NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

"Dulu... aku sedang menjalin hubungan sangat dekat dengan Iroh, wanita yang kini menjadi istriku dan telah melahirkan lima orang anak yang sholeh dan sholehah untukku."

Kodir menatap jauh ke belakang, mengenang masa muda mereka.

"Setiap waktu, kami sering bertemu di sebuah tempat yang tak jauh dari gunung ini. Tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu cerita cinta kami."

Namun wajahnya perlahan berubah sendu.

"Namun... kematian kedua orang tuaku yang mendadak itu justru menjadi bumerang dan masalah besar yang sempat merenggangkan hubungan aku dan Iroh waktu itu."

"Waktu itu... kalau tidak salah hari Selasa malam. Sore harinya hujan turun sangat deras dan besar. Aku dan Iroh terpaksa masuk dan berteduh di dalam hutan. Saat itu benar-benar murni hanya ingin berteduh, tidak ada niat buruk atau apa pun di hati kami."

Kodir menghela napas panjang, menahan rasa perih di dadanya.

"Namun... naas! Ternyata semua gerak-gerik kami sudah diam-diam diawasi dan dipantau oleh adik bungsuku sendiri, Kadir!"

Suaranya mulai bergetar menahan emosi.

"Aku difitnah seolah-olah sedang berzina! Aku diseret, diarak keliling kampung oleh warga yang sudah termakan hasutan! Huru-hara pun terjadi."

"Tapi... hal yang paling menyakitkan dan memalukan bukan hanya itu. Aku dituduh melakukan pesugihan mengerikan dengan menjadikan kedua orang tua ku sendiri sebagai tumbal! Alasannya? Karena warga dan para sesepuh menemukan tumpukan uang yang sangat banyak di rumah ini!"

"Bagaimanapun caranya aku membela diri, menjelaskan kebenaran... tak ada satu pun orang yang mau percaya. Semua sudah buta oleh amarah dan hasutan."

Hingga tiba-tiba... datanglah seorang sosok lelaki tua dari kampung sebelah.

"Dialah... Abah Jalaludin!"

"Semua orang di sana menjadi sangat segan, takut, dan hormat padanya. Bukan hanya warga biasa, bahkan para pejabat daerah sampai tingkat pusat pun tunduk dan sangat menghormati beliau. Aura dan wibawanya memang luar biasa," ceritakan Kodir penuh kekaguman.

Mendengar nama itu disebut...

"JALALUDDIN?!"

Daniel sempat terkejut bukan main, matanya sedikit membelalakan. Itu adalah nama Kakek Buyutnya sendiri! Namun dengan cepat ia menetralkan emosinya, kembali memasang wajah tenang dan datar agar tidak mencurigakan.

"Dengan penuh kearifan dan wibawa, Abah Jalaludin berhasil meredam amarah massa yang sedang mengamuk. Beliau memberikan solusi yang sangat bijak."

"Daripada dipermalukan dan dihukum sembarangan, lebih baik kedua anak muda ini dinikahkan saja. Agar terlihat halal dan sah di mata agama maupun adat," begitu keputusan tegas dari Abah Jalaludin.

Warga pun sebagian besar menerima dan setuju dengan solusi tersebut. Suasana mulai mereda.

"NAMUN..."

Kodir menghela napas panjang dengan wajah kecewa.

"Ternyata tidak semua warga menerimanya. Mereka yang menolak dan masih ingin meneruskanku... adalah orang-orang yang sudah dibayar dan disuap oleh adik bungsuku sendiri, Kadir!"

"Ia memang sudah merencanakan semua ini dari awal, ingin menjatuhkan aku dengan cara kotor," batin Kodir sakit hati.

"Hingga akhirnya keputusan akhir pun ditetapkan waktu itu. Kami berdua 'diberi keringanan' tidak dirajam maupun diarak keliling desa sebagai pasangan mesum. Tapi... dengan syarat yang sangat berat dan kejam!"

Kodir menelan ludah susah, matanya berkaca-kaca mengingat masa lalu.

"Syaratnya dua hal:

Pertama, aku bersama wanita ini harus tinggal dan menetap di Gunung Nyongkokot, jauh dari peradaban manusia.

Kedua, garis keturunan kami pun dilarang keras keluar dari gunung itu selamanya! Alasannya karena dianggap membawa aib dan bisa mendatangkan bencana bagi desa."

Suaranya bergetar menahan amarah dan kesedihan.

"Aku dan Iroh saat itu benar-benar tak berdaya. Kami hanya bisa pasrah dan menerima semua vonis itu. Bahkan sampai sekarang... menginjakkan kaki saja di kampung kelahiran kami sendiri pun tetap tidak diperbolehkan."

"Dan yang paling parah... stigma buruk itu tetap melekat. Selama ini semua orang tetap menganggap bahwa KODIRLAH yang melakukan pesugihan dan menumbalkan kedua orang tua kandungnya sendiri!"

"Aden Prediansyah... Nak Daniel..."

"Tadinya kami berharap, setelah kami dinikahkan dan disaksikan langsung oleh Abah Jalaludin, keluarga Iroh akan mau menerima kami kembali. Kami berharap bisa pulang dan hidup normal seperti orang lain."

Kodir menghela napas panjang dengan wajah penuh keputusasaan.

"Namun... kenyataan pahitlah yang harus kami terima. Harapan itu pupus sudah. Kami tetap ditolak, tetap dikucilkan, dan tetap dianggap aib oleh keluarga sendiri."

Sosok Iroh yang selama ini dikenal bijaksana, sabar, dan selalu tegar menghadapi segala cobaan... kini tak kuasa menahan kesedihan lagi.

Air matanya meleleh berderai-derai membasahi kedua pipinya yang mulai keriput dimakan usia. Selama 22 tahun ia menahan semuanya sendirian, dan kini air mata itu finally tumpah juga.

"Bahkan kedua orang tua Iroh sendiri... kakak dan adiknya, hingga paman serta bibinya... mereka semua melakukan hal yang sangat menyakitkan."

Kodir menceritakan dengan suara parau menahan tangis.

"Mereka meludah di hadapan kami berdua, seraya bersumpah dengan nama yang paling agung. Bahwa sampai mati pun mereka tidak akan pernah memaafkan kami, dan tidak akan pernah mengakui kami sebagai keluarga... KECUALI!"

Ia menghentikan kalimatnya sejenak, dadanya terasa sesak luar biasa.

"Kecuali... aku dan Iroh mau mengakui dan menerima semua tuduhan itu sebagai kebenaran. Mengaku bersalah melakukan zina, mengaku melakukan pesugihan menumbalkan orang tua, dan semua fitnah keji itu kami akui sepenuhnya."

"Mereka mau mengakui kami kembali hanya jika kami mau menandatangani dosa yang sama sekali tidak kami lakukan," tambah Iroh lirih, air matanya semakin deras mengalir.

"Begitulah kehidupan kami waktu itu, Aden Predi... Nak Daniel..."

Kodir mencoba menguatkan diri, lalu tatapannya berubah sangat serius.

"Namun... poin utama dan yang paling penting dari obrolan panjang ini bukanlah tentang masa lalu, tapi semuanya bermuara pada keadaan Gunung ini saat ini!"

"HAH?!"

Daniel dan Prediansyah seketika terkejut mendengarnya. Mata mereka sedikit membelalak, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu, Iroh menatap nanar penuh permohonan yang sangat dalam ke arah mereka berdua.

Bukan memohon untuk nyawanya sendiri maupun nyawa suaminya...

Tapi ia memohon dengan sepenuh jiwa, demi nyawa keempat anak-anaknya yang masih kecil dan polos!

"Katakanlah Mang... Ungkapkanlah semua apa yang mengganjal di hati kalian berdua. Jangan ragu, jangan bimbang sedikitpun!"

Daniel bersuara lantang, penuh keyakinan dan wibawa yang luar biasa.

"Aku dan Tuan Muda Prediansyah... kami berdua dengan senang hati akan membantu menyelesaikan kesulitan kalian. Apa pun itu, kami siap tanggung!" ucapnya tegas bak ksatria.

Mendengar janji mulia itu, Prediansyah pun langsung menganggukkan kepalanya kuat-kuat, menyetujui penuh perkataan Daniel. Ia siap menyisihkan kekayaan dan kekuasaannya demi kebenaran!

"Terima kasih banyak Nak Daniel..."

"Terima kasih juga Aden Prediansyah..."

Ucap mereka berdua serentak dengan suara bergetar penuh rasa syukur yang tak terhingga.

Kodir menatap perlahan ke arah langit-langit rumah, lalu kembali menatap kedua pemuda di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, terharu melihat ketulusan dan keberanian dari sosok dua lelaki berbeda usia ini yang rela menolong keluarga kecil mereka.

Rasa beban berat yang selama 22 tahun menindih dadanya... kini terasa sedikit lebih ringan karena ada yang mau berbagi dan membantu memikulnya.

Bersambung.

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!