Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 24
Jujur dan Kebenaran
**
Selesai dengan kegiatan OSIS, Some dan Dina memutuskan untuk pergi ke kantin. Mereke berjalan secara beriringan untuk sampai di kantin yang ada di ujung. Keduanya sama - sama membicarakan kegiatan tadi.
"Kenapa pas kita masuk kelas sebelas yang ada malah OSIS semakin banyak kegiatan, dan kakak kelas nggak kompeten lagi?" kata Dina sambil merasa kebingungan. Selama ini kegiatan OSIS sudah menjadi bagian obrolan yang menurut Dina dan Some obrolan yang suka dibahas.
Some menghembuskan nafas berat, "Itu terjadi karena kakak kelas kita mau ujian gitu. Mereka bakalan break beberapa bulan," kata Some seperti yang dia ketahui dari Gladys. Kalau anak kelas dua belas emang lagi pada sibuk.
"Itu bukan break lagi, tapi bakalan keluar Some," ujar Dina mengingat tak mungkin tak beberapa lama lagi ujian dilaksanakan.
"Ya udah lagian senang juga bisa cepat lulus," ujar Some sambil mengangkat bahunya.
"Menjabat ketua OSIS cuma satu tahun, ternyata nggak semenyangkan itu," ujar Dina sambil membayangkan ketika nanti Some jadi ketua OSIS. Kesibukan mereka pasti bertambah.
"Kenapa loe lagi ngebahas Jendra," ujar Some karena cuma Jendra yang bisa menjabat ketua OSIS.
"Iya dia bakalan ninggalin kita dan tanggung jawab OSIS jelas beralih," jawab Dina sambil cemberut. Tapi kemudian ia bersinar lagi karena punya ide. "Gimana kalau OSIS ini kita bikin semenyangkan kita aja Some, kayaknya seru," ujar Dina. Hal yang membuat Some tersenyum ceria.
"Bener banget, gue bakalan ngadain party sama anak - anak lain pake baju pink, kesukaan gue," ujar Some sambil menahan tawanya.
"Gue bakalan ngajuin supaya mereka lebih banyak follow Ig gua Some, biar kayak loe," ujar Dina sambil menyenggol bahu Some. Lantas keduanya tertawa, sesampainya di kantin keduanya duduk di meja yang masih kosong. Saling berhadapan.
"Bukannya followers loe udah banyak aja Din, jangan minder gitu," ujar Some sambil menatap Dina dengan tatapan teduh.
"Minder ya enggaklah, gue udah punya pacar loe kali yang minder yang jomblo," ujar Dina lalu tertawa cekikikan. Maksudnya setidaknya tadi ia melihat interaksi Dinner dan Some yang kayak orang saling kenal, atau mereka pernah kenal atau mungkin mantan kekasih.
"Gue nggak jomblo, masih dini disebut begitu. Kan baru putus, dari Linier pacar internet gue," ujar Some sambil menghembuskan nafas perlahan, andai saja dirinya Dina.
"Pacaran kok nggak bilang - bilang, nggak asik banget, tahunya udah putus," kesal Dina sambil mencibir. Membuat Some mencubikan bibirnya.
"Iya tapi tetap saja gue pacaran sama dia," ujar Some mengangkat bahu.
"Really? Loe suka sama dia kapan, kenapa bisa begitu?" tanya Dina kepo.
Some tersenyum kecil dia menatap Dina baik - baik. "Untuk sekarang udah enggak, lagian beberapa hari lagi gue nggak jomblo lagi," ujar Some menyombongkan diri.
"Serius, loe udah ada calon lagi, ya Allah Some ngapain loe pacaran tapi loe sendiri nggak betah lama - lama," ujar Dina heran mungkin ia akan menunggu pacar idaman Some kali ini. Setidaknya kabarnya lebih nyata, berupa manusia bukan pacar internet.
"Emangnya kenapa, lagian untuk kali ini gue harus bertahan sampai merit nanti," ujar Some konyol. Membayangkannya saja sudah muak, tapi lebih muak lagi kalau tidak melakukannya. Membuatnya lebih hidup, adalah suatu hal yang menyenangkan.
"Maksudnya jodoh yang dimaksud papa loe," ujar Dina penasaran sambil bertepuk tangan senang. "Akhirnya loe berhasil jadi cewek kebanggan papa loe, tanpa prestasi apapun," lanjutnya. Some tahu Dina akan lebih suka kalau Some lebih nurut.
Tak beberapa lama panggilan berdering atas nama papa muncul di layar hp Some. Dina dan Some sama - sama memekik karena benar saja tanpa diminta mulai lagi.
"Ini kencang keberapa?" tanya Dina penasaran.
"Ketiga kalau nggak salah, keempat sebelumnya emang udah sering gue di jodoh jodohkan," jawab Some lalu mengangkat panggilan itu. Ia menjauhi Dina beberapa langkah.
"Iya pa?" tanya Some pada seseorang di telepon.
"Kamu ada janjian makan nih sama anak teman papa, ingat jangan melanggar, jam tujuh malam," ujar papa lalu tak berapa lama telepon terhenti. Some tahu pasti papa lagi sibuk kerja, tapi ia nggak akan lupa sama perjodohan yang ia buat.
**
Pada saat itu tepat pada pukul jam tujuh malam. Some menghembuskan nafasnya pasrah, ia sehabis berdandan dengan formal mungkin untuk memenuhi janji temu dengan teman kencan baru. Ia menggunakan dress berwarna abu - abu, dress bertali dua setipis kain sutra. Ia meninggalkan kamarnya, sambil membawa tas jinjing kecil.
Sesampainya di lantai satu, mama yang kebetulan sepulang kerja memperhatikannya. "Jadi bagaimana Some hadiah dari mama kamu senang?" tanya mama menghampirinya.
"Jadi maksud mama hadiah kencan setiap waktu sampai dapat yang cocok itu hadiah special," ujar Some sambil memutar bola matanya jengah. Tidak pernah terbayang di benaknya pas dia masih SMA diberi hadiah seaneh ini. Jika saja para cowok - cowok itu tidak menolah ajakan aneh dari papa mereka.
"Itu bukan hanya hadiah special, habisnya nggak akan ada yang sanggup beli hadiah semahal itu," ujar mama malah semakin menjadi - jadi membuat Some menatapnya malu.
"Udah ma jangan banyak becanda, aku mau berangkat dulu," ujar Some sambil melihat jam di tangannya, bisa saja cowok kali ini jemuran di resto kalau ia telat.
"Ya udah, jangan lama - lama kencannya, harus secepat mungkin ngambil keputusan," ujar mama ketika ia memeluk anak tersayangnya itu. Some mengangguk dalam pelukan hangatnya. Lalu ia meninggalkan mama sendiri di ruang tamu.
Ia mendatangi pak Supratman, dan menuju ke resto tersebut.
**
Some melihat pemandangan resto di luar dengan hati yang berdebar. Tidak seperti kebanyakan kencan lainnya, untuk saat ini Some merasa putus asa. Memang terkadang perasaan yang sulit kita lupakan menjadi pemicu, apakah Some harus menelan semua ini atau lebih baik kabur kepada orang yang jelas menjadi pilihannya. Atau berhenti dari drama yang ia ciptakan sendiri, karena ia tahu semua hanya fatamorgana.
Some menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkan pak Supratman menuju meja yang telah dipesan seseorang. Ketika sampai di dalam resto Some mencari keberadaan cowok itu, dan ia menemukan satu seorang cowok yang nampak masih seumuran dengannya sedang menunggu, sambil melihat terus - menerus jam tangannya.
Siapa dia? Kenapa nampak familier?
"Hi," ujar Some ketika berada di meja itu. Dia menoleh dan dari wajahnya Some sudah menduga papa memang selalu memilihkan para cowok itu yang standarnya lumayan.
"Hi juga," jawabnya ramah lalu menunduk karena malu sebab nampak tak sabar, padahal orang yang ia tunggu tidaklah terlalu cantik. Some jadi merasa iba, apa ia adalah standarnya.
"Silahkan duduk," titahnya sambil menunjukan kursi kosong di depannya. Karena memang kursi itu hanya dua yang tersisa.
"Loe dari mana, kayaknya gelisah banget," ujar Some mencairkan suasana. Dia berusaha bersikap formal, tapi ia tidak bisa.
"Gue dari Bandung, dekat lah kalau ke Jakarta, apalagi resto ini cukup dikenal sama gue, tenang saja," jawab cowok itu menampilkan senyum kecil yang terlihat manis.
Some menyembunyikan senyumnya. "Gue dari perumahan yang jaraknya tiga kilometer dari sini. Loe senang sama Jakarta?" tanya Some penasaran. Dia juga yang ramah membuat Some merasa hubungan mereka pantas menjadi teman saja.
"Senang banget, andai saja papa kerjanya di Jakarta. Cuma dia pindah kantor ke Bandung, tapi asli kok gue orang Jakarta," ujarnya senatural mungkin yang diberi anggukan mengerti khas Some.
Setelah itu keduanya dihidangkan makanan penutup oleh pelayan. Lalu dia pergi sambil mempersilahkan keduanya untuk mencicipi. Baik Some dan cowok itu nampak tidak tertarik.
"Loe beneran cewek yang dimaksud papa gue kan, loe beneran Something people itu?" tanya cowok itu sedikit intimidasi. Some jadi malu karena lupa memperkenalkan diri, jika saja dirinya tidak menjaga image.
"Something people kenapa begitu?" heran Some sambil mencairkan suasa lantas cowok itu tertawa kecil yang membuat Some tahu apa sih sebenarnya pilihan dan keputusan.
"Something people itu orang yang lumayan dikenal di sosial media, bedanya loe melakukannya bukan untuk ketenaran tapi untuk diri loe sendiri. Gue ikuti loe Some," ujarnya dengan jujur. Some menganga andai saja cowok itu tahu betapa berartinya ketenaran itu baginya, mungkin dia akan senang karena Some juga sebenarnya senang banget ketemu pengikut.
"Beneran, tapi loe anggap gue Some hasil pertemuan perjodohan bisnis aja ya, gue malu," kata Some yang membuat dia mengangguk setuju.
"Iya Some meski sayang banget loe harus foto lebih dewasa dari umur loe, bukannya akan lebih cantik jika loe lebih tertutup," ujarnya sedikit disadari cowok itu bahkan Some saja sampai menelan ludahnya. Ini yang ia nggak suka dari kehidupannya, mereka terlalu berpikir disayangkan untuk menjadi seorang seleb.
Apapun pakaiannya itu adalah kehidupannya..
"Jadi loe bakalan nolak gue nih sebelum gue jadi istri loe nanti," ujar Some lalu ia sendiri tertawa sinis. Bukannya merasa kesal, mungkin pendirian itu akan membawanya pada keputusan. Kalau cowok ini bukan pilihan begitupun sebaliknya.
"That' s why gue nggak tahu siapa dan bagaimana calon istri gue nanti, tapi yang lebih baik lah," ujarnya terdengar tulus. Akhirnya kencan itu berjalan dengan santai, dan mereka menikmati tanpa ada yang merasa terbebani.
Setelah selesai dari kencan itu Some langsung menuju ke rumah. Dari percakapannya dengan cowok tersebut, Some jadi ngerti kalau sebaiknya, mau benar atau salah perjodohan ini harus di akui langsung dari hatinya.
**