Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT
Tania harus bangkit, tak boleh terus-terusan memikirkan Lingga. Dia saja bisa ciuman mesra dengan istri di pantai, ya kali Tania memendam kesedihan sendiri. Malam ini, usai pulang kerja ia sengaja pergi ke cafe sendiri.
Ia memotret dirinya tanpa melihat kamera, lalu ia posting dengan caption pesona gadis tak kebagian jatah cinta.
Lingga melihat status itu dan langsung mengomentari. Aku masih mencintai kamu, Tania. Kamu mendapat jatah cinta dari aku 100%.
Pesan Lingga langsung terbaca, Tania tersenyum muak, namun ia tak mau membalasnya. Bilang cinta pada Tania, tapi bisa ya bermesraan dengan istrinya begitu. Rasanya Tania sudah tak percaya cinta untuknya masih ada.
Maaf, kalau kamu sudah melihat foto di media sosialnya Calista. Aku terpaksa.
"Terpaksa katanya, pret. Mulut laki, manis banget tapi aslinya mengandung racun," gumam Tania sebal. Ia kemudian tak membaca chat Lingga lagi. Selagi Tania masih penasaran dengan chat Lingga, maka ia tidak akan mudah move on. Dengan sangat terpaksa, Tania pun memblokir nomor Lingga.
Tentu saja Lingga kalang kabut, mendadak pesannya ceklist satu, tak ada status Tania, "Aku diblokir?" ujarnya frustasi. Kalau saja dia tidak sedang bulan madu, menuruti permintaan sang mama, mungkin dia akan meluncur ke rumah Tania. Memohon pada perempuan itu untuk tetap berkomunikasi saja, janji tak perlu bertemu, asal tahu kabar Tania, Lingga akan tenang.
Taniaku di mana sekarang? Posisi. Jangan sampai lengah. Lingga sangat frustasi karena orang suruhannya tidak mengirimkan video Tania sama sekali hari itu.
Maaf, Pak. Bu Tania tidak keluar rumah. Mungkin dia tidak masuk kerja.
Lingga yakin Tania sakit, karena ia tak mungkin segampang itu bolos kerja. Lingga pun menghubungi sang abang, menanyakan apakah Tania sakit?
"Kamu lagi bulan madu kok ya masih kepikiran Tania sih, Ngga? Emang istri kamu gak menarik?" ledek sang abang, sangat tahu kalau Lingga belum sejauh itu menjadikan Calista menjadi istri.
"Bang, gak penting bulan madu sialan ini. Aku diblokir sama Tania, aku terus gimana?" ujarnya frustasi, seperti anak kecil kehilangan permennya. Yovi tertawa, yakin sekali kalau sang adik ingin pergi ke rumah Tania saat ini.
"Bagus lah, kalau kamu diblokir! Dia sadar diri kalau bukan siapa-siapa kamu, harusnya kamu gak usik dia lagi lah. Apalagi papa sudah kasih ultimatum ke aku, minta agar Tania menjauhi kamu. Ya elah, yang perlu diperingatkan tuh anaknya sendiri, bukan si Tania!" jelas Yovi.
"Ck, Wijaya breng**k, emang!" ceplos Lingga tanpa pikir panjang menghujat sang papa, Yovi makin tertawa mendengar kekesalan Lingga.
Hari-hari Lingga hanya di kamar tanpa bicara dengan Calista, sang istri terlalu mandiri dan tak membutuhkan keberadaan Lingga untuk jalan dan belanja, bahkan malam ini Calista tak pulang ke kamar hotel. Lingga menebak mungkin Calista sedang dikunjungi sang kekasih, sekalian bermalam. Lingga tak peduli.
Ia masih menunggu kabar dari orang suruhannya, karena malam ini, Tania belum keluar dari kantor. Besok Lingga akan pulang, dan dia sengaja sudah membelikan oleh-oleh cokelat premium di sini.
Bang, Tania lembur? Terpaksa Lingga menghubungi Yovi.
Ya. Besok ada surveilans. Kok tahu? Balas Yovi heran. Setahunya kontak Lingga sudah diblokir oleh Tania. Sudah malam begini, gak kelon sama istri? Ledek Yovi.
Dia mah keluar sama pacarnya. Aku di kamar. Kalau dengan Yovi, Lingga selalu terbuka pada si abang.
Anj. Hubungan macam apa ini, Ngga. Yakin kamu begini terus? Yovi tak habis pikir, Lingga sesantai ini.
Namun Lingga tak membalas, karena ia sudah mendapat foto Tania dari orang suruhannya, perempuannya itu pulang terlihat sangat lelah, terlebih memakai coat, dan masker, sepertinya Tania sakit.
Apakah dia sakit? gumam Lingga khawatir. Orang suruhannya bilang, kemungkinan iya, karena Tania mampir ke apotek, entah obat apa yang dibeli oleh perempuan itu.
Kalau sampai sakit, Lingga tentu tak bisa cek kesehatan langsung, kontaknya sudah diblokir oleh Tania. Ia sudah tak sabar untuk pulang, dan langsung ke rumah Tania. Sialnya, pesawat yang akan ditumpangi Lingga dan Calista delay, karena hujan lebat. Lingga semakin gelisah, karena orang suruhannya mengabarkan, Tania menuju rumah sakit, diantar oleh salah satu tetangganya.
"Tetangga? Sejak kapan Tania dekat dengan tetangga? Tetangga yang mana?" Lingga langsung menghubungi orang suruhannya dengan pertanyaan beruntun, sangat khawatir namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi depan rumah Tania, ada tetangga baru. Sedang mengadakan acara tasyakuran mungkin, karena Non Tania pulang kantor malam, pagi ini diberi makanan oleh tetangga tersebut, dan tak lama setelah memberi makanan tersebut Non Tania dibawa ke rumah sakit," begitu yang ditangkap oleh orang suruhan Lingga.
"Apa Tania sempat memakan makanan itu?" tanya Lingga.
"Sepertinya tidak, Pak!"
"Baiklah, pantau terus dan kabari kalau Tania sudah pulang!" begitu Lingga memberikan instruksi.
"Kenapa sih khawatir banget?" tanya Calista heran, melihat Lingga seperti cacing kepanasan dan beberapa kali mengumpat kesal lantaran pesawat delay.
"Bukan urusan kamu!" jawab Lingga ketus.
Sedangkan di rumah sakit, Tania hanya kelelahan dan memang lagi meriang, badannya mudah lelah sekarang, dan indikasinya anemia. Setelah menghabiskan satu kantong cairan infus, dan ada vitamin serta obat tambah darah, Tania diperbolehkan pulang. "Kamu memang tinggal sendiri?" tanya Tante Lusi, tetangga baru yang mengantar makanan untuk Tania tadi.
"Iya, Tante. Sudah lama, sejak mama dan papa saya bercerai, saya tinggal di rumah itu sendiri, mereka sudah punya keluarga masing-masing," ucap Tania dengan kondisi masih lemah.
Tante Lusi mengelus pundak Tania, ikut prihatin. Sebagai ibu, single parent, tentu tak tega melihat anak perempuan mau sebesar apapun harus berjuang sendiri tanpa kehadiran orang tua. Dirinya saja berusaha keras agar sang putra tidak kekurangan kasih sayang, tanpa kehadiran sang papa yang telah dipanggil oleh Tuhan sejak sang putra berusia 2 tahun.
"Kamu yang sabar ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan sama Tante, toh rumah kita hadap-hadapan!" ujar Tante Lusi sebaik itu. Sungguh hati Tania menghangat seketika, merasa sedang diperhatikan oleh seorang ibu. Tania sudah lama tak berkomunikasi dengan kedua orang tuanya, apalagi saat Tania sudah bisa bekerja. Mama dan papa seolah lupa kalau punya anak.
Tante Lusi mengantar Tania hingga ke kamar, tak lupa menyiapkan air dan juga vitamin yang diresepkan, "Tante makasih banyak," ujar Tania saat Tante Lusi hendak pamit, dan Tania diminta tidur saja, biar kuncinya dilemparkan dari jendela ruang tamu.
"Tidur yang nyenyak, badan kamu pucat, istirahat!" ujar beliau sebelum pamit. Tania mengusap air matanya sepeninggal tetangga barunya itu, hidup sendiri juga sangat menyakitkan apalagi kalau keadaan sakit begini.
Kalau aku masih sama Lingga, tentu dia yang akan merawatku sekarang, batin Tania nelangsa.
GO go Tania semangat