Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Adinda tidak menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik… lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang akhirnya selesai dengan urusan panjangnya.
“Kamu benar,” ucapnya tenang.
“Ini memang baru awal.”
Tiara sedikit mengernyit, lalu melangkah mendekat. Tubuhnya sedikit condong ke depan, tatapan mereka saling beradu.
Belum sempat ia mengeluarkan kata-kata, suara langkah kaki kembali terdengar dari luar. Lebih tegas. Lebih ramai. Seolah datang tanpa keraguan.
Beberapa detik kemudian. Pintu terbuka lebar.
Beberapa pria berseragam masuk. Tatapan mereka langsung menyapu ruangan. Suasana langsung berubah tegang.
Tidak ada lagi abu-abu. Semuanya menjadi jelas. Sintia refleks mundur satu langkah. “Ini… apa lagi ini?” suaranya bergetar.
Adinda tidak menoleh. “Naya.”
Satu panggilan itu cukup. Naya melangkah maju sedikit. Ponselnya masih di tangan. Tatapannya datar.
“Dari tadi aku cuma nunggu waktu yang pas.”
Baru saat itu wajah Tiara benar-benar berubah.
“Ka-mu…?”
“Ya,” jawab Naya ringan. “Aku pastikan hari ini gak ada yang bisa keluar dari sini dengan tenang.”
Salah satu petugas mendekat ke arah Pak Arbani lebih dulu, memastikan kondisinya. Sementara dua lainnya bergerak ke arah Sintia dan Tiara.
“Silakan ikut kami.”
Nada itu formal. Tidak tinggi. Tapi tidak bisa ditolak.
Sintia menggeleng cepat. “Tidak! Ini salah paham! Saya tidak melakukan apa-apa!”
Tangannya mencoba meraih Arya. “Nak, bilang sama mereka! Ibu gak salah!”
Arya mematung. Tubuhnya terasa kaku. Tatapannya kosong, tapi bukan tanpa isi. Justru terlalu penuh sampai ia sendiri tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Tangannya yang tadi sempat terulur… perlahan turun. Tidak jadi meraih, bahkan sekadar menahan pun terasa begitu berat. Dan melihat itu, wajah Sintia benar-benar runtuh.
“Arya…?” Kali ini suara wanita paruh baya itu lebih keras. Tapi tetap saja tidak ada reaksi apa pun.
Sementara itu, Tiara justru tertawa kecil. Pelan tapi terdengar sinis. “Kamu kira kamu lebih pantas dari aku?”
“Semua itu seharusnya juga jadi milikku!”
Dua petugas sudah berdiri di sampingnya. Namun Tiara tetap menegakkan tubuhnya.
“Aku bisa jatuh hari ini,” lanjutnya pelan, “tapi bukan berarti kamu menang.”
Adinda menatapnya tanpa goyah. “Kita lihat nanti.”
Langkah kaki mereka menghilang satu per satu dari ruangan itu, Tiara mencoba memberontak tapi tenaga dua aparat itu jauh lebih kuat dibandingkan dirinya.
"Dasar pengecut mainnya keroyokan!" sentak Tiara.
“Sudah, Bu. Kita ke kantor polisi saja untuk penjelasan lebih lanjut," potong aparat itu lalu membawa tubuhnya dengan sedikit dipaksa.
Pintu tertutup. Suara gesekannya terdengar lebih keras saat para aparat membawa dua perempuan itu. Tidak ada lagi yang bicara. Hanya tersisa napas yang masih terdengar tidak beraturan.
Arya berdiri di tempatnya. Tangannya turun begitu saja di sisi tubuhnya, seperti kehilangan tenaga.
Matanya sempat mengikuti arah pintu… lalu berhenti. Ia menelan ludah pelan sebelum akhirnya menoleh ke arah Adinda.
“Aku…” suaranya tertahan, seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.
“Aku harus gimana sekarang Din?”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan melewati Arya. Sangat dekat. Lalu berhenti di sampingnya.
Beberapa detik. Cukup lama untuk membuat Arya berharap… dan takut di waktu yang sama.
“Harusnya kamu tanya itu dari dulu,” ucap Adinda akhirnya. “Bukan sekarang.”
Arya memejamkan mata sejenak. Satu kalimat itu terasa lebih berat dari semua penjelasan tadi.
Suara mesin mobil polisi perlahan menjauh dari area gudang. Debu tipis masih mengambang di udara. Bau besi dan lembap belum benar-benar hilang.
Adinda berdiri di tempatnya. Kali ini… tidak ada lagi yang harus ia kejar. Semua sudah terbuka. Namun anehnya—tidak ada rasa lega yang benar-benar utuh.
Di sisi lain, Pak Arbani sudah ditangani. Tubuhnya lemah, tapi matanya tetap sadar. Sesekali ia melirik ke arah Adinda, seolah memastikan sesuatu.
“Mbak Dinda…” panggilnya pelan.
Adinda langsung mendekat. “Saya di sini, Pak.”
Pria tua itu menatapnya cukup lama. Ada keraguan di sana, tapi juga sesuatu yang dipaksakan untuk tetap kuat.
“Ada… yang belum selesai,” ucapnya lirih.
Alis Adinda sedikit berkerut. “Maksud Bapak?”
Pak Arbani menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Yang mereka cari… bukan cuma dokumen.”
Adinda diam.
Kalimat itu tidak panjang—tapi cukup membuat pikirannya bergerak lagi.
“Terus?” tanyanya pelan.
Pak Arbani menggeleng lemah. “Saya… belum bisa bicara sekarang. Tapi kamu harus hati-hati…”
kata-katanya terpotong. Tenaganya tidak cukup. Adinda tidak memaksa. Tapi dari sorot matanya jelas, ada sesuatu yang masih disembunyikan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Arya tidak bergerak cukup lama. Tatapannya kosong, tapi pikirannya justru penuh. Satu per satu ucapan yang dulu ia lontarkan… kembali menghantamnya tanpa ampun.
“Kamu mandul…”
“Aku butuh istri yang bisa kasih aku anak…”
Rahangnya mengeras. Napasnya tersendat.
“Ya Tuhan…” suaranya nyaris hilang.
Lututnya melemah, membuat langkahnya goyah tanpa sadar.. “Aku… aku yang bilang semua itu…”
Ia menatap Adinda, kali ini bukan sebagai suami, tapi sebagai seseorang yang baru sadar… dia telah menghancurkan hidup orang lain.
“Dinda…”
Ia melangkah mendekat. Tapi langkah itu berhenti begitu saja. Karena Adinda sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Bersambung. ....