ponsel, justru ia semakin erat memeluk pinggang Shakira, merasakan kulit satin yang lembut bergesekan dengan kulitnya. "Nggak usah cari senter, Ra. Mata aku udah hafal kok tiap sudut kamar ini... termasuk hafal tiap jengkal tubuh kamu meskipun gelap."

"Mas! Masih sempet-sempetnya ya!" Shakira mencubit bahu Zidan, namun ia tidak melepaskan pelukannya.

"Daripada takut, mending kita fokus ke yang tadi. Anggep aja ini biar lebih privat," Zidan berbisik tepat di telinga Shakira, hembusan napasnya yang hangat membuat rasa takut Shakira perlahan berganti dengan sensasi lain yang lebih menggelitik. "Kamu tau nggak? Di kegelapan gini, indra peraba aku malah jadi makin tajam."

Zidan mulai mencium bahu Shakira yang terbuka, tangannya bergerak nakal menelusuri punggung istrinya yang terbuka. Di tengah kegelapan, setiap sentuhan terasa berkali-kali lipat lebih intens. Shakira yang tadinya ketakutan kini mulai terbawa suasana. Ia bisa merasakan degup jantung Zidan yang kencang bersentuhan dengan dadanya.

"Mas... tapi ini gelap banget," lirih Shakira, meski kini tangannya mulai berani masuk ke sela-sela rambut Zidan yang sedikit berantakan.

"Gelap itu bagus, Ra. Kita nggak butuh liat, kita cuma perlu ngerasain," Zidan membimbing tangan Shakira untuk menyentuh dadanya yang berdegup keras. "Denger nggak? Ini suara jantung aku yang mau meledak gara-gara kamu."

Zidan kembali membungkam bibir Shakira. Dalam kegelapan total, ciuman itu terasa lebih "berbahaya" dan penuh rasa. Tanpa adanya gangguan visual, Shakira merasakan setiap detail pergerakan lidah Zidan, setiap hisapan, dan setiap desahan rendah suaminya yang terdengar sangat seksi.

Zidan mengangkat tubuh Shakira, membaringkannya perlahan di atas ranjang yang terasa sejuk. Ia merangkak naik, memerangkap Shakira di bawah tubuhnya. "Masih takut?"

"Enggak kalau kamu peluk kayak gini," jawab Shakira jujur. Ia menarik leher Zidan, membuat wajah mereka kembali menyatu.

Malam ulang tahun Zidan tetap berlanjut meski tanpa cahaya lampu. Justru, kegelapan itu menjadi saksi bisu betapa "panasnya" perayaan mereka malam itu. Di balik tirai kamar yang tertutup, deru napas yang bersahutan dan suara bisikan-bisikan manja memenuhi ruangan. Zidan membuktikan bahwa sebagai mekanik handal, ia tidak butuh cahaya untuk mengoperasikan "mesin" kesayangannya dengan sangat presisi.

"Selamat ulang tahun, Mas..." desah Shakira di tengah puncak sensasi yang diberikan Zidan.

"Hadiah terbaik seumur hidup aku, Ra... itu kamu," bisik Zidan tepat sebelum mereka benar-benar tenggelam dalam samudera kenikmatan yang tak terlukiskan.

Lampu baru menyala kembali sekitar satu jam kemudian, menyinari kamar yang sudah sangat berantakan dan dua orang yang terlelap dalam pelukan erat dengan sisa keringat yang mengkilap di kulit mereka. Zidan tersenyum dalam tidurnya, menyadari bahwa gelap atau terang, dunianya akan selalu sempurna selama Shakira ada di sisinya.

***

Sinar matahari pagi tanggal 8 April ini terasa sangat cerah, seolah ikut merayakan sisa-sisa kebahagiaan ulang tahun Zidan kemarin. Di teras rumah, Zidan sudah memanaskan mobil milik Papanya, bukan motor seperti biasanya. Ia tampak rapi dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin.

Shakira keluar dengan celana kulot dan turtleneck tanpa lengan, wajahnya tampak segar meskipun ada sedikit rona kelelahan sisa semalam. Ia membawa tas kecilnya dengan wajah yang ditekuk penuh rasa penasaran.

"Mas... kita mau ke mana sih? Dari tadi ditanya rahasia mulu. Aku kepo nih, beneran!" rengek Shakira sambil memakai sabuk pengaman setelah duduk di samping Zidan.

Zidan hanya terkekeh, tangannya lincah memutar kemudi keluar dari gerbang komplek. "Sabar, Sayang. Namanya juga kejutan, kalau dikasih tahu sekarang namanya pengumuman warga."

"Ih, Mas Zidan! Kita kan mau jalan-jalan, masa aku nggak tahu tujuannya? Nanti kalau salah kostum gimana?"

"Kamu pakai daster pun tetep cantik di mata aku, Ra. Udah, duduk manis aja. Nikmatin perjalanannya," Zidan meraih tangan kiri Shakira, menggenggamnya erat dan sesekali mencium punggung tangan istrinya itu sambil tetap fokus ke jalanan.

Mobil melaju menuju area perumahan baru yang suasananya masih asri, jauh dari kebisingan kota namun tetap terasa eksklusif. Banyak pepohonan rindang di sepanjang jalan masuknya. Setelah melewati pos penjagaan, Zidan membelokkan mobil ke sebuah jalan buntu (cul-de-sac) yang hanya berisi beberapa unit rumah dengan desain minimalis modern.

Zidan menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang tampak sangat elegan. Perpaduan dinding batu alam, aksen kayu, dan kaca-kaca besar membuat rumah itu terlihat sangat kokoh namun hangat. Halamannya sudah ditumbuhi rumput jepang yang rapi dengan satu pohon kamboja di sudutnya.

Zidan mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Shakira yang terpaku menatap bangunan di depan mereka.

"Yuk, turun," ajak Zidan lembut.

Shakira turun dengan langkah ragu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah mereka salah alamat atau tidak. "Mas... ini rumah siapa? Kita mau bertamu ke rumah temen kamu? Atau ada pelanggan bengkel yang tinggal di sini?"

Zidan tidak menjawab. Ia justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan besi berbentuk kunci pas kecil. Ia melangkah menuju pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid, lalu memasukkan kuncinya.

Cklek.

Pintu terbuka lebar, memperlihatkan ruang tamu yang sudah semi-furnished dengan desain yang sangat "Shakira banget"—minimalis, warna-warna bumi (earth tone), dan pencahayaan yang pas.

"Mas... jangan bilang kalau..." Shakira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya mulai berkaca-kaca.

"Selamat datang di rumah kita, Ra," bisik Zidan tepat di telinga istrinya.

Shakira masuk ke dalam dengan langkah gemetar. Ia menyentuh dindingnya, merasakan tekstur catnya yang halus. "Mas... ini beneran? Tapi kapan? Kita kan baru nikah tiga bulan. Selama ini kamu sibuk di bengkel, kamu nggak pernah bilang soal cicilan atau bangun rumah."

Zidan menarik Shakira ke dalam pelukannya di tengah ruang tamu yang masih kosong itu. "Sebenernya, aku udah nyiapin ini jauh sebelum kita nikah, Ra. Inget nggak dua tahun lalu pas aku dapet proyek besar bangun motor kustom buat kolektor dari Jakarta?"

"Iya, yang kamu sampe nggak tidur tiga hari itu?"

"Nah, uang DP dan pelunasannya semua aku tabung di rekening terpisah. Ditambah hasil sampingan aku jualan sparepart langka. Aku beli tanah ini setahun yang lalu, pas aku mutusin buat ngelamar kamu. Aku mau pas kita nikah, aku udah punya pondasi buat masa depan kita," jelas Zidan dengan nada bangga namun rendah hati.

Shakira menatap suaminya tak percaya. "Jadi selama tiga bulan ini... pas kamu bilang pulang malem karena ada lemburan di bengkel..."

"Sebagian emang lembur, sebagian lagi aku ke sini, Ra. Mastiin tukangnya masang ubin dengan bener, mastiin catnya sesuai sama warna yang kamu suka. Aku mau kasih kejutan ini pas ulang tahun aku, sebagai tanda kalau hadiah terbesar di hidup aku itu adalah bisa kasih kamu tempat berteduh yang layak."

Shakira tangisnya pecah. Ia memukul dada Zidan pelan. "Kamu jahat banget bisa diem-diem gini! Aku kira kamu capek kerja sampe aku pijetin tiap malem, ternyata kamu malah sibuk bangun istana buat aku."

"Capeknya ilang pas aku bayangin muka kamu kayak gini, Sayang," Zidan menghapus air mata di pipi Shakira. "Ayo, liat ke atas. Ada balkon yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam. Aku tahu kamu suka senja."

Zidan membimbing Shakira menaiki tangga. Di lantai atas, ada kamar utama yang luas dengan jendela besar. Shakira berlari menuju balkon, dan benar saja, pemandangannya sangat indah.

"Mas Zidan... makasih ya. Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Kamu itu bener-bener... lebih dari sekadar mekanik," bisik Shakira sambil memeluk Zidan dari belakang saat pria itu sedang berdiri di balkon.

Zidan berbalik, memeluk istrinya erat. "Kita kan sahabatan dari kecil, Ra. Aku udah tahu semua mimpi kamu tentang rumah impian sejak kita masih main di gang rumah Papa. Aku cuma berusaha wujudin satu-satu."

"Tapi Mas, ini pasti mahal banget. Tabungan kamu gimana?"

"Tenang aja, Nyonya Zidan. Bengkel kita lagi maju pesat. Lagian, rumah ini bukan cuma dari aku, tapi doa kamu juga yang bikin rezeki aku lancar," Zidan mencium kening Shakira. "Mulai minggu depan kita pindahan pelan-pelan ya? Kita isi rumah ini bareng-bareng."

Shakira mengangguk mantap. Ia menatap ke arah halaman depan, membayangkan anak-anak mereka nanti berlarian di sana. "Aku mau dapur yang luas, Mas. Biar aku bisa masakin kamu pempek tiap hari."

"Dapur kamu udah aku desain paling gede di bawah, lengkap sama kitchen set impian kamu," Zidan menyeringai. "Tapi ada satu syarat..."

"Syarat apa lagi?"

"Kamar utamanya harus selalu 'hangat' ya? Biar rumah ini makin berkah," goda Zidan dengan kedipan nakal.

Shakira tertawa dan mencubit pinggang Zidan. "Dasar! Baru juga pindah udah mikir ke sana!"

"Ya harus dong. Ini kan rumah masa depan kita," Zidan kembali menarik Shakira ke dalam pelukannya, menikmati angin sepoi-sepoi di balkon rumah baru mereka.

Malam itu, mereka tidak langsung pulang. Zidan memesan makanan dan mereka makan lesehan di lantai ruang tamu yang baru, merayakan pencapaian besar di usia Zidan yang ke-23. Bagi Zidan, rumah ini bukan sekadar bangunan beton, tapi bukti cintanya yang tak pernah padam sejak ia pertama kali jatuh hati pada sahabat masa kecilnya itu.

1
apiii
Aaaaa suka bngt sama mas karatan yg romantis ini😍
apiii
baby karatan otw🤣
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!