Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Malam Pertama: Peringatan Pak Sarmo
Kabut setebal susu basi menyelimuti ban mobil Avanza kami saat gapura lapuk bertuliskan "Selamat Datang di Desa Larangan" muncul tiba-tiba dari kegelapan. Jam di dashboard menunjukkan 03.07 pagi, tapi anehnya azan Subuh belum berkumandang sama sekali.
"Ini jalannya bener kan, Dis?" Rani, anggota paling cerewet di kelompok kami, suaranya sudah bergetar sejak satu jam lalu. Wajahnya pucat diterpa lampu kabin.
Disa, ketua KKN kami yang biasanya setenang batu karang, malam ini genggamannya di stir sampai memutih. "GPS mati dari tadi. Sinyal hilang total. Tapi ini satu-satunya jalan yg dikasih Pak Lurah kecamatan."
Aku, Bima, hanya bisa menelan ludah. Di bangku belakang, Andre dan Siska sudah merapat seperti anak ayam kedinginan. Desa ini... aneh. Terlalu sepi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan anjing. Hanya suara mesin mobil kami yang terdengar seperti meraung sendirian di alam baka.
Rumah pertama yang kami lihat adalah sebuah balai desa reyot. Di terasnya, berdiri seorang lelaki tua berblangkon dengan sarung lusuh. Matanya cekung, tapi sorotnya tajam mengawasi kami satu per satu saat turun dari mobil.
"Akhirnya kalian sampai juga, anak-anak kota." Suaranya berat, serak seperti batu diinjak. "Saya Pak Sarmo. Kepala desa di sini."
Malam pertama kami lalui dengan ketakutan. Tepat pukul 01.00, seperti yang Pak Sarmo bilang, alunan gamelan mengalun sayup-sayup dari kegelapan hutan. Nadanya pelan, sedih, memanggil nama.
"Rani... Rani... ikut sini, Rani..."
Rani yang mendengarnya langsung pingsan di tempat.
Dan saat Disa dan aku menggotongnya ke kamar, kami sadar satu hal yang membuat jantung kami berhenti berdetak.
Pintu kamar Rani... terkunci dari dalam. Padahal kami semua baru saja dari ruang tamu.
Dia tidak menyalami kami , Hanya menunjuk ke sebuah rumah panggung di ujung jalan setapak. "Itu posko kalian. Barang-barang sudah saya siapkan."
Sebelum kami sempat berterima kasih, Pak Sarmo melangkah mendekat. Bau tanah basah dan kemenyan tipis tercium dari tubuhnya. Dia berbisik, cukup keras untuk kami berlima dengar.
"Dengarkan baik-baik. Tiga aturan di Desa Larangan. Satu: Jangan pernah keluar setelah Maghrib, apapun yang kalian dengar. Dua: Kalau dengar suara gamelan dari arah hutan jam satu malam, tutup telinga. Jangan ikut menghitung jumlah pukulannya. Tiga." Dia menunjuk ke arah belakang balai desa, tempat sebuah sumur tua tertutup semak belukar. "Jangan pernah dekati sumur itu. Apalagi melongok ke dalamnya."
Rani yang penakut langsung mencicit. "Kenapa emangnya, Pak?"
Pak Sarmo tidak menjawab. Dia hanya menatap Rani lekat-lekat, lalu berbalik pergi sambil melempar satu kalimat terakhir yang membuat darah kami serasa beku.
"Karena yang di dalam sana masih suka melambai minta tolong."
Malam pertama kami lalui dengan ketakutan. Posko itu rumah panggung tua, lantainya berderit tiap diinjak. Angin malam masuk lewat celah dinding membawa bau hutan yang lembab dan anyir.
Kami berlima sepakat tidur di satu ruangan biar tidak takut. Rani merapat ke Siska, Andre pura-pura main HP padahal sinyal nol, aku dan Disa duduk bersandar di pintu sambil berjaga.
Tepat pukul 01.00, seperti yang Pak Sarmo bilang, alunan gamelan mengalun sayup-sayup dari kegelapan hutan belakang posko. Nadanya pelan, sedih, tapi jelas memanggil nama.
"Rani... Rani... ikut sini, Rani..."
Suara perempuan. Pilu sekali. Rani yang mendengarnya langsung menggigil, lalu matanya mendelik dan pingsan di pelukan Siska.
"Dis, itu suara apa?!" bisik Andre panik.
Disa menempelkan jari di bibir. "Sstt. Jangan dijawab. Jangan dihitung pukulannya."
Kami menghitung dalam hati. Gamelan itu berhenti tepat di pukulan ketujuh. Hening. Hanya ada suara napas kami yang memburu.
Saat Disa dan aku menggotong Rani ke kamar sebelah agar dia bisa istirahat, kami sadar satu hal yang membuat jantung kami berhenti berdetak.
Pintu kamar Rani terkunci dari dalam. Grendelnya terpasang. Padahal kunci kamar itu dari tadi ada di tangan Disa, dan kami berlima baru saja dari ruang tamu sejak Maghrib.
Lalu siapa yang di dalam, dan siapa yang mengunci dari dalam?
Dari sela bawah pintu, terselip sehelai kain selendang berwarna merah darah.
Disa dengan tangan gemetar mencoba membuka grendel itu dari luar menggunakan sebatang kawat. Aku menyorotkan senter HP ke celah pintu. Di dalam gelap total, tapi di ujung ranjang, aku seperti melihat sekelebat kaki pucat tergantung tidak menyentuh lantai.
"Bim... di dalam ada orang," bisikku ke Disa. Suaraku serak.
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara "krek... krek..." seperti orang menggaruk pintu dari dalam. Disusul suara bisikan, persis sama dengan suara gamelan tadi.
"Buka pintunya, Rani... Bima ganteng, bukain pintunya dong..."
Seketika bulu kuduk kami berdiri. Itu bukan suara Rani. Rani masih pingsan di gendongan Andre di ruang tamu.
"JANGAN DIBUKA!" teriak Siska dari ruang tamu. Dia lari ke arah kami sambil membawa garam dapur segenggam. "Mbahku pernah bilang, kalo ada yang manggil-manggil malam Jumat Kliwon, taburin garem di depan pintu!"
Siska menaburkan garam itu di depan pintu kamar Rani. Detik itu juga, suara garukan berhenti. Gamelan dari hutan ikut berhenti. Heningnya menusuk telinga.
Kami berlima saling pandang, napas tersengal. Keringat dingin membasahi punggung kami meski malam itu dinginnya sampai ke tulang.
Disa akhirnya mendobrak pintu dengan bahunya. "BRAK!"
Pintu terbuka. Kamar itu kosong. Ranjang rapi, tidak ada tanda-tanda pernah ditiduri. Jendela kayu tertutup rapat dari dalam dan dipalang. Tidak ada lubang angin, tidak ada jalan lain keluar.
Tapi di tengah ranjang, tergeletak selendang merah itu. Dan di sebelahnya, ada gundukan kecil tanah basah yang baunya anyir seperti kuburan baru dibongkar.
Di dinding kayu di atas ranjang, tergores tulisan dengan kuku, masih basah oleh sesuatu yang berwarna merah tua:
"TUMBAL PERTAMA SUDAH DIAMBIL"
Rani yang tadi pingsan, tiba-tiba tersadar di gendongan Andre. Matanya kosong menatap kami, lalu bibirnya menyeringai. Dengan suara yang bukan suaranya, dia berbisik:
"Besok malam... giliran siapa?"