Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jurus Sarung Panglima
Pagi harinya di Pesantren Al-Huda, suasana sedikit berbeda. Di lapangan samping asrama, sepuluh mantan preman terminal berkumpul dengan seragam "kebesaran" mereka: baju koko yang kancingnya dibuka separuh dan sarung yang diikat kencang di pinggang.
Faris berdiri di depan mereka, memegang sebuah tongkat pramuka kayu yang ia temukan di gudang. Wajahnya serius, auranya seperti jenderal yang siap melatih pasukan komando.
"Dengarkan! Mulai hari ini, selain belajar ngaji, kalian harus belajar jaga diri. Musuh kita semalam bukan orang sembarangan. Kalau kalian cuma modal nekat dan sandal jepit, kalian bakal habis!" tegas Faris sambil melirik Brewok.
Brewok hanya nyengir sambil menggaruk tatonya. "Siap, Bos! Eh, maksudnya... siap, Mas Faris! Jurus apa hari ini? Jurus Harimau Terminal atau Jurus Naga Sidoarjo?"
.
"Gak ada naga-nagaan! Hari ini kita belajar Jurus Dasar Sarung," jawab Faris.
Faris mulai memperagakan gerakan. Ia melepas sarungnya, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia memutar kain sarung itu hingga menjadi seperti cambuk yang sangat kuat. CETARRR! Suara sarung Faris memecah kesunyian, bahkan sempat membelah dahan pohon mangga di dekatnya.
"Wuidih! Sarung bisa jadi senjata gitu ya?" Jono melongo. Ia langsung mencoba memutar sarungnya, tapi bukannya jadi cambuk, sarung Jono justru melilit lehernya sendiri sampai dia tersedak. "Uhuk! Uhuk! Mas, tolong! Gue kecekik sarung sendiri!"
Anak buah yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Di tengah keriuhan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil yang halus dari balik pagar tanaman pembatas gedung santriwati.
Sontak, sepuluh preman itu langsung bersikap "cool". Brewok yang tadinya mau jatuh langsung pasang posisi push-up, sementara Jono yang kecekik sarung malah pura-pura lagi latihan pernafasan yoga.
"Mas, itu santriwati pada ngelihatin ya?" bisik Jono sambil memperbaiki letak pecinya yang miring. "Duh, jadi malu aku Mas. Mana tadi aku kecekik lagi."
Faris menoleh sekilas. Benar saja, beberapa santriwati yang sedang menjemur mukena tampak sesekali melirik dan berbisik-bisik sambil tersenyum melihat tingkah laku para preman "insaf" itu.
"Fokus! Jangan kegoda kerudung!" bentak Faris, meski sebenarnya dia sendiri juga merasa sedikit canggung.
Latihan dilanjutkan. Faris mengajarkan cara menggunakan sarung untuk menangkis serangan senjata tajam. Di tengah latihan, Kyai Ahmad datang memantau sambil membawa nampan berisi wedang jahe.
"Bagus, Faris. Mengajari mereka disiplin itu penting," ucap Kyai Ahmad. "Tapi ingat, sarung itu filosofinya menutupi aurat dan menjaga kehormatan. Jadi, gunakan untuk melindungi, bukan untuk menyombongkan diri."
"Inggih, Mbah Kyai," jawab Faris santun.
Tiba-tiba, seorang santri berlari mendekat dengan wajah panik. "Mas Faris! Mbah Kyai! Di depan gerbang ada rombongan motor lagi, tapi kali ini mereka bawa spanduk!"
Faris menghela napas. "Siapa lagi sekarang? Apa si Herman balik lagi?"
"Bukan Mas! Itu... itu mantan anak buah Mas Faris dari Terminal Bungurasih. Mereka bilang mau minta perlindungan karena markas mereka diacak-acak sama kelompok misterius yang pakai jubah hitam!"
Mendengar kata "jubah hitam", raut wajah Faris langsung berubah drastis. Ia teringat sosok bertopeng semalam. Ternyata, ancaman itu bukan cuma menyerang pesantren, tapi mulai merembet ke orang-orang yang pernah mengenalnya di jalanan.
"Jon, Brewok! Siapkan sarung kalian! Sepertinya latihan hari ini akan langsung kita praktekkan!" perintah Faris dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya.
Sang Panglima sadar, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, dia tidak berjuang sendirian.
Faris melangkah lebar menuju gerbang depan, diikuti Jono, Brewok, dan anak-anak lainnya yang masih sibuk membenarkan lilitan sarung mereka. Di depan gerbang, pemandangan cukup memilukan terlihat. Sekitar lima belas orang preman terminal yang biasanya garang, kini tampak kocar-kacir. Beberapa motor mereka hancur, bahkan ada yang bajunya robek-robek.
"Bos Faris! Tolong kita, Bos!" teriak salah satu dari mereka, si Kancil, yang langsung sujud di kaki Faris begitu melihat sang Panglima keluar.
Faris menarik pundak Kancil agar berdiri. "Berdiri! Jangan memalukan. Cerita pelan-pelan, ada apa?"
Kancil gemetaran, wajahnya pucat pasi. "Tadi malam, Bos... setelah Bos pergi, markas kita didatangi orang-orang berjubah hitam. Mereka nggak pakai parang, cuma pakai tangan kosong, tapi setiap mereka mukul, ada asap hitam yang keluar. Anak-anak nggak ada yang bisa lawan. Mereka tanya... mereka tanya dimana Panglima Faris sembunyi!"
Faris terdiam, matanya berkilat tajam. Ia meraba tasbih di saku kokonya yang mendadak berdenyut panas lagi. Jono dan Brewok saling pandang, mereka teringat kejadian di hutan bambu semalam.
"Mereka itu bukan manusia biasa, Mas Kancil. Mereka itu setan berwujud orang!" celetuk Jono yang langsung bikin rombongan baru itu makin ketakutan.
"Cukup!" bentak Faris. Suaranya yang berat membuat semua orang mendadak bungkam. "Siapa pun yang datang ke sini untuk minta perlindungan, akan aku lindungi. Tapi ada syaratnya."
Faris menunjuk ke arah masjid. "Di sini rumah Tuhan. Nggak ada miras, nggak ada judi, nggak ada kata-kata kotor. Kalian harus ikut aturan pesantren atau silakan pergi hadapi jubah hitam itu sendirian."
Rombongan preman itu kompak mengangguk. "Apapun syaratnya kita ikut, Bos! Asal kita selamat!"
Faris kemudian membagi tugas. Ia menyuruh Jono dan Brewok untuk membawa mereka ke gudang belakang untuk ganti pakaian dengan baju koko sisa dan sarung-sarung cadangan. "Urus mereka. Kasih makan tempe hangat Kyai tadi. Biar nyawa mereka balik dulu."
Saat rombongan itu masuk ke dalam, Kyai Ahmad mendekati Faris dari belakang. "Faris, pesantren ini mulai penuh dengan orang-orang terluka. Bukan cuma luka fisik, tapi juga luka batin."
"Ngapunten, Mbah. Saya tidak bisa membiarkan mereka dibantai," jawab Faris pelan.
"Memang benar. Tapi ingat, semakin banyak orang di sini, semakin besar pula magnet bagi mereka yang memakai jubah hitam itu. Mereka tidak mencari preman, Faris... mereka mencari kamu dan apa yang kamu bawa," Kyai Ahmad menunjuk ke arah saku Faris tempat tasbih kuno itu berada.
Faris mengeluarkan tasbih itu. Kayunya yang berwarna gelap tampak mengeluarkan aroma cendana yang semakin kuat. "Kalau begitu, saya tidak boleh hanya bertahan, Mbah. Saya harus cari tahu siapa bos di balik jubah hitam ini sebelum mereka menyentuh santriwati dan pesantren ini."
Tiba-tiba, salah satu santriwati yang tadi melihat latihan dari jauh, berjalan mendekat dengan takut-takut. Ia membawa sebuah amplop hitam yang ia temukan terselip di jemuran mukena.
"Anu... Mas Faris, tadi ada ini di tempat jemuran," ucap santriwati itu sambil menunduk, tidak berani menatap mata Faris.
Faris mengambil amplop itu. Begitu dibuka, isinya hanya selembar kertas dengan tulisan dari darah yang masih basah: "Kembalikan apa yang ayahmu curi, atau Pesantren ini akan menjadi kuburan massal."
Genggaman tangan Faris pada kertas itu mengeras hingga kertasnya hancur. Wibawa Sang Panglima meledak, membuat angin di sekitar gerbang berputar kencang. Ia menatap ke arah jalan raya, tahu bahwa malam ini, ia tidak akan bisa tidur tenang.
Faris meremas kertas ancaman itu hingga menjadi butiran debu di telapak tangannya. Matanya memerah, menahan amarah yang mulai mendidih. Ia berbalik dan berjalan menuju kerumunan preman terminal yang sedang lahap memakan tempe goreng kiriman santri dapur.
"Kancil! Sini kamu!" bentak Faris.
Kancil yang lagi asyik mengunyah sampai tersedak tempe. Ia lari tergopoh-gopoh mendekati Faris. "I-iya, Bos... eh, Mas Faris. Ada apa?"
Faris mencengkeram kerah baju Kancil, membawanya ke bawah pohon sawo yang agak jauh dari keramaian. "Katakan sejujurnya. Sebelum markas diserang, apa ada orang asing yang datang mencari barang milik ayahku? Jangan bohong, atau aku kirim kamu balik ke jubah hitam itu!"
Kancil gemetaran, keringat dingin mengucur deras. "Sumpah Mas, nggak ada! Tapi... tapi seminggu lalu, si Herman pernah bawa orang tua kurus kering ke terminal. Orang itu bawa menyan dan muter-muter di bekas lapak almarhum Bapak sampeyan. Katanya dia nyari 'paku bumi' yang hilang."
.
"Paku bumi?" Faris mengerutkan dahi. Ia teringat kata-kata Kyai Ahmad soal sesuatu yang tertanam di bawah pondasi masjid.
"Iya Mas. Terus si Herman bilang, kalau Paku Bumi itu nggak ketemu, terminal bakal banjir darah. Kita pikir dia cuma halu karena kebanyakan minum, eh ternyata beneran kejadian," sambung Kancil dengan suara bergetar.
Sementara itu, di sudut lain, Jono dan Brewok sedang sibuk "mendisiplinkan" rombongan preman baru. Pemandangannya sangat ajaib: lima belas preman sangar disuruh jongkok sambil memegang buku Iqra'.
"Ayo, yang bener megangnya! Ini kitab suci, bukan kartu remi!" teriak Brewok sambil bergaya ala sersan mayor. "Yang tatoannya paling banyak, harus hafalin huruf 'Jim' sampe lancar! Kalau nggak, jatah tempenya dikurangi!"
"Duh Mas Brewok, susah bener bedain titik di atas sama titik di bawah. Mata saya sliwer!" protes salah satu preman yang lengannya penuh tato tengkorak.
"Makanya, maksiat dikurangi biar matanya nggak sliwer!" sahut Jono sambil menahan tawa.
Faris melihat tingkah laku anak buahnya dari kejauhan. Di satu sisi dia ingin tertawa, tapi di sisi lain beban di pundaknya terasa makin berat. Ia tahu, Herman dan si jubah hitam bukan cuma mencari paku bumi, tapi mereka ingin menghancurkan simbol kedamaian yang ada di pesantren ini.
Faris kembali mendekati Kyai Ahmad yang sedang memperhatikan dari teras. "Mbah, mereka mencari 'Paku Bumi'. Apa itu yang dimaksud peninggalan Ayah?"
Kyai Ahmad menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah. "Paku Bumi itu bukan benda fisik, Faris. Itu adalah kekuatan doa yang menjaga keseimbangan wilayah ini. Jika mereka berhasil mengambilnya, kegelapan akan menguasai Surabaya dan sekitarnya. Dan hanya darah keturunan Penjaga yang bisa membuka segelnya."
Faris tertegun. "Maksud Mbah... mereka mengincar darah saya?"
Kyai Ahmad hanya mengangguk pelan. Tepat saat itu, langit di atas pesantren mendadak gelap tertutup awan hitam yang berputar-putar, padahal tadi matahari sedang terik-teriknya. Suara guntur menggelegar tanpa ada hujan.
"Mereka datang lebih cepat dari dugaan, Faris," ucap Kyai Ahmad sambil berdiri. "Siapkan pasukanmu. Malam ini bukan lagi latihan, tapi ujian hidup dan mati."
Faris langsung berteriak, suaranya menggelegar memenuhi seluruh area pesantren. "JONO! BREWOK! SEMUA ANAK TERMINAL! TINGGALKAN IQRA' KALIAN! AMBIL SARUNG, RAPATKAN SHAF! MUSUH SUDAH DI DEPAN GERBANG!"
Para preman yang tadi lagi bercanda langsung bangkit. Rasa takut mereka mendadak hilang berganti semangat tempur saat melihat Panglima mereka sudah berdiri tegak dengan tasbih yang bersinar terang di tangannya.